Karma Cinta

Karma Cinta
Belanja Peralatan Bayi


__ADS_3

Mengulas balik tentang kehamilan. Hamil itu tidak mudah, banyak sekali rintangannya, ada yang harus merasakan mual sepanjang pagi, ada yang harus sampai di rawat karena tidak mau makan sama sekali, ada yang merasakan punggung sakit, dada nyeri, kaki bengkak, dan lain sebagainya.


Maka beruntunglah dari kalian para wanita yang saat kehamilannya baik-baik saja, doyan makan, tidak merasakan sakit apapun.


Kodratnya hamil itu anugerah, mukjizat Tuhan yang benar diperlihatkan untuk kaumnya, dari sebuah cairan menjijikan ia bisa tumbuh dan bernyawa, berkembang di dalam rahim yang tak seberapa luasnya.


Apa lagi saat merasakan nyawa itu benar hidup, pertama dari detak jantungnya, yang terkadang si Ibu mampu merasakan sampai tendangan kaki mungil yang sampai terlihat di permukaan kulit.


Tahukah walau hamil itu merepotkan, tapi itu menjadi sesuatu yang menyenangkan juga. Balasannya adalah pahala yang besar baginya yang mampu bersabar dalam melewati proses sakit untuk sebuah kehidupan.


Begitulah yang di rasakan oleh Syila. Tak jarang ia harus meringis, saat kandungannya membesar, kedua janinnya begitu aktif, membuat punggung terasa nyeri dan panas.


Seperti saat ini, kandungan Syila yang sudah memasuki delapan bulan, hanya untuk sekedar duduk di sofa ia membutuhkan bantuan dari suaminya.


''Ishh,'' desis Syila.


''Sayang, ada apa? apa begitu menyiksa?'' raut wajah khawatir tercetak dengan jelas pada Kaisar.


''Tidak apa, aku senang bisa merasakan setiap prosesnya, semoga mereka terlahir dengan sehat dan selamat,'' doa tulus dari seorang Ibu.


''Aamiin, dan tentunya untuk si Mama, kau juga harus sehat dan selamat,'' balas Kaisar.


Syila membawa tangan Kaisar menyentuh perutnya yang bergerak seperti ombak, entah apa yang mereka lakukan di dalam sana, sampai membuat gerakan heboh seperti itu.


''Apa yang mereka lakukan ya?'' tanya Kaisar pada Syila.


''Mungkin mereka sedang berebut sesuatu," jawab asal Syila.


''Hai, apa yang kalian lakukan di dalam sana? apa kalian sedang merebutkan sesuatu, jangan berantam, kalian membuat Mama kesulitan,'' bisik Kaisar dengan lembut sembari mengelus perut yang buncit.


Seperti mengerti, perut Syila tidak lagi bergerak seperti ombak, artinya anak-anak dalam kandungan patuh dengan perintah Papanya.


''Kai, mereka sangat patuh padamu,'' terang Syila.


''Sayang, terimakasih,'' dikecupnya dengan sayang punggung tangan Syila.


''Kau mau bersusah payah mengandung benih dariku, membuat tubuhmu melebar, tapi kau sangat cantik begini,'' cicit Kaisar.


''Kau menyebalkan Kai, maksud dari perkataanmu kau mau benar-benar berterima kasih atau mau meledek, hm?'' tantang Syila.


''Hei, mana berani aku meledek wanita yang sedang mengandung dua janin, jika mereka terlahir, aku akan di hajar habis-habisan karena meledek Ibunya,'' seloroh Kaisar membuat Syila tertawa.


''Kau mau makan apa?'' Kaisar sudah berdiri ingin mengambil sesuatu.

__ADS_1


''Tidak Kai. Aku ingin pergi belanja saja!'' jawab Syila.


Kaisar seperti keberatan dengan permintaan istrinya ini.


''Sayang, mau belanja bagaimana? untuk duduk saja kau kesusahan begini.''


''Ck, aku tidak mau pendapat, ini mutlak, jadi setujui saja,'' kekeh pada pendirian.


Kaisar melepaskan napas beratnya, pasti akan melibatkan banyak orang, tak mungkin jika belanja berdua saja.


''Ya sudah, tunggu satu jam lagi, baru kita berangkat!'' kata Kaisar.


''Jangan protes atau tidak sama sekali!'' imbuhnya.


Membuat Syila yang ingin buka suara kembali mengatupkan bibirnya.


.


.


.


Satu jam kemudian.


