
Syila mengerjapkan matanya, merenggangkan ototnya. Tidur yang nyeyak, 'Di ranjang?'. 'Kaisar'.
Tepat dengan itu Kaisar memasuki kamar Syila, membuat Syila beringsut memeluk selimutnya dan waspada. Entah apa yang ia pikirkan.
Kaisar tersenyum lembut dengannya, ''Sudah bangun? Kau tidur sangat pulas, bagaimana tubuhmu, apa sudah tidak demam lagi?'' Kaisar menjulurkan tangannya hendak mengecek suhu tubuh Syila, namun Syila tepis.
''Aku baik.'' Dengan segera ia memasuki kamar mandi membasuh wajahnya lalu ia ingin keluar.
'Sekeras batu'. Batin Kaisar.
Syila melihat koper mertuanya sudah rapi diruang tamu. Ada Ibu Lulu yang datang dari arah luar rumah.
''Bi, Bibi mau kemana? Barang-barang kalian mengapa disini dan sudah rapi?''
''Kami akan kembali ke negara XX sayang, maaf ya, kami mendadak pergi karena Ayah Kaisar harus bertemu klien penting. Jika perlu sesuatu mintalah pada Kai, jika Kai membuatmu sedih laporkan saja kepada kami, kami akan menghukumnya nanti.''
Syila seperti melihat sifat Ibunya dari Ibu Kaisar, lembut.
''Emmm, baiklah. Terimakasih sudah menemaniku Bi.'' Ada rasa tidak rela ketika satu per satu orang yang menemaninya pergi.
Malam tiba, setelah makan malam yang disediakan oleh Nyonya Mahendra, semua kembali pada kesibukan masing-masing. Tuan Mahendra dan Kaisar sangat sibuk dengan ponselnya. Sesekali mereka menghubungi seseorang. Dan Ibu Lulu hanya sekedar duduk menemani mereka.
Syila pergi ke dapur membuat cokelat hangat penuh krimer. Dia ingat alm. Ibunya. ''Dapur ini terlihat sangat sepi.'' Ada klise kenangan yang berputar diingatan Syila. Saat dimana Ibunya tengah membuat adonan kue, dia dan Ayah hanya merecoki dan membuat dapur berantakan penuh tepung karena perang.
''Ayah, Ibu...'' Syila kembali bersedih.
Syila kembali keluar, didepan rumah tempat yang biasa digunakan Ayah dan Ibunya sekedar menghabiskan waktu sebelum tidur dengan mengobrol diteras.
Syila kembali pada bayangan masa lalu, bahkan ada bayangan Dika, yang waktu itu ikut serta menghangatkan waktunya.
''Melamunkan apa?'' Ibu Lulu ikut duduk disamping Syila duduk.
''Ehh.. Tidak ada, hanya sedikit mengulang kenangan bersama Ayah dan Ibu disini.''
''Ini tempat favorite kalian?'' Syila mengangguk.
__ADS_1
''Aku ingin mendengarnya, apa saja yang kalian lakukan disini?'' Pancing Ibu Lulu.
Pandangan Syila terjatuh pada cangkir yang berisi cokelat hangat.
''Tidak ada yang kami lakukan selain bercanda, bertukar cerita, dan tertawa. Tapi aku paling suka saat aku bersandar dibahu Ayah dan Ibu memasang wajah tidak sukanya karena merasa cintanya telah aku rebut. Hehehe.'' Syila tertawa hambar. Ada sebuah kerinduan yang tidak mungkin dapat ia raih lagi.
''Lalu dengan Ibumu, kau tidak pernah bersandar dengannya?'' Tanya Ibu Lulu.
''Aku selalu bersandar pada Ibu, saat para pria menyakitiku, Ibu akan menyalurkan kekuatannya melalui usapan, pelukan, dan tuturnya yang seketika membuatku damai.'' Syila larut dalam perasaannya, ia menceritakan apa yang ia rasa kepada Ibu Lulu. Hingga tak terasa matanya kembali basah kala kerinduan yang menggebu kepada orang yang ia cintai namun tak terbalaskan.
''Apa seperti ini yang Ibumu lakukan?'' Ibu Lulu mengarahkan kepala Syila pada bahunya, ia usap dengan lembut seperti yang Ibu Rahma lakukan. Syila mengangguk tanda itu benar.
''Kau boleh merindukan mereka, kau juga berhak mencintai mereka, tapi kau juga harus tahu, mereka tidak akan suka jika kau terlalu lama bersedih. Sayang, ijinkan aku menjadi Ibumu. Walaupun tidak akan bisa sesempurna Ibumu.'' Ibu Lulu adalah wanita penyayang, lembut, dan perhatian. Syila nyaman diposisi ini.
''Aku ingin seperti ini, sebentar lagi, Ibu..'' Kata Syila. Ibu Lulu tersenyum, sembari mengecup pucuk kepala Syila yang tertutup hijabnya.
''Kau menyukai cokelat?''
''Sangat. Maka dari itu stok cokelat di dapur tidak pernah habis. Apa lagi Ibu suka membuat kue yang tak jauh dari rasa cokelat juga. Ibu mau kubuatkan? Ini enak. Ah.. Seharusnya mau, sebentar ya.''
