
Dika menjatuhkan lututnya, kakinya lunglai, dia benar-benar pria bodoh, dia membiarkan air hujan mengguyur seluruh tubuhnya berharap kesalahan serta penyesalannya ikut hanyut oleh air langit.
''Sebenarnya aku ingin sekali menamparmu dan menangis dihadapanmu, agar kau tahu betapa kecewanya aku. Namun air mata juga tanganku seolah enggan melakukannya untukmu.''
''Syila !!'' Ucap Dika tak kalah menyedihkan.
''Seperti Adji, jangan pernah berharap dan memohon padaku lagi, sekalipun kau berlutut seperti itu, jangan pernah berharap pada hati yang sudah hancur, walaupun suatu hari nanti kita diberi kesempatan bertemu, saling sapa, jangan pernah sekalipun kau mengungkit hari ini dan hari yang telah berlalu.''
''Aku putuskan untuk menutup buku kisah cinta kita, biar saja endingnya seperti ini.'' Emosinya sedikit mereda.
''Dan satu lagi, jangan pernah juga memohon kepada orangtuaku. Aku pamit Dika, terimakasih untuk semuanya.'' Syila pergi tanpa memperdulikan panggilan Dika yang terus mengucapkan namanya.
***
Syila menapaki jalanan penuh genangan air malam itu, membawa pilu tentang cintanya untuk kembali pulang. Membiarkan semua menertawainya. Matanya mulai menangis, larut bersama derasnya air hujan. Bahkan dinginnya hembusan angin yang turut mengguyur badannya yang kecil ia biarkan saja, itupun tak mampu mereda panasnya emosi juga laranya hati.
Kebahagiaan yang utuh sudah didepan mata, hanya selangkah anak tangga lagi ia menggapainya, namun kakinya malah tergelincir, membuatnya terjatuh kedasar dan terluka kembali.
Lagi dan lagi ia dikecewakan pria atas dasar nama cinta. Syila terlalu mencintai sampai pada kenyataan yang tak mungkin ia gapai ia menjadi sakit, sesakit-sakitnya, bahkan lebih sakit daripada kenyataan cintanya dengan Adji.
***
Ia tersadar langkah kakinya sudah terlalu jauh berjalan, namun jalannya tak terarah. Sepi sangat sepi tidak ada hunian penduduk.
"Dimana ini ?" Syila kebingungan.
"Bodoh, kemana akalku kenapa sampai kemari aku melangkah. Apa aku tersesat ?" Tanyanya untuk dirinya sendiri.
Menggigil, tubuhnya gemetar, kepalanya mulai berkunang.
Ia menepi pada pohon yang sangat rimbun berharap mampu melindunginya dari air hujan.
Tiba-tiba ada motor berhenti, Syila tidak mengenali mereka. Namun dari penampilannya mereka seperti preman. Rasa takut merasukinya. Ingin berlari tapi badannya lemas.
Jauh dari sana ada pria dan wanita yang tengah asyik menonton drama selanjutnya di dalam mobil.
"Hai gadis manis, mengapa hujan-hujan sendirian, kau menjadi basah dan kedinginan." Ucap preman itu.
"Mau apa kalian, pergi !" Syila mulai waspada.
__ADS_1
"Hahahha...Ayo.. Aku akan membantumu menghangatkan tubuh, kemarilah.. Kita akan bersenang-senang !" Ucapnya dengan menyeringai licik.
"Tidak.. pergi tinggalkan aku, kau boleh mengambil barang-barangku tapi lepaskan aku." Mohon Syila, berharap kedua pria ini mempunyai rasa belas kasih untuknya.
Bukannya menjauh kedua preman itu semakin mendekat. Mereka menyeret Syila ke jalan kecil yang jarang di lalui orang. Karena itu adalah jalan buntu.
"Tolong... Tolong... Tolong... !!!" Syila berteriak sebisa mungkin. Ingin melawan tenaganya tidak memungkinkan. Untuk memberontak saja ia sangat kelelahan.
"Tak usah membuang tenagamu untuk berteriak manis, kau hanya perlu menggunakannya untuk mend*sah saja." Kedua preman itu tertawa puas.
Syila meringkuk ketakutan, wajah Ayah dan Ibu terlintas dalam benaknya. 'Syila takut Yah. Syila ingin pulang saja. Syila ingin bersama kalian. Tolong Syila Yah.' Mohonnya dalam hati.
