
Tak lama kemudian ponsel Syila kembali berdering. Tertulis nama 'Ayah'. Buru-buru Syila mengangkatnya.
''Sayang, ada apa malam-malam kau menghubungi Ayah ?'' Tanya Ayah sudah panik.
Syila tersenyum, dirasakannya kasih sayang Ayah yang tak pernah mengenal jarak, waktu, dan keadaan.
''Heii, siapa yang menghubungi siapa ? Coba Ayah lihat siapa yang melakukan panggilan ?'' Ayah tertawa.
''Dasar putri manja Ayah. Sekarang sudah pintar ya memutar balikkan fakta.'' Syilapun terkekeh.
Syila merasa haus, dia menelfon dengan berjalan menuju dapur.
''Ada apa sayang, bagaimana keadaanmu ? Kau masih suka membuat onar tidak ?''
''Ayah, Syila bersumpah, selain Ayah dan Ibu, Syila tidak berani menjadi pengacau.'' Diselingi tawa canda.
''Syila baik Yah disini. Bibi Nuha memperlakukan Syila seperti Putrinya sendiri. Ayah dan Ibu bagaimana ? Apakah kalian merindukanku ?''
Dika yang kebetulan melihat Syila keluar kamarpun mengikutinya diam-diam. Dia penasaran dengan siapa Syila menelfon malam-malam begini, wajahnya terlihat sangat bahagia.
''Tentu saja sayang, kami sangat merindukanmu setiap waktu. Rumah ini terasa seperti tiada penghuninya, sepi sekali. Apalagi dengan teh lemon dengan cinta yang besar sekali. Ayah ingin sekali meminumnya.'' Kata Ayah.
''Gorengan Ibu juga seringkali utuh, tidak ada yang mencurinya, saat Ibu masih sibuk membalik gorengan lainnya. Apa lagi dengan kecupan mendadak saat sedang membalikkan ikan. Ibu merindukannya. Sangattt.'' Sambung Ibu.
Syila tertawa, tapi matanya menangis. Dengan buru-buru dia mengahapusnya.
''Ibu juga belum tidur, apakah aku mengganggu ?''
''Berbicara dengan anak sendiri mana ada yang mengganggu sayang ?? Kami malah senang. Kau menjadi obat pengantar tidur agar tidur kami semakin nyenyak.'' Jawab Ibu lagi.
Terenyuh.. Hati Syila senang, mendengar kata-kata rindu dari orangtuanya.
''Sayang, semangat ya. Jaga diri dan kehormatanmu baik-baik juga. Ayah dan Ibu menunggumu kembali dengan segala kemenanganmu.'' Ayah.
'Aku berjanji Yah, Bu, aku akan membuat kalian tidak menyesal karena sudah melahirkanku dan membesarkanku sampai seperti saat ini.'
''Syila janji.'' Ucapnya penuh keyakinan.
Panggilan berakhir. Syila hendak kembali ke kamarnya, setelah satu buah apel ia gigit.
''Innalillahi..!!'' Ucap Syila seraya memegangi dadanya. Dan tangan satunya sudah siap ingin melempar apel.
''Kau !!!" Dengan rasa terkejutnya.
''Syila, ini aku tunanganmu sendiri. Tapi seolah-olah kau seperti melihat hantu.'' Ucap Dika sok sedih, padahal dia sengaja. Entahlah, dia hanya merasa senang saja saat sedang mengusili Syila.
''Kau sengaja ?'' Tanya Syila penuh selidik. Dika hanya terkekeh.
''Sudahlah aku mengantuk, kau juga pergi tidur, besok kita harus bangun pagi.''
__ADS_1
***
Esok harinya. Syila bangun paling awal. Dia menyiapkan baju Dika yang sudah kering, yang semalam ia cuci. Lalu ia menyetrikanya. Setelah itu Syila membuat nasi goreng untuk sarapan.
Setelah semuanya selesai dia pergi membersihkan tubuhnya juga langsung bersiap, dia harus pergi ke kantor Dika dulu baru pergi ke kampus, begitu rute pagi ini.
Hari ini hari Jumat. Syila ingat akan kegiatannya di kampus nanti. Bakti sosial.
Syila ingin mengantar pakaian Dika, namun pintu masih tertutup.
Tok tok tok..
Sekian kalinya ia memgetuk pintu kamar, namun tetap tiada jawaban.
Akhirnya dia membuka pelan pintu itu, ''Dika ? Kau sudah bangun belum ?'' Ucapnya ketika pintu terbuka sedikit.
'Ranjangnya sudah rapi, ah mungkin sedang mandi.'
Ketika mau pergi, pintu kamar mandipun terbuka.
