
''Sayang pakailah ini,'' Kaisar memberikan paper bag, berisi dress berwarna putih beserta jilbabnya.
Syila menurut saja, mereka sedang bersiap untuk pergi.
Kaisar mengendarai mobil, suasana sunyi, Kaisar seperti sedang tidak ingin banyak bicara, biasanya ia paling suka usil. Syila pun tidak ingin memulai pembicaraan.
''Tunggu disini sebentar ya,'' Kaisar turun dari mobil setelah mendapatkan anggukan dari Syila. Syila mengikuti kemana arah Kaisar pergi, ia ke toko bunga. Membuat Syila bertanya, apa ke panti ia akan membawakan bunga.
Tak lama Kaisar masuk ke dalam mobil, masih dengan diamnya. Ia mengusap ujung kepala Syila, kala Syila menatapnya penuh tanya. Bunga itu adalah lily putih, cantik sekali.
Mobil melaju lagi, sekitar 20 menit, mobil terhenti, di sebuah pemakaman. Syila bertanya-tanya, untuk apa Kaisar membawanya ke makam, dan makam siapa?
''Ayo turun, aku ingin mengenalkanmu kepada seseorang,'' ajak Kaisar.
'Dia sudah gila apa? mau mengenalkan dengan seseorang tapi di pemakaman, apa dia seorang penggali kubur? apa dia sudah mau memesakan tanah wakaf?' menerka-nerka sendiri.
Sampai Syila merasakan langkah kaki Kaisar yang melambat, ia membawa bunga lily putih tadi, dan berhenti di salah satu gundukan tanah yang sudah di tumbuhi banyak rumput namun terlihat terawat. Ia sematkan diantara rumput-rumput itu, Syila membaca namanya 'Yasita Lily', Syila semakin penasaran.
Sampai Kaisar bersimpuh di makam itu, langit tiba-tiba menjadi sendu juga. Angin sekitar seperti menyambut kedatangan mereka.
''Hai, Sita?'' kata Kaisar. Sedangkan Syila hanya berdiri memandangi bahu Kaisar yang bersimpuh membelakanginya.
''Maaf aku baru bisa kemari setelah hari itu, hari dimana aku bercerita aku sedang kesulitan mencari seseorang yang membuatku lebih gila setelah kehilanganmu,'' imbuhnya.
''Apa kabarmu disana? bagaimana anak kita? apa kalian bahagia?''
Deg.. 'Anak kita? ini makam istri pertama Kaisar?' sadar Syila. Pantas suasana menjadi sendu begini.
__ADS_1
''Aku bawakan bunga kesukaanmu, kau senang? Sita, kau pernah berkata sebelum kau benar-benar tega meninggalkanku sendirian dan kau membawa buah cinta kita bersamamu, kau menyuruhku untuk mencari penggantimu saat itu, kau berkata padaku untukku mengikhlaskan kepergianmu, kau juga berkata jika akan ada suatu kebahagiaan setelah kesedihanku,'' suara Kaisar bergetar.
''Aku membawanya saat ini, dia sudah menjadi istriku, dia adalah kebahagiaanku saat ini, kau tidak apakan? aku senang sekali Sita, rasa sakit karena kehilangan kalian selama ini seperti sirna begitu saja setelah bertemu dengannya, walau pertemuan kami dan pernikahan kami tidak seromantis dan semanis saat bersamamu. Kami menikah karena kecerobohanku, aku harus bertanggung jawab untuk sebuah kesalahanku kepada orangtuanya. Tapi aku bahagia, sangat bahagia. Walau awal-awalnya dia sangat membenciku.''
'Sedih sekali, pasti Kaisar juga merasakan kehilangan yang begitu dalam, seperti halnya saat aku yang kehilangan kedua orangtuaku di saat aku sedang di ujung puncak karier dan prestasiku. Ternyata dia juga punya sisi rapuhnya yang selama ini tidak ia perlihatkan di wajahnya yang selalu menyebalkan itu.'
Syila maju selangkah, ia ulurkan tangannya, menepuk bahu pria yang saat ini menjadi suaminya. Kaisar membalasnya dengan senyuman.
''Kemarilah!" pinta Kaisar.
"Ini makam Yasita Lily, istriku, sebelum kau, dia pergi membawa anak kita,'' Kaisar memperkenalkan Syila kepada makam Yasita.
''Ha.. hai..'' sapa Syila dengan melambaikan tangannya, seolah-olah dia sedang menyapa manusia yang masih hidup.
