
Disinilah mereka berdua, di ruangan yang Syila sulap menjadi tempat pribadinya, ruangan yang menjadi saksi keluh kesah keseharian selama ia hidup di Ibu Kota. Syila sedang memegang sapu, ia menyapu ruangan itu.
''Kau selama ini tinggal disini?'' Tanya Kaisar, merasa miris dengan kehidupan Syila, seberapa berat perjuangan gadis desa ini demi meraih suksesnya.
''Iya, kenapa? Kau pikir seperti apa tempat tinggalku? Bahkan ini hanya ruko sewaan.'' Sewot Syila.
Kaisar langsung memeluknya, betapa sedihnya Syila saat ini, ia berjuang demi orangtuanya, namun belum sempat mereka melihat keberhasilan putrinya, takdir berkata lain.
''Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!'' Kaisar melepaskan pelukannya.
''Aku bisa membelikan ruko yang lebih luas jika kau mau.'' Tawar Kaisar.
Syila kembali melanjutkan bersih-bersihnya, ''Tidak.''
Kaisar tak sengaja menjatuhkan tas Syila yang terbuka, dan sebuah kartu undangan dengan foto sepasang calon pengantinpun keluar dari tempatnya.
''Kau mendapat undangan dari Dika?'' Tanya Kaisar.
Mendengar nama Dika disebut, Syila langsung menoleh, ''kau mengenalnya?'' Tanya Syila kemudian.
''Ah tidak, Lewis memberitahuku jika aku mendapat undangan dari salah satu karyawan di perusahaan tempatku bekerjasama. Dia sebagai karyawan berpotensi dan berpredikat baik.''
''Kau akan hadir?'' Syila penasaran.
''Tadinya tidak ingin, biar Lewis atau yang lain saja yang menghadirinya, tapi jika kau hadir aku juga akan datang.'' Kaisar acuh.
Tidak ada lagi jawaban dari Syila. Syila baru ingat jika dia mempunyai janji kepada Laura akan hadir dipernikahannya.
''Aku ingin mandi.'' Kaisar laporan.
''Ya sudah mandi tinggal mandi, kenapa harus laporan dulu. Di sebelah sana kamar mandinya.'' Jawab Syila.
Tak lama kemudian Syila sedang memunguti figura yang pecah, foto Dika yang ternyata masih ada di dalam lacinya, niat ingin membuangnya karena bertumpuk dengan boneka juga laptop, figura itu jatuh dan pecah.
Bersamaan dengan Kaisar yang membuka pintu kamar mandi hanya dengan handuk pink yang melilit pinggangnya.
__ADS_1
''Apa yang kau lakukan?'' Keduanya serempak bertanya. Bedanya Kaisar dengan nada datarnya, sedangkan Syila dengan nada paniknya.
Bergegas Syila berdiri membalikan tubuh dan menutup mata, ''Kai, kau bisa memakai bajumu didalam. Mengapa keluar hanya memakai handuk.''
Kaisar malah tersenyum, ia ingin menggoda istrinya, ''Apa kau tergoda dengan tubuhku? apa aku terlihat lebih tampan dan seksi saat rambutku basah begini?'' Kaisar mencoba meraih pinggul Syila, berhasil, Syila semakin menegang, suhu ruang tiba-tiba menjadi panas. Dagunya ia sandarkan dibahu Syila.
''Kenapa aku baru menyadari jika tubuhmu terlalu mungil begini. Setelah ini kau harus banyak makan agar sedikit berisi.'' Kaisar semakin melancarkan aksinya, ia mengendusi leher yang masih tertutup hijab itu, lalu ia kecup singkat pipi Syila yang sudah memerah.
Syila kembali pada kesadarannya, ''Kai!!'' Syila melepaskan diri dari Kaisar, ia menghadap Kaisar ingin memakinya, namun ketika melihat dada bidang yang tegap dan berbentuk seperti roti sobek didepan wajahnya itu, seketika ia seperti tersedak air liurnya sendiri. Kata yang ingin dilontarkanpun mendadak hanyut entah kemana.
Kaisar tersenyum manis, kesekian detik Syila mengagumi wajah tampan suaminya diposisi seperti ini.
''Pakai bajumu Kai!'' Hanya itu yang keluar dari mulutnya, padahal dia ingin sekali memaki pria sebagai suaminya ini.
''Sayang, kau tahu bukan aku kemari tidak membawa sepotong pakaian, dan pakaianku tadi tidak sengaja basah tersiram air. Jadi aku tidak punya baju ganti saat ini.'' Harus pintar berdalih pikirnya.
