Karma Cinta

Karma Cinta
Penculikan Syila


__ADS_3

Kaisar membawa Syila pergi makan malam romantis di sebuah bukit.


''Kai, kau jauh-jauh kemari hanya untuk makan malam?'' tanya Syila terheran-heran.


''Hei, ini suasana romantis, bisakah kau memilah katamu dengan kata-kata yang puitis?'' Sergah Kaisar, yang merasa momen romantisnya tidak sesuai dengan yang ia bayangkan.


''Hahaha, dasar duda gila,'' Syila senang, takutnya tadi menghilang. Kaisar memang pandai membuat hatinya berbunga akhir-akhir ini.


''Aku sedang berjuang untuk hatimu, Syila, aku benar-benar sangat mencintaimu. Apa lagi setelah melihat para mantanmu yang terus menggilaimu seperti tadi, membuatku sangat takut, takut hatimu terisi lagi oleh mereka,'' dalam metode serius.


'Entah mengapa, tapi aku merasa mereka bukanlah sainganmu Kai, aku merasa kau sudah menang dari mereka,' jawaban dalam kalbu.


Di sebuah bukit di ujung kota, memperlihatkan pemandangan kota yang sangat jauh dari kebisingannya. Di hadiahi dengan hamparan rumput yang luas di sana, jauh dari jamahan manusia.


Ada Syila dan Kaisar yang baru saja menyelesaikan makan malam yang Kaisar stamp sebagai makan malam romantis. Mereka sudah berbaring di atas rumput hijau itu. Kepala Syila di bahu Kaisar, dan kepala Kaisar di bahu Syila.


''Malam ini langit juga nampak cerah ya,'' basa basi Syila.


Kaisar tak menjawab, ''Kai.., terimakasih,'' kata Syila.


''Untuk siagamu sebagai sandaranku untuk waktu-waktu seperti tadi,'' lanjutnya.


''Aku sudah berjanji bukan? dan aku melakukannya atas nama cinta,'' jawaban Kaisar.


Syila mengulas senyumnya, ''Kai, apa kau sangat terluka dengan sikapku di awal-awal menikah?''


''Tentu, dibenci dengan seseorang yang kita sayangi itu sangat menyakitkan, tapi aku memahamimu. Apa kau sudah mulai meruntuhkan dinding di hatimu dan menerima cintaku?'' tanya Kaisar kemudian.


''Kenapa yang kau bahas hanya cintamu terus, aku bosan mendengarnya,'' hanya pura-pura, padahal hatinya berbunga sekali.


Selanjutnya mereka habiskan dengan mengobrol dan bercanda, semua mengalir tanpa rangkaian.


***


Di tempat lain, ''Hmmm,'' dengan mengelus dagunya sendiri, ''Kaisar Javier Mahendra,'' Adnan yang menguasai raga Adji sedang membaca biodata Kaisar yang baru saja ia peroleh.


''Apa aku harus takut dengannya?'' tanya Adnan dengan pantulannya di cermin.


''Cuihh,'' Adnan meludah.

__ADS_1


''Aku bukan kau Adji, yang rela bertekuk lutut untuk memohon sesuatu yang tidak bisa kau gapai, bodoh dan membuang-buang waktu tanpa harga diri, haha,'' tawanya menggema.


Adnan kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit, jiwa Adji ingin merebut raganya dan pikirannya kembali.


''Kau jangan macam-macam Adnan, jangan menyentuh Syila!'' kecamnya.


Seperti para lawan yang terus berperang mencari kemenangan, itulah yang Adnan dan Adji lakukan, satu raga dua kepribadian, nyatanya sangatlah menyiksa.


''Bodoh!! diamlah di sana!! aku akan membantumu mendapatkan apa yang kau mau, dan memberantas apa yang tidak kau suka,'' seringai muncul di wajah Adnan.


***


Karena sakit hatinya malam itu, Laura menjadi acuh kepada Dika. Tak ingin bicara, sekedar menyapa, apa lagi tidur bersama.


''Laura, kau tidak bisa begini padaku!'' teriak Dika dengan menggedor pintu kamarnya.


''Ini rumahku Laura, apa kau melupakan itu? jadi bukalah dan biarkan aku masuk!''


Laura semakin merasa sakit hati dan terhina, dia merasa tidak mempunyai arti di rumah itu, sampai status kepemilikan Dika ungkit.


Laura menangis di dalam. Apa sesakit ini yang Syila rasakan dulu? ya.. tiba-tiba dia mengingat Syila.


