Karma Cinta

Karma Cinta
Yang Jatuh Cinta Itu Aku


__ADS_3

Syila memasuki kamar mandi, dia tertegun, dia diam. Ini seperti kamar mandi yang sama seperti waktu kejadian malam itu. Ada lilin aromatherapy di beberapa sudut, jika di nyalakan mungkin akan membuat suasana lebih tenang dan rileks. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Syila bergegas mengganti pakaiannya, keluar, dan mencari Kaisar.


''Kai? Kai? Kaisar?'' Syila berteriak, karena tidak melihat sosok suaminya di dalam kamar. Syila hendak membuka pintu, sebelum Kaisar sudah membukanya dengan membawa laptopnya dan secangkir teh hangat.


Kaisar mengernyit, ''Ada apa, sayang? Kau mencariku?''


''Kai, aku ingin bertanya sesuatu padamu.'' Kata Syila.


''Katakan sayang.'' Kaisar membawa Syila duduk di sofa dalam kamar.


''Kai,'' panggil Syila, Kaisar menatap wajah manis Syila dengan serius.


''Aku pernah mengalami salah satu peristiwa yang membuatku menjadi seperti ini. Menutup penampilanku juga semakin menutup hatiku untuk pria.'' Kaisar masih setia, tanpa berpaling dari wajah Syila. Padahal ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dan ia kirim sekarang juga.


''Kai,'' matanya sudah mulai berkaca, otaknya kembali memutar kejadian malam itu, malam dimana ia hampir kehilangan kehormatannya karena pria, pria yang menyukainya juga.


''Heii ada apa? Kenapa bersedih?'' Tanya Kaisar dengan penuh perhatian dan kasih sayang.


''Aku hampir kehilangan kehormatanku, dan dalangnya adalah pria yang menyukaiku.'' Kaisar membawa Syila dalam pelukannya. Mengusap sayang kepala Syila yang berbalut hijab. Namun hatinya bergemuruh marah jika teringat kejadian itu.


''Aku tahu, sudah jangan bersedih, sekarang ada aku.'' Ucap Kaisar.


Syila bangun dari pelukan Kaisar, ''Apa maksudmu, Kai? Kau tahu? Apa kau pria yang menolongku itu?'' Dengan mata berkaca-kaca Syila menatap wajah tampan berbulu tipis yang menumbuhi dagunya.


''Kemarikan tanganmu,'' Syilapun mengadahkan tangannya di pangkuan Kaisar.


''Aku rasa ini milikmu dan mungkin sangat berharga bagimu.'' Kaisar menyerahkan liontin yang sempat terjatuh di kamarnya waktu itu.


Diantara senang juga panasaran, ''Kau menemukannya dimana?'' Tanya Syila.


''Di kamar ini.'' Jawaban Kaisar membuat Syila diam.


''Aku ingin mengembalikan padamu, namun aku sendiri tidak mengetahui apa-apa tentangmu. Setelah aku mulai mengetahui identitasmu, gantian waktuku yang tidak ada. Maaf ya, kau pasti mencarinya.'' Sambung Kaisar.


Jadi selama ini liontin yang Syila cari, yang Syila pikir jatuh saat kejadian malam itu, di tempat itu, tenyata ada bersama Kaisar. Suaminya. Sangat kebetulan.


''Lalu, kau juga yang mengirim Sam ke penjara?'' Tanya Syila makin penasaran.

__ADS_1


''Bukan, sayang. Aku hanya menuntutnya, yang membawanya ke penjara ya perbuatannya sendiri.'' Sembari tersenyum.


''Terimakasih.'' Kata Syila lirih sekali sembari menundukkan kepalanya.


''Untuk?'' Tanya Kaisar.


''Untuk semua yang sudah kau lakukan dimasa lalu.'' Jawab Syila dengan memperhatikan liontin peninggalan Ibunya.


Sebongkah rindu menyeruak memenuhi hatinya kembali. Ia mengingat kembali bagaimana Ibunya memperlakukannya sangat baik, berpetualang bersama ketika di pasar, ekspresi Ibu yang sedang menggoreng lalu mendapatkan kejutan berupa kecupan dadakannya, saat Ibu membuat kue memixer adonan namun, bibirnya berteriak ini dan itu menyuruh Syila mambantunya.


Syila membuka liontin itu, Ayah dan Ibu yang berpose sangat romantis dengan foto bayi yang menggemaskan, dan di sisinya masih kosong.


''Di sisinya masih kosong, nanti itu untuk foto kita.'' Sambung Kaisar mengalihkan pandangan Syila. Kaisar mendekat mengecup kedua mata Syila yang baru saja mengeluarkan air matanya.


