
Dika mengantar Syila pulang ke rumah Bibi Nuha.
"Kita makan dulu ya, lapar." Ajak Dika.
Syila hanya mengangguk.
Mereka memasuki restoran khas Minang.
Sebelum sampai didepan pintu restoran, Syila pamit kembali kedalam mobil karena ponselnya tertinggal. Sedangkan Dika yang sedang mengamati Syila kembali keparkiran kurang fokus, ketika dia berbalik lalu berjalan tanpa sengaja menabrak seseorang. Seorang pria dengan balutan jas lengkap. Dan beberapa orang yang mengikutinya disamping dan belakang.
"Maaf Tuan saya tidak sengaja." Kata Dika.
"It's okay." Ucap pria itu acuh berlalu begitu saja. Tanpa ekspresi apapun.
Ketika pria itu memasuki mobilnya dan perlahan melaju. Seketika dia meminta asistennya memberhentikan mobil tersebut. Dia seperti melihat wanita itu.
Pria itu bergegas keluar, celingukan mencari wanita itu namun tidak ada.
"Sepertinya aku sudah mulai gila." Kata pria tersebut untuk dirinya sendiri.
"Ada apa Tuan, ada yang bisa saya bantu ?" Tawar asistennya.
"No. Pergi sekarang." Titahnya.
***
Dalam perjalanan pulang ponsel Syila berdering. Ayah. Senang sekali mendapat telefon dari Ayah.
"Halo. Ayah ? Bagaimana kabarmu ? Mengapa baru menelfon ? Tadi ponsel Ayah tidak bisa kuhubungi, apakah kalian baik-baik saja ? Ayah sudah makan ? Ibu mana ? Ayah jangan minum kopi lagi ! Ayah jawab aku !!" Pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Kau ini, bagaimana bisa Ayah menjawabmu, kau berbicara tanpa celah begitu." Dika yang menjawab.
"Sudahlah, fokus menyetir saja." Kesal Syila.
Terdengar diseberang sana sedang tertawa.
"Ayah, Ibu kalian menertawaiku ?? Lihat saja aku marah karena kalian sudah membuatku kesal." Tentu saja bertolak belakang dengan isi hatinya.
"Maaf ya sayang, tadi ponsel Ayah lupa tidak diisi daya. Baterainya habis. Sedangkan ponsel Ibu, dia lupa menaruhnya. Kami baik-baik saja. Bagaimana denganmu ? Masih menangiskah ?" Jawab Ayah lembut.
"Tidak. Aku sudah tidak menangis. Aku terlihat seperti kuntilanak yang terbuang karena terlalu banyak menangis." Dika terkekeh mendengar ucapan Syila.
Padahal matanya sudah berair lagi.
"Anak pintar. Kau dengan Dika sayang ?"
"Mengapa menanyakannya ? Aku anak Ayah, aku yang merindukanmu."
"Coba Ayah ingin bicara ssbentar saja." Mau tak mau Syila meloadspeaker ponselnya.
"Dika ?"
"Iya Yah." Masih fokus menyetir.
__ADS_1
"Ayah titip putri manja Ayah ya."
"Dengan senang hati Yah. Kau tak perlu khawatir."
"Tolong jaga dia. Selain manja dia suka ceroboh."
"Aihh.. Semua saja Yah bongkar sekalian yang buruk-buruknya." Timbrung Syila.
"Jika masih suka menangis belikan cokelat atau ice cream. Atau undangkan badut sekalian agar tangisannya berhenti." Ayah malah menggoda Syila. Dika yang mendengarnyapun hanya tertawa. Sedangkan Syila semakin eneg.
"Ayah berhentilah menggodaku.. Aku rindu sekali." Sudah mode sedih lagi.
Setelah percakapan yang berujung tangis pilu seorang Syila, sampailah kini di rumah Bibi Nuha.
''Kau tidak masuk dulu ?" Tanya Syila.
"Apakah kau tidak rela berjauhan denganku ?" Tanya Dika lagi dengan menaik turunkan alisnya.
"Bukan begitu, hanya saja rumah Bibi Nuha terlalu besar untukku sendiri."
"Baiklah kita mengobrol diluar saja ya." Diangguki cepat oleh Syila.
Syila keluar dengan tampilan ala rumahan gaya dia. Dengan membawakan teh lemon seperti yang biasa dia buatkan untuk Ayahnya.
"Minum ini selagi masih hangat."
Dikapun meminumnya, "Kau sungguh berbakat dalam meracik minuman Syila. Ini sangat pas dan enak." Puji Dika.
"Terimakasih."
Dika pamit pulang.
