
Sore yang cerah, dengan tawa anak-anak yang memenuhi taman, sedangkan para orangtua sibuk mengawasinya. Tamasya yang sangat sederhana, tapi mampu membangun kekompakan dan kasih sayang diantaranya.
Syila tersenyum melihatnya, ia duduk agak jauh dari kerumunan keluarga yang nampak bahagia. Dia juga pernah melakukannya bersama orangtuanya dulu.
Dia dikursi taman, menunggu Kaisar yang sudah berjanji akan mengajaknya pergi sore ini. Ia meminta Kaisar menjemputnya di taman, karena tanpa sengaja tadi hatinya tertarik dengan tawa beberapa bocah, mereka sedang bermain petak umpat. Yang mencari adalah yang paling kecil, tentu yang dicari tidak ketemu-ketemu. Setelahnya dia menangis, barulah teman-temannya itu keluar dengan tawa yang pecah sudah berhasil mengelabuhi temannya yang paling kecil. Setelah itu mereka berbaikan kembali. Menyusun permainan baru lagi dengan nego keras dari yang paling kecil.
Ahh, dunia anak-anak sesimple itu. Tertawa, bermain, terus saja begitu. Syila teringat kemauan Kaisar yang menginginkan seorang anak. Lalu ia menghembuskan napas beratnya. ''Jika nanti Tuhan memberikanku anak, aku ingin lebih dari satu, karena menjadi anak tunggal itu tidak enak, aku tidak punya teman saat di rumah, selain dengan Ayah dan Ibu.''
Dari kejauhan Syila melihat pangeran tampan dengan sejuta pesonanya, tubuh tegap, wajah tegas, rambut masih metode rapi, hidung runcing, mata yang indah dengan binarnya, dan bibir yang mengembangkan senyumnya. Pangeran itu melangkah tak sabar mendekat kepada Syila. Uhh, jika tidak menyebalkan Kaisar memang terlihat lebih tampan dengan segala pesonanya.
Lalu, ''Syila!'' panggil tiga orang dengan suara bariton yang berbeda.
Mata Syila yang tadinya hanya menuju satu objek, kini ia melihat kanan kirinya.
''Adji? Dika?'' terkejut bukan main. Karena rasa takutnya, Syila langsung berhambur kepelukan Kaisar. Ia teringat teror juga keadaan Adji yang mambuk ketika hari itu.
''Ada apa kalian mencari istriku? dan kau? siapa kau?'' tanya Kaisar menunjuk Adji yang memang mereka baru pertama kali bertemu.
''Aku tidak ada urusannya denganmu, aku ingin bicara dengan Syila,'' tak kalah tegasnya jawaban Adji.
''Ohh, baiklah, bicarakan, aku suaminya, aku juga punya hak mencampuri urusan istriku. Apalagi setelah melihat kalian istriku menjadi takut,'' jawab Kaisar.
Adji yang memang sedang merenung di taman itu, tidak sengaja menangkap sosok Syila, ia melihat senyum Syila saat mendapati anak-anak sedang bermain. Adjipun sama ia hanya rindu dengan putranya, ia mengobatinya dengan cara ke taman dan melihat anak-anak bermain.
Sedangkan Dika, dia sepulang dari kantor memang sudah di rencanakan ingin menguntit Syila, entahlah, apa gunanya, hanya terkadang ia rindu, namun setelahnya rindu itu menjadi dendam.
Dika langsung pergi, ketika dia sendiri bingung ingin memberikan alasan apa untuk tetap bertahan disana.
__ADS_1
Sedangkan Adji, ''Aku minta maaf Syila, untuk kejadian petang itu, aku tidak bermaksud begitu,'' sesal Adji dengan wajah yang memang terlihat menyesal. Namun pandangannya menyiratkan ketidaksukaan juga untuk Kaisar.
''Apa yang kau lakukan pada istriku?'' Kaisar maju mendekat pada Adji, seketika Syila menahannya, ''Petang kapan?'' tanyanya lagi entah kepada siapa yang mau menjawab.
''Apa yang sampai membuatmu tetap terjaga dengan meringkuk di ranjang sampai aku pulang tengah malam itu? wajahmu pucat karena takut?'' tanyanya kepada Syila. Namun Syila tidak berniat menjawab.
''Jawab aku, apa yang kau lakukan kepada istriku?!!'' bentak Kaisar, ia sudah memegangi baju Adji.
