
Sampailah kami di pinggir danau ini. Ada yang mendirikan tenda untuk berkemah. Dengan orang-orang terkasih mereka. Menghabiskan malam di tengah hutan dekat danau suasana yang begitu menenangkan dan romantis. Terlihat bayang-bayangan pohon pinus yang menjulang tinggi karena hari mulai sore. Mataharipun sudah berada di ufuk barat. Lampion-lampion sudah mulai dinyalakan.
Aku sedang menikmati ketenangan ini.
"Syila.." Aku menoleh. Dika sudah siap dengan ponsel canggihnya.
"Heii.. Kau mengambil fotoku tanpa izin."
"Cihh.. pede sekali. Aku mengambil foto danau di depanmu itu." Alibi Dika.
"Terserah." Jawabku malas berdebat.
"Kau suka ?" Tanya Dika. Menghampiriku.
"Iya suka sekali. Terimakasih sudah membawaku kemari." Jawabku.
"Jangan sungkan."
"Kau sering kemari ?" Tanyaku dengan tatapan masih setia kepada air danau yang tenang.
"Hmmm dulu sering sekali. Ini menjadi tempat favoriteku. Dulu juga belum seramai sekarang. Aku selalu kemari jika hatiku sedang bersedih."
"Kau bisa bersedih ?" Tanyaku meledek.
"Kenapa ? Aku juga manusia punya rasa punya hati." Jawabnya seperti tidak terima dengan pertanyaanku.
Hehehe aku hanya tertawa kecil saja.
"Dulu aku pernah mencintai seorang wanita. Lalu dia tiba-tiba pergi dengan alasan yang tidak jelas. Hal itu tidak dapat diterima oleh hati dan fikiranku. Aku terpuruk dan tempat ini menjadikan penenang untukku."
"Kau tidak pernah meminta penjelasan yang pasti ?" Tanyaku.
"Untuk apa ? Bagiku jika dia sudah memilih untuk pergi berarti dia memang tidak ingin bersamaku. Jika aku terus memaksanya untuk menetap, tidak akan ada kebahagiaan di dalam hubungan kami."
"Sekalipun alasannya adalah sakit parah atau karena orangtua ?" Tanyaku kembali.
Kini Dika menggeser duduknya menghadapku.
"Dengar, suatu hubungan itu harus selalu "saling". Jika memang dia sakit berarti kita harus bisa menjadi penyemangatnya untuk sembuh. Jika memang karena restu orangtua kita bisa berjuang bersama merebut restu orangtua itu. Tapi jika sudah kehendak Tuhan, beda cerita. Mau tak mau kau harus menerima, mau bagaimana lagi ? Menentang Tuhan ?! Bisa jadi cuilan rempeyek nanti kau !" Dengan mencole hidungku.
Kuperhatikan raut wajahnya mulai sendu. Entah apa yang Dika alami di masa lalu yang pasti sesuatu yang tidak baik. Walau dia mencoba mencairkan suasana.
"Cup cup cup sudah.. sudah.. jangan menangis disini. Nanti orang-orang mengira aku sedang memerasmu." Aku meledeknya mencoba mengalihkan topik sendu ini.
"Memang sudah. Kau sudah merampas ini." Dibawanya tanganku tepat di dadanya.
"Dika..." Lirihku..
"Gemas sekali melihat wajahmu yang seperti ini. Manis manis lucu." Lagi-lagi dia mengacak rambutku.
Jeda
"Kau sendiri mengapa tiba-tiba mengakhiri hubunganmu dengan Adji ?" Tanya Dika.
Aku terdiam. Mengapa bahas dia. Bohong rasanya jika di bilang aku sudah melupakan dia sepenuhnya. Nyatanya kenangan manis saat bersamanya masih tercetak jelas di sanubariku.
__ADS_1
Pertanyaan Dika membuatku harus mengingat kisah cintaku yang pilu.
"Ehemmm" Deheman Dika membuyarkan lamunanku.
"Mungkin belum jodohnya." Jawabku sekenanya.
"Aku tahu itu. Jika kalian berjodoh, kalian pasti sudah menikah. Pasti ada alasannya setiap pasangan memilih mengakhiri hubungan yang sudah mereka jalin. Bahkan dalam waktu yang sudah lama. Jadi alasan belum jodoh itu alasan yang kurang spesifik." Panjang lebar Dika.
Lalu berbisik "Adji pacar pertamamukan ?".
Aku mendelik bagaimana orang ini tahu semua.
"Kau ini jangan-jangan berprofesi sebagai dukun ya ? Semua tentangku kau ketahui." Tanyaku menyelidik.
"Aku harus hati-hati dengan dukun sepertimu. Nanti aku bisa terkena guna-guna." Masih dengan tatapan menyelidik.
