
''Hentikan Dika ! Kau mau membuat hidungku sepanjang hidung Pinokio ?'' Karena memang terlalu kuat Dika menarik hidungnya.
Dika terkekeh, ''Maaf maaf, kau kemari menaiki apa ?''
''Aku meminjam motor Bibi Nuha.''
''Aku pulang paling tidak sekitar 3 jam lagi. Kau mau menungguku ? Aku takut kau semakin jauh tersesatnya jika pulang sendiri. Kau masih terlalu asing disini.'' Tawar Dika.
''Itu akan sangat membosankan, menunggu tanpa melakukan apapun. Lagipula aku harus menunggumu dimana ?''
Dika nampak berfikir, ''Aku tahu, tepat disebelah kantorku ada perpustakaan umum, kau bisa mencari novel atau buku lainnya. Kau suka membaca bukan, waktu 3 jam pasti tidak akan lama.''
''Tidak terlalu buruk. Tapi aku butuh charger. Apa kau membawanya. Atau mungkin aku bisa menumpang mengisi baterai ponselku di mobilmu.'' Jurus andalan keluar. Wajah memelas.
''Kemarikan ponselmu.''
''Untuk apa ?'' Walaupun begitu Syila memberikan ponselnya kepada Dika. Dan Dika mengeluarkan ponsel pribadinya untuk Syila.
''Bawa ponselku dulu. Ponselmu biar aku isi daya.'' Sesaat mereka melupakan bahwa mereka tidak hanya berdua.
Seorang wanita yang merasa tidak dianggap itupun pamit pergi ke toilet.
''Yaa ampun, aku bahkan tidak ingat ada orang lain diantara kita. Kita mengabaikannya.'' Merasa tidak enak sendiri. Sedangkan Dika tidak menanggapi ucapan Syila.
***
Laura membawa mobil Dika ke kantornya. Sedangkan Dika memilih menaiki motor matic bersama Syila, sekaligus mengantarnya ke perpustakaan.
''Kau jangan kemana-mana sampai aku menjemputmu. Motormu aku bawa. Nanti pulang aku kesini lagi.''
''Iya iya kau cerewet sekali. Sana pergi aku sudah tidak sabar ingin masuk.''
''Aku cerewet juga gara-gara kau. Apa kau tidak sadar.''
Menyebalkan. Gerutu Syila
''Sudah sana pergi. Pekerjaanmu menunggu. Biarkan aku masuk sekarang juga.'' Dengan memutar tubuh Dika mendorongnya menjauh. Lalu Syila masuk dengan gembira.
Sedangkan wanita didalam mobil tadi tak henti-hentinya menggerutu sebal.
''Apa lebihnya bocah seperti itu ? Bahkan mereka tidak terlihat sebagai pasangan. Lebih cocok seperti kakak dan adik.''
''Aku yakin, aku bisa memenangkan Dika kembali, jika rivalku hanya bocah seperti itu.''
***
Diruangannya Dika sedang mengecek ponsel Syila.
''Benar-benar ceroboh, benda privasi seperti ini tidak diberi sandi apapun.''
Dikapun membuka berbagai file. Awalnya galery, foto Syila bersama teman-temannya, foto dengan Ayah dan Ibu, foto-foto sendirinya dan ada foto dengan seorang pria. Dengan jarak yang sangat dekat. Dia cek tanggal, tempat, dan waktu. Inikan waktu Syila bilang mau menginap di pantai untuk merayakan kelulusan. Mengapa dia tidak bilang kalau banyak prianya juga. Uhh geram sendiri jadinya.
Lalu dia cek pesan WA. Dika tersenyum kala mendapati nomornya diberi nama 'pangeran tak berkuda'.
''Ini anak benar-benar lucu. Kadang aku sampai bingung ingin memperlakukannya bagaimana.''
__ADS_1
Dika menelfon Syila.
''Syila, kau sedang apa ?''
''Iss kau ini menggangguku saja. Ada apa ? Apa kau sudah pulang ?''
''Aku hanya merindukanmu, apa tidak boleh.''
''Ck.. kau berlebihan, 3 jam yang lalu kita baru saja bertemu Dika.'' Walaupun begitu Syila senang sekali mendengarnya.
''Ya sudah aku mau check out dulu. 10 menit lagi kita bertemu.''
***
''Dika..'' Sapa Laura.
''Iya, ada apa ?'' Mode buru-buru.
''Kita searah, bolehkah aku menumpangmu pulang ?''
''Ohh kalau kau mau bawa, bawa saja mobilku. Nanti aku akan mengambilnya ke rumahmu. Sekarang aku pulang dengan Syila pakai motor.'' Jelas Dika.
