Karma Cinta

Karma Cinta
Atas Nama Ayah Dan Ibu


__ADS_3

"Aku tahu, pasti fikiranmu mesum.'' Asal Syila. Yang membuat Dika terbahak.


"Syila, ponselku dimana ?" Ingat pada tujuannya menemui Syila.


"Ohh iya aku lupa. Masih ditasku. Akan kuambilkan."


"Yaa, aku pergi ke kamar mandi dulu."


Syilapun pergi ke kamarnya, mengambil ponsel Dika yang tadi dia bawa. Tepat saat dia mengambilnya ada telepon masuk dari nomor baru


''Halo.'' Lembut suara dari seberang sana.


''Dika, kau kemana saja. Aku menghubungimu dari tadi apakah kau jadi ke rumah ?'' Tanyanya tanpa mengizinkan Syila bicara.


''Aku sudah memasak makanan kesukaanmu.'' Sambungnya lagi.


Deg..


Ada yang terasa nyeri, dan panas tiba-tiba memenuhi hatinya.


''Maaf Nona, aku bukan Dika, Dika sedang di kamar mandi. Nanti aku sampaikan pesanmu jika orangnya sudah selesai dengan kegiatannya.'' Jawab Syila.


Suara yang membuat Laura sama terkejutnya. Namun setelah itu ada seringai licik yang muncul di bibirnya.


''Kau Syila ?'' Tanya Laura.


''Iya, dan ini siapa ?''


''Aku Laura, tadi siang kita bertemu ketika makan siang.''


'Aku ingat, bukankah dia hanya partner kerja Dika. Dan dia juga berkata baru hari ini mulai kerja. Tapi mengapa seolah-olah mereka kenal sudah cukup lama.'


''Iya aku ingat. Nanti biar Dika yang menghubungimu kembali.''


''Dika masih di rumahmu ?''


''Iya.''


Setelah memutuskan panggilannya, otak Syila mulai dipenuhi oleh pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


'Mulai sudzhon lagikan.'


Syila kembali ke kamar Dika, ''Dika ini ponselmu, dan Laura tadi menghubungimu. Coba kau hubungi kembali, mana tahu penting.'' Sudah dalam mode jutek.


Dikapun menjauh dan menghubungi Laura.


''Laura, besok mobilnya bawa langsung ke kantor ya. Dan maaf sepertinya aku tidak jadi ke rumah. Disini hujan lebat sekali.''


''Kau bermalam dimana ?''

__ADS_1


''Dirumah Bibinya Syila.''


Laura geram. Lagi-lagi gagal rencananya. Syila lagi Syila lagi. Dia hanya bocah kemarin sore, apa lebihnya. Laurapun mematikan panggilannya dengan kesal.


***


Bibi Nuha sudah pamit ke kamar. Syila masih berkutik dengan laptop pemberian Dika di ruang tv.


''Sayang kau belum tidur ?''


''Seperti yang kau lihat.'' Jawab Syila kesal.


''Dika aku ingin bertanya, jawab sejujur-jujurnya !'' Imbuh Syila.


''Kau membuatku tegang, sayang. Apa yang ingin kau bicarakan, hm ?'' Dika membelai rambut Syila yang terkuncir.


''Selain partner kerja, sebenarnya kau dan Laura itu ada hubungan apa ?''


Deg..


'Kenapa bahas Laura ?'


''Kenapa memang ? Mengapa kau bertanya seperti itu ?''


Syila jengah. Dia menghentikan aktifitas pada laptopnya, lalu kini menatap intens Dika.


Dika menghela nafas, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


''Sebenarnya Laura adalah mantanku yang dulu pernah aku ceritakan padamu.''


''Dia kembali lagi ? Apa memang sudah dalam perencanaan ?'' Curiga.


''Kau ini bicara apa ? Mana aku tahu. Aku juga terkejut waktu dia ditugaskan menjadi partner kerjaku. Dia baru masuk hari ini.''


''Dan kau senang akan hal itukan, bahkan kalian sudah makan berdua saja siang ini ?''


''Apa kalian bernostalgia ? Atau kalian sedang melepas rindu ?'' Curiga lagi.


''Sayang, apa kau sedang cemburu ?'' Dika malah menggodanya.


''Mungkin, kau bahkan malam ini sudah berjanji akan pergi ke rumahnya. Dia tadi sudah masak makanan kesukaanmu loh.'' Sarkas Syila. Lalu melengos memalingkan wajahnya.


Dika menghentikan niatnya untuk kembali menggoda.


