
Gais
Apa kabar kalian?
Ah semoga selalu sehat ya.
Aku cuma mau numpang iklan, aku punya cerita baru "Love Story Pewaris Darah Biru" tapi maaf ga di publish di platform kesayangan kita ini. Tapi di Fizzo.
Masih gratis kok, disana juga ga make koin. Kebetulan aja Author Chengil yang manis semanis gula jawa ini iseng nyari pelabuhan naskah receh. Nyangkut deh di Fizzo.
Yang berkenan mampir ya, kalau enggak ya nggak papa juga.
😁😁😁
Salam sayang dari aku 💋💋 ketchup online.
Bab 1.
Seorang pria remaja sedang terduduk lemas di atas atap bangunan kosong, ia bersandar pada tembok lusuh sedikit berlumut, pakaian yang setengah basah karena peluh yang terperas, di sampingnya berserakan buku-buku yang masih terbuka. Ia mengambil sebatang rokok lalu ia sematkan diantara bibirnya, mengadukannya dengan api dari koreknya, dan menutupi dengan tangan agar terhindar dari angin yang berhembus. Sejenak ia kembali mengingat masa 12 tahun silam.
12 Tahun Lalu
Dinar bergegas menuju pintu ketika ia mendengar bel berbunyi. Sengaja ia kunci karena tadi Dinar sibuk mengurus rumah dan takut jika putranya keluar diam-diam.
''Sayang, sudah pulang?'' sambut Dinar yang masih terlihat berantakan, aroma dari bawang, asap, dan keringat bercampur menjadi satu. Ini waktunya makan siang, Dinar sengaja memasak makanan kesukaan suaminya. Siapa sangka jika suaminya pulang lebih awal.
Tidak ada balasan dari Alex, suaminya. Yang memang akhir-akhir ini sifatnya berubah. Dinar masih setia melayani Alex, ia mengambilkan segelas air minum.
''Dinar, aku ingin bicara, aku ingin menikah lagi!'' ucap Alex tanpa basa basi.
Pranggg...
Gelas yang belum sempurna pendaratannya terjatuh begitu saja saat mendengar kata laknat terlontar sangat sempurna dari mulut Alex.
Bagai sedang menari di atas awan lalu dihempaskan ke dataran, sakit dan syok, Dinar terdiam sesaat, menghalau air mata yang tiba-tiba merembes keluar.
__ADS_1
''Tapi kenapa, Alex? apa salahku?'' tanya Dinar disela rasa pedihnya.
''Kau baik Dinar, hanya saja aku tak bisa selalu berdampingan denganmu saat melakukan acara bisnis, kau membuatku malu, istri dari kolegaku adalah wanita cerdas, mereka mempunyai selera yang tinggi, sedangkan kau, jika kuajak hanya akan duduk mengasingkan diri,'' remeh Alex yang semakin membuat Dinar merasa kecewa.
''Bukankah dari awal kau memang sudah tahu latar belakangku dan siapa aku?! kenapa baru saat ini kau mempermasalahkannya?!''
Alex pun tak mengerti mengapa dulu ia sangat menerima keadaan Dinar, dan mengapa sekarang ia menjadi menuntut istrinya itu.
''Aku tetap ingin menikah lagi.''
Tak lama suara nyaring dari hells yang beradu dengan lantai marmer mendekat, seorang wanita anggun, elegan, dan terlihat cerdas menampilkan dirinya dari persembunyiannya. Tanpa canggung dan tanpa perasaan wanita itu memperkenalkan dirinya sendiri.
Senyum yang mengembang, si wanita mengulurkan tangannya, ''Nyonya Yoseph, perkenalkan aku Sintya Yola, calon madumu.''
Tidak ada respon dari Dinar, air matanya terus mengalir. Dengan bergantian Dinar menatap nanar suaminya juga wanita yang bernama Sintya Yola tersebut, ''Apa kalian sudah gila? Alex, yang kau permainkan ini hati, bagaimana kau tega menduakanku? dimana cinta yang kau bangga-banggakan dulu? hanya karena status sosial!?'' geram Dinar.
''Kau berhak marah, jadi marahlah, tapi aku juga berhak menentukan pilihan, jadi terimalah!" sangat santai tanpa ada rasa iba sama sekali Alex mengatakan itu. Dengan duduk di sofa, menyambut pelukan hangat dari Sintya, Dinar membuang wajahnya.
"Keterlaluan! baiklah jika memang itu pilihanmu, aku terima, aku juga berhak memilih, aku memilih perceraian!'' Seulas senyuman terukir di wajah Sintya.
''Elvis ikut denganku, dia akan menjadi pewaris utama untuk perusahaanku, meneruskan darah kebangsawananku, dan kau akan mendapat seperempat dari hartaku, sebagai kompensasi kebaikanmu selama menjadi istri,'' ucap Alex tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah Sintya.
''Mengapa El harus ikut salah satu dari kalian? memang Ibu dan Ayah mau pergi kemana? dan Ibu mengapa menangis?'' suara melingking khas anak kecil ikut menyambar perseteruan orang dewasa.
