Karma Cinta

Karma Cinta
Kembali Pulang II


__ADS_3

''Kau yang akan menjalani kehidupanmu, jadi pilihlah mana yang layak untukmu dan mana yang tidak. Jika pria itu tidak layak, maka singkirkan saja, jangan membebani dirimu sendiri.'' Masih Ayah yang berbicara.


''Yaa sayang, anggap saja kalian belum berjodoh.'' Ibu manambahi.


''Dan dengar baik-baik, mau sebesar apapun tubuhmu, seberapa tuanya usiamu, atau nanti kau sudah berkeluarga dan menjadi seorang Ibu sekaligus, bagi Ayah dan Ibu kau tetap menjadi putri kecil kesayangan kami, tidak akan ada yang berubah, kau masih bisa bergelayut manja seperti ini, kau masih diizinkan tidur dengan kami, kau masih boleh meminta disuapi.'' Imbuh Ayah seketika membuat hati Syila lebih baik. Ada yang terangkat dari bahunya. Rasanya lebih ringan, mendapatkan support juga cinta yang nyata dari keluarga.


''Ayah benar sayang, cinta dan kasih sayang kami untukmu tidak akan pernah berubah, sedewasa apapun kau kelak, kau tetap putri kecil kesayangan kami.'' Ibu sudah menggeser duduknya, merapat denganku dan Ayah.


Saling bersandar, berpelukkan, menyayangi, mengasihi. Aku benar-benar tak ingin beranjak dari momen ini.


''Nanti Ayah yang akan bicara pada keluarga Dika, kau jangan khawatir sayang, semua akan baik-baik saja, mengerti ?'' Semangat dari Ayah, Syila menganggukkan kepalanya.


''Bu... Sepertinya tadi Syila melihat box ice cream di lemari es ?'' Tanya Syila setelah melerai pelukkan mereka.


''Kau masih suka memakannya ?'' Tanya Ibu.


''Masih, hanya saja disana tidak sempat memakannya, jadwal kampus Syila penuh.'' Alasan Syila.


''Oh ya ? Kasihan sekali, Ibu akan ambilkan untukmu.'' Ledek Ibu yang kemudian bergegas mengambilkan makanan dingin yang manis itu.


''Ayah, jika nanti Dika kemari untuk memohon, tolong tolak saja ya.'' Kata Syila.


''Apapun itu, Ayah juga tidak akan menerima pria br*ngsek untuk bersanding dengan putri Ayah. Apa dia tidak tahu, putri Ayah ini sangat berharga, melebihi berlian dimanapun, berani-beraninya dia menyia-nyiakanmu.'' Gaya Ayah yang dibuat seperti ingin menghajar dan meratakan seseorang dengan tanah. Itu terlihat lucu, Syilapun tertawa dengan lepas.


Ayah tersenyum melihat putrinya tertawa begitu.


Malam itu, mereka habiskan untuk tertawa dan bercanda bersama, seperti hari-hari sebelumnya, saat Syila masih menjadi penghuni tetap rumah itu. Membuat Syila sekejap melupakan beban dalam hatinya.


***


Di dalam sebuah perjalanan, ada Dika yang duduk dengan resah dalam pesawat.


Dia akan datang untuk memohon pengampunan dari Syila dan keluarganya. Berharap semua yang sudah rusak bisa diperbaiki lagi.


Ia sudah menyesal, sangat menyesal. Dika menggenggam cincin Syila yang kemarin ia lempar tepat diwajahnya.


Masih tergambar jelas bagaimana wajah Syila saat itu. Wajah penuh luka dan kesedihan.


'Maaf Syila, maafkan aku, jangan menghukumku dengan perpisahan kita.' Batinnya sendu meratapi kepergian cintanya.

__ADS_1


***


Dan dilain tempat, ada Kaisar yang sedang berada di ruangan kerjanya bersama dengan sekretaris pribadinya. Ia sedang merundingkan akan keberangkatannya menuju negara dimana orangtuanya tinggal. Ibunya sedang sakit, serangan jantung dadakan yang langsung membuatnya lemah berbaring dirumah sakit.


Padahal hari itu tepat dimana Kaisar menemukan info tentang identitas Syila.


Berkat tragedi pemerkosaan yang ia gagalkan lalu bertemu Syila, ternyata ada dalang di balik semua kejadian itu. Senior Syila yang mempunyai dendam sakit hati karena penolakan yang Syila lakukan, menjadikannya kesal. Lalu merencanakan itu semua. Dan kini Samuel harus mendekam di penjara.


Dan disana ia juga tahu jika Syila ternyata sudah mempunyai tunangan. Tanpa ia ketahui bahwa pertunangan mereka akan dibatalkan.


