Karma Cinta

Karma Cinta
Rumah Bibi Nuha


__ADS_3

Aku hanya mampu menatap punggungnya yang semakin menjauh. Dari jarak yang sudah ada, akan semakin ada jarak yang lebih jauh lagi. Hubunganku dengan Syila nyatanya tak akan pernah lebih dari sebuah pertemanan. Berkali-kali aku rapalkan kalimat itu. Tapi ternyata sangat sulit untuk diterima hatiku. Hingga hari ini aku putuskan untuk benar-benar melupakannya. Saat melihat tangannya yang sudah tersemat cincin dijarinya. Aku tahu, dia sudah mempunyai pria yang mungkin akan terus menjadi pendamping hidupnya, dan kehadiranku hanya sebagai pemanis saja. Miris.


Kadang aku juga protes kepada Tuhan, mengapa bukan aku saja yang diperankan sebagai pendamping wanita yang masih setia bertengker dihatiku ini. Dan Tuhan seperti memberi jawaban 'tidak' untuk sebuah protesku tadi, dengan penolakkan yang diberikan oleh Syila.


Namun aku sangat menyukai peranku ini. Bodoh bukan. Setidaknya aku ikut bahagia jika melihat senyum yang meneduhkan itu terus terukir diwajahnya.


Ok. Aku pulang dengan lembaran baru. Cintaku sudah pergi membawa separuh kedamaian hidupku. Aku juga harus pergi untuk mencari kedamaian yang baru saja hilang.


Pertemuan terakhir ini akan menjadi penutup kisahku dengan Syila. Termasuk rasa cintaku yang tak terbalaskan. Jika suatu saat aku bertemu kembali. Aku berharap bukan kisah seperti ini lagi yang kujalani. Aku berharap, aku sudah mengganti namanya dengan nama seseorang yang lebih bisa mencintaiku.


Doni.


***


Perjalanan yang cukup melelahkan sudah ditempuh oleh Syila dan keluarganya. Kini dia sedang berada dijalan menuju rumah Bibi Nuha. Rumah yang akan Syila singgahi selama di Ibu Kota.


Pikiran Syila tertuju pada banyak hal. Terutama memikirkan dia akan hidup tanpa orangtuanya. Jauh-jauh hari sudah dia yakinkan jika semua akan baik-baik saja. Nyatanya sekarang dia yang merasa berat.


Bibi Nuha seorang janda. Dia hidup sendiri setelah suaminya meninggal karena sakit keras. Sedangkan anak semata wayangnya telah menikah dan hidup bersama sang suami di luar kota.


Bibi Nuha mempunyai beberapa toko kue. Dan ternyata itu adalah milik Ibu Rahma. Ibunya Syila. Hasil dibagi dua. Begitulah cara pembagiannya. Tak ayal Ibu Rahma walaupun hidup di kampung dan hanya mempunyai kebun, hidupnya tak pernah kekurangan.


Dulunya Ibu Rahma juga pernah mengais rejeki di Ibu Kota. Karena ingin mempunyai anak. Dan mungkin karena lingkungan dan udara di Ibu Kota tidak cocok dan tidak sebersih di kampung maka Ibu Rahma memutuskan untuk menyerahkan toko yang sudah ia rintis bersama sang suami kepada Bibi Nuha. Dan memilih hidup damai di kampung.


Hasilnya sangat memuaskan. Dia mempunyai pemasukkan tanpa susah-susah bekerja. Dan karena Ibu Rahma juga Bibi Nuha sama-sama penggemar kue. Kue-kue buatannya laris dipasaran dengan beraneka ragam jenis kue. Toko yang mulanya hanya satu, kini sudah melebarkan sayapnya. Bercabang menjadi 5 toko.


***


Ibu kota tak jauh dari kemacetan serta polusi. Kota yang glamour. Kota metropolitan.


Lampu merah. Saatnya semua mobil berhenti memberi akses untuk kendaraan lain atau para pejalan kaki.


Tepat disebelah mobil taxi yang Syila kendarai ada mobil cukup yang mewah juga berhenti.


Pria didalamnya melepas kacamata hitamnya. Memastikan jika yang dilihatnya adalah benar. Setelah benar-benar yakin akan apa yang dilihat. Pria itu hendak turun dari mobil, belum sampai kepada tujuannya, lampunya telah berubah menjadi hijau.


Suara klakson bersahutan. Mobil pria ini menghalangi perjalanan mereka.


"Sial.." Umpat sang pria.


"Sudah didepan mata. Hampir saja aku menggapainya gara-gara lampu hijau sialan aku kehilangan jejaknya lagi."


