
Pagi menyambut. Dengan mata sayup-sayup kubuka jendela kamar. Mentaripun nampak enggan bersinar hari ini. Mendung menyelimuti langit biru.
Terdengar suara posel. Huhh siapa sih rajin sekali pagi buta sudah menelfon seorang jomblo.
Dika. Entahlah semenjak tragedi dengan Adji, aku seperti tidak ingin mempercayai laki-laki, selain Ayah.
"Pagi.." Sapanya.
"Iya sudah tahu ini pagi." Jawabku.
Dia mencebik..
"Baru bangun ya ?"
"Iya"
"Syila.."
"Emm.."
"Minggu depan hari ulang tahunku. Aku mau hadiah darimu boleh ?"
"Oh yaa..?? Yang ke berapa ??" Tanyaku.
"Yang ke 26 tahun."
"Wahhh selamat ya semakin tua.." Celetukku. Membuat aku terkikik sendiri.
"Heiii tua-tua.. tapi wajahku masih terlihat seumuran denganmu loh.." Pembelaan tidak terima di bilang tua.
"Iya iya.. dipercayain aja.. mau hadiah apa ?? Nanti dipeketin ke alamat sana."
"Emmm... Nanti aja aku kabari lagi.." Jawab Dika.
"Jangan yang macam-macam yaa aku kan masih sekolah belum punya penghasilan sendiri."
"Iya. Ya sudah sana mandi dulu. Aku mau berangkat kerja." Kata Dika.
"Oke."
Teleponpun terputus.
***
Seminggu kemudian..
Tepat hari Jumat. Jadwalku masuk sekolah untuk menerima penambahan jam pelajaran.
Tumben saja 3 hari ini Dika tak memberi kabar sama sekali dia bilang ingin minta kado. Tapi sampai sekarang malah menghilang. Nomornya pun jarang aktif. Mungkin sibuk fikirku.
Di tengah-tengah pembelajaran ada beberapa panggilan masuk, aku abaikan, lalu pesan masuk dari Dika.
"Lagi apa ?" Tanya Dika.
"Lagi sibuk." Bukan bohong kan ya..
"Sibuk apa ?"
Duh nih orang, kalau lagi sibuk itu berarti jangan diganggu termasuk jangan diajakin chat.
"Belajar. Sekarang lagi di sekolah. Penambahan pelajaran untuk UAS." Jawabku gemas.
"Ohh... Pulang jam berapa ?"
__ADS_1
"Jam 10." Sudah aku berharap tidak mengganggu lagi.
Pembelajaran tambahan telah usai. Waktunya pulang. Teman-teman sudah bubar jalan semua. Tinggallah aku seorang.
Kucek ponsel ternyata kosong tidak ada chat lagi.
Aku keluar kelas menuju gerbang, sebelumnya melewati parkiran motor. Ada Doni.
"Syila.. !! Pulang bareng yuk.." Ajaknya.
"Emm terimakasih lain kali aja ya Don." Tolakku.
"Oke. Hati-hati yah." Terbaca sekali raut kecewanya.
***
Ponselku bergetar. Video call dari Dika. Aku pasang earphone yang kebetulan aku bawa.
"Haii.." Sapa Dika yang entah mengapa terasa berbeda.
Aku amati seperti tidak asing backgroundnya.
"Kenapa ?"
"Aku sedang ulang tahun ini."
"Ohh selamat ulang tahun ya, panjang umur dan semua yang terbaik. Semoga cepat nikah juga hihihi." Kataku tulus setengah meledek.
Dia mencebik "Terimakasih. Tapi sepertinya yang mau diajak nikah belum siap. Aku mau hadiahku."
"Huftt okke mau hadiah apa ?" Menelfon langsung menagih hadiah. Lagi pula aku tak bisa memberi sesuatu yang berharga. Penghasilan saja tidak punya.
"Aku sudah di samping pos satpam depan sekolahmu."
Deg.. deg.. deg..
Kenapa ini jantung ?? Apa begini rasanya pertama kali mau bertemu dengan seseorang yang selama ini hanya mengenal dekat lewat online.
Aku celingukan mencari keberadaannya. Pantas saja backgroundnya seperti tidak asing. Pandanganku tertuju pada pengendara motor berjaket kulit hitam, memakai masker dan juga helm. Apa dia orangnya ya batinku bertanya. Soalnya kalau dibelakangnya beberapa meter sepertinya bukan karena terlihat bapak-bapak berambut putih dan bercelana kolor saja.