Kaisar menjadi down lagi, mendengar kabar itu. Semangat berjuang bagai api kini sudah seperti tersiram air, padam begitu saja. Ia langsung menyibukkan dirinya dengan pekerjaan demi menghindari kegundahan hatinya yang semakin menjadi.


Di tambah lagi mendengar Ibunya yang tengah sekarat di rumah sakit, menginginkan anak-anaknya berada disisinya. Menambah kekalutan yang ada.


''Lewis, aku mengandalkanmu untuk perusahaan.'' Ucap Kaisar.


''Aku tetap memantaunya dari sana, jika ada yang urgent segara hubungi.'' Lanjutnya.


''Baik Tuan.'' Singkat, padat Lewis.


''Kau bisa pergi.'' Kata Kaisar.


Kaisar meraih sakunya, mengambil liontin Syila yang terjatuh di kamarnya kemarin. Memandangi benda itu.


Kaisar mendes*h, membuang nafas frustasinya.


'Aku bahkan baru mengetahui namamu kemarin, namun aku juga harus mengetahui statusmu yang membuatku harus menyerah sebelum berjuang. Aku berharap kita dipertemukan sekali lagi, hanya untuk mengembalikan ini.'


Ia menyimpan liontin Syila di tempat yang tidak di jamah seorangpun selain dirinya sendiri.


***


Pagi harinya Syila dan Ayah pergi ke kebun pagi-pagi buta. Stok sayuran padahal masih ada, tapi Syila tetap ingin berkunjung kesana. Dengan bekal kue kering buatan Ibu, dan teh lemon serta susu kunyit buatan Syila.


Di jalan tidak sengaja berpapasan dengan Talita.


''Syila !!" Panggil Talita dengan suara nyaring.


Syila dan juga Ayah celingukan mencari orang yang memanggil. Ah Talita lupa dia masih mengenakan helm juga maskernya.

__ADS_1


''Disini !!'' Ucapnya lagi dengan melambaikan tangannya.


''Haii !!" Dengan senang hati Syila berlari menyeberangi jalan, Ayah pergi ke kebun lebih dulu.


Syila langsung melakukan ritual peluk cium. Bahagia tiada tara bertemu dengan teman lama.


''Apa kabarmu ? Kau semakin terlihat seperti perempuan.'' Syila tertawa setelah mengatakan itu, sedangkan Talita nampak mengembungkan pipinya.


''Kau kira dulu aku bukan perempuan ?'' Sewot Talita.


Dengan jari telunjuk yang ada didagu, menunjuk arah bibir, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu yang hampir ia lupakan, ''Aku pikir hanya separuhnya wanita.' Ucapnya kemudian lalu tertawa kembali.


Talita yang mendengarnyapun turut tertawa, karena memang dulunya ia terlihat tomboy.


''Jangan lupakan dirimu juga Nona, kau dulu juga tak jauh sepertiku." Sela Talita tak terima dia sendiri yang mendapat ejekan.


Syilapun mengangguk setuju.


''Bagaimana kabarmu Syila ? Bagaimana kuliahmu ? Dan bagaimana pangeranmu ?'' Ragu Talita ketika menanyakan 'pangeran' yang artinya adalah Dika.


''Semuanya baik, selain pertanyaanmu yang terakhir.'' Jawab Syila tanpa berbohong.


''Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, namun kau harus berjanji tidak akan marah padaku.'' Tawar Talita.


''Ada apa ?'' Tak sabar Syila.


''Berjanjilah dulu !!" Masih dengan kontrak awal.


''Oke aku berjanji tidak akan marah apapun yang akan kau perlihatkan kepadaku.'' Ucap Syila lantang seperti mengucap sumpah janji sebagai presiden.


Talitapun membuka ponselnya memutar video yang ia simpan dalam file ponselnya. Syila memperhatikan, terlihat raut wajahnya semakin mendung.


''Syila maaf, bukan berarti aku mau ikut campur atau mengrecoki hubungan kalian. Kau sahabat baikku, bagaimana aku tega melihat sahabatku dipermainkan begitu, aku hanya ingin mengingatkannya padamu, setelah ini terserah kau saja. Kemarin ketika aku memvideonya rasanya ingin langsung kukirimkan kepadamu, namun ponsel dan nomorku baru jadi aku tak mempunyai kontakmu. Dan hari ini aku baru bisa menyampaikannya. Maaf jika membuatmu bersedih.'' Panjang lebar Talita.


Syila mematikan video itu, lalu menghapusnya. Ia kembalikan ponsel milik Talita.


''Jangan mengotori ponselmu dengan video tidak berfaedah seperti itu, Talita. Aku sudah mengetahui semuanya. Terimakasih yaa sudah peduli. Aku senang sekali.'' Ucap Syila mengembalikan senyum riangnya.


''Kau tidak marah ?'' Tanya Talita.

__ADS_1


''No. Aku senang karena kau masih mengingatku.'' Ucap Syila lagi.


__ADS_2