Laura menyerah, ia membuka pintu kamarnya, bagaimanapun ia tetap mencintai Dika. Walau serasa menjadi orang bodoh yang mencintai seseorang dengan hati yang untuk orang lain.


Dika yang melihat wajah sembab Laura segera memeluknya, ''Aku minta maaf,'' mulanya ingin ia acuh, melewatinya saja, namun memang karena kesalahannya, hatinya sedikit terusik.


Laura tertegun, ia merindukan sosok hangat dari Dika seperti dulu. Mungkinkah?


Sedangkan Dika, ia masih memikirkan Adji yang bersifat seperti tadi di depan umum. Ia benar bergidik ngeri, bagaimana jika Adji benar-benar gila dan nekat?


Dika sedikit menyesal menyangkut pautkan Adji untuk membalas sakit hatinya untuk Syila.


****


Beberapa minggu berlalu dengan normal untuk Syila, tanpa gangguan dan teror.


Syila pergi sendiri hari ini, ia menaiki taxi, Kaisar sudah berangkat pagi-pagi buta untuk ke luar kota.


Syila sudah duduk manis di jok penumpang, ia menikmati perjalanannya, sampai ia tersadar jika jalan yang ia lewati bukanlah menuju tokonya.

__ADS_1


''Pak, ini salah jalan,'' ingatkan Syila kepada sopir taxi yang hanya diam tanpa menjawab. Rasa takut dan curiga sudah memenuhi hatinya.


''Pak, ini bukan jalan menuju tempat saya bekerja,'' sekali lagi Syila protes.


Sang sopir taxi menoleh, membuka samarannya berupa topi, kacamata, tompel, dan gigi palsunya.


''Adji?!!'' Syila terkejut, 'Untuk apa Adji melakukan ini?'


''Hahaha, hai manis, sebelum aku membawamu pergi jauh lagi, aku ingin memperkenalkan diriku dulu, aku bukan Adji si pria lemah dan bodoh itu, aku Adnan, raga kami satu, kepribadiannya yang dua,'' Adnan menjelaskan.


Syila semakin dibuat takut, 'Adji berkepribadian ganda? sejak kapan?' Syila sendiri tidak tahu.


''Siapapun dirimu, berhenti, aku mau turun! aku tidak mau ikut bersamamu!'' Syila memberontak.


''Hei, menurut saja, maka kau akan selamat juga dengan Kaisarmu itu,'' santai Adnan menjawab.


''Apa maksudmu? mengapa membawa nama Kaisar?'' tanya Syila semakin takut.


Adnan mengambil ponselnya, ia memperlihatkan foto-foto Kaisar terkini, ''Kau lihat, siapa yang sedang di sekelilingnya, dia adalah pembunuh bayaran, jika kau tidak menurut, nyawa suamimu itu dalam bahaya, untuk saat ini, dia masih bisa tebar pesona, tapi satu menit kemudian, aku tidak yakin dia bisa melakukannya, itu semua tergantung moodku, jadi buatlah moodku menjadi baik, sebaik mungkin!''


Kini bukan lagi takut untuk dirinya, Syila lebih khawatir dengan Kaisar.


''Apa maumu?'' pertanyaan bunuh diri.


Seringai licik muncul di wajah Adnan, ''Jadilah wanitaku, aku tertarik denganmu, untuk pilihan Adji kali ini, aku menyukainya, dia masih mencintaimu walau sudah bertahun-tahun berumah tangga dengan wanita lain, dan ketika aku melihatmu, ternyata menarik.''


''Kau tidak waras? aku bersuami!!'' sentak Syila.


''Wuaahh, pemberontak, aku semakin tertantang!" kata Adnan.


Syila memilih diam, yang di hadapannya ini bukan Adji, pantas ia seperti asing, Adnan lebih mirip psycho.


'Berpikir Syila, ayo cari jalan keluarnya!' Syila memeras otak cerdasnya beberapa tahun lalu yang mendadak menjadi sangat dangkal jika sudah panik dan ketakutan begini.


Tidak ingin mengorbankan Kaisar, berarti dia harus menuruti kemauan Adnan, menjadi wanitanya, itu juga bukan jalan terbaik, jika memaksa kabur, bagaimana dengan ancaman Adnan untuk Kaisar.


Mendadak bodoh!


'Melawan sosok Adnan harus bermain cantik, tidak boleh gegabah, oke Syila tenang dan berpikirlah dengan jernih, keluarkan kejeniusanmu, melawan memakai otot itu sangat mustahil, jadi lawanlah dengan otak!' sugesti untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2