Karma Cinta

Karma Cinta
Terjerat Cinta Guru Matematika


__ADS_3

Hai... hai... hai...


Ada yang merindukanku? Rinduin dong 😂😂


Apa kabar semuanya, semoga selalu dalam keadaan sehat yaa, sejahtera, sehat sentosa.


Jadi, aku selain mau nyapa kalian penduduk NOVELTOON yang kerennya masya Allah, aku juga mau kasih tau, aku punya karya baru di platform sebelah. Tadinya sih udah sempet aku publish di sini, cuma aku pindahin. Nggak ada yang penasaran apa?


Cek yuk👉👉👉 Fizzo👉 TERJERAT CINTA GURU MATEMATIKA👉 Chengil.


Mengisahkan sesuatu yang dirasakan seorang murid yang sangat membenci matematika tapi suka sama gurunya. Hayoo loo!


Selain itu, ternyata cinta si siswi ini bertepuk sebelah tangan, si guru udah punya tawanan hatinya. Ehh ga taunya, tawanan hati Sang Guru juga menolaknya, wahh bakal ada kisah cinta segi berapa ya? 😲😲 Segitiga? Segiempat? Segilima? Atau jajargenjang 🤣🤣🤣🤣 atau malah layang-layang? 🤣🤣🤣


Oh Lord!!


Jangan dengarkan pembahasan dari Author yang mulai oleng, kalau penasaran cuz ceritanya langsung ke Fizzo.


Disana juga masih gratis kok bacanya. Malah pembaca bisa kumpulin koin-koin buat dijadiin cuan🤑🤑🤑


Syukur-syukur mau pakai kode udangan dariku A28297


Hihi, kita akan sama-sama mendapatkan cuan😉😉


Bab 1. MATEMATIKA


"Ada pertanyaan?" tanya guru Matematika tampan yang baru saja memberikan kilasan balik mengenai satuan beratan.


"Pak, kilogram kalau di singkat menjadi apa?" teriak siswi kelas 3 SMA yang duduk paling pojok belakang dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Kg," jawaban singkat dari guru Matematika yang baru saja mengajar menggantikan guru sebelumnya yang sedang cuti melahirkan.


"Kalau ditambah huruf ‘n’ jadinya apa, Pak?" sambungnya lagi.


"Kangen!" serempak siswa siswi satu kelas menjawabnya dengan nada manja. Di bumbui ‘cie-cie’ untuk guru tampan yang baru saja mengajar itu. Sedangkan guru baru itu tampak dibuat cengo dengan gombalan dari murid didiknya sendiri.


Hal itu membuat si siswi tertawa terbahak.


"Pak, kali ini adik saya punya soal matematika, dia memintanya untuk saya mengajarinya, tapi saya sendiri tidak mengerti, bisakah Bapak membantu saya? saya akan sangat berterima kasih," masih siswi yang duduk paling pojokkan yang berteriak.

__ADS_1


"Majulah, seperti apa biar saya bantu," tanpa curiga sama sekali karena menurutnya ini benar soal yang akan ia kerjakan.


Siswi itu pun maju ke depan kelas, guru baru itu tampak memperhatikan penampilan si siswi, rok lipat sebetis dengan baju yang sangat pendek ia keluarkan dan tidak memakai dasi seperti siswi lainnya. Guru tampan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menuliskan soal pertidaksamaan linear satu variabel, 9x-7i>3(3x-7u).


Sang guru tampak melirik siswi itu, tiba-tiba ada rasa curiga, namun tetap ia mengerjakan soal dari muridnya. Sedangkan si siswi dengan gaya selengekannya masih setia menunggu si guru tampan itu menyelesaikan pekerjaannya dengan mulut tak henti menjelaskan.


9x-7i>3(3x-7u)


9x-7i>9x-21u


-7i<-21u


i<3u


"Ini penjelasannya--" baru juga guru itu mau mengulang untuk menjelaskan lagi sudah terpotong dengan perkataan siswinya.


"Ada satu jawaban lagi, Pak," pangkasnya. Membuat sang guru terheran-heran. Tadi dia bilang tidak mengerti sekarang dia malah mengoreksi ada jawaban lain. Hah, tersadar dia telah di kerjai lagi oleh muridnya ini. Sang guru membiarkan muridnya memberi jawabannya.


"I <3 u too," siswi itu melangkah menuju kursinya dengan mengedipkan sebelah matanya dan memamerkan gigi putihnya.


'Apa? siswi itu sebenarnya tahu jawabannya, ini hanya soal jebakan,' bahkan tak sadar jika jawaban soal itu bisa di artikan sebagai jawaban pengungkapan perasaan.


"Sudah-sudah, kerjakan halaman 16 semua, dan harus di kumpulkan hari ini, dan kamu!" tunjuknya pada siswi yang sudah mengerjainya tadi.


"Ikut ke ruang BK selesai jam mata pelajaran saya."


"Yah Pak, sudah main BK saja, just kidding, Pak, untuk hiburan saja, kita damai, oke!" siswi itu memberikan senyumannya yang diiringi dengan dua jari telunjuk dan jari tengah yang berdiri, namun hanya di pelototi oleh sang guru.


.


.


.