"Memang ada dukun setampan dan sekeren ini ? Yang ada aku ini masuk ke dunia model bukan dukun." Dika tertawa.
"Kelewat narsis ternyata." Cibirku pelan.
***
Dika pamit ke toilet tak lama datang dengan ice cream 1 ditangannya.
"Ini.." Disodorkannya kepadaku.
"Terimakasih. Loh hanya satu ??" Sadar saat dia hanya memegang satu buah ice cream.
"Aku tidak terlalu suka."
"Iya makanlah." Jawab Dika tak peduli.
"Emm... Syila..."
"Apa bicaralah, aku akan mendengarnya." Masih dengan menikmati ice creamku.
"Aku tadi berpapasan dengan Adji waktu ke toilet, dia bersama dengan seorang wanita dan anak kecil. Mereka sedang makan di seberang kita saat ini." Aku berhenti mengunyah. Meyakinkan diriku. Aku tidak apa-apa. Aku dan Adji hanya masa lalu. Aku sudah ikhlas. Walau ternyata hatiku masih terasa seperti tercubit.
"Hmm jadi kau memberikan ice cream ini sebagai penawar berita yang kau sampaikan ?" Tanyaku.
"Kau berkata itu adalah penawar dari segala badmoodmu bukan. Nah aku tak ingin nanti jika kita berpapasan dengan mereka lalu kau sedih, sedangkan aku tak mempunyai penawarmu itu." Jelas Dika.
"Terimakasih." Balasku lalu melanjutkan makan ice cream. Ternyata badmoodku benar-benar datang.
Hening..
"Mereka itu adalah keluarga. Bagaimana kau melihat mereka bahagia bukan ? Akupun akan bahagia walaupun tanpa hadirnya ." Ceritaku tiba-tiba. Membuat Dika menoleh terkejut.
"Bagaimana bisa ?" Lalu aku ceritakan semuanya.
"Pria brengsek.." Umpat Dika menahan amarah.
"Kau sudah benar melepasnya. Dia tak pantas bersanding denganmu. Hanya akan menambah luka batin saja." Dika menggebu-gebu.
"Kau ini menilaiku sebagai wanita yang menyedihkan ya.."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Sudah berlalu sudah lupakan saja. Seperti katamu dia memilih pergi, untuk apa dipertahankan." Dika diam menatapku sendu.
"Good girl.." Sembari mengelus kepalaku.
Setiap kali menerima elusan itu, aku merasa seperti mendapat perlindungan.
"Ayo.." Dika sudah berdiri.
"Kemana ?" Tanyaku.
''Tentu saja makan, aku lapar mendengar kisah cintamu.''
Aku mengerucutkan bibirku. Menyebalkan sekali sih. Ternyata begini sosok Dika itu.
Dia membawaku tepat bersisihan dengan Adji dan keluarganya. Aku menahannya. Mengapa harus disini kan masih banyak tempat lain.
"Buktikan kalau kau baik-baik saja."
Aku menggelengkan kepaalaku tanda tidak setuju.
"Ada aku" Menghangat hatiku. Ditambah tautan tangan yang semakin erat.
Duduk di lesehan. Tempat makan yang menyajikan aneka makanan laut dengan pemandangan danau dan di hiasi dengan lampion-lampion di atasnya.
Dika pergi memesan. Aku duduk resah. Kumainkan ponselku. Lalu Adji menghampiriku.
"Syila.. kau disini ?" Tanyanya.
''Seperti yang kau lihat.'' Jawabku.
''Dengan siapa ?'' Tanyanya lagi.
''Maaf itu bukan urusanmu.''
''Syila....'' Belum juga menjelaskan sudah kupotong.
''Adji, ku mohon. Jangan mulai lagi. Lihat anak istrimu disana menunggumu. Aku kemari juga bukan karenamu. Jadi tolong menjauhlah. Aku tak akan menganggumu."
Diapun pergi dengan wajah yang sedih. Aku kuat, aku kuat, aku kuat, kubacakan mantra semoga benar-benar kuat hatiku.
Dika datang. Tak lama pesananpun datang. Kami memesan gurame bakar dan seafood lainnya.
"Ada apa ?" Tanya Dika yang melihat perubahan wajahku.
Lalu dia melirik ke arah Adji.
**Hello readers... semoga berkenan ya.. maaf kalau masih banyak kurang dan typonya.
Jangan lupa like, koment, dan vote. Juga tambahin ke list favorite kalian.
Aku mencintai karyaku sendiri dan aku berharap kalian juga bisa mencintai karyaku yang amatiran ini.
Thank you yang udah mampir dan meninggalkan jejak**.
****
__ADS_1