
Hari ini hari kepulangan Kaisar dan Syila. Mereka sudah berada di dalam pesawat.
“Syila?” panggil seseorang.
Syila dan Kaisar mencari arah sumber suara. Dan berdirilah seseorang yang kemarin lusa baru saja mereka temui.
“Doni?” jawab Syila.
Langsung mode tidak suka terlihat pada Kaisar. Ia bertindak manja. Memeluk pinggangnya dan menyandarkan dagu di bahu Syila.
“Kai,” seperti ingin berkata ‘Jangan begini, malu,’ namun ya hanya sekedar keinginan. Nyatanya Syila lebih mengerti jika suaminya ini dalam mode posesif dan cemburu.
“Kau pulang?” sambung Syila basa basi.
Doni melihat tingkah suami Syila hanya tersenyum saja. Ternyata usia tak membatasi rasa cemburu. Doni senang, akhirnya Syila mendapatkan pria yang begitu menyayanginya.
“Iya, pekerjaanku di pindahkan.”
Setelah mengatakan beberapa hal mereka duduk dengan damai. Kaisar tak melepas tangan Syila.
Di kantor Kaisar.
“Tuan, saya sudah merekomendasikan seseorang untuk sementara menggantikan saya," Lewis menyuruh masuk seorang wanita berpenampilan modis ala wanita karier. Kaisar mengeryit.
“Maaf Tuan, saya rasa dari sekian orang yang saya pilih, kinerja dia adalah yang paling baik.”
“Apa tidak ada seorang pria?” tanya Kaisar membuat calon pengganti Lewis merasa terpancing.
‘Memangnya kenapa jika wanita? dia tidak menyukai wanita, aku cantik, pintar, dan seksi, di mana salahnya?’ menerka-nerka sendiri.
“Ada, hanya saja mereka sedang bertugas di luar kota,” menunggu hasil dari Kaisar.
Kaisar hanya merasa tidak nyaman saja, tugasnya adalah menjadi sekretaris Kaisar, tentu kemana-mana mereka akan bersama. Namun bagaimana lagi, jika tidak mengingat pekerjaanya juga membutuhkan partner mungkin Kaisar akan menolak secara mentah-mentah.
Kaisar berdecak, “Perkenalkan dirimu!”
Wanita itu maju melangkah mendekat, memberi hormat, “Nama saya Klarisa, sebelumnya saya di bagian Cieft Operating Officer.”
Biasanya untuk pekerjaan, Klarisa hanya mampu berkominikasi dengan Lewis. Tidak pernah sampai pada Kaisar. Untuk setiap meeting, walaupun ikut serta dan sering memberikan masukan membangun, Kaisar yang tidak terlalu peduli. Dia hanya akan memberi bonus kepada setiap karyawannya yang berdedikasi baik.
__ADS_1
“Hmm, kau tahu apa tugasmu?” Klarisa mengangguk.
“Ya sudah kembali ke ruanganmu!” Klarisa pun undur diri.
Kini hanya ada Lewis. Mereka membicarakan pekerjaan mana saja yang harus mendapat persetujuan dari Kaisar.
Sementara itu, Syila tengah berbelanja keperluannya dan kaisar di sebuah mall. Tanpa sengaja, ia masuk ke sebuah toko perlengkapan bayi. Syila tersenyum melihatnya. Lalu ia mengusap perutnya yang masih datar itu. Ingatannya membawa kepada permintaan Kaisar. Ia pegang sarung tangan yang sangat kecil, lalu ia hembuskan napas beratnya.
“Semoga lekas ada kehidupan baru di dalam sini.”
Ternyata di sana ada Laura yang tak sengaja melihat Syila. Ia mendengar perkataan Syila. Laura tengah mengambil cuti karena pagi tadi ia mengalami muntah-muntah hebat. Sedangkan siang sampai malam, dia akan kembali seperti sedia kala.
“Permisi, aku mau mencari perlengkapan untuk calon bayiku,” senggol Laura dengan sengaja.
Syila meringis, “Bisakah kau pelan? tidak usah sekasar itu,” kesal Syila.
Laura tersenyum pada Syila, “Ini toko perlengkapan bayi, untuk apa kau di sini, kau belum hamil juga? wah, ternyata lebih manjur suamiku ya daripada suamimu itu. Gagah saja tak cukup, atau mungkin ada yang bermasalah,” Laura menelisik Syila.
“Lihat, aku tengah mengandung buah cinta dari Dika,” bangga Laura.
Syila merasa jengah juga.
