
Ternyata jebakan mereka sudah bisa di ketahui oleh bodyguard bayangan Syila, dengan kacamata sistem yang mereka punya, mereka mampu melihat letaknya bom aktif dari jarak 50 meter yang tersembunyi kurang dari satu meter dalamnya.
Jika tertekan maka bom itu akan meledak, dengan cara melempar batu besar, dan pas sasaran, mengenai bom yang tertutup dedaunan kering. Bom meledak mengalihkan para penjaga.
Kaisar dan Lewis sudah berada disana, dengan senjata di tangan mereka, perlahan mereka masuk ketika para penjaga sedang lengah.
Sementara itu, kedua bodyguard bayangan Syila berjaga disekitar sana, dan yang satu mencoba mencari jebakan bom yang lain, ia yakin bukan hanya satu saja bos mereka menanam bom itu.
Syila disekap di sebuah ruangan seperti gudang. Mulanya mereka ingin memberikan Syila kepada Adnan, namun ketika melihat Andan bergelimpungan di lantai dengan memukuli wajahnya sendiri mereka tidak jadi melakukannya.
''Dimana wanita itu?'' tanya Adnan yang kembali menguasaji raga Adji.
''Ada di gudang, Tuan,'' jawab penjaga itu.
Adnan masuk, ia melihat Syila sudah mulai pucat, darah terus mengalir dari tangannya yang terluka.
''Sini kau!'' sentak Adnan, Syila langsung berada dalam cekalannya.
Dari luar terdengar suara tembakan dan baku hantam, sangat bising, Syila bahkan menjerit ketika mendengar suara tembakan itu lagi. Dia sangat takut, tadi suara ledakan bom, membuat lantai yang ia pijaki bergetar, sekarang suara pistol, sudah Syila bayangkan pasti akan ada darah yang bercucuran.
Samar-samar ia mendengar suara Kaisar. Syila begitu senang, tubuhnya mulai lemas, pandangannya juga mulai kabur. Adnan menyeretnya keluar.
Ia melihat anak buahnya sudah terkapar di lantai semua,
''Berhenti, ini istrimu, bawalah jauh-jauh dari sini, selagi Adnan belum menguasai ragaku lagi!!'' ia bicara dengan Kaisar.
Kaisar, begitu bahagia melihat Syila, begitupun dengan Syila yang nampak ingin berlari ke arahnya namun langkahnya begitu berat.
Dengan cepat Kaisar melangkahkan kakinya tanpa mencurigai gerak gerik sosok Adji yang berkepribadian ganda itu. Ketika sudah di depan mata, selangkah lagi Kaisar memeluk Syila, saat itu pula pelatuk dari pistol Adnan tertarik dan ''Dorr!!'' bunyi pistolnya.
Dengan gerakan cepat Kaisar memeluk Syila dan membalikkan posisinya, jadi bukan Syila yang terkena tembakan tapi Kaisar. Tepat di punggungnya dekat jantung.
''Kaii!!!'' teriak Syila histeris di sisa-sisa kekuatannya. Ia meraba bahu yang tembus peluru, ia lihat tangannya penuh darah segar lagi. Kaisar masih sempat tersenyum dan mencium bibir Syila sesaat. Lalu ia terkulai lemas di lantai.
Sedangkan Lewis merasa sangat terkejut ketika ia melihat Kaisar sudah tak berdaya. Ia kecolongan, ada anak buah Adnan yang kembali bangkit dan menodongkan senjata lagi. Lewis menyelesaikan masalah kecil itu, yang malah membuatnya lupa dengan Kaisar.
Adnan tertawa puas, ''Hahahahaha, terkena tepat sasaran,'' Adnan meniup ujung pistolnya yang sedikit berasap.
__ADS_1
''Syila, suami tuamu pasti akan mati, kau bisa kembali denganku jika dia mati! kuras hartanya, kita bisa membangun istana disini seperti keinginanmu!'' ucapnya dengan angkuh.
''Kau saiko!!'' teriak Syila, ia mengambil pistol Kaisar, dengan sembarang ia tembakan berkali-kali, dengan mata terpejam dan menangis.
''Akkhhhhh..!!'' Adnan yang tidak menyangka Syila akan menyerangnya dengan pistol, ia terkena tembakan itu di tangan dan kakinya. Membuatnya susah berdiri untuk kabur. Pistolnya sudah terlempar jauh.
Lewis segera membantu Kaisar dan Syila, tepat ketika para bodyguard bayangan Syila masuk.
''Urus bedebah itu!'' perintah Lewis.
Tak lama kemudian tim kepolisian datang. Mereka membantu membereskan permasalahan disana.
