
Rasa takut langsung menyergap batinnya. Pikiran yang tidak-tidak segera Syila tepis. Dokter tidak langsung memberi jawabannya. Hanya menyuruh Kaisar dan Syila untuk tetap sabar dan tenang.
Walau dirundung kegelisahan, Kaisar mencoba kuat untuk istrinya.
Di sana sudah ada dokter spesialis anak yang turut memantau kelahiran anak kembar Syila dan Kaisar.
Dokter itu tampak membersihkan lubang hidung bayi Syila yang berjenis perempuan, mengusap perut, menekan kaki ke perut, dan menelungkupkan bayi dengan menepuk-nepuk punggungnya.
Semua tampak khawatir, dokter mengulang hal yang sama beberapa kali, sampai terdengar suara seperti bersin dan berlanjut dengan tangisan.
''Pernapasan putri Tuan mengalami penyumbatan sisa cairan ketuban, itu yang menyebabkan bayi tidak langsung menangis. Seharusnya setelah ini tidak apa-apa, kami berhasil mengeluarkan cairan tersebut,'' terang si dokter.
Tim medis begitu bahagia apa lagi Syila dan Kaisar selaku orang tuanya. Kedua bayinya langsung diadzani oleh Kaisar, setelah serangkaian itu langsung diberikan kepada Syila untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) yang bermanfaat untuk memberikan kesempatan si bayi mendapatkan kolostrum guna kekebalan tubuh bayi. Selain itu memperkuat hubungan antara ibu dan bayi.
Tiada henti-hentinya Syila menangis haru melihat kedua tangannya yang medekap bayi-bayi mungil dengan kulit merah, lidah mereka memyecap mencari sesuatu yang ingin mereka hisap.
Kaisar masih tidak percaya, baru saja merasa sebagian hidupnya ikut runtuh, melihat perjuangan istrinya yang luar biasa, bahkan saat ini kondisi Syila masih ditangani dokter, pengurasan rahim lalu jahitan bagian inti. Tapi lihat seluar biasa itu seorang wanita, ia tidak menunjukkan rasa sakit saat jarum menusuk kulit dengan keadaan sadar tanpa obat bius hanya dengan memandang bayi mereka yang baru saja lahir dan berjuang meraih put*ng si ibu.
Hanya sesekali tampak Syila menggigit bibirnya saat dokter menancapkan jarum di kulit intinya. Kaisar yang menyaksikannya menahan ngilu yang luar biasa.
Syila melahirkan bayi kembar tidak identik. Jadi walau kembar mereka tidak sama. Wajah mereka berbeda.
Setelah selesai.
Kaisar menyuapi Syila untuk ke tiga kalinya. Bahkan ia memesan makanan dari luar karena makanan dari rumah sakit sangat kurang. Membelikan buah-buahan dengan berbagai ragam.
''Kai, aku ingin jus alpukat,'' rayu Syila.
Kaisar terperangah tidak percaya, yang sedang ia suapi istrinya apa monster, kenapa makannya banyak sekali tidak kenyang-kenyang. Sekarang tangan Syila tengah mengupas bungkus roti yang tadi sempat Kaisar belikan juga lalu melahapnya.
''Sayang, makanmu sangat banyak, apa tidak masalah begini?'' Kaisar mencoba mengingatkan.
''Kau tidak mau menurutinya, baiklah, aku akan turun membelinya sendiri,'' ancam Syila.
Entahlah, memang sejak pagi Syila yang biasanya makan banyak tadi hanya memakan buah apel dua. Setelahnya ia tidak memasukan makanan apa-apa lagi. Sampai tenaganya terkuras habis untuk menahan sakit dan berjuang melahirkan kedua anaknya.
Dan itu membuatnya begitu lapar.
__ADS_1
''Oke, oke, hanya ini, setelahnya di stop dulu, aku takut kau kenapa-napa jika berlebihan makan begini, nanti diganti buah saja.''
Syila setuju. Kaisar membelinya dengan menyuruh Lewis yang berjaga di depan ruangan. Ia juga telah mengabari keluarga Kaisar. Betapa bahagianya keluarga Mahendra yang langsung mendapatkan sepasang cucu dari putra bungsunya.
Syila dan bayinya sudah dipindahkan ke ruang rawat. Mereka sehat, tinggal menunggu pulih mereka bisa pulang. Kaisar masuk, ia melihat istrinya menurunkan kaki hendak mengambil putranya yang tidurnya tampak gelisah.
