Karma Cinta

Karma Cinta
Hutan Pinus II


__ADS_3

"Buka mulutmu..!" Titah Dika. Saat melihatku mulai murung, hanya memainkan makanan yang ada di depanku.


"Aku bisa makan sendiri." Tukasku.


"Kalau begitu cepatlah makan. Kalau dingin nanti tidak enak."


Baiklah.. Aku tidak apa-apa.. Aku baik-baik saja. Mantra kurapalkan lagi.


Lalu aku makan tanpa memperdulikan seseorang yang kini sedang menatapku tajam.


Sesekali Dika mengajakku bercanda. Mangalihkan suasana hati yang mulai resah dan gundah.


"Coba buka mulutmu !!'' Aku mendongak menatap Dika.


"Kau harus mencoba rasa cumi pedas manis ini"


Akupun menuruti. Dika menyuapiku. Lalu tangannya terulur kearah bibirku. Dimana masih tertinggal saus cumi. Perlahan dia mengusapnya. Penuh rasa bahkan usapan tangan Dika lebih terasa nikmat dari rasa cumi tadi.


Aku hanya mematung dengan perlakuan Dika kepadaku. Tiba-tiba..


Bughh..


Astaga Adji melayangkan bogeman mentah kepada Dika. Apa-apaan dia ini.


"Adji berhenti..!" Suaraku bersamaan dengan suara istrinya.


''Apa yang kau lakukan. Kau tidak boleh asal pukul begini. Apa masalahmu ?'' Aku mencoba menahan rasa.


Bukannya menjawabku, Adji malah bicara dengan Dika.


''Jangan sentuh Syila di area manapun, tidak terkecuali walau hanya diujung rambut !!!'' Terlihat sekali amarah yang memuncak.


Akupun terkejut melihat Adji yang emosional seperti itu di depanku.


Dika menyeringai. Memandang remeh.


''Apa hakmu melarangku ? Kau tak sadar disebelahmu ada anak dan istrimu ? Kau malah membela wanita lain yang saat ini sedang menjadi teman kencanku. Tidak usah mencampuri urusan orang lain. Urus saja keluargamu.'' Sarkas Dika.


Adji tertegun. Sepertinya dia baru menyadari jika perbuatannya barusan sudah melewati batas. Dia dan Syila hanya masa lalu. Tapi hatinya tidak bisa melupakan Syila. Bahkan masih berharap suatu saat nanti mereka bisa bersama kembali.


"Sudah jangan berdebat.. Ayo kita pergi dari sini. Aku sudah kenyang.'' Sambungku menengahi. Sebelum dua-duanya tersulut emosi lagi.


Aku pergi mencari air hangat. Dika sudah menunggu di tenda yang tadi ia sewa.


Aku kembali dengan air hangat di botol dan juga air mineral.


Aku buka tasku. Mengambil sapu tangan yang tadi aku bawa.


Kubasahi dengan air hangat.


"Lihat aku..'' Pintaku.


Dika memutar badannya menurutiku.


"Ujung bibirnya berdarah dan mulai membiru. Apakah sakit sekali ?'' Tanyaku sembari mengompresnya.


"Tidak''

__ADS_1


''Sungguh ?? Tapi ini terlihat sangat menyakitkan.'' Pelanku menempelkan kompresku.


"Auhhhh..'' Jerit Dika. Aku terkejut dan mulai panik. Apa terlalu menekan ya.


"Maaf sakit sekali yah ?? Aku terlalu menekannya .??'' Cemasku.


"Aku akan pelan-pelan, sungguh..'' Imbuhku.


Posisi seperti ini membuat jarak terkikis. Aku sadar kami sedekat ini. Dia menatapku dalam sekali. Terasa deru nafasnya. Astaga wajahku memanas. Jantungku sudah terpompa dengan cepatnya.


Dika menyentuh tanganku yang berada di wajahnya. Menurunkannya..


"Aku baik-baik saja Syila. Malah yang terlihat tidak baik itu kau.'' Dika tersenyum.


Iya. Dika benar aku yang tidak baik dengan situasi ini.. Tubuhku menegang kala tangan Dika kini pindah posisi berada di tengkuk leherku.


Merinding seketika dengan sentuhannya. Dia semakin membuat jarak terkikis. Ahh jantungku. Sepuluh senti... Tujuh senti.. Lima senti.. dan..


"Auhhh...'' Ada bola mengenai tepat di kepala kami.


Membuat adegan seperti di drama korea tadi melebur hancur.


Dikapun seperti terkejut dengan tindakannya sendiri.


''Maaf Syila'' Ucapnya.


Akupun jadi salah tingkah sendiri. Kulihat bola tadi. Tak lama ada seorang anak kecil menghampiri.


"Maaf kak, itu bolaku..'' Kata sang anak.


