
Kaisar membawa Syila pergi dari acara itu. Setelah ia mendengar obrolan Syila dengan Dika tadi, hatinya semakin semangat untuk memperjuangkan cinta Syila. Setidaknya Syila mau mengakuinya sebagai suami di depan mantannya.
Lewis menjadi sopir mereka, dia sedang memikirkan cara, jika besok berita tentang malam ini menjadi trending, pasti akan banyak wartawan yang berkerumun di kantor. Media masa juga pasti akan penuh dengan berita mantan duda ini.
Setahu Lewis, pernikahan mereka atas dasar Kaisar harus bertanggungjawab kepada alm. Orang tua Syila. Setahu Lewis, hanya ikatan saja yang menyatukan namun, hati mereka masih berjauhan, mungkin dari sana juga Tuannya tidak ingin mempublishkan pernikahan mereka. Kaisar yang menyadari raut wajah Lewis yang seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat langsung angkat bicara.
"Jawab saja apa yang kau tahu, jangan menyinggung tentang perasaan."
'Apa maksudnya jangan menyinggung perasaan itu, bagaimana hati mereka, atau bagaimana mereka menikah. Bicara yang jelas Tuan ini menyangkut pekerjaanku juga.'
"Jika ada yang bertanya bagaimana kami menikah, kau bisa bilang kami di jodohkan. Bukan begitu sayang?" Tanya Kaisar kepada Syila, sambil mengelus sayang pucuk kepala Syila. Syila yang hanya mendengar tidak mau tahu urusan dua pria ini.
"Baik Tuan," jawab Lewis.
****
Dika kembali ke acara dengan wajah masamnya. Bahkan saat Laura mencoba bersikap manis dan manja, Dika hanya diam.
Usai pesta mereka langsung menuju ke penginapan yang sudah mereka pesan untuk malam pertamanya.
"Sayang?" Laura memanggil dengan nada menggoda seperti yang ia lakukan saat mereka berdua sebelum-sebelumnya. Dia sudah dengan gaun tidurnya. Yang tipis dan menantang. Seharusnya Dika langsung menerkamnya, tapi tidak, Dika tidak merespon apa-apa. Pikirannya masih kepada Syila. Dia lagi-lagi sudah salah dalam menilai Syila. Ego yang bercampur cemburu selalu membutakan akalnya.
Laura menggencarkan aksinya, semakin menggoda Dika, mengecup, memeluk, di sertai suara seksi serta gerakan erotisnya. Tapi Dika malah menjauh, pergi ke balkon menatap langit hitam. Penyesalannya semakin mendalam.
"Dika!!" sentak Laura, Dika menoleh, sadar jika dia telah mempunyai istri dan ini adalah malam pertamanya.
"Kau ini kenapa? kau mengacuhkanku? ini malam yang kita tunggu-tunggu sebelumnya? apa kau masih memikirkan mantanmu itu?" cerca Laura yang merasa kesal kepada Dika.
"Heii, mengapa marah? aku rasa aku hanya lelah, bisa kan kita tunda dulu malam ini? aku ingin istirahat, kepalaku tiba-tiba pusing" alibi Dika kepada Laura.
Laura semakin geram dengan Dika, tanpa menjawab Laura langsung memasukkan dirinya ke dalam selimut. Batinnya merutuki Syila.
__ADS_1
'Dia tidak ada di pandangan matapun bisa mengusik ketenanganku! sebenarnya apa yang di berikan Syila untuk Dika yang aku tidak bisa berikan?!' kesal sendiri. Akhirnya Laura memilih tidur lebih dulu. Sungguh menyebalkan, malam pertama macam apa ini, sangat jauh dari yang ia bayangkan.
***
Kaisar menyuruh Lewis pulang setelah mengantarnya ke sebuah gedung apartemen.
"Kai, kita dimana?" tanya Syila yang memang tidak tahu apa rencana Kaisar.
"Ayo, aku harap kau suka." Kaisar membawa Syila ke atap gedung apartemen. Angin malam menerpa gaun serta hijab Syila, membuatnya berterbangan seperti ingin lari bersama angin. Disana sudah tersedia tenda dengan api unggun buatan juga hidangan makanan yang siap di bakar.
Mata Syila sudah berbinar melihat semua itu, hal yang mengingatkan tentang kebersamaan bersama orangtuanya, kini ia ulang dengan pria sebagai suaminya.
