
Fanya tidak mengerti dengan ucapan para pelanggannya ini dia berusaha menjelaskan.
''Nona-nona sepertinya di sini ada kesalahpahaman, yang pertama saya tidak bisa memecatnya, karena dia bosnya, yang kedua dia bukan wanita penggoda seperti yang di tuduhkan, dia sudah bersuami.''
Syila memasang sifat ponggahnya, ''Fanya, aku jadi kehilangan moodku, kau urus mereka, aku ingin pulang saja menemui suamiku, Ka-i-sar!'' dengan penekanan.
Seperti sebuah hantaman berat, kala Syila menyebut nama Kaisar yang menjadi idola bagi para wanita karier itu sebagai suaminya.
Tak lama mereka tertawa terbahak, ''Kau istri ke berapa? aku juga istrinya,'' jawab teman Laura.
''Iya, aku juga istrinya,'' jawab teman lainnya.
''Terserah,'' Syila hendak berbalik, sebelum suara bariton memanggilnya.
''Syila?!'' Kaisar mendekati istrinya. Tanpa canggung ia berikan kecupan singkat di seluruh wajahnya. Membuat Syila terkejut, kemudian tersenyum sinis melihat para lalat hijau yang hanya bisa terbengong-bengong.
Kaisar memakai kemeja dan dasi tanpa jasnya, Syila menarik dasi Kaisar mendekat ke arahnya, ia elus pipi turun ke dagu yang sedikit kasar karena di tumbuhi bulu namun menambah kesan tampan dan dewasanya.
''Suamiku, katakan dengan jujur, apa aku bukan satu-satunya istrimu? apa kau mempunyai banyak istri?'' tingkahnya membuat Kaisar terheran juga tidak tahan, Fanya juga terkejut dengan kelakuan Syila yang seperti itu.
''Apa yang kau katakan? kau satu-satunya istriku saat ini,'' masih menatap kelakuan Syila yang semakin manja dengannya di depan umum, bahkan ada beberapa pengunjung lain yang ikut menikmati drama tersebut.
Sedangkan Laura dan teman-temannya sudah kelabakan salah tingkah dan malu. Ada rasa takut, takut jika Syila mengadu lalu entah apa yang akan di lakukan oleh Kaisar.
''Tadi ada yang memberitahuku, jika aku bukan satu-satunya istrimu, juga ada yang meremehkanku saat aku berkata dengan jujur tentang apa status kita,'' puppy eyes ia keluarkan, terasa sok teraniaya, niat Syila hanya ingin memberi pelajaran saja. Tidak tahunya Kaisar langsung menatap para pengunjung kafe Syila dengan garang dan dingin, seperti musuh.
'Eh dia akan marahkah? akukan hanya menggoda untuk memberi pelajaran saja, tidak bermaksud membuat duda ini marah.'
''Tunjukkan mana yang mengatakannya, aku pastikan, besok ia kehilangan penghasilannya!'' mata elang Kaisar keluar, sudah seperti ingin menerkam saja.
Laura dan teman-temannya sudah ketakutan, dia memang di idolakan karena gagah, tampan, dan mapan, sisi buruknya banyak yang tidak tahu, siapapun yang mengganggu miliknya maka sama saja seperti mengumpankan dirinya kepada singa lapar.
''Eh, tidak perlu repot-repot, ayo ke ruanganku saja, kau pasti lelah,'' menahan dada Kaisar yang sudah ingin maju menerkam Laura dan teman-temannya.
Kaisar sejenak berhenti memperhatikan Syilanya lagi, lalu menurut, mereka berjalan begitu mesra, tangan Kaisar berada di pinggang Syila, merapatkan tubuh mereka.
Fanya masih tersenyum melihat mereka dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1
''Bagaimana? apa ada yang mau di pesan?'' pertanyaan Fanya membuyarkan lamunan semuanya.
Mereka memesan, Laura menggertakkan giginya, kenapa jadi begini? Syila benar-benar istri Kaisar, dia kira hanya bualan sematan. Kenapa dia selalu beruntung.
Di dalam ruangan, Kaisar tak juga melepaskan Syila, ''Kai, lepas! sudah cukup dramanya.''
''Aku tidak peduli, kau sangat manis jika bersikap seperti tadi, aku suka,'' kata Kaisar.
''Aku hanya ingin memberikan pelajaran dengan mereka, kau malah benar-benar akan menerkamnya, terpaksa harus kusudahi,'' Syila menjelaskan.
