Karma Cinta

Karma Cinta
Mall


__ADS_3

Waktu telah berlalu, hari ini hari kepulangan Dika, Syila menunggu kabar Dika sampai di rumahnya, karena hari ini hari Jum'at, Syila baru saja selesai mengikuti bakti sosial. Ia berencana mau memberi kejutan untuk Dika.


'Aku terdiam, rasa rindu yang menyeruak didalam kalbu membuatku tak mampu bergeming dari pandangan ini. Pria yang berbulan-bulan pergi karena tugas, kini ia benar pulang dengan membawa penawar rinduku. Namun ada yang berbeda, wajahnya sedikit pucat, mungkin dia lelah.'


''Sayang ?'' Dika memanggil Syila, kala Syila sudah sampai di halaman rumah Dika namun hanya mematung, dan Dika hendak menutup pintu.


Jantungnya berdegup kencang, wajahnya berubah pias, apakah Syila berpapasan dengan Laura barusan. Namun melihat ekspresi yang ceria, Dika beranggapan bahwa mereka tidak bertemu.


Syila berjalan mendekat, menatap wajah yang berbulan-bulan ini sangat ia rindukan. Ada banyak cerita yang ingin ia ceritakan kepada Dika, tentang teror foto, tentang seniornya, tentang kuliahnya juga tentang usaha yg ia rintis sekarang.


Senyumnya terukir kala mata mereka beradu, wajahnya bersemu kala Dika menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Syila.


Dika merengkuh tubuh mungil Syila ke dalam pelukannya, rasa bersalahnya kembali menyeruak di dalam hati, seharusnya ini menjadi moment mengharukan baginya, melepas rasa rindu yang menggebu dengan calon istrinya.


''Dika, apa kau tak ingin menyuruhku masuk ? Aku lumayan lelah hari ini setelah mengikuti bakti sosial.'' Jujur Syila yang merasa mereka berpelukkan sudah terlalu lama, membuyarkan lamunan Dika.


'Aku mencium manis parfum wanita, ini bukan parfum Dika.' Syila mengendus baju Dika lagi.


'Rasanya seperti istri yang mencurigai suaminya.'


''Maaf sayang, aku terlalu merindukanmu. Ayo masuk.'' Ajaknya.


Kami duduk di sofa, berjejeran.


''Aku bawakan ini,'' kusodorkan kue kesukaan Dika yang biasa Ibu buatkan.


''Aku tidak tahu apa rasanya akan sama dengan buatan Ibu atau tidak, semoga kau suka.''


''Apapun itu aku akan menyukainya jika itu kau yang buatkan.'' Ucap Dika manis.


''Dika, apa kau mengganti parfummu ?''


''Kenapa memang ? Aku masih memakai parfum lamaku.'' Tanya Dika.


''Bajumu bau parfum wanita.''


Deg.. Dika pias, mungkinkah parfum Laura masih menempel padanya.


''Emm ini.. ini dari laundry sayang, mungkin parfum dari sananya, aku malah tidak memperhatikan baunya.'' Jawab Dika gugup.


''Ohh.. Mungkin saja.'' Jawab Syila tak mau memperpanjang dan merusak hari ini.

__ADS_1


''Kau terlihat semakin kurus, apa kau tidak makan banyak ?'' Tanya Dika.


''Aku malah takut jika aku gendut, nanti kau akan berpaling dariku.'' Di tatap matanya yang terlihat tajam namun membiuskan hati.


Dika tersenyum, mengacak ujung kepala Syila.


''Aku akan mencintaimu apapun yang terjadi.'' Ucap Dika meyakinkan.


Ponsel Dika berdering, dengan menjauh dari Syila, Dika mengangkat telfonnya,


'Apa hanya perasaanku saja, Dika terasa berubah.'


''Sayang maaf, aku harus ke kantor, memberikan laporan kepada atasan. Apa kau mau ku antar pulang sekalian atau bagaimana ?'' Dika.


''Harus hari ini memang ? Kaukan baru saja sampai, apa tidak bisa Senin saja.''


''Sayang,'' mendekatkan diri, ''ini bukan perusahaanku, aku hanya bawahan yang harus mematuhi perintah bos, sebenarnya aku juga lelah, tapi bagaimana lagi, atasan memintanya buru-buru untuk membuat laporan kepada big bos.''


Dengan rasa berat hati Syilapun mengiyakan.