Preman itu berhasil merobek lengan kemeja Syila. Memperlihatkan bahu mulusnya yang tak pernah ia buka. Syila terus memberontak sebisa mungkin.
"Menurut saja jangan banyak bergerak, bodoh !!" Sentak salah satu preman itu.
Ketika salah satu preman itu ingin mendaratkan bibirnya Syila meludahi lalu menendang aset berharganya. Namun tangannya masih dicekal oleh preman lainnya.
Plak..
Tamparan mendarat diwajah Syila, membuat ujung bibirnya berdarah. Sakit.. Syila merasakan sakit.
"Sudah kubilang kau menurut saja, kita akan saling memuaskan." Ucap preman itu dengan senyum mengejek.
Kedua preman itu semakin senang karena Syila begitu menantang.
Preman itu sudah mulai membuka ikat pinggangnya, mengendurkan celananya, hingga tiba-tiba ia terjungkal merasakan sakit pada kepalanya karena lemparan batu besar oleh seseorang.
Teman yang lainnya mencari keberadaan orang asing itu. Ditengah derasnya hujan, pria asing itu memajukan langkahnya dengan yakin. Melihat dengan seksama apa yang terjadi.
"Tolong.. Tolong.. !" Seru Syila yang mulai melemah. Tenaganya habis. Syila sangat berharap dia malaikat penolong yang dikirim Tuhan untuknya.
"Breng**k !! Siapa kau beraninya ikut campur !" Bentak preman yang tadi menyekal tangan Syila.
Pria asing itu melirik Syila sekilas, walau dalam keadaan remang-remang, dia mampu melihat bahwa disini akan ada tragedi pem*rkosaan.
Tanpa babibu, pria asing itu mendaratkan bogeman bertubi-tubi. Membuat preman itu kalah sebelum melawan. Sedangkan pria yang mendapat lemparan batu sudah terkapar tak berdaya.
Tak lama kemudian ada beberapa bapak-bapak yang melintas.
__ADS_1
"Wah ada apa ini Tuan ?"
"Mereka hampir memperk*sa seorang gadis, tolong urus mereka !"
Dan kedua preman itupun langsung diringkus oleh warga, akan dibawa kekantor polisi.
"Nona ?" Ia memegang bahu Syila.
"Jangan, jangan sentuh aku, kumohon !"
"Ayah..!" Syila meringkuk ketakutan dengan terisak.
"Jangan takut, aku akan menolongmu."
"Ibu..." Kata terakhir yang Syila ucapkan sebelum ia kehilangan kesadarannya.
Pria itu menyibakkan rambut yang acak-acakan menutupi wajah Syila.
"Nona bangun..!" Ia perhatikan lagi, deg..
Dadanya bergemuruh marah. Melihat siapa korbannya. Wanita yang sudah mampu mengalihkan dunianya, yang dia cari tanpa arah dan petunjuk, yang ia rindukan tanpa sebab, bahkan ia selipkan doa walau tidak tahu namanya, dan kini dia hampir diperk*sa oleh preman.
Darahnya seperti mendidih, amarah menyelimuti.
Pria asing itu memanggil bapak-bapak yang meringkus preman tadi. Memberikan kartu namanya agar menghubunginya dimana preman-preman itu mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Heii.. bangun !" Dia menepuk-nepuk pipi Syila dengan lembut. Jantungnya tak berhenti berdetak.
"Ya Tuhan apa yang terjadi denganmu, kau terluka." Ucapnya sangat khawatir.
Dia langsung membopong Syila, membawanya ke mobilnya lalu ia menelfon dokter keluarga untuk ke rumahnya segera.
Antara sedih dan bahagia, sedih karena nasib buruk yang menimpanya. Dan bahagia karena ia dipertemukan wanita ini lagi.
***
Pria tadi baru saja pergi dari rumah panti asuhan yang sering ia kunjungi, lalu berkunjung ke pondok pesantren khusus anak-anak tidak mampu. Karena terlalu asyik bercengkrama dengan anak-anak dia lupa waktu. Dia pulang waktu telah petang dan turun hujan juga.
Lalu pulang mencari jalan pintas, entah mengapa ketika melihat motor terparkir sembarangan dan ada tas wanita yang jatuh tak jauh dari motor itu, nalurinya membawa kesana. Dan benar dugaannya ada tindak kriminal, yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah korbannya.
__ADS_1
Wanita asing tanpa tahu identitasnya yang sudah berhasil memporak porandakan hati dan pikirannya.
...****************...