
Setelah dari toilet, Syila duduk berhadapan dengan Dika.
''Kau pandai memasak ?''
''Tidak, aku bisa memasak karena terdesak saja. Ingin makanan rumahan tapi aku hanya tinggal sendirian. Akhirnya aku coba-coba memasaknya sendiri. Awalnya sangat buruk. Lama kelamaan lumayanlah. Layak konsumsi.'' Jawab Dika dengan terkekeh.
Syila memasukkan suapan demi suapan. Benar ini tidak terlalu buruk. Malah burukkan hasil masakkannya. Hihihi dia terkikik sendiri.
''Ada apa ? Kau sedang memikirkan sesuatu ? Hingga membuatmu tertawa begitu.''
Sadar akan kelakuan kekasihnya.
''Tidak tidak. Hanya membandingkan hasil masakkanmu dengan masakkanku.''
''Lalu enak mana ?''
''Masakkanmu.'' Jujur Syila. Membuat Dika bangga dengan membusungkan dadanya.
''Tidak usah berlebihan juga responnya.'' Celetuk Syila membubar jalankan perasaan sombong tadi.
Mereka makan dalam keadaan tenang.
Syila hendak mengambil sambal.
''Jangan banyak-banyak. Itu sangat pedas.''
''Jika manis itu bukan sambal Dika, tapi puding.''
''Terakhir aku lihat kau makan pedas sampai menangis. Jangan lagi makan jika tidak menyukainya.''
Ahh.. Dia ingat. Syila sendiri tidak ingat. Memang kurang suka pedas walaupun terkadang ingin.
Syilapun mengurungkan mengambil sambal.
Selesai makan keduanya membereskan bekas makannya.
''Kau duduk saja.'' Titah Dika.
''Aku sudah biasa membantu Ibu membersihkan dapur, termasuk cuci piring.'' Kekeh tidak mau kalah.
''Baiklah.''
***
''Kau tidak mau tidur dulu, sayang. Ini masih cukup untuk istirahat. Aku akan mengantarkanmu pulang nanti malam selesai Isya'. Agar kau tidak terlalu lama sendirian.''
Saat ini mereka sedang menonton acara tv, dengan Syila yang mulai rebahan di sofa.
''Aku tidak mengantuk.'' Bantah Syila. Padahal baru saja dia menguap.
Karena tidak mau berdebat Dika memilih mengiyakan saja. Dia mulai membuka laptopnya. Mengecek ada email masuk atau tidak.
''Dika..'' Panggil Syila.
__ADS_1
''Emmm.'' Masih fokus ke layar laptop berlogo apel digigit.
''Laptopmu bagus. Aku sepertinya juga akan membutuhkan benda itu. Kapan-kapan temani aku membelinya ya.''
''Iya. Nanti sepulang dari sini kita beli.''
Dika masih berkutik dengan tombol acak itu. Membalas email yang kemarin belum sempat ia cek.
''Syila tolong ambilkan minumku.''
''Sayang..?'' Karena tidak ada jawaban.
Ditutupnya laptop itu lalu ia lepaskan kacamata yang sempat bersemayam diwajahnya.
Lalu ia dekati gadisnya tadi. Tidur ?? Tangan masih menggenggam remot tv dan ponsel yang berada didadanya.
***
Kupandangi wajah teduh yang seharian ini terlihat murung. Mata yang biasa berbinar hari ini penuh dengan air mata. Lalu senyuman yang meneduhkan juga sirna dari wajahnya.
Kurapikan beberapa helai rambut yang menganggu pemandangan ini.
Hanya dengan memandanginya begini saja, sudah ada sesuatu yang bergejolak didalam tubuhku. Aku pria normal. Pasti pria manapun akan terpanah melihat bagaimana manisnya ketika Syila terpulas seperti ini.
Ahh.. Berdua terlalu lama begini bisa membuatku kehilangan akal sehat.
Kuambil ponsel dari dadanya. Sial, mataku nakal sekali. Dada yang naik turun sesuai irama napasnya yang teratur membuat degup jantungku bertambah. Kuusap kasar wajahku.
'Gadis bodoh.. Radiasi ponsel ini tidak baik untuk tubuhmu'.
Kututup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. 'Ayah jangan minum kopi lagi, akan kubuatkan teh atau jus untukmu', Syila mengigau. Bahkan dalam mimpinya ia tak bisa jauh dari Ayahnya. Benar-benar cinta pertamanya. Aku jadi iri dengan Ayah. Hihihi pemikiran aneh.
Dia ini gadis yang sangat sederhana tapi entah mengapa dia seperti mempunyai daya tarik tersendiri. Hingga akupun susah berpaling darinya.
Kupandangi wajah ayunya. Pandanganku terkunci pada bibir ranumnya. Ahh aku jadi ingin mengecup bibirnya. Sepertinya sangat manis. Namun aku urungkan. Lama kelamaan aku bisa lepas kendali. Akhirnya aku memilih masuk ke kamar mandi di kamar lainnya.
