Karma Cinta

Karma Cinta
Amnesia


__ADS_3

Tentu Bibi Liyana sangat khawatir. Dika pagi-pagi sekali menghubunginya ingin meminjam motor untuk urusan urgent, tiba-tiba dia mendapat kabar Dika kecelakaan.


Tibanya Bibi di rumah sakit, dokter telah selesai menangani Dika, dokter ingin membicarakan sesuatu pada Bibi Liyana.


''Keluarga pasien bernama Dika Vishaka ?'' Tanya asisten dokter.


Bibi Li mendekat, '' Saya Bibinya sus.''


''Ikut saya Nyonya, ada yang ingin dokter sampaikan.''


Bibi Liyana mengekori suster itu hingga masuk dalam ruangan dokter yang tadi menangani Dika.


''Keluarga pasien bernama Dika ?'' Tanya dokter lagi.


''Saya Bibinya dok, ada apa dengan keponakan saya ? Apa dia baik-baik saja ?'' Tanyanya penuh khawatir.


''Ada cidera dalam kepalanya, prediksi pertama dari kami, dia akan mengalami amnesia. Tapi untuk mengetahuinya secara langsung kita perlu menunggu pasien sadar dulu. Seluruhnya tidak ada yang terluka serius, hanya luka luar saja.'' Tutut dokter.


Bibi Liyana sangat sedih, ia langsung mengabari Ayah Dika yang ada di perantauan.


Bibi Liyana juga mengabari Syila. Karena setahu Bibi Liyana, Syila adalah calon istri Dika.


****


Syila dan orangtuanya berjalan di koridor rumah sakit dengan perasaan khawatirnya juga.


Setelah mendapatkan kabar dari Bibi Liyana, Syila langsung berangkat ke rumah sakit tempat Dika dirawat, 'Ada apa denganmu Dika, mengapa bisa kau menerobos lampu merah dan melaju diatas rata-rata ? Kau tak menyayangi nyawamu, hah !' Batinnya berperang.


Ayah Herman menyanyakan kondisi Dika, mewakili Syila yang terlihat cemas. Walaupun sudah disakiti, tidak memungkiri dia masih mempunyai rasa sayang untuk Dika.


Bibi Liyana menjelaskan apa yang dikatakan oleh dokter, lalu Syila pamit menjenguk ke dalam.


''Dika... Dasar pria bodoh !'' Dengan mata mulai berkaca melihat mantan tunangannya terbaring dengan kepala diperban begitu.


Tiba-tiba Dika membuka matanya, Syila buru-buru memanggil dokter. Dokter menjelaskan jika kondisi Dika membaik.


Ruangannya sudah penuh oleh Bibi Li, Syila dan orangtua Syila.

__ADS_1


''Bi, mereka siapa ?'' Tanya Dika kepada Bibinya.


Bibi Li merasa bingung dengan pertanyaan Dika, dia tidak mengenali Syila tapi mengenali dirinya.


''Dia Syila dan orangtuanya, apa kau tidak mengingatnya ?'' Yang dijawab gelengan kepala oleh Dika.


''Laura dimana Bi ? Mengapa tidak ada disini ?''


Syila yang sedari tadi hanya mendengarkan, merasa menculas hatinya, apa dia tidak berarti sedikitpun, kenapa Dika tidak mengingatnya. Dia memang ingin membatalkan pertunangannya, tapi kenapa terasa sangat sakit diperlakukan seperti ini.


''Laura ?'' Bibi Li tidak percaya dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Dika. Akhirnya dokter kembali dipanggil dan Dika melakukan beberapa pemeriksaan.


Dokter memvonis Dika mengalami Amnesia sementara, yaitu ia tidak mampu mengingat sebagian dari memori otaknya, karena benturan keras yang ia dapati ketika kecelakaan, membuat otaknya mengalami trauma. Namun ingatan itu bisa kembali sesuai dengan kerja otak yang membaik juga rangsangan-rangsangan yang bisa membantu daya ingatnya kembali.


Beberapa jam kemudian Ayah Dika datang, bernama Johan. Johan langsung melihat putranya yang sedang istirahat.


Ayah Herman dan Paman Johan saling menyapa. Lalu Ayah Herman ingin menyampaikan maksud sebelum Dika terkena musibah. Sedangkan Ibu Syila sudah pamit pulang, karena ada pesanan yang belum diselesaikan.


''Apa kabar Jo ? Kau terlihat semakin gagah.'' Sapa Ayah Herman.


''Beginilah. Kau sendiri nampak semakin muda saja.'' Basa basinya.


''Mana putrimu yang akan menjadi calon menantuku ?'' Tanya Johan.