Ini aku, anak SMA jurusan IPS, sudah tahu kan kenapa aku tidak ikut masuk kelas IPA, ya karena aku hancur bagian hitung-hitungan, IQ ku tidak sampai sana. Soal tadi saja, aku dapat dari hafalan selama bertahun-tahun. Eits bohong deh.


Aku paling malas di pelajaran berhitung, sumpah itu bikin otak ngebul sebelum berpikir. Bagian berhitung yang paling aku kuasai ya hitung-hitungan dengan uang. Jangan salah jika sudah berdebat tentang uang denganku, kurang seperak pun aku kulik sampai hasilnya balance.


Sedangkan di jurusanku sendiri sebenarnya aku juga kurang menyukainya. Ya, IPS identik dengan pengetahuan sosial, apa lagi jika sudah membahas sejarah masa lalu.

__ADS_1


Duhh, please deh lupakan saja masa lalu, kita move on, yang lalu sudah jangan di bahas lagi, kita berjuang untuk masa depan. Ehh, itu mah mantan. Loll.


Aku tidak ada bakat mengingat masa lalu, sejarah tentang negara, letak geografis benua, atau apalah, dan teman-temannya, yang selalu membuatku mual seketika karena pusing sendiri dalam berusaha mengingatnya.


Apa lagi jika sudah membahas tentang perang dunia, ‘Duh, Pak, perang batin saja sudah membuatku kacau balau, bagaimana dengan perang dunia. Lagi pula aku tidak ada bakat berperang, bakatku hanya mencintainya,’ ucapku saat itu.


Langsung deh spidol mendarat di kepalaku oleh guru Sejarah yang baru saja memberikan ulasan materi tentang sejarah perang dunia pertama dan kedua.


.


.


.


Aku Ariel, Arielka Zee. Hanya orang tuaku yang memanggilku El. Teman lainnya memanggilku Ariel. Aku anak tunggal, orang tuaku adalah pebisnis. Sedari kecil aku hidup dengan pembantu rumah tanggaku, karena Mama dan Papa selalu sibuk dengan urusannya. Sebulan sekalipun aku masih jarang bertemu dengan mereka. Jangankan untuk pergi tamasya di hari Minggu yang cerah, sekedar sarapan bersama saja tidak pernah.


Kadang aku berpikir, apa mereka lupa jika mereka mempunyai anak? atau mereka memang tidak pernah menganggapku sebagai anak? entahlah.


Waktu aku masih duduk di bangku 1 SMP, aku sampai di panggil ke ruang BK dengan orang tuaku dan ada juga kepala sekolah, serta wali dari anak yang sudah aku dorong hingga dia terbaring di rumah sakit berhari-hari karena kepalanya yang terbentur batu dan harus di obras seperti bahan celana jeans.


Saat itu aku hanya kesal, dia tidak tahu hidupku, namun selalu mencari masalah denganku, aku paling marah ketika dia mengatakanku hanya anak pungut yang terlupakan orang tuanya. Seketika aku naik pitam dan mendorongnya dari tangga halaman sekolah, dan itu membuat kepalanya beradu dengan batu.


Tidak ada rasa bersalah sama sekali di hatiku. Aku malah berharap dia lebih parah saat itu.


Dari sana orang tuaku bertanggungjawab dengan membiayai pengobatan dan juga memberi uang ganti rugi. Dengan mudah pihak sana mengiyakan. Cihh, uang bisa membelinya. Pandangku remeh.


Saat itu juga aku di keluarkan dari sekolahan. Aku tidak bersedih, tidak malu, aku baik-baik saja. Orang tuaku marah denganku.


"El, kamu ini perempuan, jangan bertindak arogan, mau sok jadi pahlawan kamu!" sentak Papa.


"Benar El, untung keluarga temanmu mau di ajak damai, jika tidak, bisa-bisa di kasus kan lewat hukum!" sambung Mama.


Aku yang duduk di jok belakang mobil hanya diam mengamati kedua orang tuaku yang saling melempar rasa kesalnya untukku.


Anehnya itu tidak membuatku jera, dari kemarahan orang tuaku, aku malah seperti di perhatikan. Dengan rela mereka meninggalkan pekerjaannya untukku. Walau sebenarnya karena kasusku.


Lalu berkali-kali aku membuat onar di sekolah baruku, ujung-ujungnya aku di keluarkan lagi. Begitu terus sampai aku berpindah-pindah sekolah tujuh kali, dan disini adalah yang ke delapan kalinya. Semua itu aku lakukan hanya demi perhatian Mama dan Papa.


Dengan asanya orang tuaku memohon kepada guru-guru disini untuk lebih mengawasiku, karena kelakuanku yang abnormal. Disini bukan sekolahan elite seperti sebelumnya, sekolahan biasa yang benar-benar mendidik muridnya menjadi orang-orang luar biasa. Begitulah dari yang kuamati. Karena dari segi murid yang hanya ala kadarnya murid, tanpa fasilitas wow dari orang tua mereka. Dan mereka disini kebanyakan adalah para murid berprestasi. Entah dari akademiknya atau non akademiknya.

__ADS_1


Kesederhanaan yang mengagumkan, itu yang membuatku sedikit betah di sini.


__ADS_2