''Kau membuat apa?'' Ia mendekatkan dirinya kepada Syila.
''Jauh-jauh.'' Usir Syila.
''Aku mau.'' Jawab Kaisar tanpa tahu malu.
Syila tak mempedulikan Kaisar, dia tidak menganggap Kaisar ada. Syila pergi dengan cokelat hangat ditangannya menemui Ibu mertuanya. Kaisar mengekori Syila.
''Ibu, ini cobalah.'' Hati Kaisar menghangat, Syila mau memanggil Ibunya dengan sebutan 'Ibu' bukan 'Bibi' lagi, yang artinya sedikit demi sedikit ia mau membuka hatinya.
''Kai, sini,'' ajak Ibu Lulu, ''kau harus mencoba minuman ini, ini sangat enak, istrimu pintar meraciknya.'' Tawar Ibu Lulu setelah ia menyicipi minuman buatan Syila.
Dengan senang hati Kaisar ikut duduk dengan dua wanitanya itu. Lalu diambilnya cangkir berisi cokelat hangat milik Syila, tanpa ijin yang punya, Kaisar meminumnya.
''Itu milikku!!" Protes Syila.
__ADS_1
''Aku tadi sudah memintamu untuk membuatkanku juga kan, tapi kau tak membuatkan, ya sudah aku anggap kau sedang ingin berbagi satu gelas berdua denganku.'' Enteng jawaban Kaisar dengan ekspresi sedihnya, membuat Syila ternganga tak percaya, seperti ingin meremas wajah tampannya yang sok teraniaya.
Syila mengerucutkan bibirnya dengan bersedekap dada, ''kau membuat moodku bertambah buruk, lihat Bu, apa dia benar-benar putra Ibu? Aku rasa dia tertukar dengan bayi yang lain ketika di rumah sakit.''
''Hei, kau sedang meragukan garis keturunanku? Aku putra Mahendra...'', terpotong dengan kalimat Syila, ''terserah, bicara sini dengan tanaman!!" Syila mengangkat pot tanaman kecil dihadapkannya dengan Kaisar, lalu ia pergi ke dalam rumah.
Masih dengan menatap kepergian istrinya, ''Bu, apa wajah putramu ini sudah tidak tampan lagi?''
Ibu mengernyit dengan menyeruput cokelat hangat ditangannya tanpa menjawab pertanyaan Kaisar.
''Syila seperti melihat pangeran kera, selalu saja menghindariku dan tidak mau menatapku, berbeda sekali dengan wanita diluaran sana yang mengagungkanku seperti dewa mereka.'' Tatapan tak percaya.
Ibu tersedak, karena ingin tertawa, namun bersamaan disaat ia sedang menelan minumannya.
Hahahaha tawa Ibu pecah, ''kau kenapa mendadak tidak percaya diri seperti ini didepan wanita?''
''Ibu menertawaiku?'' Tidak suka Kaisar.
''Maaf. Kai, kau seperti anak remaja yang sedang mencoba mendekati adik kelasnya. Lucu sekali.'' Tertawa lagi.
Kaisar diam, kembali meminum cokelat hangat milik Syila.
''Berjuanglah sayang, lihat Ibu, Ibu berhasilkan membuat Syila merubah panggilannya. Dia hanya membutuhkan waktu, pelan-pelan saja, kau juga pasti bisa merebut hatinya.'' Ibu Lulu menyemangati.
''Hapus aku dari daftar kartu keluarga Mahendra Bu, jika seorang Kaisar Javier Mahendra tidak mampu meluluhkan hati gadis manja seperti Syila.'' Kaisar beranjak pergi membawa gelas kosongnya, ia simpan di dapur, lalu menuju kamar istrinya.
Syila terkejut, Kaisar masuk saat ia sedang membenarkan ikat rambutnya, buru-buru Syila memasang kembali hijabnya.
''Kau bisakan mengetuk pintunya dulu, bagaimana tadi jika aku sedang berganti pakaian?'' Masih metode mood yang buruk
''Kau ingin mengganti pakaianmu, sini aku bantu!!'' Kai berjalan mendekat dengan wajah liciknya, Syila mundur merasa terpojokkan dengan tatapannya. Terpentok pada kursi belajarnya, lalu terjerambah disana. Kaisar menguncinya dengan kedua lengan berototnya.
''Menjauh!!" Dengan wajah yang mulai panik.
''Kau semakin menarik jika panik begini,'' ditatapnya dengan intens, mata, hidung berakhir dibibir yang selalu bicara ketus itu. Jari Kaisar mengusap bibir Syila, yang mendapat balasan tatapan horor dari pemiliknya, lalu dengan sengaja Syila membuka sedikit bibirnya, jari Kaisar masih setia disana dengan wajah yang mulai ia majukan, dan.... ''Aaaaaa..'' Teriakan Kaisar menggema di kamar Syila, jarinya berdenyut sakit setelah mendapatkan gigitan yang kuat dari Syila. Ia mengibaskan tangannya, Syila dengan cepat pergi dari kamar sembari tertawa.
__ADS_1