
Setelah beberapa saat istirahat dan bercengkrama dengan Ayah dan Ibu akhirnya kami pamit untuk keluar juga.
"Jangan cantik-cantik." Bisiknya tepat di telingaku membuatku terjingkat karena terkejut dan geli seketika. Ku tengok kiri kanan takut-takut ada yang memergoki. Huhh untung Ayah dan Ibu tidak mengunggui kami pergi. Mereka sudah masuk rumah.
Kuusap telingaku yang meremang. "Jangan lakukan itu lagi."
Dia hanya tersenyum simpul.
Aku pakai jeans putih dengan baju rajut berwarna biru dongker. Tas slempang kecil, sepatu flat senada dengan bajunya dan rambut yang ku kuncir kuda dengan poni yang menutupi sebagian keningku.
Ketika aku sudah siap naik motornya tiba-tiba Dika menyuruhku untuk turun lagi.
"Ada apa lagi ?"
"Kemari !" Akupun mengikuti intruksinya. Dia melepaskan helm yang sudah pada tempatnya.
Lalu dia lepaskan tali rambutku.
"Heii.. mengapa di lepas ?" Jarak ini terlalu dekat. Wajahnya terlihat jelas dengan aromanya yang tercium tajam di indera penciumku.
Jangan mulai deh jantung. Jangan membuatku malu, nanti kalau dia mendengarmu bagaimana.
Kurutuki diriku sendiri.
"Kau mau memamerkan salah satu bagian indahmu ini kepada siapa, hmm ?"
Apa ?? Siapa ?? Memangnya apa yang indah ??
"Ini.." Dika menyentuh leherku. Seakan tau apa yang ada di dalam fikiranku. Aku semakin meremang oleh sentuhan kecil itu.
Tak mau terbawa suasana yang lebih menghanyutkan dari ini, aku memilih untuk menghindar.
"Baik-baik. Ayo, jadi berangkat atau kita disini saja, kembali ke dalam rumah kita minum teh bersama Ayah dan Ibu ?" Kataku.
"Ayo.. naiklah.." Ajaknya.
"Berpeganglah.. Nanti kau terjatuh..!" Titahnya kembali.
Dika kini sedang membawa motor besar, ninja double R.
"Sudahlah ayo jalan jangan banyak permintaan !" Protesku juga.
Akhirnya motor berjalan dengan pelan menurutku, meninggalkan halaman rumahku. Sudah ada 35 menit lamanya kami berkendara, namun tempat tujuan untuk berhentipun seakan masih semu.
"Dika, kita mau kemana ? Mengapa lama sekali ?" Tanyaku dengan suara agak keras agar ia mendengarnya.
"Kau mau segera sampai ?"
"Tentu..!"
Tiba-tiba dia memberhentikan motornya di pinggir jalan. Aku terkejut. Kulihat di sekeliling hanya ada pom bensin dan mini market. Mengapa berhenti disini. Mungkinkah dia haus ingin beli minuman. Asumsiku sendiri.
__ADS_1
Ehh dia menarik tanganku. Memasukkannya ke dalam saku jaket yang berada tepat di perutnya. Otomatis tubuhkupun bertubrukkan dengan tubuhnya. Kurasakan tubuh tegapnya dan perut rata yang terasa keras. Aduhh jantungku aerobik lagi ini.
"Auhhh.." Ketika helm kami saling beradu.
"Kita mungkin akan sampai 1 jam lagi jika kau tidak mau berpegangan. Jadi menurutlah agar cepat sampai".
"Sejauh itu memang ?" Tanyaku penasaran dia ini ingin membawaku kemana.
Setelah itu dia mengendarai motornya dengan kecepatan lebih tinggi membuat mataku membola tak percaya. Dia ini sedang membawa penumpang mengapa mengebut seperti ini. Tanpa terasa kueratkan peganganku, kusandarkan kepalaku, menutup mata dengan merapal doa. Semoga tidak terjadi apa-apa. Aku takut Ayah.
Aku ingin turun rasanya tapi lidahku kelu untuk protes.
25 menit kemudian sampailah di alun-alun kota. Ramai sekali ada panggung, mungkin akan ada konser. Tapi Dika terus melajukan motornya. 15 menit kemudian motornya benar-benar berhenti di parkiran kendaraan.
Dia menoleh kepadaku. Menatapku penuh makna membuatku salah tingkah.
"Apa ?!" Tanyaku sok galak.
"Kita sudah sampai."
"Iya tahu." Jawabku.
"Lalu.. Kau masih ingin memelukku di atas motor begini menjadi pusat perhatian banyak pengunjung ??" Pertanyaan Dika menyadarkanku, tanganku belum kukeluarkan dari saku jaketnya. Yang berarti aku masih memeluknya. Ahhh aku malu. Dasar tidak tahu diri ini tangan.