Adji menepisnya dengan kasar, ''Hahaha, tidak ada, aku hanya mengatakan cintaku untuknya, aku menawarkannya kembali kepadaku, cinta pertamanya. Aku ingin mengajaknya bersenang-senang saat itu, tapi dia membuatku sangat kesal, dia menolakku,'' ekspresinya sudah berubah menjadi Adji yang seperti orang gila, dia menakutkan. Tatapannya tak kalah tajam dengan Kaisar.
''Heii, sayang, bukankah suamimu ini sudah tua? aku tidak yakin dia bisa bermain lama di atasmu sampai membuatmu mendesah berkali-kali,'' teriaknya untuk Syila.
Bugh, bugh, bugh.
Darah Kaisar mendidih mendengarnya, ia memberi bogeman kepada wajah dan perut Adji yang langsung membuatnya tersungkur di tanah.
Setelah kepergian mereka, Adji nampak marah dengan dirinya sendiri, ''Kau tak bisa menguasai tubuhku terus! kau membuatku di benci semua orang, akhh!!'' teriaknya menahan sesuatu yang sedang ingin masuk ke dalam tubuh dan pikirannya.
Dengan gelimpungan, menahan tangannya sendiri yang hendak memberi pukulan untuk wajahnya sendiri juga, ''Kau lemah Adji! pantas kau hanya disia-siakan para wanita, hahahaha biarkan aku yang mengurusnya! aku akan membuat wanita tadi tidur bersamaku! hahaha!''
''Saiko kau Adnan!! enyah dari tubuhku! ini ragaku!''
Jika orang melihatnya, mungkin mereka mengatakan jika Adji gila, bukan gila, ia mempunyai kepribadian ganda. Padahal sudah lama sekali gangguan kepribadiannya itu tidak muncul setelah kematian kakaknya dulu. Setelah kematian anaknya, dan istrinya berkhianat, tiba-tiba kepribadian ganda tersebut hadir kembali. Adnan adalah nama dari kepribadian Adji. Dia lebih kejam, dan tak memandang bulu. Apa yang ia mau harus ia dapatkan. Bahkan mantan istrinya tewas ditangan Adnan, saat istrinya tengah tidur dengan seorang pria tua beruang, keduanya tewas dalam satu kamar, dan Adnan sangat pintar memanipulasinya, sehingga jejaknya tidak tercium polisi.
Adji sedang mencegah itu. Ia tidak ingin Adnan menyakiti Syila, Adnan mengetahui semua apa yang saat ini Adji lalui. Setelah tahu tentang Syila, dan ia melihat langsung wanita itu, Adnan semakin tertarik.
Dika yang ternyata tidak jadi pergi, hanya mengamatinya dari kejauhan segera menghampiri Adji yang saat itu tengah gelimpungan hendak menghajar dirinya sendiri.
__ADS_1
''Kau gila? kenapa menyakiti dirimu sendiri? kalau kau ingin menghajar, seharusnya tadi saat Kaisar masih disini!'' kesal Dika.
''Diam kau pria payah! kau juga sama payahnya dengan Adji! jadi jangan berisik, atau aku akan merobek mulutmu,'' Adnan sudah menguasai kembali tubuh Adji, ia mengambil sebilah pisau lipat yang ia bawa di jaketnya.
Dika mengunci mulutnya dan menjauh darinya.
''Adji benar-benar sudah gila!'' Dika.
''Wanita cantik, aku akan menaklukkanmu nanti,'' Adnan berkata.
***
Sedangkan Syila yang sedari tadi takut, hanya mampu diam.
''Sayang ada aku,'' ucap Kaisar sangat lembut dengan mencium punggung tangan Syila.
''Entahlah Kai, aku hanya merasa jika tadi bukanlah Adji, dia sangat asing, itu yang membuatku takut,'' jawab Syila.
''Dia cinta pertamamu?'' tanya Kaisar lagi.
''Iya, dulu sewaktu aku masih SMK,'' jawab Syila.
''Bagaimana bisa kau berdekatan dengan pria sepertinya?'' penasaran Kaisar.
''Kai, dulu dia tidak seperti ini saat bersamaku, dia pria baik, bahkan beberapa tahun kenal, menciumku saja dia tidak pernah, hanya memang dia mempunyai masa lalu yang buruk. Pikirku saat itu, setiap orang pasti mempunyai masa lalu yang kelam, dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah, apa aku salah?'' tanyanya kepada Kaisar.
''Kau wanita baik, aku semakin mencintaimu,'' jawaban Kaisar.
__ADS_1