
***Hai, apa kabar pembaca tersayang? 🥰🥰
Sehat selalu ya kalian.
Aku punya cerita baru, cuma masih di aplikasi tetangga. siapa tau ada yang minat membaca kesana. Masih menceritakan kisah Ariel, Pak Azar, dan juga Lintang sih. Cuma aku bungkus di judul berbeda. Agar tidak bingung, disarankan membaca TERJERAT CINTA GURU MATEMATIKA lebih dulu***. ***Baru deh ke karya berjudul BELENGGU RUMUS CINTA.
Ramaikan yang di sana juga ya. Tinggalkan jejak kalian. Sehat selalu. Salam dari Author Chengil. 😘🥰🥰***
Bab 1. Menjadi Penawarnya.
Beberapa hari setelah kejadian di lapangan sekolah yang membuat seanteronya ramai, hingga kini masih menyisakan rasa iri dari segelintir fans Lintang kepada Ariel.
Sepekan telah berlalu, kabar guru Biologi yang mengharuskan kakinya diamputasi karena kecelakaan sudah menyebar. Sekolah berniat melakukan penggalangan dana untuk sekedar membantu meringankan sedikit dari beban guru bernama Bu Wahyu itu.
Siswa siswi berbakat mengadu kebolehannya yang akan dihadiri dari beberapa tamu dari sekolah lain dan warga berpangkat. Hal ini di lakukan pada hari Minggu. Di luar jam sekolah namun tetap di lingkungan sekolah.
Semua murid berhak menunjukkan kebolehannya dari paling junior sampai ke senior. Tentu saja yang paling di repotkan adalah panitia dan OSIS.
“Riel, mau nyumbang apa?” tanya Moli. Dia bingung hendak berpartisipasi dengan apa. Bakatnya tidak menonjol. Keuangan jangan ditanyakan. Keluarganya dalam kondisi menengah kebawah.
“Aku mau coba pamerin beberapa lukisan sama buku komik,” niat Ariel dari awal. Ya sesuai dengan kesukaannya saja.
“Udah, kamu mah nggak usah, ikutan sorak aja biar ramai,” imbuh Ariel.
“Dih kamu mah, aku kan juga pingin ikutan,” masih ngeyel.
“Tapi jangan memaksa kondisi Mol,” sahut Ariel.
Mereka sedang menikmati waktu istirahat di taman sekolah. Dekat dengan lapangan yang mengarah ke ruang OSIS. Beberapa diantara orang, sibuk wira-wiri menyiapkan entah apa itu. Yang pasti dia keluar dengan wajah serius, dan masuk lagi dengan membawa barang masih dengan wajah menegang.
__ADS_1
Ada lagi, beberapa orang sedang menyiapkan panggung spektakuler ala anak sekolahan yang akan diadakan di lapangan multifungsi. Tempat strategis untuk menampung banyak orang. Karena aula mereka ruangannya terbatas.
Hari ini tepat hari Sabtu, pelajaran banyak yang kosong. Paling hanya tugas yang harus di kumpulkan karena sang guru turut bersibuk diri menyiapkan acara sosialisasi.
Dari kejauhan terlihat seorang pria dengan paras menawannya terlihat begitu lelah. Ariel terdiam di tempat duduknya menatap pria yang belakangan ini sudah menjadi kekasihnya. Kekasih sebagai status saja karena kenyataannya, hatinya hambar.
“Pstt... Pst... “ kata Moli dengan menyenggol lengan Ariel menggunakan sikunya. Ariel menoleh.
“Pangeran tuh,” tunjuk Moli dengan dagu. Berniat meledek pasangan baru yang fenomenal di sekolah.
“Pangeran kodok!” sahut Ariel cepat.
Dari kejauhan pun Lintang melihat adanya Ariel yang sedang bersantai. Saat langkahnya ingin menemui sang pujaan, ada sesuatu yang harus ia urus lagi. Risikonya menjadi orang penting.
***
Jam pulang sekolah telah tiba. Hore! Hore! Horeeeee!
“Riel, aku duluan ya, mau anterin Kakak imunisasi anaknya,” ucap Moli. Terlihat sekali dia sangat buru-buru.