Panggilan masih berlangsung. Kali ini telepon tanpa video
"Dimana ??" Tanyaku berharap pertemuan kami tidak terjadi. Karena dadaku mendadak terasa semakin sesak.
Lalu aku mendekat pos satpam.
"Di sini Syila." Dengan melambaikan tangannya.
Itu benar Dika ??
Aku mendekat pada pria yang tadi menyapaku.
"Dika ??" Tanyaku pada orang itu setengah ragu.
Dia membuka helmnya. Melepas earphonenya juga. Yang terakhir melepas maskernya.
Oh Tuhan.. Dia benar-benar memukau. Tinggi semampai, berwajah bersih, berkulit putih, alis tajam, bibir tipis yang sedikit merona dan hidung mancungnya. Ehh apa lagi ini.. senyumnya mengapa begitu memabukkan begitu sih.
Aku mematung memandangnya. Dia mendekati sempurna secars fisik. Dan dadaku semakin tidak karuan rasanya.
Dia mengulurkan tangannya aku menyambutnya.
"Apa kabar ? Tanganmu berkeringat dingin ? Apa kamu sakit ??'' Tanya Dika lembut sambil tersenyum.
__ADS_1
Apa.. Aku baru sadar.. Ya ampun memalukan sekali sih. Lagian ini tubuh mengapa merespon berlebihan seperti ini.
"Ti.. tidak apa, aku baik." Gugupku menjawab.
"Ayo". Dia sudah bersiap kembali untuk menyalakan motor. Tak lupa dia pakaikan helm untukku. Aku mematung. Ada apa ini ?!!
Dia membawaku kesebuah rumah makan. Memesan tempat semacam privat room. Lantaran hanya ada kami saja. Makanan sudah terhidang. Dan Dika sedari tadi hanya menatapku saja. Membuatku risih juga salah tingkah.
"Jangan lama-lama melihatku !!" Buka suara juga ini mulut.
"Kenapa ?" Masih setia memandangku sesekali tersenyum.
"Aku tidak nyaman. Selain itu menatapku terlalu lama bisa membuat orang itu jatuh cinta detik itu pula loh." Aku sembari menunduk waktu berbicara seperti itu. Aduhh malu.
Dika tertawa.. Aku tertegun. Dia tambah mempesona saat wajahnya berseri-seri begitu.
"Sayangnya jauh-jauh hari sebelum aku bisa memandangmu secara langsung seperti ini aku sudah jatuh cinta."
Uhukk.. uhukk..
Astaga dia membuatku tersedak makanan yang baru saja aku masukkan ke dalam mulut. Jawaban apa itu sama sekali tidak lucu. Malah membuat jantungku semakin menjadi.
Ini tidak sehat.
Dia mengacak rambutku gemas.
"Lucu sekali sih. Di minum dulu." Di sodorkannya minuman kepadaku.
"Kapan datang ?" Aku mengalihkan pembicaraan setelah batukku mereda.
"Semalam jam 8."
"Minta hadiah tapi tidak mengabariku. Salah sendiri sekarang aku tak punya hadiah apapun untukmu."
"Syila.." Mode serius.
Aku menantikan dia mau bicara apa.
"Aku cuti hanya 3 hari. Kemarin aku sibuk sekali dengan pekerjaan yang harus aku tinggalkan. Ketika datangpun aku langsung mengistirahatkan tubuhku. Karena 2 hari sebelumnya aku benar-benar kurang istirahat."
"Aku kemari hanya untuk menemuimu. Meminta hadiah yang sudah kau sanggupkan kemarin."
Apa sih cepat ke intinya. Kenapa aku merasa dia sedang berbelit-belit begini.
"Ya katakan cepat hadiah apa yang kau inginkan." Aku tak sabar.
"Kau harus mau menemaniku selama aku disini." Pinta Dika.
Hadiah macam apa seperti itu. Tidak masuk akal.
"Itu sebuah hadiah yang kau mau ?" Tanyaku tak percaya.
"Emm mungkin salah satunya." Apa maksudnya masih ada permintaan yang lain begitu.
Aku nampak berfikir. Menemaninya bukan yang aneh-anehkan. Fikiranku melayang tak jelas memikirkan yang tidak-tidak.
"Ayolah... aku bukan penjahat kelamin seperti apa yang sedang kau fikirkan. Aku pria baik nan setia."
"Lagi pula aku disini hanya 4 hari dari sekarang." Memohon dengan tatapan matanya.
"Baik tak masalah aku akan menemanimu asal kau bisa mendapat izin dari orangtuaku." Tantangku meremehkan.
"Oke."
__ADS_1
Jawaban yang simple tapi penuh dengan rintangan.