Dia mencoba mengejar taxi itu. Namun nihil semua sia-sia.

__ADS_1


Akhirnya ia melanjutkan tujuan utamanya yaitu bertemu klien.


***


Sedangkan di tempat lain. Disebuah ruangan. Dika baru saja membuka pesan dari Syila, jika gadisnya itu sudah di Ibu Kota. Dengan wajah sumringah dia pergi meninggalkan kantornya itu. Karena memang ini sudah jam pulangnya.


Mengendarai mobilnya menuju alamat yang sudah dikirimkan Syila tadi.


Setelah mencari alamat tersebut sampailah Dika di rumah Bibi Nuha.


Terdengar salam dari luar. Bibi Nuha yang membukanya.


"Cari siapa Tuan ?"


"Ini kediaman Bibi Nuha bukan ?"


"Iya saya sendiri. Ini dengan siapa ?"


"Ahh... Iya perkenalkan saya Dika, Bi. Tunangannya Syila. Tadi dia memberiku kabar dia sudah sampai disini.''


Akhirnya Bibipun mempersilahkan masuk Dika.


Yang dijenguk hanya cengar cengir.


''Baru pulang ?'' Tanya Syila.


''Pantas masih bau asam.'' Hihihi. Bohong sih hanya menggodanya saja. Sesekali batin Syila.


''Perjalanan yang lumayan melelahkan kata Ibu. Kalau aku, tidak juga sih karena sepanjang perjalanan aku tidur.'' Masih dengan cengengesan.


Yang dibilang asam refleks menciumi tubuhnya sendiri guna memastikan apa itu benar.


''Tidak parah masih wangi kok.'' Pembelaan.


''Lalu bagaimana dengan kampusmu ?''


''Semua tes sudah lulus. Besok aku kesana mau mengurus segala administrasinya.''


''Ok.''


Dika menatap lawan bicaranya dalam.


''Ada apa ?''

__ADS_1


''Mengapa kau bertambah semakin manis ?''


Syila tersipu.


''Aku jadi tidak rela kau pergi ke kampus. Pasti akan banyak pria yang melihatmu.'' Sarkas Dika.


''Kau ini. Mereka punya mata jelas bisa melihatku. Jangan pikirkan yang tidak-tidak, aku tahu batasanku. Apa lagi dengan cincin ini, siapa yang masih berani mendekatiku.''


''Kau belum tahu pria disini seperti apa Syila. Jangankan yang baru bertunangan, yang sudah menjadi istri orang beranak dua saja terkadang masih ditikung.'' Cerita Dika.


''Benarkah ? Kau sudah membuatku takut Dika. Apa mungkin seharusnya aku kuliah dikampung saja ya.'' Sok mikir.


''Kau mau membuatku semakin menderita karena rindu ?''


''Cihh.. Kau sudah seperti tokoh film xx saja. Berlebihan.'' Ledek Syila.


''Kau tak pernah merindukanku selama kita berjauhan ?''


''Tidak..''


''Sedikitpun ?''


''Tidak..''


''Sungguh ?''


''Tidak..''


''Kau sangat menyebalkan Syila. Bagaimana mungkin kau tidak merindukanku. Sedangkan aku selalu merindukanmu. Ini tidak adil.'' Mode merajuk.


Hahahaha.. Tawa Syila pecah. Dika terlihat seperti anak kecil yang kalah debat tentang mainan bersama temannya.


Syila memajukan wajahnya tepat ditelinga Dika.


''Maksudku tidak salah lagi. Aku sangat merindukan kekasihku. Dan kau ternyata menggemaskan sekali jika sedang merajuk.'' Terdengar seperti bisikkan sensual, s*ksi sekali. Begitu yang Dika rasakan. Bahkan hanya dengan kelakuan Syila yang seperti itu, bisa membuat tubuhnya meremang.


Setelah bicara seperti itu dengan jarak yang sangat dekat, Syila terkejut sendiri setelah sadar dengan kelakuannya.


Wahh wajahnya sudah memerah karena malu. Dika menatapnya semakin dalam lagi.


''Kau berani ya. Coba ulangi yang seperti tadi.''


''Tidak mau. Itu tadi bukan aku yang melakukannya. Ada setan lewat.'' Kata Syila. Karena memang kini mereka berdua berada ditaman mini yang ada dirumah Bibi Nuha.

__ADS_1


''Lain kali jangan memancingku dengan nada bicaramu yang seperti tadi. Jika kau ingin baik-baik saja.'' Dengan seringainya Dika berucap.


''Tidak. Tidak akan pernah lagi.'' Syila menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Sungguh memalukan.


__ADS_2