
Setelah drama panjang, akhirnya Syila mau juga di bawa pulang oleh Kaisar. Setelah menutup tokonya. Desas desus para pegawai Syilapun terdengar ke telinga Syila tadi. Vote pertanyaan paling tinggi adalah pertanyaan hubungan Syila dengan Kaisar. Duda keren penuh pesona itu, mengapa bisa sampai ke toko Syila yang baru saja buka, mereka berdua di dalam ruangan pribadi Syila sangat lama dan juga mereka pergi bersama dengan Kaisar yang merangkul pinggang Syila, padahal waktu sudah lumayan malam.
''Gara-gara kau, karyawanku menjadi berpikiran yang tidak-tidak.'' Obrolan di dalam mobil dibuka oleh Syila yang langsung menyalahkan suaminya.
''Kau yang melarangku tadi untuk mengkonfirmasi hubungan kita kepada mereka, apa kau lupa itu?'' Jawab Kaisar.
Tidak ada jawaban lagi dari Syila, memang Syila yang langsung mengajaknya pergi saat Kaisar mencoba menjawab pertanyaan para pegawainya tadi.
***
Mobil memasuki kawasan rumah elit, rumah yang berukuran besar dengan berbagai design yang elegan.
Syila menyatukan kedua alisnya, seperti pernah kemari, tapi ia tidak ingat kejadian pastinya.
''Ada apa?'' Tanya Kaisar yang sudah siap turun namun ia urungkan ketika melihat Syila masih duduk dengan manis di jok mobil.
''Ini rumahmu?'' Tanya Syila.
''Ini juga rumahmu.'' Jawaban Kaisar membuat hati Syila menghangat.
Mereka masuk, sepi tidak ada siapapun.
''Kai, kau sendirian dirumah seluas ini?'' Tanya Syila lagi.
''Aku punya satu asisten rumah tangga, mungkin dia sedang istirahat. Ini sudah larut. Dan dua satpam.'' Jujur Kaisar.
''Bukan, maksudku keluargamu?'' Syila meluruskan pertanyaannya.
Kaisar berjalan menuju dapur, mengambil airputih ia meminumnya, lalu ia isi kembali di gelas yang sama, ia berikan kepada Syila yang terus mengekorinya dengan mata yang menjelajah isi rumah Kaisar.
Syila menyambutnya tanpa protes karena ia tidak tahu itu bekas Kaisar.
__ADS_1
''Aku dari dulu hanya sendiri, semenjak kakek meninggal, dan Ayah di tunjuk untuk meneruskan perusahaan pusat. Ayah, Ibu dan Kakakku menetap disana, aku memilih disini karena berat melepas usahaku. Kau tahu kan, aku ini seorang duda, dulu disini juga ada istri pertamaku.'' Jelas Kaisar.
Mendengar kata 'istri pertamaku' ke hati seperti sedikit tercubit. Syila menghalau perasaan itu.
''Memang istrimu itu sakit apa?'' Syila yang tiba-tiba menjadi ingin tahu masa lalu suaminya.
Kaisar menatap Syila, istri keduanya yang terpaut usia lumayan jauh darinya, dia lebih mirip seperti gadis SMA daripada menyandang status sebagai istrinya.
''Bisakah kita beristirahat saja malam ini?'' Kaisar menghindar dari pertanyaan Syila. Bukan karena tidak mau menjawab hanya saja menguak kisah lalu sama saja seperti membuka kembali luka yang baru tertutup. Kaisar belum siap, apa lagi mengingat istri pertamanya pergi dengan calon anaknya juga. Yang membuat Kaisar menutup diri dari wanita manapun.
Sedangkan yang ada di pikiran Syila, mungkin Kaisar tidak ingin membuka masa lalunya karena ia masih mencintai mendiang istrinya tersebut. Tidak ingin kembali merasakan rindu yang terpisah oleh maut itu.
Sedikit kecewa memang, tapi sudahlah, diapun siapa? Hanya orang asing yang terpaksa menikah karena kemauan Ayahnya. Syila juga mempunyai masa kelam yang tidak ingin orang lain tahu.
''Baiklah, tunjukkan dimana kamarku!'' Jawab Syila mengakhiri.
Kaisar membawa Syila menuju kamarnya, kamar tanpa foto siapapun. Syila mengendus aroma kamar itu. 'Aku seperti pernah mencium aroma kamar ini.'