Gila.. Ini benar gila. Batinku.
Bahkan tanpa umpan apapun aku bisa terpancing begini.
***
Syila menggeliat, perlahan membuka matanya. Berjalan menuju keluar kamar.
''Bu, Ayah mana ?''
Dika yang berada di ruang tamupun segera menghampiri kekasihnya itu. Ketika ia mendengar Syila berteriak.
''Ada apa sayang ? Mencari siapa ?''
Mendengar suara Dika, Syila langsung membuka matanya lebar-lebar.
''Ahh tidak, aku lupa sekarang sudah berjauhan dari Ayah dan Ibu.'' Ada yang hilang dalam hatinya. Tapi dia sudah berjanji akan kuat.
__ADS_1
''Kemarilah. Aku punya sesuatu untukmu.'' Melihat kekasihnya mulai murung.
Syila menjatuhkan dirinya disebelah Dika. Masih dengan jarak yang lumayan.
''Ini..''
''Cokelat !" Seru Syila dengan mata berbinar.
''Dan ini..''
''Ini untukku ?'' Dika mengangguk. Wajahnya lebih berbinar lagi.
''Sungguh ? Kapan kau membelinya mengapa tidak membangunkanku ?''
''Kau itu seperti putri tidur. Susah sekali membangunkanmu. Makanya aku membelinya sendiri. Apa kau tidak suka dengan pilihanku ?''
''Sangat suka..'' Tersenyum bahagia.
''Aku akan mengganti uangmu, nanti aku transfer.''
''Kau punya uang ?''
''Punya dong. Lebih tepatnya uang Ayah dan Ibu.'' Terkekeh sendiri.
''Ayah memberikan uang yang lumayan banyak. Katanya aku suruh membeli keperluanku sendiri. Termasuk laptop ini.'' Masih dengan mengelus-elus barang barunya itu.
''Sudah kau simpan saja uang dari Ayah untuk keperluan lainnya. Anggap saja ini hadiah dariku.'' Dengan mengelus kepala Syila.
''Aku tidak mau berhutang budi. Apalagi masalah uang.''
''Aku tunanganmu Syila, sebentar lagi akan menjadi suamimu.'' Tak habis pikir dengan pemikiran gadis dari desa ini.
''Kau belum ada kewajiban menafkahiku. Karena kau belum menjadi suamiku. Tenang, aku pasti akan menghabiskan seluruh uangmu nanti jika kita sudah menikah.'' Terkekeh lagi dengan ucapannya.
Karena memang selama ini Syila jarang sekali meminta uang dari orangtuanya. Dia akan menunggu diberi daripada harus meminta. Kecuali jika Ayah atau Ibu memberinya pekerjaan, dia akan meminta gaji.
''Dika bolehkah aku bertanya tentang pekerjaanmu ?''
''Apa yang ingin kau ketahui ?''
''Kau ini bekerja sebagai apa ? Kau bahkan dengan suka rela membelikanku laptop yang aku jamin ini harganya fantastis. Aku pernah mencaritahunya dari internet.''
Dika malah tertawa.
''Aku belum lama ini dipercayai sebagai manager diperusahaanku bekerja.''
''Wahh benarkah ? Apakah pekerjaan seorang manager itu sulit dan melelahkan ? Lebih lelah mana dari mengangkat-angkat pot di rumahku waktu itu ?'' Syila yang memang sangat tidak tahu tentang pekerjaan kantoran. Dia mengetahuinya hanya dari buku-buku yang ia baca sebelumnya. Termasuk novel.
''Kau terlalu banyak bertanya sayang. Aku sendiri bingung ingin menjelaskannya bagaimana. Aku suka pekerjaanku, jadi tidak menjadi beban untukku. Sejatinya semua pekerjaan itu pasti melelahkan. Namun karena senang lelah itu tidak dirasakan. Kau juga pasti akan tahu nanti jika sudah bekerja.'' Jawab Dika.
''Dipikir-pikir kembali aku tidak berminat bekerja kantoran sepertimu.''
''Kenapa ? Apa itu tidak keren ?''
__ADS_1
''Bukan begitu. Seperti katamu, kau menyukai pekerjaanmu. Dan pekerjaan yang aku sukai hanya membuat adonan kue. Aku malah ingin mempunyai toko kue seperti Ayah, Ibu juga Bibi Nuha. Tapi bukan meneruskan usaha mereka. Aku ingin berusaha sendiri. Bagaimana menurutmu ? Apakah itu terlihat keren ? Aku akan menjadi kokinya, marketingnya, akuntannya, managernya bahkan aku akan menjadi CEOnya.'' Hahahaha Syila tertawa sendiri dengan argumennya.
''Bahkan hanya dengan memikirkannya saja aku sudah pusing, bagaimana aku akan menjalani peranku yang begitu banyak dalam waktu bersamaan.'' Imbuh Syila.