Menampakkan Dika yang hanya menggunakan handuk dipinggangnya juga rambut yang basah.
Syila langsung membelakanginya dan menutup mata dengan tangannya.
''Aku tidak lihat !'' Reflek Syila.
Dikapun tak kalah terkejutnya, namun setelah itu ia biasa saja. Dengan Laura dia sudah terbiasa bertelanjang dada, apalagi dengan Syila, calon istrinya. Begitu pikirnya.
''Berhenti bicara sembarangan Dika. Aku kemari ingin memastikan kau sudah bangun atau belum juga mengantarkan pakaian gantimu, sudah aku siapkan di atas ranjang.'' Jawab Syila. Telinganya sudah memerah.
''Ohh terimakasih.'' Ucap Dika tepat ditelinga Syila, lalu meniupnya.
Mendapat perlakuan seperti itu Syila tidak tahan, ada yang menjalar di tubuhnya, tapi bukan ubi.
Dengan langkah cepat Syila meninggalkan Dika tanpa berucap kata apapun.
Menutup pintu kamar Dika lalu bersandar dengan memegangi dadanya lalu menyentuh pipinya.
'Sungguh tidak baik untuk jantungku.'
''Syila !'' Lagi-lagi Syila terkejut dengan panggilan Bibi Nuha.
''Kau kenapa ? Wajahmu memerah, kau demam ?''
'Ah Bibi memang panas tapi bukan demam, aku juga bingung'
''Tidak Bi, sedikit gerah saja, tadi selesai menyiapkan sarapan.'' Bohong Syila.
''Lalu disini kau sedang apa ?''
__ADS_1
''Mengantar pakaian Dika, Bi.''
***
Sampailah di kantor Dika, bertepatan dengan Laura yang dari memakirkan mobil Dika.
''Dika..?'' Matanya berbinar, seolah sedang mendapatkan jackpot.
''Iya.'' Jawab Dika.
''Ini kunci mobilmu, terimakasih, kalau kau tidak meminjamkannya mungkin aku sudah kehujanan, ada salam dari Ibu. Kau diminta untuk berkunjung.'' Kata Laura didepan Syila dan Dika.
''Dika, aku berangkat !'' Potong Syila yang entah mengapa merubah moodnya seketika.
''Tunggu,'' Dika meraih dompetnya lalu mengeluarkan uang cash merah 10 lembar, ''Untuk jajanmu.''
Syila tersenyum seraya mengambil uang itu.
''Wahh terimakasih. Aku masukkan untuk bakti sosial ya, sore nanti mau berkunjung ke panti asuhan. Acara kampus.'' Syila tersenyum manis, bahkan sampai membuat karyawan yang melintasinya menabrak tiang, karena fokusnya kepada Syila.
Hal itu tak luput dari pandangan Laura.
'Bahkan diapun memfokuskan pandangannya kepada bocah ingusan ini. Dan apa tadi, diberi uang malah untuk bakti sosial kampusnya. Bodoh !'
Dika bangga, jika wanita lain diberi uang pasti ia akan menggunakan untuk keperluan pribadinya, tapi Syila tidak.
''Terserah kau saja, jangan dekat dengan pria manapun, jaga diri baik-baik.'' Seraya mengusap kepala Syila.
''Dika lihat banyak bawahanmu yang memperhatikan kelakuanmu. Kau membuatku malu.''
''Kau tak mengenal mereka Syila, mengapa harus malu ?''
''Sudah terserah kau saja, aku berangkat, dan terimakasih uangnya.'' Pamit Syila lalu pergi.
'Dika tidak memberikan sebuah kecupan ? Aku semakin yakin Dika tidak benar-benar menyukai Syila.'
***
Dikampusnya, Syila sedang metting bersama anggota lainnya, membahas bakti sosial hari ini.
Anggotanya dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok akan mengunjungi salah satu panti asuhan, panti jompo, sekolah dasar, masjid atau gereja serta rumah warga.
Setiap anggota didampingi dengan 2 senior.
Syila, Fanya juga senior mereka Sam dan Rully satu kelompok juga 3 orang lainnya. Mereka akan mengunjungi panti asuhan.
Karena Syila dan Fanya masih ada kelas sampai siang, mereka berangkat sekitar jam 2.
Barang serta uang yang akan mereka sumbangkan tak lain dari hasil mahakarya anggota yang dijual kepada lingkungan kampus. Para dosenpun ikut berpartisipasi.
__ADS_1
Kegiatan berkunjung akan dilakukan setiap hari Jumat, sekali dalam sebulan.
Sedangkan Jumat lainnya digunakan untuk bermahakarya, berdagang atau yang lainnya yang bisa menghasilkan uang.