Karma Cinta

Karma Cinta
Butuh Tenaga Tambahan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tanda-tanda Kaisar pulang belum terlihat.


Lama menunggu akhirnya Syila menulis pesan jika dia ingin makan bakso di luar. Dengan mengendarai motor vespa yang sudah lama terlupakan Syila memakai baju santainya dan melebarkan jilbabnya.


Sudah lama tidak berkeliling seperti itu membuat Syila sedikit terhibur.


Syila menghentikan motornya kala ia melihat kedai yang menjual bakso. Ia duduk begitu saja tanpa memperhatikan sekitarnya.


“Syila?” suara yang amat ia kenal, kini terasa horor di telinganya. Ia menoleh dengan malas.


Dika ternyata tengah mengantre juga. Syila sudah bangkit dari duduknya namun terduduk lagi ketika ada pembeli yang tanpa sengaja menyenggolnya.


“Sudahlah, duduk manis saja di sini. Kau membeli bakso?”


‘Pertanyaan apa itu? ini kedai bakso mana mungkin beli beras,’ batinnya.


“Apa kau sedang mengenang kisah kita?” tanya Dika mencoba menatap mata Syila.


“Aku masih ingat kala itu kau memesan bakso pedas secara tidak sadar karena terpesona olehku,” Dika tersenyum sendiri.


“Dan saat aku menggodamu, kau terlihat salah tingkah dengan wajah yang merona, kau juga merindukan masa itu?” dia memastikan lagi.


Syila yang berusaha untuk diam tidak ingin terpancing, akhirnya jengah juga mendengarnya.


“Dika, masa lalu kita biarkan menjadi sejarah. Kau mengertikan pelajaran Sejarah? bukan untuk di kenang, karena mengenang sejarah itu penuh luka. Tapi untuk di ambil hikmah dan pelajarannya agar bisa lebih baik mengatasi masalah yang akan datang di masa depan. Jadi berhenti membahas kenangan, itu sudah tidak penting untukku,” sarkasme Syila.


“Kau bohong!” masih kukuh di pendiriannya.


“Sekarang berikan aku alasan apa untukku berbohong tentang hal ini?” jawab Syila sembari mengutuki si pembuat bakso yang terasa lama meracik.


“Emm mungkin karena rindu atau masih ada rasa sayang untukku,” jawab Dika enteng.


‘Percaya diri sekali.’


“Dika,” Syila menghadap Dika yang di sambut dengan binaran di wajahnya.


“Urusan kita selesai! jangan pernah mempunyai pemikiran yang aneh seperti itu, dari pada kau sibuk mengenang masa lalu yang tidak mempunyai manfaat, hanya akan mengikis kewarasanmu, lebih baik kau urus istrimu yang tengah mengandung.”


Tepat dengan pesanan Syila dan Dika selesai di buat. Syila segera mengambil dan membayarnya. Setelah itu pulang.


‘Mantan pengganggu.’


.


.


.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan sepuluh malam, tapi Kaisar belum juga menampakkan dirinya. Teleponnya tidak di angkat, pesannya tidak di balas. Ada rasa waswas merasuki.


Tiba-tiba bayangan masa lalu teringat kembali. Di mana saat Dika juga mengatas namakan pekerjaan tak tahunya malah selingkuh.


Kaisar datang dengan wajah yang begitu letih, ia lihat arlojinya sudah pukul sebelas lebih. Pasti istrinya sudah tidur batin Kaisar.


Kaisar berjalan menuju kamarnya tanpa menyadari ruang tamu ada Syila yang tertidur di sana. Kaisar mencari keberadaan Syila di kamar, namun tidak ada, ia sudah mulai panik. Baru juga ingin membangunkan Bibi Lila, mata Kaisar menangkap sosok yang ia rindukan hari ini tengah terpulas di sofa ruang tamu, masih memakai jilbab besarnya, dengan tangan menggenggam ponsel.


“Sayang,” di elus pipi Syila yang terlihat lebih tembam tak membuahkan hasil apa pun.


“Kai,” Syila mengigau. Dan membuat Kaisar yang mendengarnya begitu bahagia. Namanya terpatri sampai di bawah alam sadar Syila. Kaisar memindahkan Syila dengan menggendongnya, lalu merebahkan dengan pelan tubuh mungil itu di atas kasur.


“Maaf ya, aku membuatmu menunggu sangat lama, hari ini banyak sekali pekerjaan, besok pun aku harus berangkat pagi.”


Kaisar mencium pipi Syila ikut merebahkan dirinya di samping sang istri. Dengan memeluknya erat.


Keesokannya.


Syila bangun gelagapan, ia mengingat sedang menunggu Kaisar, baru juga ingin bangun, sebuah tangan kokoh menindih perutnya, masih dengan dengkuran halus. Syila tersenyum, ia belai wajah tampan sang suami. Bayangannya mengingat bagaimana pertama kali bertemu, pertemuan yang begitu cepat, tiba-tiba membawanya dalam sebuah pernikahan.


Bermula begitu benci, saat ini malah terus merindu.