"Bagaimana kau menyiapkan semua ini, Kai?" tanya Syila menatap wajah suaminya dengan rona bahagia.
"Aku kaya sayang, jadi mudah untuk meminta apapun yang ku mau jika itu hanya berurusan dengan uang," sombong Kaisar. Dia memang meminta pihak gedung apartemen untuk menyiapkan semuanya, melalui intruksi Lewis pastinya dan uangpun berjalan demi memuluskan rencana.
Mendengar jawaban suaminya seperti itu, Syila tidak lagi bertanya. Ada pagar pembatas di atas sana, Syila mendekatinya, membuat Kaisar berlari mendekat dengan panik.
Syila tertawa, tawa renyah yang jarang sekali Kaisar lihat, "Memang apa yang kau pikirkan? aku hanya ingin melihat pemandangan dari sini. Ini indah Kai."
Haa... , Kaisar malu sendiri dengan pikirannya yang terlalu dramatis.
"Dulu aku juga takut dengan ketinggian, tapi seseorang membantuku melawan rasa takut itu, hingga aku berani menatap ke bawah saat berada di atas begini," Kaisar mendengarkan, masih sambil memeluk.
"Siapa orang itu? apa dia juga Dika?" tanya Kaisar dengan penasaran.
"Kau selalu mencari untung, daritadi memelukku dengan erat. Aku tidak akan kemana-mana," protes Syila yang merasa pergerakannya terbatas karena dekapan Kaisar sangat erat. Kaisar terkekeh, akhirnya Syila menyadari juga. Ia melepaskan pelukkannya.
"Siapa dia?" tanya Kaisar yang masih penasaran dengan orang yang sudah di sebut Syila tadi.
"Namanya Adji," jawab Syila.
__ADS_1
"Siapa dia?" Kaisar penasaran, ada pria yang di sebut oleh istrinya lagi.
"Hanya masa lalu, Kai," jawaban Syila membuat Kaisar bertambah ingin tahu karakter Adji dan mengapa mereka pisah.
"Ceritakan, aku penasaran dengan pria itu? mengapa kalian pisah?" Kaisar.
"Belum berjodoh saja. Sudah ayo kesana, aku ingin jagung bakar," Syila sudah berjalan menuju api unggun dengan riang.
"Jelas sekali kau menghindariku sayang!" ucap Kaisar menyusul Syila.
Syila tertawa, "Hanya masa lalu, seharusnya tidak perlu di bicarakan, hanya akan membuka luka lama,'' iya luka yang terlalu dini ia rasakan saat sedang sayang-sayangnya.
Mendengar kata 'Luka' Kiasar semakin penasaran, mereka sedang membakar jagung berdua.
''Apa dia juga menyakitimu?" masih lanjut penasarannya.
''Tidak, dia orang baik, yang hanya salah jalan, dia harus meninggalkan aku untuk menebus dosa di masa lalunya.''
''Tapi itu membuatmu terluka, bukan begitu?'' korek Kaisar ke akar-akarnya.
''Memang, tapi aku sudah berdamai.''
''Secepat itu?'' Kaisar ingin memastikan.
Dengan memakan jagung bakar, di temani angin malam dan api unggun, ''Aku tidak ingin menjadi pendendam Kai, bahkan denganmu bagaimana? aku sedang proses menerima takdirku denganmu, bukankah sekarang aku menjadi sedikit penurut? begitu juga untuk Dika, aku berusaha melupakannya, berdamai dengan keadaan, tapi setiap bertemu dengannya, dia selalu ingin membuka luka yang baru saja ku obati,'' tanpa sengaja Syila bercerita tentang apa yang ia rasakan.
Syila melihat Kaisar, ''Kai, jagungmu akan berubah menjadi abu!"
''Haah... , apa?'' di lihatnya, jagungnya sudah berubah hitam semua, Syila tertawa lepas melihat wajah Kaisar yang nampak lesu dengan jagungnya.
'Kau sangat manis dan cantik, jika terus bahagia seperti ini, aku akan berusaha membuatmu melupakan semua lukamu, di masa yang akan datang, aku hanya ingin melihat senyuman di wajahmu, sangat meneduhkan, apa lagi dengan pancaran matamu yang tidak di sertai kebencian, pantas saja banyak kumbang yang mendekatimu. Aku akan membuatmu bahagia istriku.'
__ADS_1