Ariel mengangguk mengerti. Kemudian ia cekal lengan Moli. Membuat ancang-ancang langkah panjangnya terurungkan.
“Ada apa?” tanya Moli kemudian.
“Aku belum sempet ke rumah. Ini ada sedikit, beliin baju buat keponakanmu ya,” Ariel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar belum ya, niatnya pingin cari kado. Tapi Ariel tidak berbakat. Daripada salah mending dikasih mentahannya saja. Begitulah pemikirannya.
Moli yang sudah berdiri, kini mendudukkan diri lagi di kursi samping Ariel. Menatap temannya yang kelewat rese tapi ya baik hati. Nah loh!
“Kamu aja butuh Ariel! Buat kamu aja,” tolak Moli lembut. Hatinya tersentuh. Masih ada yang peduli dengan keluarganya, walau cara Ariel tak semanis orang-orang pada umumnya.
__ADS_1
“Udah deh, percaya sama aku. Aku emang butuh, tapi aku udah niatin buat ini. Terima ya, kalau enggak, aku mau berubah jadi Hulk nih, buat ngegulung sekolahan. Biar kita nggak sekolah, yeayy!” kata Ariel.
Apa sih, nggak nyambung. Apa hubungannya nggak diterima sama nggak sekolah. Dasar Ariel inilah.
Moli memeluk Ariel penuh haru. Biarlah hanya Ariel yang mengerti maksud dari kalimatnya. Tapi, yang Moli paham, Ariel jika sudah tulus memang akan tulus. Buktinya, mereka berteman dengan penuh solidaritas tanpa menyulitkan dan menandang status.
“Ck, Mol. Jangan lama-lama meluknya. Nanti dikira yang enggak-enggak lagi. Kita Cuma berdua di kelas!” Ariel memperingatkan karena dia merasa tercekik oleh pelukan erat Moli.
“Ya udah. Aku kasih ke Kakak nanti. Makasih banget ya. Aku duluan,” Moli melepaskan pelukan penuh haru baginya. Dan pergi begitu saja.
Ariel hanya menatap kepergian temannya dengan seulas senyum. Ia sandarkan diri pada kursi lalu ia telungkupkan wajahnya pada lipatan tangan di atas meja.
Sejenak, Ariel merindukan kedua orang tuanya yang sudah sangat lama tidak ia temui. Bahkan sepertinya mereka berhenti mencari keberadaan Ariel. Benci memang dengan kelakuan mereka tapi tetap Ariel menyayangi mereka.
Lintang yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu mendekati pacar barunya.
“Ariel?” Lintang menyentuh bahu Ariel yang sedikit bergetar.
Ariel mendongakkan wajahnya yang sudah tak berbentuk. Dilihatnya, Lintang dengan almamater OSIS, di punggungnya sudah ada ransel, dan dia menggenggam kunci motor ala belalang cangcorang.
“Kenapa?” Lintang langsung mendudukkan diri di samping Ariel.
Mereka terdiam, Lintang yang menunggu jawaban Ariel dengan merapikan beberapa helai rambut Ariel yang kusut menutupi wajah sembabnya. Ariel ingin menepis tangan Lintang, tapi tak juga ia lakukan. Tatapan mata Lintang tak terlihat bohong. Dia benar perhatian tanpa diada-ada.
Lintang sudah menerka, mungkin Ariel mengalami kejadian yang membuat hatinya hancur lagi. Apa Pak Azar dan Bu Dara saling melempar kemesraan di depan muridnya. Sampai Ariel patah hati lagi.
“Pak Azar lagi?” tak sabar Lintang ingin mendapatkan jawaban. Ariel menendang kaki Lintang semaunya. Ciri khas Ariel pokoknya. Lintang terkekeh. Wajah Ariel lebih seperti ke anak kucing. Lucu.
“Apa sih, emang harus karena dia aja aku sedihnya,” jawab Ariel kesal-kesal imut. Versi Lintang loh ya.
__ADS_1
........
lanjut yuk, BELENGGU RUMUS CINTA. Sebelumnya baca dulu TERJERAT CINTA GURU MATEMATIKA yaa