Syila ingin bangun menyiapkan sarapan untuk suaminya, namun tangan Kaisar semakin mempererat pelukannya.


“Mau ke mana? hari ini aku akan berangkat sangat awal, biar aku memelukmu lebih lama lagi,” Kaisar memperdalam pelukannya Syila menurut.


Pukul 6.


Kaisar tampak buru-buru, ia menggunakan jam tangan dengan menelefon, bajunya belu terkancing semua. Syila membantu, Syila yang mengancingkan, Kaisar sibuk bertelepon.


“Ada meeting penting pagi ini, juga siang nanti. Dan untuk pulang aku belum tahu pulang jam berapa. Kau baik-baik di rumah ya, aku pasti akan sangat merindukanmu,” ucap Kaisar dengan mengelus sayang pipi Syila. Dia pergi dengan mulut yang masih mengunyah roti bakarnya.


Lalu di meja makan Syila melihat berkas Kaisar yang tertinggal. Mengejar mobilnya tidak mungkin.


.


.


.


Di kantor.


Meeting pertama selesai. 30 menit lagi meeting ke dua. Kaisar tampak mengobak abrek tasnya kerjanya. Namun tak ia dapati dokumen itu.


Syila datang dengan membawa dokumen di tangannya. Kembali bertanya kepada resepsionis, ponselnya tertinggal.


“Permisi ruangan Tuan Kaisar di mana ya?” masih dengan kesopanan walau nyatanya si resepsionis memandang hina.

__ADS_1


“Aku sudah membuat janji,” sambung Syila lagi.


Tapi mengingat bagaimana kemarin bosnya marah, resepsionis menelefon ruangan Kaisar.


“Maaf Tuan ada yang mencari, dia bilang sudah membuat janji dengan Anda,” katanya kepada Kaisar.


Tampak mengangguk, “Siapa nama Anda?” pertanyaan untuk Syila.


“Syila.”


Mendengar jawaban Syila, Kaisar langsung menyuruh agar Syila ke ruangannya tanpa menunggu jawaban resepsionis.


“Di lantai 15 sebelah kanan, di sana akan ada nama Tuan Kaisar sebagai CEO.”


Syila mengangguk dan berucap terima kasih.


Tatapan para karyawan seperti sedang menghakimi. Ia akan menaiki lift, “Sebelah sana untuk tamu dan karyawan biasa, yang ini hanya untuk para petinggi oerusahaanperusahaan,” kata Klarisa yang kebetulan juga ingin ke ruang Kaisar dengan membawa secangkir kopi. Dia sedang mencari perhatian dari bos yang ia kenal duda tampan itu.


Syila mendengus, “Aku nyonya bos kalian!” ia menjawab namun juga mengalah tak ingin ribut dulu. Ia ingin mengantar dokumen penting untuk Kaisar.


Mereka berdua sampai bersamaan, “Aku dulu yang masuk,” kata Klarisa. Ia membenarkan pakaiannya yang minim, memperjelas kulit paha dan belahan dadanya. Syila hanya mampu bersabar dulu.


Klarisa masuk dengan gaya jalan yang di buat-buat. Berharap bosnya terpesona dan mau menjadikannya Nyonya Kaisar.


“Tuan, kopimu,” Kaisar mengernyit, “Aku tidak memesannya,” penolakan. Ia masih sibuk mencari. Membuat Klarisa teracuhkan.


“Ada yang bisa saya bantu,Tuan?”


“Aku mencari dokumen untuk meeting dengan klien beberapa menit lagi,” Klarisa mencoba membantu setelah di beri tahu warna sampulnya.


Syila yang lelah menunggu, akhirnya masuk begitu saja.


“Sopanlah sedikit saja, kau bisa mengetuk pintunya dulu, Nona!” geram Klarisa yang merasa momen berduanya terganggu.


Syila mengacuhkan Klarisa, “Kai, kau mencari ini bukan?”


Mendengar suara istrinya Kaisar langsung mendongakkan kepala yang sedari tadi sibuk mencari. Klarisa menerka-nerka sendiri. ‘Bagaimana bisa bersama perempuan yang ia anggap peminta sumbangan. Dan apa tadi, ‘Kai’? sudah seperti sangat kenal saja.’


“Sayang,” wajah kusut Kaisar berubah berbinar melihat kedatangan Syila.


‘Hah, sayang? demi apa, aku pasti salah dengar!’ batin Klarisa.


“Keluarlah, aku ada tamu,” usir Kaisar. Klarisa pergi masih dengan pemikirannya yang begitu ingin tahu siapa wanita tadi.


“Kau meninggalkannya di atas meja makan, aku lupa tidak membawa ponsel, apa kau sangat membutuhkan ini?” ucap Syila mendekat, Kaisar juga mengikis jarak. Mereka duduk di sofa.


Rasa khawatir Kaisar berubah menjadi rasa senangnya. Ia menatap istrinya.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Syila yang terus di tatap.


“Aku butuh tenaga tambahan,” jawab Kaisar.


__ADS_2