''Heh.. Ya sudah telanjang saja sekalian, memangnya aku peduli.'' Syila mencemooh.
''Ohh baiklah dengan senang hati, aku akan telanjang disini.'' Tantang Kaisar, tangannya sudah berada diujung lilitan handuk, hendak melepasnya, dengan reflek Syila mengayunkan tangannya memegangi tangan yang hendak bekerja untuk Tuannya itu.
''Apanya yang salah, kita suami istri, dan jika hanya berdiri tanpa busana didepanmu itu bukan sebuah tindak kriminal atau sebuah dosa.'' Lagi-lagi 'suami istri' dia bawa-bawa.
Wajah Syila sudah sangat merah, diantara malu, geram, dan kesal.
''Merepotkan sekali!!'' Syila meraih kunci vespanya beserta dompetnya, ia hendak pergi membelikan pakaian ganti Kaisar.
Kaisar tertawa melihat Syila yang marah bercampur malu, ''sayang, jangan lupa pakaian dalamnya juga ya.''
Syila semakin memerah wajahnya, suaminya itu benar-bena frontal bahasanya, tidak sadar apa, lawan bicaranya ini masih remaja menuju dewasa. Untung toko sedang tutup.
Syila memarkirkan vespanya, ia berhenti di penjual pakaian yang sedang berteriak-teriak memamerkan obralnya dipinggir jalan.
Syila memilihkan pakaian untuk Kaisar, sejenak ia terdiam, 'Dia pakai size apa?' Bodohnya gara-gara melihat body suaminya fokusnya hilang sampai tidak sempat bertanya.
Syila bertanya kepada Ibu penjual dengan berbisik, ''Bu, jika postur tubuhnya kurang lebih seperti orang yang sedang bermain ponsel di motor itu, kira-kira memakai pakaian dalam size apa ya?'' Huaaa.. wajah Syila sangat merah karena malu, apa lagi mimik wajah Ibu itu seperti sedang meledeknya.
__ADS_1
''Harusnya ini muat Nona.'' Dia sodorkan satu pak pakaian dalam.
''Terimakasih Bu.'' Setelah membayar, Syila bergegas pergi dari sana dan pulang.
Sedangkan Kaisar setelah berhasil membuat istrinya kikuk pergi dengan wajah merona ia kembali menyusuri isi kamar Syila. Ia teringat tadi Syila seperti sedang berjongkok memunguti sesuatu.
Kaisar mengambil foto dalam figura yang sudah hancur itu, foto berdua istrinya dengan.. 'seperti pernah lihat wajah ini.' Kai berpikir sejenak, ah dia ingat undangan Dika. Lalu ia cocokkan kembali wajah itu, 'Sama persis' batin Kaisar lebih penasaran.
''Dika punya hubungan apa dengan istriku, mengapa ada fotonya disini?'' Kaisar membereskan bekas pecahan kaca itu, membuangnya ditong sampah. Namun mengambil fotonya.
Syila datang ia membuka pintu. Kaisar memperhatikan barang berkantong plastik hitam yang sedang Syila bawa.
''Cepat sekali?'' Tanya Kai.
''Ada obral dipinggir jalan. Cepat pakailah, kau sudah membuat urat maluku terputus.'' Kaisar hanya menanggapinya dengan tertawa kecil.
Kaisar kembali masuk dalam kamar mandi, lalu memakai pakaian pemberian Syila disana. Semua sesuai size Kaisar.
''Sayang, kau sangat pintar memilihkan sizenya. Padahal kau belum pernah mengukur keseluruhannya.'' Kaisar menggoda lagi.
''Diamlah!"
Syila melanjutkan ingin bebenahnya, 'Figura tadi tidak ada'.
''Kau mencari fotomu dengan pria ini?'' dengan nada tidak sukanya ia memegang foto Syila dan Dika.
''Kembalikan,'' minta Syila hendak mengambil foto itu, namun tangan Kaisar sengaja ia tinggikan hingga Syila tidak dapat menggapainya.
''Jelaskan dulu kau ada hubungan apa dengan Dika. Ini foto Dika kan?'' Kaisar sudah mode serius.
''Itu hanya sampah, seharusnya kau membuangnya,'' jawab Syila.
''Juga dengan laptop dan boneka kelinci itu? Semua itu sampah?'' Kaisar terasa mendominasi.
''Laptop itu rusak, aku ingin membuangnya dan boneka itu aku sudah tidak menyukainya,'' Syila acuh.
__ADS_1
''Kau berbohong Syila!''