****
''Lewis, cepatlah!!'' kata Syila membentak.
Mereka sudah berada didalam mobil, perjalanan menuju rumah sakit.
''Nona rumah sakit dari sini sangatlah jauh, Tuan tidak akan mampu menahan peluru itu di waktu yang begitu lama. Kau harus mencoba mengeluarkannya!'' usul Lewis.
''Bagaimana caranya? kau pikir aku seorang perawat!'' sudah takut ditambah semakin takut lagi.
''Dan di bagian belakang jokku ada kotak P3K, ambillah guntingnya,'' Syila mengikuti intruksi dari Lewis.
''Syila...,'' panggil lemah Kaisar.
''Kai?! bertahanlah, kau berjanji akan selalu ada untukku bukan? jadi, kumohon bertahanlah.''
Kaisar mengangguk, ''Jangan menangis, lakukan apa yang Lewis arahkan,'' dia mencoba memberi ketenangan ditengah kepanikan.
''Nona, pelurunya tidak terlalu dalam, bersihkan dengan membakar ujung pisau dan guntingnya, lalu lap dengan cairan alkohol di kotak P3K, kau harus bisa melakukannya, Nona!''
Syila membuka baju Kaisar, ia mengecek luka itu dengan cahaya lampu senter yang entah mengapa berada di dalam mobil itu juga. Tiba-tiba ban kempes.
''Sial!!'' umpat Lewis.
''Ada apa lagi?'' Syila sudah tidak pedulikan lagi tangannya yang terluka.
__ADS_1
''Ban kempes, Nona, aku akan menggantinya, dan kau cepatlah tolong Tuan!'' kata Lewis.
''Iya.''
Kaisar setengah sadar, ''Kai, maafkan aku jika menyakitimu, salahkan sekretarismu itu, nanti potong saja bonusnya jika ini tidak berhasil!'' Kaisar masih bisa tersenyum
''Akhhhh!!'' teriaknya membuat Syila maju mundur ingin mempraktekkan apa yang di katakan oleh Lewis tadi.
''Lakukan Syila, ini sangat sakit,'' ucap Kaisar.
''Tapi kau sudah kesakitan, bagaimana jika nanti bertambah sakit?!'' malah beradu argument.
''Lakukan sayang! kau harus melakukannya!'' mohon Kaisar. Keringat dingin membasahi tubuh Kaisar karena menahan sakit.
Kaisar tengkurap di pangkuan Syila. Dengan pelan-pelan tapi pasti Syila melakukan apa yang di lkatakan Lewis tadi.
Pisau ia tancapkan disisi luka Kaisar, ''Akhhh!!'' teriak Kaisar lagi.
''Kai, maafkan aku, maafkan aku,'' sembari berdoa memohon keselamatan untuk Kaisar, Syila menemukan pelurunya, ia sedikit mencongkel, lalu ia ambil dengan bantuan gunting, ada sedikit daging yang ikut terangkat. Syila lantas membuangnya sembarang, tangannya gemetar, tubuhnya semakin lemas.
Darah kembali bercucuran, Syila panik, ''Sumpal dengan kain kasa disana, Sayang, dan balutlah dengan erat.''
Syila benar-benar melakukannya, sudah seperti para perawat handal saja. Lewispun sudah selesai mengganti ban mobil. Waktunya menempuh perjalanan menuju rumah sakit lagi.
Kaisar bertelanjang dada, ia menggenggam tangan Syila, sejenak ia baru menyadari jika tangan Syila juga terluka lumayan dalam.
''Sayang, tanganmu?'' ucapnya begitu lemah.
''Jangan pedulikan aku, Kai, aku tidak apa-apa.''
****
Setelah itu Kaisar berkata lelah ingin tidur, Syila sudah melarangnya, namun mata Kaisar begitu berat, sampai ia benar-benar memejamkan matanya.
''Lewis!! bagaimana ini? katamu ini pertolongan pertama? tapi kenapa Kaisar malah tidak sadarkan diri!'' kalangkabut Syila sudah tidak mengerti apa yang ia rasakan. Rasa takut kehilanganya begitu besar.
''Tenanglah, Nona, kita sudah sampai di rumah sakit,'' sampai Syila tidak menyadari jika mereka sudah berada di halaman rumah sakit, dengan pintu yang langsung menghubungkan dengan ruangan IGD.
__ADS_1
Kaisar langsung diberi penanganan, lukanya dibersihkan lalu dijahit, karena mengeluarkan banyak darah Kaisar tidak sadarkan diri.
Selesai, Kaisar dipindahkan ke ruang rawat.