
“Kakak apa ini rumahmu?” tanya Rayhan. Masih terlihat kebingungan.
“Iya, ada apa kemari?” tanya Syila kemudian. Pasalnya dia tidak memberitahu alamat rumah ini, tapi pria tengil itu sudah sampai di sini.
“Aku salah alamat mungkin. Atau Kakakku sudah pindah namun tidak memberitahuku,” kata Rayhan.
“Ayo masuk dulu,” ajak Syila saat melihat Rayhan membawa koper besar dan hari semakin larut.
Rayhan pun masuk. Ada Bibi Lila, “Ehh, ternyata yang akan datang si Aden,” Syilla yang mendengarnya di buat bingung.
Begitu pun dengan Rayhan, ‘Bi Lila kan pembantu rumah Kak Kaisar, kenapa bekerja bersama Kak Syila?’
Belum terpecahkan di otak Rayhan. Terdengar deru mesin mobil datang, Syila yang mulanya sedang di dapur dengan tergesa keluar.
“Kai,” ciuman mendarat di bibir Syila.
“Emm ada tamu, dia temanku. Dia mencari alamat saudaranya. Dari tadi mencoba menghubungi tapi tidak di angkat oleh saudaranya, kau keberatan aku menerima tamu pria?” dengan menggandeng tangan Kaisar mereka berjalan masuk bersama.
Rayhan yang melihat pemandangan itu langsung tersedak minumannya. Sepertinya dia tidak salah alamat, hanya memang ada yang berubah di rumah ini. Pikir Rayhan, Kaisar belum menikah. Karena setahunya, dia amat menutup hati untuk wanita lain setelah kepergian istri pertamanya.
“Hei bocah kau sudah lama datang?” sapaan Kaisar membuyarkan opini-opini Rayhan dan membuat Syila celingukan karena bingung.
“Kalian saling kenal?” tanya Syila.
Akhirnya mereka duduk bertiga di ruang tamu.
“Sayang, dia yang ku maksud sebagai adik sepupu. Dia akan di sini sementara. Orang tuanya sudah menitipkannya padaku. Aku yang lupa tidak memberitahumu,” penjelasan Kaisar untuk Syila dengan tatapan lembut penuh kasih.
“Dan Ray, dia Syila istriku!” pengenalan status dengan penuh intimidasi dan sorot mata yang tajam. Seperti memberi peringatan ‘jangan macam-macam dia milikku.’
Rayhan bungkam. Dia pulang memilih magang di kotanya karena ingin bertemu lagi dengan Syila. Ingin menagih rasa yang dulu Syila tolak mentah-mentah dengan alasan dia masih sekolah dan masih kecil. Sekarang dia kembali dengan perubahan tapi takdir juga sudah merubah status Syila. Patah hati.
Syila menangkap raut muram dari Rayhan. Masih belum sampai di kepala Syila apa yang membuatnya tiba-tiba seperti itu.
__ADS_1
“Jadi kalian sudah menikah?” Syila dan Kaisar menganggukkan kepala bersama.
“Kak, bagaimana denganku?” meminta pertanggungjawaban dari Syila. Kaisar menatap Syila penuh tanya, dan Syila masih berpikir memangnya dia kenapa.
“Aku pulang untuk kembali menagih rasa yang dulu Kakak tolak, tapi dengan teganya Kakak malah sudah menikah dengan om om ini,” kesal Rayhan sudah tidak memedulikan lagi tatapan sangar dari Kaisar.
Syila akhirnya mengerti, sedangkan Kaisar sudah mau tunjuk taringnya.
“Hei, mana aku tahu jika takdir akan seperti ini, lagi pula aku mengira emm kemarin itu hanya perasaan sesaatmu. Usiamu masih muda, dan aku rasa perasaanmu itu juga masih labil,” tidak enak Syila mengatakannya. Tapi ia tidak ingin memberikan harapan lain. Ia mencoba memberi pengertian. Kaisar sudah ingin ikut bicara, namun genggaman tangan yang erat dari Syila membuatnya bungkam lagi.
“Kakak tega, membuat berondong patah hati untuk ke dua kalinya,” ia tunjukkan wajah melasnya.
“Bocah tengil, jika kau ingin bersaing denganku, jadilah hebat dulu. Jajan saja masih minta Ibumu, berani sekali mau mendekati wanita,” seloroh Kaisar tak peduli larangan dari Syila lagi.
“Tidak! aku sudah hebat, siapa bilang aku masih meminta Ibu, Ibu saja yang terus memberi!” tolak mentah-mentah pendapat Kaisar, melihat Syila mengulum senyum ia memalingkan wajahnya.
“Bahkan untuk ukuran tubuh, kita tidak jauh berbeda. Aku juga mempunyai tubuh tegap, tinggi juga sama,” Rayhan berdiri membusungkan dadanya. Yang di ajak pamer tubuh lebih tertarik memainkan ujung hijab istrinya.
“Kak, dia sudah tua! sedangkan aku masih muda. Energiku masih banyak,” Rayhan menyelidik Kaisar.