''Tadi, bukannya istri mantanmu ya? apa yang ia perbuat kepadamu?'' tanya Kaisar.
''Iya. Dia tidak menyukaiku! tunggu disini aku ambilkan minuman dan makanan untukmu,'' Syila hendak pergi, sebelum tangannya di tahan.
Kaisar memeluknya dari belakang, mengusap perut rata Syila, ''Aku boleh meminta sesuatu?''
''Apa?'' perasaan Syila sudah tidak tenang.
''Bolehkah ada kehidupan disini?'' masih memainkan tangannya di perut Syila.
''Kau tahu kan, aku mempunyai dua luka, yang pertama ditinggal istri, dan aku mendapatkanmu, yang kedua ditinggal anak, aku masih menginginkannya,'' suaranya berubah sendu.
''Kai...,'' Syila merubah posisinya jadi menghadap Kaisar.
''Biarkan saja kau berpikir aku pria egois, setelah merebut semuanya darimu, aku masih meminta sesuatu yang akan merubah hidupmu juga. Aku hanya mencintaimu, Syila. Jika bukan denganmu aku harus menaruh harapanku kepada siapa?'' potong Kaisar, wajahnya berubah seperti marmut.
''Kai, itu bukan kehendak kita, harapan boleh, tapi semua tetap Tuhan yang mengatur, bukan?'' jawab Syila.
''Iya aku sudah memohon kepadaNya, sekarang aku memohon kepadamu,'' Syila tidak tahu harus berkata apa.
Hamil? dia bahkan tidak ada pemikiran ke arah sana. Namun dia juga seorang istri, sudah seharusnya memberikan keturunan untuk suaminya. Tiba-tiba ia teringat kondisi Ayah dan Ibunya. Mereka bisa mengandung dalam waktu penantian 10 tahunan, walaupun itu karena kecelakaan. Bagaimana dengan dirinya kelak?
''Kita serahkan saja kepada Tuhan,'' pasrah Syila.
''Ayo!'' Kaisar sudah kembali ke wajah liciknya.
''Ayo kemana?'' tanya Syila.
__ADS_1
''Bukankah ada doa juga ada usaha? kita sudah berdoa, sekarang tinggal usahanya,'' Kaisar menggiring Syila pada meja kerja Syila. Ia mengangkatnya dan ia dudukan disana. Tangannya mulai menyibak rok yang digunakan Syila.
''Kai!!!!!!!'' teriak Syila, lalu ia mendorongnya.
''Selain gila ternyata kau duda mesum juga. Ini di tempat kerja, lagi pula ulahmu masih menyisakan rasa sakit. Aku menolak!! aku tidak mau!!'' lantang Syila.
''Kau berdosa, sudah menolak keinginan suami,'' kembali ke wajah marmutnya.
''Kau juga berdosa, sudah menganiaya istrinya,'' tak gentar Syila membalas Kaisar.
''Hahaha baiklah-baiklah, aku minta maaf, berdekatan denganmu membuatku susah mengendalikan diri, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat besok, kau mau?'' tanya Kaisar.
Syila memicingkan mata, ia curiga, ''Jangan bilang ke kamar hotel yang lainnya lagi?'' tuduh Syila.
''Aku tidak mau!" belum apa-apa sudah menolak.
"Heii, kau yang mesum, tapi sepertinya ide yang bagus juga,'' Kaisar mendapat tatapan tajam dari Syila.
''Hehe, aku merindukan anak-anak panti, aku ingin kesana,'' jelas Kaisar.
''Baiklah.''
Setelahnya mereka memutuskan untuk pulang. Pulang ke rumah Kaisar.
Di jalan, Syila seperti melihat sosok pria yang ia kenal, Adji. Tapi ia tepis, karena yang ia lihat lebih seperti gelandangan. Dengan memegang botol minuman dan berpakaian amburadul.
'Seharusnya dia sudah bahagia bersama keluarganya,' Syila.
''Kau memikirkan sesuatu?'' tanya Kaisar.
''Ehh tidak, hanya aku ingin membawa banyak kue untuk besok,'' Syila tersenyum.
Kiasar mengusap ujung kepala Syila, ''Jangan memikirkan apapun, untuk buah tangan Lewis sudah menyiapkannya,'' kata Kaisar.
***
Pria yang Syila lihat tadi memang benar Adji. Dia tertawa sesekali meneguk minumannya, setelahnya dia menangis sesedu, seperti orang kehilangan semuanya.
__ADS_1