
Dikamar mandi, Syila tengah menggosok giginya juga bibirnya bahkan sampai sedikit berdarah.
''Pria gila, semaunya sendiri, pemaksa !! Berani-beraninya dia mengambil ciuman pertamaku. Modusnya menyuapi ! Apa-apaan dia, menyuapi dengan bibir !! Menjijikan !!'' Syila marah pada cermin didepannya.
''Ayah ini bagaimana bisa membuatku menikah dengan pria seperti itu !! Aku ingin pria seperti Ayah.'' Tanpa terasa Syila bersedih kembali. Ia langsung mandi, kepalanya sedikit pusing, dan badannya sedikit demam, namun tubuhnya juga lengket karena ia belum juga membersihkan diri dari kemarin.
Selesai dengan urusan mandi, Syila berganti baju, memakai celana kolor panjang, kaos yang besar, dan memasang bergo yang lumayan lebar juga. Dia bercermin, ''Aku ingin tahu apa menantu Ayah itu tahan dengan istri sepertiku ? Aku saja tidak tahan dengannya. Dia baru saja memaksaku Yah.'' Adu Syila seperti sedang bicara dengan Ayahnya.
Syila keluar dari kamarnya, terlihat Bibi Nuha juga orangtua Kaisar telah rapi.
Syila mendudukkan dirinya disamping Bibi Nuha, menjatuhkan kepalanya pada bahu Bibi Nuha.
''Bibi sudah rapi sekali, memangnya ingin kemana ?'' Tanyanya kemudian.
''Sayang, maafkan Bibi, Bibi semalam mendapatkan kabar, salah satu toko ada yang mengalami kebakaran karena korsleting listrik, Bibi harus memeriksanya sayang, takut ada yang menjadi korban.'' Jelas Bibi Nuha. Syila mengerucutkan bibirnya. Ingin protes, ingin melarang, namun Syila sadar Bibi Nuha juga sedang dalam keadaan urgent.
''Baiklah, Bibi hati-hati. Terimakasih sudah menemani Syila''. Jawab Syila dengan sendu.
Tidak akan ada lagi yang rela meninggalkan segala urusannya hanya untuk menemaninya sekarang.
''Jangan terlarut dalam kesedihanmu, karena itu juga akan membuat Ayah dan Ibumu bersedih disana. Kau sudah berjanji kepada mereka bukan, untuk menjadi sosok yang kuat dan dewasa. Mempunyai kehidupan yang baik dimasa depan.'' Syila membenarkan ucapan Bibi Nuha.
''Syila mengerti, Bi.''
Dari tadi Kaisar tanpa kedip memperhatikan istri barunya itu. Ia terlihat lucu dengan sifat manjanya. Kaisar tersenyum samar. Tanpa disadari, Tuan Mahendra memperhatikan putranya yang ia katakan hampir gila itu kepada alm. Herman dengan senyuman juga.
__ADS_1
Syila melirik Kaisar, tatapan mata mereka bertemu sesaat. Syila memutus kontak itu. Ia masih kesal dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Bibi Nuhapun pergi setelah taxi yang ia pesan datang. Syila kembali memeluk Bibi Nuha dengan erat. Setelah ini ia tidak tahu siapa yang bisa ia peluk lagi.
''Jangan menangis lagi ya, tersenyumlah, kau sangat cantik jika tersenyum, lihat suamimu, dia sampai tidak rela berkedip dari tadi melihatmu.'' Goda Bibi Nuha yang didengar Kaisar. Kaisar hanya mengulum senyumnya.
''Baiklah baiklah, Bibi hati-hati.'' Syila tidak ingin membahas Kaisar.
Syila masuk, masih diekori oleh Kaisar. Syila duduk diruang tamu lagi. Menyalakan TV, chanel 1, pindah chanel 2 seterusnya sampai ke chanel 1 lagi.
Kaisar hanya menemaninya tanpa suara, begini saja ia sudah senang. Senyumnya terus mengembang.
''Syila.'' Tuan Mahendra yang memanggil.
Mereka bertiga sudah duduk bersama diruangan itu, dengan Syila yang dikelilingi oleh pria asing baginya.
''Kemana Bibi ?'' Yang dimaksud adalah Ibu mertuanya sendiri.
''Dia sedang dibelakang rumah, dia sangat menyukai rumah ini, sangat asri dan sejuk.'' Jawab Tuan Mahendra.
''Oh..'' Kata Syila kemudian.