''Ada aku, jangan bersedih lagi. Semua akan baik-baik saja.'' Kaisar membawa Syila dalam pelukannya lagi. Nyaman dan hangat, seperti di peluk Ayah.


'Dia ternyata baik Yah, apa memang hatiku saja yang bermasalah tidak bisa mengikhlaskan takdir.' Syila.


''Sudah, beristirahatlah!'' Ucap Kaisar.


''Kau?'' Tanya Syila dengan suara yang masih parau.


''Ya sudah kerjakan, aku belum mengantuk, hoaaamm,'' sembari menutup mulutnya, ''Aku ingin melihat pekerjaan seorang CEO,'' kata Syila mulai ke mode keras kepala lagi.


Kaisar tersenyum, padahal barusan ia menguap, wajahnya juga terlihat lelah, namun Kaisar hanya membiarkannya.


Syila sendiri hanyut dengan perasaannya, ia bingung dengan apa yang ia rasakan. Apa sudah seharusnya ia mulai menerima pernikahan ini dan pria disampingnya ini. Ayah dan Ibu tidak mungkinkan memilihkan sesuatu yang buruk untuknya.


Liontin ini, apa dengan kembalinya liontin ini maka, keberuntungan juga akan kembali padanya. Seperti yang di katakan Ibu, jika ini memiliki kesan hoki yang tinggi.


''Kai, apa pekerjaanmu banyak sekali hari ini?'' 'Sampai kau mengerjakannya di rumah.' Syila.


''Aku terlalu lama libur, kerjaan menumpuk.'' Tanpa mengalihkan fokusnya pada monitor dan keyboard.


''Kai, bagaimana kau bisa membagi waktumu dengan semua pekerjaanmu?'' Tanya lagi.


''Itu tugas Lewis, aku hanya mengikutinya saja.'' Jawab Kaisar.

__ADS_1


''Ck, enak sekali. Kai, apa istrimu dulu juga bekerja?'' Kali ini Syila langsung menutup mulutnya.


''Dia punya hobby photografer, dan itu pekerjaannya.'' Santai Kaisar menjawab, jauh dari ekspektasi Syila yang mengira Kaisar akan tersinggung atau apa.


''Kai, apa kau sangat mencintai istri pertamamu?'' Syila tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Sedangkan Kaisar langsung berhenti mengetik.


Ia menghadap Syila, ''Dia cinta pertamaku, kami menjalin hubungan dari tiga SMP.'' Kaisar ingin melihat ekspresi Syila.


''Lalu, bagaimana kisah cinta kalian?'' Syila bertanya lagi, dengan fokus pada liontinnya.


''Kami saling mencintai, menghargai, dan saling mendukung.'' Jawab Kaisar, ia melihat ada perubahan diwajah Syila.


''Apakah seperti cinta Ayah untuk Ibu?'' Dengan polosnya.


''Tentu saja. Bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti saat ini yang aku rasakan.'' Jawab Kaisar, Syila terdiam. Dia mencerna kalimat Kaisar. Memangnya siapa yang jatuh cinta.


Syila menoleh ke sisi dimana ada Kaisar, dia terkejut wajah Kaisar sudah sangat dekat, 'Kenapa aku tidak menyadarinya, sejak kapan ia memperhatikanku?' Syila.


''Memangnya siapa yang jatuh cinta, sampai kau bilang cinta bertepuk sebelah tangan. Jangan berpikir aku, aku sudah jatuh cinta padamu. Itu tidak mungkin.'' Tertawa hambar.


''Bukan tidak mungkin, Syila. Hanya belum. Aku yakin suatu saat kau akan jatuh cinta kepadaku.'' Jawaban Kaisar penuh keyakinan.


''Dan yang jatuh cinta saat ini, aku!'' Sambung Kaisar masih dengan keyakinan hatinya.


Syila hanya meliriknya.


''Aku jatuh cinta padamu, dari pertama kita bertemu.'' Kaisar mulai berkisah.


''Kapan? Waktu kejadian yang membuatku takut kepada dunia itu?'' Malam dimana Syila hampir dilecehkan.


Kaisar menggeleng, ''Bukan. Tapi pertemuan kita yang tidak di sengaja, di pantai.''


Berpikir Syila, berpikir. Mencoba mencari memorynya bertemu Kaisar di pantai tapi nihil ia tidak ingat.


''Kau juga tidak ingat?'' Syila menggeleng sebagai jawabannya.


''Kau masih kecil, tapi sudah seperti nenek-nenek saja, pikun.'' Sarkas Kaisar.

__ADS_1


''Heii!!...'' Syila ingin membela diri tapi sudah dipotong dengan Kaisar.


__ADS_2