''Sayang, apa yang kau lakukan,'' Kaisar segera mendekat membatu Syila meraih putranya.
''Kai, sepertinya dia haus atau mungkin sedang buang air, tidurnya gelisah.''
Kaisar mencoba membuka kain yang membungkus tubuh putra mungilnya itu tanpa memgangkat tubuhnya.
''Sayang, dia pup, tapi kenapa warnanya hitam begini?''
Bebarengan dengan dokter yang memasuki ruangan.
''Memang begitu Tuan, itu normal pup pertama bayi akan mengalami mekonium, warnanya gelap hitam atau hijau buah zaitun. Nanti seiringnya waktu warnanya akan berubah sendiri,'' terang si dokter.
Kaisar mangut-mangut mengerti, suster membantu menggantikan kain popoknya.
Kedua orang tua baru saling memeluk, mata mereka memandang dua nyawa yang baru saja terlahir.
''Lihat, bibir mereka mirip sepertimu,'' Kaisar mengecup singkat bibir Syila.
''Hidung mereka lebih sepertimu, seperti perosotan di taman kanak-kanak,'' Syila tertawa.
Kaisar meraih tangan Syila, dibawanya dalam genggaman, ditatapnya wanita yang Kaisar tahu sangat luar biasa ini. Beruntungnya dia memiliki Syila.
''Sayang dengarkan aku, aku sangat berterima kasih padamu, terima kasih sudah mau melahirkan mereka, mengorbankan tubuh indahmu, bertaruh dengan nyawamu, bahkan setelah itu kau masih harus merasakan sakit saat jarum sialan menusuk intimu. Sedangkan aku sebagai pria tidak mampu berbuat apapun selain berdoa,'' Kaisar kecupi tangan lentik yang masih membengkak itu, ada genangan di pelupuk mata Kaisar.
''Anak-anak, look! Papa kalian cengeng sekali, dia menangis!'' bisik Syila kepada kedua bayinya yang tentu terdengar oleh Kaisar.
Kaisar terkekeh, tak mau menjawab atau membantah apapun, ia membawa Syila ke dalam pelukannya.
''Aku mencintaimu Arsyila Putri, sangat mencintaimu!''
Syila membiarkan mereka larut dalam rasa cinta dan haru yang sedang menerjang di keduanya.
__ADS_1
Sampai suara ponsel mengagetkan. Panggilan video dari Fanya.
''Hallo Syila!'' sapa Fanya. Syila mengernyit karena di sana Fanya melakukan panggilan paralel.
''Rayhan?'' tanya Syila mengabaikan sapaan Fanya.
Mendengar nama Rayhan Kaisar ikut mendekat. Kaisar juga memandang heran. Sejak kapan keponakannya ini dekat dengan teman istrinya.
''Hai Kak ... hai om!'' sapa Rayhan masih dengan gaya tengilnya.
''Jangan hiraukan dia Syila, dia gila!'' ucap Fanya masih dengan cengengesan.
Membuat Kaisar juga Syila menatap curiga.
''Mana baby twin?'' sambung Fanya lagi.
''Mereka tidur,'' jawab Syila.
''Kak, kata Mom bayi kalian sepasang ya? maksudku perempuan dan laki-laki?'' Rayhan antusias.
''Iya!'' Kaisar yang menjawab ketus.
''Cih, Om masih saja posesif, aku sudah move on, tidak akan lagi menggoda istrimu! untuk saat ini, tidak janji untuk besok atau lusa,'' setelah itu Rayhan terbahak sendiri.
Sedangkan Kaisar dan Fanya menantapnya nyalang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
Tawa Rayhan mereda dengan kikuknya.
''Mau dibawakan kado apa Om?'' ia berusaha mencairkan suasana yang mencekam.
''Tidak butuh! aku tidak mau barang yang dibeli dari meminta orang tuanya!'' sombong Kaisar.
''Aku tidak memintanya lagi! aku sudah bekerja!'' tidak terima Rayhan.
''Apa yang kau kerjakan? membohongi Ibumu berdalih membayar ini itu padahal hanya untuk senang-senang?'' remehnya lagi.
''Hai Om, sombong sekali ya dirimu! aku membuka jasa expedisi, masih kecil tapi kan itu usaha juga,'' Rayhan menggaruk pelipisnya.
__ADS_1