Rayhan hanya melirik tubuh bawah Kaisar tanpa memberi jawaban. Kaisar yang melihatnya langsung melempar bantal sofa tepat di wajah adik tengilnya itu.
“Apa kau lihat-lihat bagian itu! kau mau beradu?” tantang Kaisar. Syila menggelengkan kepalanya. Tak percaya suaminya ini malah terpancing dengan Rayhan.
“Seharusnya punyaku lebih besar dan tangguh, iya kan Kak, bagaimana menurutmu?” ia tersenyum jenaka dengan memainkan alisnya naik turun. Tidak ada rasa takutnya sama sekali dengan Kaisar yang wajahnya mulai memerah.
“Kalian ini membahas apa?” Syila tidak nyambung.
‘Bugh’
Kedua kalinya bantal sofa mendarat di wajah Rayhan, “Dia Kakak iparmu, yang sopan! Jika kau tidak mau menutup mulutmu, aku akan memulangkanmu sekarang juga!” ancam Kaisar yang langsung membuat Rayhan menurut.
“Sudah berhentilah berdebat, hari sudah malam. Ray, kamarmu di sebelah sana dan Kai, kau juga harus istirahat,” Syila menengahi perdebatan kedua pria sama gagahnya hanya beda usia itu.
__ADS_1
Kaisar ingin menyampaikan kata-kata mutiaranya lagi, namun kalah cepat dengan tarikan tangan Syila beserta bungkaman di mulutnya.
Rayhan hanya mampu menatap kepergian wanita yang menjadi alasannya untuk berubah lebih baik bersama pemiliknya. Dan sialnya itu adalah kakak sepupunya sendiri.
Tak lama ia juga memasuki kamar yang sudah di sediakan oleh Bi Lila.
Di kamar Kaisar.
Dengan mengunci pintu, Kaisar langsung menghadang Syila yang hendak menyiapkan air hangat untuknya mandi.
‘Ya Tuhan, belum selesai ternyata,’ batin Syila bicara.
“Katakan padaku, kau punya hubungan apa dengan Rayhan? mengapa dia menagih sesuatu darimu? kau memberi janji apa?” mengintimidasi.
“Kai sudahlah itu bukan apa-apa. Ini sudah malam, kau perlu istirahat,” malas berdebat.
“Tapi aku ingin tahu,” kata Kaisar.
Lalu mau tak mau Syila menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Rayhan terjadi. Dia datang di saat perseteruannya dengan Dika. Dan terus datang ke toko untuk membeli kue kesukaan Ibunya.
“Cih, pintar sekali dia! alibi membeli kue, terselubung ingin mendekati pemilik toko kuenya!” ngedumel sendiri dengan melepaskan pakaiannya.
Syila hanya tersenyum. Tapi senyumnya pudar di ganti rasa terkejutnya, saat pakaian yang di kenakan oleh Kaisar tinggal sehelai, bukannya masuk ke kamar mandi tapi malah mendekatinya dan menggiring ke ranjang.
“Kai—“ protes yang gagal. Bibirnya sudah lebih dulu di bungkam dengan bibir.
“Aku sedang kesal. Walau pun kau sudah menolaknya. Tapi dia masih akan merayumu. Aku sangat kesal, jadi biarkan aku menghilangkan rasa kesalku!”
‘Kenapa melampiaskannya kepadaku duda gila! salahku di mana? seharusnya kau melampiaskannya ke Rayhan, katamu dia yang merayuku!” Uhh ingin sekali membangkang seperti awal berhubungan dengannya, tapi kini tidak bisa ia lakukan. Rasa cinta yang terus tumbuh di hati Syila, membuat Syila mengiyakan semua kemauan suaminya. Karena kebahagiaan Kaisar sekarang menjadi kebahagiaannya juga. Entahlah, Syila juga bingung kenapa hatinya sekarang begini. Tapi ia sangat menikmati kehidupan dengan rasa manis yang terus di berikan oleh Kaisar, suaminya.
Di dalam kamar yang berbeda walau satu rumah, Rayhan sedang menata hatinya yang kembali kecewa. Jauh-jauh ia datang dengan susah payah membuat perubahan di hidupnya, malah kekecewaan yang ia dapat dari perjuangannya.
Tapi tak apa. Rasa sayangnya kepada Kaisar yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri membuatnya rela melepaskan Syila. Lagi pula Rayhan tenang jika yang bersanding dengan Syila adalah Kaisar. Dia yakin kakaknya itu akan berbuat yang terbaik untuk Syila.
__ADS_1
“Huft, setiaku lagi-lagi tak membuahkan hasil yang manis.”
Segera ia memejamkan matanya. Rasa lelah yang melanda, membuat Rayhan tak ingin memusingkan urusan hati. Dia sudah sering mendapatkan sebuah kekecewaan, walau berbeda cerita tetap saja kecewa itu membuat merana. Dan kini ia ingin merubah rasa yang memang takdir tak ingin menjadikannya nyata.