Ayah Herman sedikit bingung ingin menyampaikan maksudnya, tiba-tiba Syila datang dengan mata yang sembab.


''Paman, aku Syila. Ada yang ingin Syila sampaikan, karena kondisi Dika yang tidak memungkinkan untuk menjelaskan kepada Paman.''


''Ada apa nak ? Kau membuat Paman khawatir.'' Ucap Paman Jo.


''Syila ingin membatalkan pertunangan kita.'' Langsung pada intinya.


Paman Jo nampak terkejut, ''Tapi mengapa ? Ada yang kurang dari Dika ?''


''Tidak, Dika sangat sempurna untukku Paman, namun kesempurnaannya ternyata bukan hanya untukku saja ia persembahkan. Ada wanita lain.'' Syila menunduk mengenyahkan segala rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Otaknya memutar kembali bagaimana adegan-adegan Dika dengan Laura didepan matanya langsung, rekaman dari Talita dan foto-foto teror itu, semua menunjukkan kedekatan dan kemesraan Dika dan Laura.


Ayah Herman juga terkejut dengan penuturan putrinya. Ia kira masalah mereka bukan tentang orang ketiga. Mungkin hanya ketidakcocokan begitulah yang ada dipikiran Ayah Herman. Karena Dika di mata Ayah Herman adalah sosok pria yang baik, santun dan tanggung jawab.

__ADS_1


''Nak, kau bercanda ?'' Tanya Ayah Herman kepada putrinya sendiri.


Syila sempat mengirim video dari Talita sebelum menghapus video itu dari ponsel Talita. Dan ia juga masih menyimpan foto-foto teror itu.


Syila menyerahkan ponselnya, memberikannya kepada Paman Johan.


Paman Johan terlihat kecewa, ia juga merasa malu dengan kelakuan putranya itu.


''Paman minta maaf.'' Ucap Paman Johan dengan segala penyesalannya.


''Tidak perlu meminta maaf Paman, Paman tidak salah. Syila yang seharusnya meminta maaf karena keputusan ini adalah kemauan dari Syila.'' Syila penuh dengan rasa bersalah kepada kedua pria berstatus sebagai Ayah itu.


''Syila juga meminta maaf pada Ayah.'' Syila menunduk lagi, karena dari keduanya tidak ada respon apapun.


Ayah langsung memeluk putrinya, ia baru sadar seberat apa beban hati putrinya saat ini.


''Tidak perlu meminta maaf sayang, kau yang terhebat bagi Ayah.''


Paman Johan menepuk bahu Syila, '' Kau sudah benar mengambil keputusan, Paman tidak keberatan dengan keputusanmu, maafkan Dika, maafkan Paman, mungkin Paman yamg tidak bisa mendidik dan memantau putra Paman.'' Tutur Paman Johan.


''Syila melapangkan semuanya Paman, semoga setelah ini kami bisa hidup lebih baik dengan pilihan masing-masing. Doakan kami.''


''Kau gadis yang baik.'' Dengan mengelus puncak kepala Syila, Paman Johan pamit keruangan Dika lagi. Sedangkan Syila dan Ayahnya juga pamit pulang.


Tiba-tiba Ayah pamit ke toilet dulu, sedangkan Syila sudah menunggunya di parkiran. Mereka ke rumah sakit menggunakan dua motor. Yang satu sudah dibawa pulang Ibu Syila.


Syila sedang duduk menunduk di kursi yang ada di halaman parkir, hatinya bertambah sakit. Pria itu masih Syila sayangi, pria itu baru saja memohon kepadanya, dan setelah itu pria itu langsung melupakannya tanpa mengingat setitikpun tentangnya.


'Haruskah aku berterimakasih kepadamu takdir ? Karena kau mempermudah perpisahan diantara kami. Tapi kau tahu, hatiku semakin terluka.' Batin Syila berbicara pada sepatunya sendiri.


Kemudian Syila melihat ada sepasang kaki dengan hells cantik, Syila mendongakkan wajahnya, mencari tahu siapa pemilik kaki jenjang yang terekspos ini, 'Laura ?'.


''Hai bocah, apa kabarmu ?'' Dengan senyum mengejek.


''Aku kira kau sudah tertelan bumi karena tidak kuat menahan rasa patah hatimu itu.'' Tunjuknya di dada Syila.


Syila mengibaskan tangan Laura, ''Cih.. Kau salah Nona, jika menganggapku langsung tertelan bumi hanya karena patah cintanya. Hidupku tak sependek itu, dan kewarasanku masih jauh kebih tinggi dari kewarasanmu.'' Jawab Syila penuh amarah. 'Wanita ini diluarnya saja anggun, namun didalamnya busuk !'.

__ADS_1


***


__ADS_2