'Kenapa aku merasa sekarang waktu Dika tidak ada untukku.'


Syila lagi-lagi hanya mampu mengiyakan saja.


''Dika, aku turun disini saja.'' Pinta Syila ketika melihat toko buku.


''Kau mau membeli sesuatu apa perlu aku tunggu ?''


''Iya aku mencari buku lama, kau kan sedang di tunggu, untuk apa kau menungguku ?'' Syila sedikit salah fokus dengan perkataan Dika, sedangkan Dika mulai gelagapan hanya di beri pertanyaan seperti itu saja.


''Ohh emm itu maksudku jika kau tidak lama, aku rasa tidak apa menunggumu sebentar.'' Ucapnya.


Syila semakin bingung, ''Tadi kau bilang jika atasanmu buru-buru memintanya ?''


Dika semakin salah tingkah..


''Emm baiklah, aku hanya masih sangat merindukanmu.'' Jawab Dika.


***


Syila memilih buku, bukannya buku untuk pelajaran kuliahnya, Syila malah tertarik dengan buku novel bertema berbagi cinta dan juga resep kue.

__ADS_1


''Duhh aku ini, buku apa ini yang aku beli.'' Tersadar dengan buku yang ia bawa dan yang satu tidak ada manfaatnya, ia yakin pasti isinya berbau patah hati, tangisan, cemburu dan lain-lainnya yang membuat mata menangis, melihat sampulnya saja Syila sudah berargument seperti itu.


''Syila ?!!'' Syila tengok kanan kiri mencari sumber suara. 'Fanya ?'


Fanya terlihat berlari menuju arahnya.


''Kebetulan sekali bertemu denganmu disini.'' Ucap Fanya.


''Ada apa ?''


''Emm aku sedang bingung mencari hadiah, untuk pacar baruku.'' Ucap Fanya malu-malu.


''Kau punya pacar ? Siapa ? Apakah dia satu kampus dengan kita atau sudah bekerja ?'' Tanya Syila antusias.


''Lebih tepatnya kami sedang ta'arufan. Aku dijodohkan, tapi ternyata aku sudah mengenalnya, dia temanku waktu masih sekolah, tepatnya kakak kelasku. Aku sedang bingung mencarikannya apa, bisa kita pergi ? Apa kau sibuk ?'' Fanya.


''Baiklah, ayo.'' Karena sebenarnya Syilapun membutuhkan sedikit refeshing. Otaknya akhir-akhir ini sudah bekerja terlalu keras, dia butuh relaksasi.


***


Dua wanita ini sedang berkeliling mall, dari toko satu ke toko yang lain, mereka belum menemukan apa yang menurut mereka bagus.


''Aku lelah Fanya, bisakah kita minum dulu.'' Keluh Syila.


''Ya kau benar, aku juga sangat haus.''


Mereka memesan minuman kesukaan masing-masing, Syila mengedarkan pandangannya, matanya memicing, mempertajam penglihatannya, sekilas Syila seperti melihat Dika bersama wanita.


''Kau lihat apa Syila ?'' Fanya mengikuti arah pandangan Syila. Hanya lalu lalang orang-orang.


''Ahh, tidak apa, aku hanya seperti melihat seseorang yang aku kenal, tapi mungkin juga aku salah.'' Jawab Syila. Mereka melanjutkan minum.


Lalu Syila melihat Laura lagi bersama dengan pria, tapi pria disampingnya terhalang orang lain, sehingga tidak bisa memastikan siapa sebenarnya pria itu. Syila hendak mengejarnya guna memastikan, rasa penasarannya sangat tinggi, jantungnya sudah berdegup dan pikirannya sudah yang tidak enak dirasa.


Namun Fanya buru-buru mencegah tangan Syila, ''Ayo kesana, aku seperti melihat sesuatu yang cocok untuk pacarku.'' Jawab Fanya antusias tanpa memperhatikan ekspresi Syila.


Syila ingin menjelaskan sesuatu, namun sudah di tarik duluan berlari mengikuti arah Fanya berlaju.


'Baiklah lupakan saja, mungkin pria itu orang lain bukan Dika. Aku mempercayainya.' Sugesti sugesti sugesti.. 'Sudah seperti pesulap saja, namun aku tidak berbakat, buktinya aku tetap merasa cemas.'


Sedangkan Dika kini tengah menemani Laura berbelanja, Laura merengek seperti anak kecil, merayunya hingga tidak berdaya Dika menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2