''Ini. Hati-hati mainnya ya..'' Kataku.


Waras Syila waraslah...


"Sudah baikkan lukanya ?'' Tanyaku memecah kecanggungan diantara kami.


"Iya, sudah terimakasih.''


Aku menikmati pemandangan malam disini. Sungguh, walau danau ini danau buatan tangan manusia tapi ini tak kalah indahnya dengan danau alami buatan alam.


Dika menyodorkan cokelat hangat. Entah kapan dia beranjak dari duduknya aku tak menyadari itu.


"Terimakasih. Kapan kau membelinya.'' Tanyaku yang tak mendapat jawaban darinya. Akupun mendengus kesal.


"Syila..."


"Emmm..'' Aku menolehnya.


Dia lepaskan cokelat hangat yang tengah kugenggam.


Aku amati gerak geriknya. Mengenggam kedua tanganku erat, mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. Rasanya lebih hangat. Hangat sampai ke relung hati. Ehh..


Di suguhi tatapan matanya yang tajam dan dalam yang terlihat bersungguh-sungguh.


"Boleh aku meminta hadiahku yang lain ?''


Pinta Dika.

__ADS_1


"Hadiah apa ? Aku bahkan tidak menyiapkan apapun.'' Ucapku polos.


Lalu terdengar lagu Roulette - Aku Jatuh Cinta yang diputar dari salah satu ponsel muda mudi yang sedang berkencan juga.


Ahhh... mungkin mereka juga sedang berbunga-bunganya karena cinta di masa remaja.


Ku alihkan fokusku pada Dika lagi. Tanganku semakin di genggamnya erat. Lalu terdengar hembusan nafasnya.


"Syila.. Aku menyukaimu.."


Deg.. deg..


Huaa jantungku.. rasanya ingin aku keluarkan dari tempatnya lalu kuikat agar tidak melompat-lompat seperti ini. Pastikan juga wajahku pasti sudah merona.


Pria penuh pesona dan nilai plusnya orangtuaku menyukai Dika.


''Bisakah kita mempunyai hubungan lebih dari apa yang sudah kita jalin sebelumnya ?"


''Aku tahu mungkin terlalu cepat untukmu memahami semua ini. Atau mungkin dihatimu masih tersisa rasa untuk Adji. Bahkan luka batin yang belum mengering itu.''


''Setidaknya izinkan aku mencoba untuk membantu menyembuhkan lukamu, menggantinya dengan secuil kebahagiaan dengan caraku.''


Setelah mengatakan dengan tatapan yang mendalam dia lantas menundukkan kepalanya.


Mungkin menunggu jawaban dariku.


Aku masih tak percaya dengan ungkapan Dika yang mendadak seperti ini. Walau dari kemarin-kemarin dia seperti memberikan kode. Tapi nyatanya aku tak menanggapi sejauh itu.


Aku masih mematung. Tak tahu harus menjawab apa. Seperti yang Dika katakan aku masih terluka oleh seseorang yang dulu mampu mengambil hatiku lalu tiba-tiba ia hempaskan begitu saja. Dan dari kejadian itu, aku seperti tak mempercayai kata cinta dari pria lain selain Ayahku.


"Aku butuh waktu.'' Jawabku masih tak percaya dengan insiden malam ini.


"Baik, aku tunggu sampai besok sebelum aku kembali ke ibu kota. Timbangkan kembali permintaanku dengan baik-baik. Jangan menolak karena masa lalumu. Karena aku bukan masa lalumu. Aku masuk di masa yang harus kau jalani atau mungkin aku bagian dari masa depanmu." Tutur Dika.


Aku hanya mengangguk mencerna setiap kalimat yang Dika ucapkan.


Setelahnya menjadi hening. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Jantungku belum berhenti berdisco.


''Memang kau akan kembali jam berapa besok ?'' Tanyaku.


''Selesai waktu Ashar.'' Jawab Dika. Dan aku hanya ber-oh ria.


****


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, sebenarnya belum terlalu larut, hanya saja perjalanan yang akan kami tempuh lumayan lama.


Dika mengajakku menyudahi kencan malam ini. Kami pulang. Kali ini tanpa pemaksaan, tanganku, aku lingkarkan ke perut Dika. Mengingat dia tadi membawa motor di atas rata-rata. Membuatku lemas.


Sepanjang perjalanan aku melamun, tepatnya memikirkan ungkapan perasaan Dika.


**Hello readers... semoga berkenan ya.. maaf kalau masih banyak kurang dan typonya.


Jangan lupa like, koment, dan vote. Juga tambahin ke list favorite kalian.


Aku mencintai karyaku sendiri dan aku berharap kalian juga bisa mencintai karyaku yang amatiran ini.


Thank you yang udah mampir dan meninggalkan jejak**.

__ADS_1


****


__ADS_2