Kutarik tanganku dengan nyengir bodoh. Huh kakiku gemetar gara-gara aksi jalanan yang di buat oleh Dika.
Aku turun langsung menyambar kursi yang ada di dekatnya masih memakai helm di kepalaku.
Dika menghampiriku. Berlutut di depanku mendongakkan kepalanya melihat wajahku yang mungkin memucat.
Aku diam masih deg degan. Deg degan dengan aksi jalanan Dika juga deg degan dengan perlakuan manis Dika.
Jika aku ini adalah ice cream mungkin aku sudah meleleh saat ini juga. Wkwkwk
Dia membantuku melepaskan helm. Membuka masker diwajahku. Tak lama dia pergi lalu datang membawakan air mineral untukku.
Aku meminumnya. Huft sedikit lega.
"Maaf ya. Kau pasti begini karena aksiku berkendara tadi ?" Ucapnya.
"Huuhh lain kali kalau mau mengebut jangan libatkan orang lain. Apa lagi aku. Aku takut." Jujurku.
"Tidak akan lagi. Maaf ya.." Sesalnya.
"Ini kita dimana ?" Tanyaku dengan mencoba menyetabilkan rasa di tubuhku.
"Ini hutan pinus. Di dalam ada taman buatan dengan danau di tengah-tengahnya. Sangat cantik jika kita datang pagi atau sore hari." Jelas Dika.
"Benarkah ?" Tanyaku seakan tak percaya.
"Kau ini wisata di daerah sendiri masa tidak tahu." Ledek Dika.
__ADS_1
"Kau tahu. Ayah sangat posesif kepadaku. Aku tak pernah di izinkan pergi jauh. Apa lagi kalau sendiri. Selain karena larangan Ayah aku juga minder jalan sendiri. Teman-temanku pernah beberapa kali mengajak kemari tapi waktu itu kami tak mempunyai SIM. Jadi tidak mau mengambil resiko di jalan."
"Tidak pernah pergi bersama Ayah dan Ibu juga ?" Tanya Dika.
" Mereka ini sibuk. Jika hari ini Ayah yang ada waktu, Ibu yang sedang ada kerjaan begitu sebaliknya. Kami pergi yaa paling hanya untuk kuliner dekat-dekat rumah saja. Kami tidak pernah travelling jauh-jauh."
"Jadi kau anak rumahan begitu ?"
" Yaa anggap saja begitu. Makanya kudet dengan tempat-tempat wisata begini. Dan aku menyesalinya baru bisa kemari." Kutunjukkan raut sedihku.
"Dengan Adjipun tak pernah ?"
Ehh kenapa bahas Adji sih.. Aku jadi menerawang ke masa lalu kembalikan.
"Tidak pernah. Dia tak pernah membawaku pergi jauh. Waktu itu hanya sekedar makan gulali saja indahnya melebihi apapun. Itu yang kurasa saat itu."
Kulihat wajah Dika berubah masam. Salah sendiri membahas Adji.
Dika berdiri mengulurkan tangannya.
"Ayo kita masuk. Lebih menyenangkan ketika kita jalan kaki daripada menaiki motor."
Akupun berdiri. Berjalan beriringan dengan Dika.
Beberapa pasang mata mengarah kepada kami. Aku tau yang mereka lihat itu Dika. Karena kebanyakkan diantaranya adalah wanita. Dengan penampilannya yang begini saja dia sudah terlihat begitu mempesona. Aku tidak suka melihatnya. Tapi siapa diriku ingin protes begitu.
Tiba-tiba Dika menggenggam tanganku. Seolah mengatakan bahwa dia saat ini teman kencanku. Mereka yang tadi sempat melirikpun memalingkan wajahnya. Aku menyeringai melihatnya.
"Sudah senang ?" Hah.. apa ?? Batinku.
"Membuat mereka kecewa dengan ini." Diangkatnya tangan kami yang saling bertautan.
Mataku membola. Lagi-lagi dia ini mengerjaiku.
"Tidak." Jawabku dengan memalingkan wajah.
Hahaha Dika tertawa. Lalu berhenti tepat di depanku. Menangkupkan kedua pipiku. Memaksaku untuk menatap matanya.
Aku menghindari tatapan itu. Bisa-bisa aku menjadi tidak waras jika begini terlalu lama.
"Kau berbohong." Kata Dika. Tersenyum lalu mencubit pipiku.
"Manis sekali sih..." Sambungnya lagi.
Yang disentuh pipi yang gemetar dada. Apa-apaan ini tubuhku.
**Hello readers... semoga berkenan ya.. maaf kalau masih banyak kurang dan typonya.
Jangan lupa like, koment, dan vote. Juga tambahin ke list favorite kalian.
Aku mencintai karyaku sendiri dan aku berharap kalian juga bisa mencintai karyaku yang amatiran ini.
__ADS_1
Thank you yang udah mampir dan meninggalkan jejak**.
****