
Hari-hari semesteran sudah berlalu. Waktunya untuk libur semester. Tapi nyatanya untuk kelas 12 di sela-sela libur masih harus masuk untuk penambahan jam pelajaran. Demi mengejar ujian akhir sekolah.
Dan disinilah aku bersama Ibu. Di singgahsananya, dapur. Hehe.
Aku memberitahu Ibu bahwa hubunganku dengan Adji sudah selesai. Tanpa memberitahu alasannya apa.
Dengan mengusap bahuku.
"Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Suatu saat nanti pasti akan ada pria terbaik yang akan bersedia menemani, dan mencurahkan waktu dan kasih sayangnya untukmu."
"Ya ya ya aku yakin itu Bu." Dan aku akan menunggu waktunya tiba.
***
Sayup-sayup terdengar suara bising motor. Uhh.. mengganggu tidur siangku saja sih.
Tak berselang lama pintu kamarku diketuk dari luar. Ibu pelakunya.
Dengan rasa malas dan mata yang masih berat kubuka pintunya.
"Ada apa Bu ? Baru saja mimpi berkencan dengan Tuan Saga. Ibu sudah merusak kencanku." Ocehku.
"Tuan Saga itu siapa ?" Tanya Ibu.
"Dia CEO Antarna Group Bu."
"Sungguh ??" Aku menganggukkan kepala. Ibu nampak tidak percaya.
"Dimana kau bertemu ?" Tanya Ibu. Lalu aku sudah ingin tertawa membayangkan ekspresi Ibu dengan jawabanku.
"Di dunia pernovelan yang aku baca semalam, Bu."
Hahahahhahaah pecah aku tertawa, melihat Ibu yang sudah berkuda-kuda ingin menjitak kepalaku.
Aku menjauh sebelum tangan Ibu yang biasanya ahli membuat sambal itu terjun ke keningku. Kusatukan telapak tanganku di depan dada. Aku memohon ampun kepada baginda ratu.
"Kamu ini..." Terperangah tidak percaya sudah dikerjai anaknya sendiri.
"Ada teman-temanmu didepan."
"Oke Bu aku temui dulu ya." Permisi pelan-pelan sesopan mungkin lalu lari sekencang mungkin. Karena rasanya aku masih ingin tertawa.
Mana Ibu tahu siapa Tuan Saga. Aku saja hanya berhalusinasi setelah membaca novel semalam sampai-sampai terbawa mimpi. Huaa aku benar-benar mengharapkan pria terhormat yang sebucin itu kepadaku suatu saat. Penyakit haluku kambuh. Pftt.
***
Aku melihat ruang tamu sudah di penuhi oleh teman-teman dengan berbagai minuman serta kue made in Ibu.
"Yaa ampun.. pantas.. dihubungi tidak bisa. Tak tahunya dia ngebo.." Celetuk Una.
Hihihi aku hanya nyengir. Lupa ponselpun masih di isi daya.
"Ada apa sih. Aku melewatkan jadwal pentingkah ??" Hoamm masih dengan menguap kututup mulutku.
"Tidak ada schedule sebelumnya. Hanya tiba-tiba kita kangen hangout." Jawab Una sebagai wakil dari semua.
"Iya benar. Sebelum benar-benar gila menghadapi persiapan ujian Syil." Tambah Dea.
Aku berfikir sejenak. Sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
''Emm sepertinya bukan ide yang buruk. Ganti baju dulu ya." Jawabku dengan berlari menuju kamar.
Sebelumnya aku mencari keberadaan Ibu. Ibu di kamar.
"Bu.." Setelah kuketuk aku nyelonong masuk karena tidak ada jawaban.
"Ahh Ibu sedang istirahat. Yaa sudah aku mencari bolpoiny dan kertas, kutulis memo yang mengatakan aku pergi dengan teman-teman. Kemungkinan pulang malam.
Akupun bergegas masuk kamar lalu ganti kostum dengan celana jeans warna navy dan hoddie warna peach. Menyisir rambut gelombangku menguncir kudanya, sedikit pelembab muka dan pelembab bibir. Memakaikan kakiku dengan sepatu kets putih.
Finish.. Simple dan tidak ribet. Menyambar tas ransel kecilku, memasukkan ponsel dan dompet. Kubawa kacamata juga. Serta masker. Jangan lupa helm.
"Yuk berangkat." Ajakku.