'Apa yang Laura bicarakan dengan Syila tadi ? Sepertinya hari ini penuh kesalahpahaman, dan benar kata Ayah Herman, aku harus punya stok kesabaran menghadapi Syila.'


''Sayang, lihat aku,'' Dika menangkup wajah Syila, mengangkat dagunya agar Syila mau menatap matanya.


''Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan Laura selain partner kerja. Tadi dia yang bawa mobilku. Dia meminta tumpangan. Aku fikir biar dia bawa saja, nanti selesai mengantarmu, akan kuambil ke rumahnya, karena memang rumahnya searah denganku. Aku tidak tahu malah kalau dia sudah memasak untukku.''

__ADS_1


Syila mengamati mata Dika. Mencari tahu kebenarannya. Namun yang terlihat, dia sangat sungguh-sungguh.


''Kau tidak sedang membohongikukan ?''


''Apa aku pernah berbohong kepadamu ?'' Tanya Dika kembali.


Syila menggeleng.


''Kau mau mempercayaiku ?'' Syila mengangguk.


''Aku akan menjaga kepercayaanmu, Syila. Jangan merajuk lagi ya.."


Lagi-lagi Syila hanya mengangguk. Lama mereka saling adu pandang. Mendalami perasaan masing-masing. Merasakan kesungguhan dari satu sama lain.


Hingga wajah Dika semakin mendekat kewajah Syila. Syila tahu apa yang akan terjadi. Dia sering melihatnya ketika teman-temannya mengajaknya menonton drama romansa, begitu juga bayangannya ketika dia sedang membaca novel.


Syila memejamkan matanya, lalu wajah Ayah dan Ibunya yang muncul dengan senyum bangganya.


Deg deg deg... Jantungnya terpacu sangat cepat. Dia merasa seolah membuat kesalahan yang besar yang membuat Ayah dan Ibunya bersedih.


Dengan gerakan cepat Syila menahan Dika untuk menjauh. Dia memalingkan wajahnya. Ada rasa berdosa jika dia melakukan ini sebelum saatnya. Kuno memang, tapi entah mengapa hatinya seperti menolak.


''Maaf Dika.'' Hanya itu yang keluar.


''Kenapa ? Kenapa kau menolak, ini hanya ciuman, bahkan aku calon suamimu sendiri.''


''Maaf, tapi aku tidak bisa. Katakanlah aku ini munafik atau kuno, tapi hatiku benar-benar menolak, walau disisi lain aku ingin. Bersabarlah sampai saatnya kita sah.'' Syila menunduk. Malu iya, canggung iya, merasa berdosa juga iya.


''Baiklah.. Lupakan saja yang barusan terjadi. Aku yang minta maaf padamu. Tidurlah ini sudah malam.'' Jawab Dika.


'Aku sudah berjanji pada Ayah dan Ibu untuk membuatnya bangga kepadaku. Bukan hanya tentang prestasi studyku, tapi juga tentang kehormatanku sebagai gadis, juga tentang cita-citaku kelak. Aku pergi jauh kesini membawa nama dan cinta Ayah juga Ibu, semoga kau mengerti.'


''Baiklah aku pergi tidur. Kau juga lekas tidur.'' Setelah mendapat anggukkan dari Dika, Syila bergegas merapikan buku juga laptopnya lalu bergegas ke kamar.


Dikapun juga masuk kedalam kamarnya. Bukan tidur, dia hanya rebahan, pikirannya melayang jauh ke masa lalunya. Lagi-lagi dia teringat kisahnya dengan Laura.


Dengan Laura tidak pernah ada penolakkan. Bahkan wanita itu sering sekali yang berinisiatif.


Kadang memang Dika ingin sentuhan selayaknya orang berpacaran, namun dengan Syila terasa seperti sedang ta'arufan. Terlalu tinggi dinding pembatasnya. Dan Dikapun tidak ingin memaksa. Dia mencoba mengerti.


Mungkin karena biasa di kampung, berinteraksi hanya dengan keluarganya, dan berteman selayaknya teman yang baik. Syila kurang pengalaman. Pacaranpun dari jarak jauh.


Begitulah yang ada di pikiran Dika tentang Syila.


Sedangkan Syila, dia mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan kepada Ayahnya. Waktu sudah pukul 10 malam.


'Ayah pasti sudah istirahat, apa besok saja ya aku menelfon. Sekarang pasti mengganggu istirahatnya.'


Tut.. Tersambung sekali. Lalu Syila mengakhiri panggilannya. Besok saja, begitu sugestinya yang bertolak dengan keinginan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2