“Yang pertama aku di sini untuk apa bukan urusanmu, yang kedua, tidak usah membandingkan antara suamiku dan suamimu. Jelas mereka beda kualitas. Dan masalah kehamilan, dari pada kau sibuk menggunjing, mending kau ikut senam ibu hamil, itu lebih bermanfaat untuk janinmu,” setelah mengatakan itu Syila pergi.
Laura tersenyum sinis, “Bilang saja iri!”
“Sayang pergilah ke kantor untuk makan siang denganku,” rengek Kaisar melalui sambungan telepon.
Sebenarnya Syila ingin ke tokonya. Ingin melihat renovasi sudah sampai tahap mana. Sebelum Kaisar memintanya ke kantor.
Sampai di kantor.
Syila menuju resepsionist untuk menanyakan keberadaan Kaisar. Bukan mendapat sambutan yang baik, Syila malah mendapat pengacuhan dari resepsionist tersebut.
“Maaf, ruangan Tuan Kaisar ada di lantai berapa?” tanya Syila dengan sopan.
“Sudah membuat janji? hari ini Tuan sangat sibuk. Tidak ada waktu menemui peminta sumbangan dari yayasan,” kata resepsionist itu dengan menelisik pakaian yang Syila kenakan.
“Apa? aku bukan dari yayasan! aku istrinya!” bela Syila.
__ADS_1
Jawaban Syila sontak mengundang Klarisa yang baru saja turun ke lobby.
“Ada apa?” tanyanya.
“Peminta sumbangan dari yayasan ini memaksa mau menemui Tuan Nona, bahkan dengan lancang dia mengaku sebagai istrinya,” si resepsionist mengadu.
Membuat Syila geram.
Klarisa memperhatikan cara pakaian Syila. Memakai baju gamis beserta hijab yang menutupi dadanya. Syila ikut menelisik penampilannya, ‘Apa yang salah? ini gamis mahal.'
Klara tersenyum remeh, “Kebetulan saya sekretaris baru Tuan Kaisar. Jika ada yang ingin disampaikan biar saya yang sampaikan, karena tadi Tuan bilang tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.”
Kesal, “Tidak usah biar saya yang menelfonnya!”
Syila duduk di sofa. Namun panggilannya tidak di angkat juga oleh Kaisar. Menambah pandangan remeh dari karyawan Kaisar.
Syila memutuskan pergi ke kafe seberang kantor Kaisar. Ponsel Syila berdering setelah ia mendudukkan dirinya di sana.
“Sayang kau sudah sampai?”
“Aku di kafe seberang kantormu, kedatanganku di tolak oleh karyawanmu,” jawab Syila.
Kaisar mematikan telponnya. Segera menemui Syila.
Hari ini begitu penat oleh pekerjaan. Ia ingin menambah moodnya dengan bertemu si istri. Satu hal yang ia lupakan, pernikahan mereka belum di ketahui sebagian besar karyawannya. Hanya Lewis yang tahu. Dan itu membuat Syila di perlakukan tidak baik.
Setelah makan siang bersama yang singkat, Kaisar langsung ke kantornya lagi tepatnya ke ruang meeting. Sedangkan Syila yang hanya bisa menatap kepergian Kiasar merasa kasihan. Pasti dia sangat lelah, sangat terlihat dari raut wajahnya. Syila memutuskan untuk pulang saja.
Selesai meeting.
Kaisar menuju ke resepsionist, “Tadi ada seorang wanita mencariku, tapi kalian bilang dia peminta sumbangan dari yayasan?”
mereka saling pandang ketakutan. Aura yang di bawa Kaisar sungguh dingin dan mencekam. Sudah seperti uji nyali di tengah hutan belantara saja.
Tak ada yang berani menjawab, mereka semua menundukkan pandangan di depan bos yang tidak pernah sekalipun memperlihatkan senyumnya selain hari itu. Hari di mana Kaisar mendapatkan tubuh Syila.
“Jawab!” bentaknya.
“Maaf Tuan,” masih dengan menunduk takut.
__ADS_1
“Siapa pun yang datang kalian tidak boleh bersikap merendahkan seperti itu. Itu bisa mencoreng nama baik perusahaan. Hargai profesi seseorang walaupun itu sebagai pihak yayasan yang membutuhkan dana sumbangan. Jika masih seperti itu, kalian boleh angkat kaki dari sini, perusahaan tidak menginginkan karyawan yang tidak sopan kepada tamu,” marah Kaisar penuh penekanan.
Klarisa yang sedari tadi di samping Kaisar ikut menelan ludahnya dengan kasar. Karena secara tidak langsung ia juga mengusir wanita yang ia anggap peminta sumbangan.