Syila juga membuatkan susu kunyit yang biasa Ibunya buatkan.
"Bibi minum dulu. Ini susu rendah lemak kok."
"Terimakasih sayang. Apa kau merasa takut sendirian di rumah ?"
"Bukan takut, hanya terlalu sepi saja Bi, Bibikan tahu aku tidak pernah kesepian jika di kampung. Aku takut terlarut dalam kesedihan nanti. Bibi keberatan jika Dika disini sampai malam ?'' Syila menjawab sembari mengamati jam, pukul sepuluh malam.
Bibi Nuha tertawa.
''Kau terlalu polos sayang. Bibi harap kau menemukan pergaulan yang tepat, tidak merubah kepolosanmu ini, tapi menambah ilmumu.''
''Ohh iya, kau bisa menyetir tidak ? Kau bisa menggunakan mobil Bibi untuk transportmu ke kampus.''
Syila nyengir, ''Aku tidak bisa Bi.''
''Kalau naik angkutan umum akan sangat memakan waktu. Bagaimana jika motor ?''
Syila mengangguk cepat.
''Baiklah di garasi ada dua motor, kau bisa memakainya.
__ADS_1
***
Disebuah minimarket 24 jam, Dika membeli beberapa keperluan pribadinya. Sekalian mampir batinnya.
Ketika sedang memilih, dan hendak mau membayar, dia tidak sengaja menabrak orang.
''Dika !'' Seru wanita itu.
Deg..
Suara itu, hanya dengan mendengar suara itu menumbuhkan sesuatu yang sudah lama ia pendam.
''Laura ?''
''Iya ini aku, bagaimana kabarmu ?''
''Seperti yang kau lihat.'' Dia bertambah dewasa, namun juga agak kurusan.
Ada apa ini dadaku. Aku sudah menguburnya sedalam-dalam mungkin, namun ketika kembali berhadapan begini, seperti yang kuusahakan itu hanya sia-sia.
Aku masih merindukannya. Namun aku juga masih kecewa dengannya.
***
Disinilah kami, duduk berdua di kursi taman.
''Dika... aku mau minta maaf.'' Ucapnya lirih.
''Aku menyesali sikapku kepadamu waktu itu.''
''Aku mencoba mencarimu dikontrakkanmu, namun kau sudah tidak ada disana. Aku bertanya pada tetangga kontrakkanmu, namun, mereka tidak ada yang tahu kau pindah kemana.'' Tutur Laura.
''Ada apa denganmu ? Kau yang melepaskanku, kau juga yang mencariku ?'' Tanya Dika.
''Aku dan dia tidak mendapatkan restu. Baik dari orangtuaku juga orangtuanya. Ternyata dia sudah dijodohkan. Sedangkan Ibu, dia.. dia hanya ingin kau yang menjadi menantunya bukan pria lain. Ibu sedang sakit jantung. Aku tak berani adu argument. Sudah kujelaskan baik-baik bahwa kita sudah selesai, namun Ibu seakan tuli tidak menerima penjelasanku.'' Jelas Laura panjang dengan menundukkan wajahnya.
''Cihh.. aku kira kau mencariku karena masih mencintaiku.'' Remeh Dika.
Laura menelan dengan susah payah. Pria dihadapannya ini pasti sangat sakit hati.
''Itu alasanku yang kedua.'' Lirih sangat lirih dia mengucapkannya.
''Aku tidak berharap lebih, karena aku tahu bagaimana buruknya aku memperlakukanmu. Namun setelah kau pergi, aku menyadari sesuatu, rasa yang kuanggap biasa saja dan sudah terlupakan, nyatanya masih ada, dia hanya tertutup dengan keserakahanku, bahkan beberapa kali aku salah menyebutnya dengan namamu. Aku minta maaf Dika.'' Laura mulai menangis.
Dan itu hal yang dari dulu tidak bisa Dika lihat. Dika paling rapuh jika Laura sudah menangis.
Dika menghela napas panjang.
''Yang berlalu sudah lupakan saja. Aku sudah memaafkanmu tanpa kau memohon seperti ini.''
Setelah obrolan panjang itu, Dika mengantar Laura. Dia juga bertemu Ibu Laura yang keadaannya memang sangat berbeda dari yang dulu.
''Nak Dika ?'' Seru Ibunya sangat antusias.
__ADS_1
''Iya Bi, ini aku. Bagaimana keadaan Bibi ? Aku mengganggu istirahat Bibi ya ?''
Bukannya menjawab Ibu Laura malah memeluk Dika erat. Seolah-olah dia telah lama kehilangan putranya sendiri.