"Ehh tapi beresin dulu ulah kalian ini..!" Menunjukkan bekas minum dan makanan. Sok memerintah.
Mereka mendengus kesal tapi, juga memberesi semua sisa makanan dan minuman mereka.
Kami memang seperti itu. Kalau sedang bertamu ramai-ramai sisa-sisa bekas kami pasti kami yang membereskannya bukan tuan rumah.
Aku dengan Talita. Dia memakai celana jeans juga dengan atasan kaos warna ocean di sertai jaket kulit.
Penampilan kami tak jauh beda. Menyukai yang serba simple.
Masih terlalu siang kami menghabiskan waktu di bioskop.
Karena tempat kami termasuk pedesaan. Menuju bioskop menempuh waktu kurang lebih 45 menit.
Ketika memilih film pun harus dengan perdebatan. Aku dan Talita ingin film action. Yang lain ingin film horor lalu ada yang ingin film romansa ada juga yang ingin film komedi lalu film animasi.. Aduhhh kenapa beda aliran begini sih.
Akhirnya kami berhompimpa pilihan siapa yang akan dikabulkan.
Aku sudah duduk, disebelah kananku ada Una dan disebelah kiriku ada Talita. Una antusias sekali.
Apalagi ketika ada adegan 18+ nya. Adegan romantis mereka berciuman. Ahh aku geli melihatnya. Sedangkan Talita hanya diam agak menunduk. Kuperhatikan, astaga.. dia tidur. Bisa-bisanya ini anak.
Berbeda dengan Una dia sudah memegang tanganku dengan sedikit meremasnya menjerit tertahan gemas-gemas tak karuan.
Ampun deh pasti dia sudah membayangkan yang tidak-tidak.
Dan terakhir kami memilih pantai. Bakar ikan di tempat yang sudah disediakan untuk menjadi makan malam kami.
Semua tak luput dari jepretan kamera. Sunset, deburan ombak dan angin laut menambah kesyahduan sore itu.
Lalu salah satu foto aku upload dimedsosku. Foto kebersamaan tangan saling menggenggam tersenyum bahkan tertawa bersama. Momen hangat sebelum sebuah perpisahan datang.
***
Jika senja menjemputmu untuk pulang
Maka kuberi malam untuk kau kenang
Jika birunya langit telah bergulita
Maka kuberi bintang untuk kau terang
Syahdunya senja bersama kehangatan cinta
***
__ADS_1
Ok send. Terkirim sudah fotonya.
Tak lama ada sebuah komentar. Dika.
"Cantik"
Aku hanya tersenyum bukan saatnya memegang ponsel lama-lama. Kami sedang quality time. No ponsel-ponselan.
Makan malam bersama seperti ini pasti akan aku rindukan juga. Punya sendiri masih banyak tapi suka comot punya teman lainnya.
Kenapa rasanya lebih nikmat ya..
***
Aku pulang pukul 21.00. Ayah masih di teras. Sedangkan Ibu sudah pamit tidur. Talita langsung pulang.
"Ayah Syila pulang.." Kuraih punggung tangan Ayah kucium tangan kasar yang sudah berjuang demi kehidupan yang layak untukku.
"Malam sekali nak, sudah makan belum ?" Tanya Ayah nampak khawatir.
"Sudah Yah."
"Ya sudah masuk bersihkan badanmu lalu tidur."
Kucium pipi Ayah. "Siap komandan !"
Ayah hanya tersenyum menanggapi tingkaku seperti itu.
***
Setelah selesai dengan semua ritualku aku sudah bersiap untuk tidur sebelum suara ponsel menggagalkannya.
"Hallo"
"Hei tunjukkan wajahmu aku sedang melakukan video call." Perintah dari seberang sana membuatku mengamati ponselku ulang. Ohh iya. Aku hanya nyengir.
"Baru pulang ?" Tanya Dika.
"Iya."
"Sudah mengantuk ?"
"Iya."
"Mau tidur ?"
"Iya."
"Bisa tidak jawaban yang lainnya, selain iya ?" Terdengar kesal di seberang sana.
"Jangan bertanya." Jawabanku.
Haahhh.. Seperti terkejut tak lama berbunyi Tut.. tut.. tut..
Panggilan dimatikan.
Aku sudah mengantuk berat.. Lelah sekali..
Tak menghiraukan yang diseberang sana sedang menahan kesal akupun tidur dengan tenang.
__ADS_1