Karma Cinta

Karma Cinta
Laura Gila


__ADS_3

Malam setelah acara resepsi selesai, keluarga juga si pengantin kembali ke kamar mereka masing-masing. Di hotel yang sama.


Syila terkejut kala tubuhnya terangkat saat pintu hotel terbuka. Siapa lagi pelakunya jika bukan suaminya sendiri.


''Kai, turunkan aku!'' perintah Syila yang tak diindahkan oleh suaminya. Syila mengeratkan pegangannya.


Kaisar membaringkan pelan di atas ranjang yang sudah dihias.


''Ini malam pertama kita,'' seloroh Kaisar membuat tawa kecil dari Syila.


''Malam pertamaku direnggut dengan paksa! kau lupa?''


Bagaimana lupa Kaisar dengan kejadian itu. Tragedi yang membuat Kaisar seharian penuh bahagia dengan terus menyunggingkan senyumnya.


''Hehe, baiklah jika begitu aku akan membayarnya malam ini, kau bebas melakukan apa pun pada tubuhku,'' Kaisar berada di posisi mengungkung Syila bertumpu pada satu tangannya, tangan yang lain ia pakai untuk membelai bibir istrinya.


'Dih, akal bulus.'


''Ayo, aku bantu membersihkan riasanmu, aku benci melihatmu dandan seperti ini dilihat banyak orang lagi!'' ucap Kaisar.


''Kau yang meminta resepsi ini, Kai!'' napas Syila tertahan saat merasakan tangan Kaisar menyelusup ke bahu setelah ia berhasil membuka resleting gaun besarnya. Mengecup bagian sana sesaat.


'Tangan Kaisar seperti api, mampu memantikkan hawa panas di tubuhku,' batin Syila.


Tangan Kaisar melingkar, mendekap tubuh si istri kecilnya yang tak berniat merespon apa-apa.


''Aku merindukan anak-anakku, aku ingin bermain sebentar dengan mereka, apa boleh?'' tatapan mereka bertemu di dalam cermin depan mereka berdiri.


''Pandai sekali, mereka bahkan belum mengerti tentang rindu,'' jawaban Syila membuat Kaisar tertawa gemas.


Lalu tubuh Syila yang tinggal mengenakan pakaian dalam di giring ke ranjang. Kali ini mereka melakukan dengan rasa sama-sama ingin dalam keadaan saling mencintai dan hati yang bahagia. Menjadikan setiap sentuhan, setiap ritme permainan begitu indah hingga menuntut keinginan lagi dan lagi.


''Kai, lakukan seperti biasanya!'' kesal Syila yang merasa ritmenya di kurangi, sedangkan pencapaian tinggal sedikit lagi.


''Aku takut menyakiti mereka,'' ucap Kaisar.


Baiklah, Syila menghentikan permainan, ia bangkit dan merubah posisi. Kini Syila yang akan memegang kendali.


''Kau menyebalkan malam ini, tidak sejantan seperti malam-malam sebelumnya, biar aku yang melakukan, kau cukup nikmati saja!'' kata Syila ngedumel, membuat Kaisar tak percaya dengan keagresifannya.

__ADS_1


Ya sudah akhirnya Syila yang memenangkan permainan di malam resepsi mereka. Dengan Kaisar yang terus mengerang menahan rasa nikmatnya membuat kepuasan tersendiri bagi Syila.


Aneh, tapi biarlah. Suka-suka mereka.


.


.


.


Beberapa bulan berlalu.


Rayhan sudah selesai dengan magangnya dan sudah kembali ke negara tempat orang tunya bekerja. Sedangkan kandungan Syila sudah memasuki bulan ke lima. Perutnya lebih besar, karena memang ada dua kehidupan di dalam sana. Hari ini jadwal mereka kontrol.


Kaisar mengurangi pekerjaannya atau ia lebih memilih membawanya pulang ke rumah. Ia ingin menjadi suami siaga untuk sang istri.


Haru bahagia tak dapat tertutupi dari wajah Kaisar. Saat mendengar ada dua detak jantung yang begitu kencang saat Syila melakukan pemeriksaan. Syila melakukan USG empat dimensi, sehingga memperlihatkan gambar lebih jelas.


Kaisar terus kecupi wajah istrinya, tak peduli ada dokter atau pun suster.


''Mereka sehat, tetap minum vitaminnya, dan jangan terlalu lelah,'' saran dokter.


''Kai, aku mau itu! berhentilah dulu!''


Kaisar langsung menginjak rem mobilnya. Membuat benda bermesin dari besi itu berhenti seketika.