''Tapi ini mendung, pasti akan turun hujan. Mengapa tidak pakai mobil saja.''
''Tidak masalah. Kau pakai saja mobilnya. Ini kuncinya.''
Laura menghentakkan kakinya lalu pergi, ''Ahh tak masalah tidak pulang bersama. Nanti Dika akan pergi ke rumah mengambil mobilnya.'' Laura tidak jadi murung. Sadar masih ada peluang di depan mata.
***
''Haii.''
''Sam ?''
''Iya, kau sedang menunggu seseorang ?''
''Begitulah.'' Jawab Syila.
''Kau ikut acara bakti sosial Jumat nanti ?''
''Iya.''
Syila mematung dengan mata yang membola ketika tangan Sam terulur pada sudut bibirnya.
''Kau seperti anak kecil. Makan cokelat, blepotan pula.'' Sam terkekeh.
''By the way selamat bergabung dianggota bakti sosial kita ya.''
Syila mengangguk canggung, ''Sam lain kali jangan lakukan hal tadi lagi ya, aku lebih suka kau memberitahunya saja.'' Kata Syila selembut mungkin.
Belum sempat Sam membalas obrolannya. Terdengar suara bariton memanggil nama Syila.
''Syila !! Ayo pulang.'' Dika.
''Sam, yang kutunggu sudah datang. Aku duluan ya.'' Sopan Syila.
__ADS_1
Sam menjilat jari yang ia gunakan untuk mengelap bibir Syila, ''Benar-benar manis.'' Sam bicara sendiri.
***
Sepanjang perjalanan aku merasa Dika sedang marah padaku. Karena dia hanya diam. Aku ajak bicarapun hanya iya dan tidak jawabannya.
''Dika berhenti disini !!'' Teriakku dengan memukul punggungnya.
''Kau mau apa ?'' Tanyanya.
''Mau turun ! Cepat berhenti !'' Kesal juga jadinya.
Motor menepi, akupun turun. Aku cabut dengan kasar kunci motornya. Dika seperti terkejut.
''Ikut aku !''
Kuberjalan lebih dulu menuju tempat yang tidak terlalu bising dengan kendaraan.
''Ada apa Syila, kau mau kemana ?'' Tanya Dika.
''Seharusnya aku yang bertanya kau ini kenapa ?'' Memutar badan. Langsung berhadapan dengan Dika. Kutatap garang dia. Aku paling tidak suka diabaikan. Apalagi tanpa alasan begitu.
'Syila ini kenapa ? Kenapa malah dia yang marah ?' Batin Dika bingung.
"Kenapa kau marah padaku ?!!" Nyaliku menciut melihat Syila yang biasa bersikap manja kini berubah seperti singa yang baru saja melahirkan.
Syila mengernyit heran, karena ekspresi Dika yang hanya diam, "Kau demam ?" Syila menempelkan punggung tangannya didahi Dika.
"Tapi tidak panas, aku merasa kau sedang marah. Kau mengacuhkanku. Mendiamkanku tanpa sebab. Aku tanya baik-baik jawabanmu hanya iya dan tidak."
Ambil nafas, "Jelaskan ada apa ? Aku punya salah apa, hm ?"
"Kenapa jadi kau yang marah ? Seharusnya aku yang marah. Lihat..." Dika mengeluarkan ponsel Syila, mencari foto Syila dengan seorang pria yang menurutnya dekat, terlalu dekat malah.
"Kau tidak memberitahuku, jika kau merayakan dengan banyak pria begini. Lalu ini siapamu mengapa kalian berpose begitu mesra ? Belum lagi tadi di minimarket, aku tunanganmu kau beri dinding pembatas, sedangkan pria lain dengan bebas menyentuhmu." Akhirnya uneg-unegku keluar juga.
"Ya Tuhan.. Kau mencurigaiku ?" Tanyaku tak berdaya.
Dika melengos.
"Pak, ice cream 2 rasa stowberry ya." Kebetulan sekali ada tukang ice cream lewat.
Dika memperhatikan gerak gerikku.
Kusobek bungkus ice cream itu dengan kasar. kuremas-remas dengan gemas lalu kulempar ke tong sampah.
"Buka mulutmu !"
"Aku tidak mau !" Masih dalam metode keras kepala.
Lalu dengan gemas kucubit hidung panjangnya sampai merah, dia membuka mulutnya lalu kumasukkan ice cream itu ke mulutnya. Mau tidak mau Dika menelannya.
Aku berikan ice tadi untuk Dika.
Lalu aku memakan punyaku sendiri.
__ADS_1
"Kau bisa menanyakannya baik-baik Dika. Jangan mendiamkanku begini. Kau membuatku cemas dan berfikiran yang tidak-tidak."