''Ada apa? Wajahmu memerah, apa kau sedang mengagumi ketampananku?'' Kaisar mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
''Kai, aku tidur di kamar tamu saja ya.'' Pinta Syila ragu-ragu.
''Kenapa?'' Kaisar heran. Dari beberapa wanita yang mencoba mendekatinya, bahkan ada yang terang-terangan suka rela mau menjadi penghangat ranjangnya satu malam, hanya Syila yang seperti enggan dekat dengan Kaisar.
''Kita suami istri, mengapa harus tidur terpisah?'' Jurus andalan keluar.
''Emm entahlah Kai, hanya saja...'' Syila menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, bingung ingin menjelaskan maksud hatinya dari mana.
Syila hanya membutuhkan waktu untuk meyakinkan hatinya. Berbagi kamar dengan pria lain setiap hari sepertinya ia belum siap. Apa lagi jika nanti Kaisar meminta haknya. Syila belum siap. Hatinya masih kebas. Tidak ada rasa, tidak ada warna.
Seperti bisa membaca apa yang Syila pikirkan, posisi mereka kini, Syila sedang duduk di sisi ranjang, dan Kaisar bersimpuh di depannya, Syila sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Kaisar.
__ADS_1
Kaisar membawa tangan Syila pada genggamannya. Terasa hangat dalam genggamannya.
''Aku tahu, kau masih membatasi dirimu. Aku tidak ingin menjanjikan apapun padamu Syila, biarkan sikapku yang memberitahumu bagaimana diriku nanti. Jangan menambah tinggikan lagi pembatas itu untukku, aku sudah berjanji pada orangtuamu, biarkan aku mencoba menepati janjiku kepada mereka. Setidaknya kau mengijinkanku dan memberiku kesempatan itu. Jika yang kau takutkan adalah hubungan suami istri, aku tak akan meminta hak itu, sampai kau yang siap nantinya.'' Ucap Kaisar dengan tulus dan lembut. Menggetarkan hati Syila yang sekeras karang.
Syila membalas Kaisar dengan tatapan teduhnya, yang selama ini tak pernah ia lakukan. Hanya tatapan garang, luka dan sedih yang Kaisar lihat selama ini.
''Tidur disini saja ya.'' Bujuk Kaisar lagi dengan wajah di buat memelas.
Tak ingin terbuai, Syila mencoba mencairkan suasana kembali, ''Baiklah baiklah, sudah jangan merubah wajahmu dari wajah buaya menjadi wajah seekor marmut begitu.'' Kembali pada kewarasannya.
Kaisar kembali tersenyum mendengar ledekan Syila, ''Apa wajahku benar-benar seperti buaya?''
''Iya, Tuan Buaya.'' Syila ingin pergi dari posisi yang membuatnya tak bisa menolak pesona suaminya itu.
''Aku bukan buaya, buaya itu cocoknya untuk pria yang tidak bisa setia, sedangkan aku, aku sangat setia.'' Bangga.
''Sudahlah aku ingin tidur. Besok hari pertama kafeku beroperasi.'' Pangkas Syila.
''Kau tidak ingin mengganti pakaianmu?'' Tanya Kaisar lagi.
''Aku membawa ganti hanya untuk besok, jika aku memakainya sekarang besok aku tidak punya baju ganti.'' Jelas Syila.
Kaisar berdiri, membawa Syila pada ruang penyimpanan baju, sepatu, tas dan aksesoris lainnya.
''Bajumu disebelah sana.'' Syila tidak yakin. Diapun membuka lemari kaca yang cantik itu. Dan benar deretan baju wanita tergantung rapi disana.
''Ini baju istri pertamamu?'' Sarkas Syila ''Aku tidak mau memakainya!''
''Hei, kau bahkan cemburu dengan orang yang sudah tiada?'' Kaisar tersenyum, ''Ini baju baru semua, hanya sedikit, aku meminta Bibi membelikannya untukmu. Lagi pula baju mendiang istriku sudah tidak ada disini. Barang-barangnya sudah di sumbangkan, jadi kau tidak perlu cemburu.''
''Aku cemburu? Haha tidak mungkin! Kau terlalu berharap Tuan Javier Mahendra.'' Syila berlalu dengan membawa sesetel piyamanya.
__ADS_1
...****************...