''Biar aku saja yang turun, tunggulah di sini!''


Syila patuh, Kaisar sedikit berlari menuju seberang jalan yang terdapat penjual ice cream itu. Sedangkan Syila mengedarkan matanya. Terkunci pada sosok wanita memakai piyama dengan memainkan boneka barbie. Syila mengenalinya, tapi kenapa keadaannya seperti itu. Syila turun ingin benar-benar memastikan.


''Laura?'' panggil Syila.


Laura mendongakkan wajahnya, ia sedang duduk di pinggir jalan. Seperti tampak berpikir dengan memilin rambutnya yang panjang.


''Syila?'' setelah menemukan sepenggal ingatannya. Dia kembali menimang barbie itu.


''Laura, ada apa denganmu?'' tanya Syila dengan mengelus perutnya kala merasakan gerakan dari kedua janinnya secara bersamaan.


''Kenalkan ini putriku, bagaimana dia cantikkan? kau jangan berisik dia mengantuk tadi habis minum susu,'' jawab Laura dengan senyum senang. Syila syok mendengarnya, lebih syok lagi saat tiba-tiba dia menagis tersedu.

__ADS_1


''Maafkan mama, nak,'' disela tangisannya.


Setelah itu dia langsung menatap Syila dengan tajam, menyatukan giginya seperti sangat marah. Lalu terkunci pada perut buncit Syila.


''Kau penyebab kematian anakku! kembalikan anakku!'' Syila mundur beberapa langkah saat Laura bangkit dari duduknya. Syila baru sadar saat melihat logo pakaian piyama yang di kenakan oleh Laura itu seragam dari salah satu rumah sakit jiwa.


''Kau gila?'' kini Syila yang takut.


''Jangan mendekat!'' saat langkah Laura semakin maju. Sedangkan Syila tiba-tiba mengalami kram pada perutnya membuatnya sulit bergerak.


Tepat selangkah lagi datang Kaisar bersamaan dengan petugas berseragam putih yang menangkap Laura.


''Pak, dia kenapa?'' tanya Syila kepada salah satu petugas itu.


''Dia mengalami depresi yang berat, Nona, saat kandungannya bermasalah mengharuskan dia melahirkan prematur dan ternyata bayinya terinfeksi virus membuatnya merenggang nyawa. Dan dari keluarga dia tidak mendapatkan dukungan serta semangat, malah menyalahkan pasien ini, membuatnya mengalami syndrom baby blues.''


Syila dan Kaisar terkejut.


''Suaminya?'' tanya Kaisar.


''Suaminya tidak peduli lagi setelah kematian anak mereka, karena pasien ini termasuk pasien yang jarang sekali mendapatkan kunjungan keluarga,'' jelas petugas dari rumah sakit jiwa itu.


''Aku tidak gila! kalian jangan berisik putriku sedang tidur!'' cerca Laura tanpa henti, sesekali menangis lalu tertawa.


Kaisar dan Syila kembali ke mobil.


''Aku bilang tunggu di dalam saja kenapa kau malah keluar menemui orang gila, nanti jika terjadi sesuatu dengan kandunganmu bagaimana?'' cerca Kaisar yang begitu khawatir.


''Maaf, aku hanya penasaran. Kasihan sekali Laura,'' jawab Syila.


''Sayang, dia bukan urusanmu, dia bahkan sudah sering menghinamu dan menyakitimu, untuk apa kau bersimpati dengan orang sepertinya?'' tak habis pikir, terbuat dari apa sebenarnya hati wanitanya itu. Mudah sekali luluh.


Kiasar menjalankan mobilnya.


''Kai, aku wanita, sedang hamil, ini sangat membahagiakan, walau awalnya sulit. Laura pasti juga merasakan hal yang sama, merasakan ada buah cinta dari seorang pria yang ia cintai, adalah hal yang ditunggu-tunggu, setelah ia menunggu lalu ia kehilangan begitu saja, pasti sangat menyakitkan, aku bisa merasakan bagaimana kesedihan itu datang pada Laura,'' Syila menerawang jauh.


''Aku beruntung mempunyai istri yang begitu baik sepertimu,'' dielusnya dengan sayang ujung kepala Syila.


''Yang tak habis pikir itu Dika! bagaimana bisa dia menjadi pria yang kejam seperti itu!'' Syila.

__ADS_1


''Artinya kau beruntung pisah dengan pria seperti itu dan menikah denganku,'' sombong Kaisar.


__ADS_2