''El,'' panggil Ibunya. Ia terkejut dengan kehadiran Elvis, apa dia mendengar dan melihat semuanya.
''Ayo ke kamarmu, Ibu mau melihat hasilmu menggambar,'' ajak Dinar mengalihkan fokus Elvis pada permasalahan orangtuanya. Dia masih terlalu dini untuk ikut campur, tidak baik untuk psikisnya.
Elvis menurut, ia berjalan kemana Ibunya menarik tangannya, namun tatapan penasaran ia layangkan kepada sang Ayah, yang langsung terlihat pias wajahnya. Alex langsung pergi bersama Sintya.
''Wahh, putra Ibu sangat hebat, bisa menggambar mobil, sangat keren sekali!'' puji Dinar, ia langsung menghujami wajah Elvis dengan ciuman, lalu membawanya dalam pelukan.
Dinar sakit, batinnya sangat sakit, sampai ia menangis dalam pelukan putranya, apalagi jika ia harus berpisah dengan Elvis, harta satu-satunya yang ia punya saat ini.
''Jangan menangis, Bu,'' tangan mungil itu menghapus sisa airmata yang membasahi pipi Dinar.
__ADS_1
''El akan pergi bersama Ibu kemana pun itu, jika memang Ayah tidak mau menemani Ibu, lagi pula Ayah sibuk bekerja,'' pikir Elvis Ibunya bersedih karena Ayahnya tidak mau menemani Ibunya pergi ke suatu tempat.
''Ibu baik-baik saja, ayo bereskan semuanya, kau harus makan yang banyak, Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu juga,'' Elvis patuh.
****
Sore itu Dinar langsung meninggalkan rumah yang sudah hampir 7 tahun ia tempati. Membina rumah tangga yang harmonis dan penuh cinta, serta hadirnya Elvis menjadi pelengkap istana itu.
Hari ini semua terlebur menjadi sebuah kenangan saja, Dinar harus kembali ke tempat yang seharusnya menjadi tempat tinggalnya. Ia bukanlah ratu lagi, dia bukan permaisuri dengan segala sesuatu yang berkecukupan dan dikelilingi oleh dayang.
Menyisakan selembar kertas berisi terimakasihnya untuk Alex karena sudah mau membina rumah tangga bersamanya sejauh ini. Dinar juga menuliskan ia tak membawa barang apapun yang Alex berikan, semua perhiasan juga ATM di tinggalkannya. Dia datang dengan tangan kosong, hanya membawa cintanya, berupa Alex. Sekarang ia pergi juga membawa cintanya, yaitu Elvis.
Dengan sisa tabungannya sendiri, Dinar membawa putra semata wayangnya ke kota kelahirannya, Solo. Menempati kembali gubug lusuh yang sudah lama terbengkalai. Rumah almarhum orangtuanya dulu. Satu-satunya tempat untuknya berpulang saat ini.
Elvis tertegun melihat bangunan yang lebih mirip seperti kandang ayam itu, ingin bertanya tapi melihat Dinar bersedih ia urungkan.
''El, maafkan Ibu, mungkin nanti El tidak lagi punya mobil-mobilan yang bagus dan banyak seperti yang ada di rumah Ayah,'' pancaran kesedihan tak bisa ia tutupi, matanya berkaca lagi.
''Jika El ikut Ayah, El tidak akan tinggal di tempat seperti ini,'' sambung Dinar.
Elvis kecil memang tidak mengerti permasalahan Ayah dan Ibunya, yang paling ia mengerti saat Ibunya menangis dan Ayahnya malah acuh, dari sana ia menyimpulkan jika Ayahnyalah yang sudah jahat.
''Bu, apa ini rumah Kakek dan Nenek?'' tanya Elvis, ia bahkan tidak peduli dengan kata-kata sang Ibu tentang mobil-mobilan, matanya justru tertarik dengan binatang peliharaan tetangga yang berkaliaran di sekitar rumah, seperti ayam dan bebek.
Dinar mengangguk.
''Lalu tunggu apa lagi? Ayo kita masuk! Apa Kakek dan Nenek juga punya binatang seperti itu?'' semangat Elvis, ia menunjukan sapi dan kerbau yang sedang pulang dari sawah.
"Nanti Ibu akan belikan anak kerbau untukmu, kau siap-siap membagi makananmu, oke," janji Dinar kepada Elvis.
"Benarkah? aku juga akan mempunyainya? apa dia juga mau permen, Bu? mulutnya besar sekali, aku harus memberinya berapa permen nanti? apa dia harus minum susu juga agar tumbuh besar dan tinggi seperti yang Ibu katakan kepadaku?" begitulah, celoteh Elvis. Banyak hal asing yang baru ia temui di tempat seperti itu. Dan itu membuat jiwa petualangannya bangkit.
Akhirnya yang abu-abu kembali ke abu-abu, tidak bisa menjadi putih atau hitam.
Kehidupan Dinar kembali ke masa sederhana. Meninggalkan kehidupan glamour dan belajar bertahan dengan segala keadaan yang pas-pasan. Hanya Elvis alasannya untuk tetap semangat.
__ADS_1