Membuat Syila mendengus kesal tapi tak bisa protes, ancamannya adalah menurut atau gagal.


Kaisar berlebihan, Syila hanya ingin belanja perlengkapan bayi, tapi ia membawa ajudan seperti mau di ajak pindahan saja.


Tak sampai sana, pengawal, bidan, dan pembantu mengikuti kemana pun Syila melangkah, walau Kaisar seperti tidak menganggap kehadiran mereka, tapi lihatlah posisinya saat ini menjadi pusat perhatian. Memalukan.


Salah satu pengawal mendorong kursi roda lagi, katanya perintah dari suaminya. Takut jika sewaktu-waktu Syila merasa lelah.


''Kai, kau membuat satu Mall heboh, lihatlah!''


Dan Kaisar mengedarkan pandangannya, tetap ekspresi 'bodo amat' yang ia tampilkan.


''Sudahlah, jangan hiraukan yang lainnya, anggap saja mereka butiran debu,'' enteng sekali jawabannya.


Setelah beberapa kali memilih, keluar masuk toko, pembantu dan pengawal satunya sudah menenteng belanjaan, apa lagi kursi rodanya, penuh sekali dengan paper bag.


''Kai, aku mau makan itu!'' tunjuknya, makanan instan, mie goreng dengan level pedas lima sampai sepuluh.


''Dokter, apa makanan itu baik di konsumsi untuk ibu hamil?'' tanya Kaisar pada bidan yang turut keliling bersama Syila.

__ADS_1


Syila terperangah, jadi salah satu fungsinya seorang bidan diikut sertakan adalah untuk ini, mengatur pola makan yang diinginkan Syila.


''Sebenarnya kurang baik, makanan instan tidak mengandung vitamin seperti makanan olahan,'' jawab si bidan membuat Syila memberengut kesal.


''Tapi aku ingin, sedikit saja!'' rengek Syila yang memang begitu ingin.


''Kau tidak mendengarkan dokter?'' jawab Kaisar.


''Tapi jika dengan sedikit porsi tidak mengapa, Tuan, lagi pula Nyonya tidak sering mengkonsumsi makanan instan seperti itu,'' jawab bidan lagi.


''Jadi sebenarnya boleh atau tidak!'' kesal Kaisar pada bidan itu.


''Kesimpulannya boleh, asal porsi sedikit dan tidak sering juga,'' Syila menimpali.


Dan akhirnya, perdebatan dimenangkan oleh Syila.


Semua ikut serta makan, itu juga permintaan Syila.


Pesanan datang, Syila memesan dengan level rendah, Kaisar hanya melihat tak berniat memesan makanan aneh itu.


Wajah yang semula antusias berubah pias, Kaisar menarik sudut bibirnya. Syila melihat makanan yang ia pesan tadi, lalu mengaduknya, ia sudah menyendokkan tapi ia urungkan, ia geser menjauh makanan itu.


''Kenapa tidak di makan? bukankah itu enak?'' ejek Kaisar.


''Tadi saat melihat orang-orang makan seperti sangat nikmat, tapi kenapa pesananku membuat selera makanku hilang,'' lesu Syila.


Kebetulan ada dua pengunjung yang memesan makanan seperti yang Syila pesan. Kemudian Kaisar meminta bekal yang dibawakan dari rumah oleh pembantu. Kaisar menukarnya dengan salad buah.


''Lihat mereka makan dan aku akan menyuapimu juga,'' saran kaisar.


Syila menurut, matanya menikmati pengunjung yang sedang menikmati pesanan mie berlevel pedas itu, tapi yang di masukan Kaisar salad buah.


'Enak sekali,' puji Syila dalam batin.


Tak terasa salad berwadah besar tadi habis oleh Syila, sesekali Kaisar menyuapkan untuk dirinya sendiri.


''Bagaimana? enak?'' tanya Kaisar. Syila hanya mengangguk saja.


Bayi dalam kandungannya lebih tenang, mungkin mereka sedang makan. Atau mengantuk karena kenyang, seperti Ibunya.


''Kai, pulang,'' ajak Syila yang seperti enggan berdiri.


Kursi roda yang dibawa pengawalnya ternyata berfungsi di saat-saat seperti ini.

__ADS_1


Kaisar membantu istrinya mendudukkan di atas kursi roda itu. Setelahnya ia sendiri yang mendorong. Sekarang Syila yang memasang ekspresi 'bodo amat' saat pasang mata mengarah padanya.


__ADS_2