Kaisar memberi celah untuk Syila mendekat.
''Lily, bagaimana bisa kau mencintai pria sepertinya? dia sangat menyebalkan, semaunya sendiri, walau dia sangat menggoda iman,'' lirih Syila mengatakan, Kaisar semakin mengembangkan senyumnya.
''Maafkan aku, bukan bermaksud merebut pria ini darimu, apa lagi menggeser namamu di hatinya, aku bahkan sempat menolak semua takdir ini. Hanya saja semakin aku menolak, takdir seperti semakin mempereratkan kami,'' Syila menundukkan pandangannya.
''Aku bahkan sangat membencinya, aku menyalahkan semuanya kepadanya, saat orangtuaku mengalami kecelakaan dan harus meninggalkanku seorang diri. Saat itu, hatiku benar-benar tidak bisa menerima orang lain, hatiku terasa mati untuk kehadiran cinta yang lain selain dari kedua orangtuaku. Aku bahkan sempat memintanya untuk menceraikanku di saat pernikahan kami belum ada seminggu, aku sangat berani padanya sebelum ia menunjukan kemarahannya, setelah itu nyaliku mendadak menciut, dia jahatkan? menindas gadis belia sepertiku,'' Syila menitikan air matanya saat kembali menyebut orangtuanya namun bibirnya tertarik membentuk senyuman.
''Aku kekanak-kanakan ya? biar saja, biar suamimu ini kesal kepadaku,'' terpotong oleh ucapan Kaisar, ''Aku juga suamimu Syila,'' Syila tersenyum, ia mundur memberikan waktu untuk Kaisar.
Syila menjauh, ia jadi merindukan orangtuanya, ia duduk di bangku yang berada diluar makam. Membuka liontin yang selalu ia pakai.
Tak lama Kaisar ikut duduk di sampingnya, ia membawa Syila pada pelukannya, ''Maafkan kesalahanku sayang, maafkan aku yang sudah memisahkanmu dengan orang-orang yang kau sayangi,'' Syila terisak.
__ADS_1
''Aku hanya merindukannya, Kai. Aku yang minta maaf, seharusnya aku tidak menyalahkanmu, seperti kata Ayah, ini semua sudah kehendakNya.''
''Ya sudah, ayo, aku ingin pergi ke panti, kau jadi ikut?'' tanya Kaisar mengalihkan suasana sedih ini.
Kaisar tak henti-hentinya menggenggam tangan Syila, bahkan saat ia menyetir sesekali ia ciumi punggung tangan itu.
''Kai, lepaskan tanganku, mau sampai kapan kau memegangnya?'' protes Syila yang merasa tangannya berkeringat dalam genggaman Kaisar.
''Aku bahagia bisa memilikimu, aku bisa mendapatkan ragamu, sekarang aku akan berjuang demi hati dan cintamu,'' Syila tersanjung akan perjuangan Kaisar.
Tak lama sampailah mobil Kaisar di halaman rumah anak-anak tanpa orangtua itu.
'Ehh ini kan tempat yang sering aku kunjungi sewaktu kuliah dulu,' Syila memperhatikan suaminya yang nampak sibuk dengan barang-barang di bagasi mobilnya.
Tak lama ada gadis yang mungkin sudah bersekolah dasar menghampiri Kaisar.
''Paman....!'' lengkingan suara gadis itu memecah gendang telinga Syila, sembari berlari gadis kecil itu meminta pelukan dari Kaisar.
Kaisar dengan senyum hangatnya menyambut kedatangan gadis itu. Mereka berpelukan sangat erat, seperti ayah dengan anaknya. Syila yang melihat kedekatan suaminya dengan anak itu semakin terenyuh. Kaisar begitu hangat, ia memberikan kecupan di kedua pipi gembul gadis itu.
''Paman, lama sekali tidak kemari, Mimi merindukanmu,'' ia benamkan lagi wajahnya di ceruk leher Kaisar.
Kaisar terbahak mendapat perlakuan itu dari gadis kecil itu. Ia menyadari jika pamannya membawa seorang wanita.
''Paman, kau membawa pacarmu ya? aku cemburu!'' Kaisar semakin terbahak mendengarnya.
Sedangkan Syila langsung membolakan matanya mendengar penuturan gadis kecil yang sedang berada di pelukan Kaisar.
__ADS_1
'Cemburu? dia masih sekecil itu tapi sudah tahu cemburu!' Syila diam saja walau batinnya seperti ingin meronta.