Lalu hanya terdengar suara TV yang bicara, pria-pria ini sibuk dengan pikirannya masing-masing. Syila merasa tidak nyaman, lalu ingin beranjak sebelum suara Tuan Mahendra mengurungkan niatnya.
''Aku ingin menceritakan sesuatu padamu nak.''
__ADS_1
Syilapun kembali duduk manis, ia mematikan TV, ''Ada apa Paman ?'' Tanya Syila.
''Aku dan Ayahmu adalah teman baik sedari masa SMA kami sudah mempunyai hubungan baik, apa kau tahu itu ?'' Tanya Tuan Mahendra.
Syila menggeleng, ''Ayah tidak pernah bercerita tentang masa lalunya, atau mungkin lebih tepatnya tidak mempunyai kesempatan untuk bercerita, karena dia akan lebih mengutamakan mendengar cerita-ceritaku dulu.'' Syila menunduk kembali mengingat sosok cinta pertamanya yang selalu mementingkan dirinya.
''Dia orang yang sangat baik juga cerdas, dia juga pernah ditunjuk sebagai asisten dosen sepertimu.'' Syila hanya mendengarkan.
''Sebelum menemuimu, Ayahmu sempat bercerita banyak kepadaku, begitupun aku yang begitu banyak bercerita kepadanya. Dan salah satu yang kami bahas adalah kalian. Kau dan Kaisar.''
''Ayahmu mengeluh dia sangat sedih dan khawatir karena kau menutup hatimu untuk pria lain karena seorang pria juga. Benar begitu ?'' Kaisar mengernyitkan dahinya.
''Lebih tepatnya aku tidak ingin mempercayai pria manapun Paman, karena hasilnya selalu sama, aku selalu terluka. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi. Bagiku cukup Ayah saja.'' Ucap Syila sendu, mengingat kejadian bersama Adji dan Dika yang meninggalkan luka, pria yang paling ia percaya hanya Ayahnya. Dan kini beliau juga sudah meninggalkannya.
''Ayahmu juga mempunyai kisah yang lara dalam masalah percintaan. Dia pernah ditolak oleh keluarga wanitanya karena status sosial. Dia juga pernah diduakan oleh wanita yang sudah ia kenalkan kepada orangtuanya. Dia juga pernah ditipu wanita, hanya dimanfaatkan kepintarannya dan uangnya. Namun Ayahmu tidak mau terpuruk, sampai dia menemukan Ibumu. Wanita sederhana yang sangat baik dan bersahaja.''
''Mulanya Nenek dari Ibumu sempat tidak setuju, namun karena mereka saling mencintai dan Nenek dari Ibumu tidak ingin Ibumu menjadi fitnah, ia meminta Ayahmu untuk menikahinya. Nenekmu luluh dengan kegigihan cinta Ayah dan Ibumu. Mereka menikah muda.''
''Lalu suatu saat Ibumu mengalami kecelakaan yang membuat rahimnya terluka, dia dikatakan bisa hamil dengan segala macam resiko dan kemungkinannya hanya 10%. Ayahmu sangat sedih, namun ia tidak menampilkan kesedihannya didepan Ibumu, dia bercerita padaku. Mereka pasangan yang saling melengkapi dan menguatkan.''
''Masa-masa menunggu Tuhan memberikan seorang anak, Ayah dan Ibumu bekerja membuka toko kue. Dan rejekinya sangat baik, Paman saat itu saja masih meminta kepada orangtua Paman. Hingga Ibu dan Ayahmu merasa bosan hidup dikota, ia memberikan tokonya kepada Bibimu yang saat itu sedang sulit ekonomi. Mereka membagi hasil. Ayah dan Ibumu memilih hidup disini. Dan tepat di 10 tahun pernikahan, kau lahir. Ayahmu sangat bahagia, dia melakukan syukuran besar-besaran, membagikan makanan juga sejumlah uang kepada banyak orang sebagai bentuk syukurnya.''
''Kau adalah putri yang sangat berharga, kehadiranmu sangat dinantikan. Bagaimana mungkin kau membalasnya dengan berputus asa dan terus bersedih. Paman tahu, walaupun kau hanya berdiam diri dirumah, Ayah dan Ibu pasti akan membanggakanmu. Apalagi jika kau melakukan sesuatu, mereka pasti sangat bangga lagi.'' Syila masih menunduk, apa yang dikatakan Tuan Mahendra memang benar. Syila tidak boleh diam meratapi keterpurukannya. Dia harus bangkit demi janjinya kepada mendiang orangtuanya.
''Kau anak yang cerdas, seharusnya kau mengerti apa maksudku.''
__ADS_1