Karma Cinta

Karma Cinta
Bakso


__ADS_3

Acara pertunangan malam ini lancar.


Saat ini Syila sedang di kamarnya. Melihat jarinya yang tersemat cincin pemberian dari Dika.


Dia tak menyangka jika secepat ini dia akan menjadi tunangan orang.


Senyum dibibirnya masih terlihat. Tak dipungkiri bahagia teramat sangat yang dia rasakan sekarang ini. Pujaan hati memperjelas hubungan, orangtua memberi restu, tentu itu membahagiakan.


Apalagi keluarga Dika yang welcome terhadap Syila. Seperti Ayah dan Ibu Syila yang menerima Dika.


Sengaja dia foto jari yang terpasang cincin lalu dia send ke group WA 'in the geng'. Dengan caption 'pemberian dari pangeran tak berkuda'.


Lalu dia senyapkan ponselnya mencoba untuk tidur.


***


Syila terbangun dengan napas yang berderu dan keringat yang membanjiri pelipisnya. Bahkan airmatanya mengalir membasahi pipi.


Mimpi apa tadi. Sungguh mengerikan. Syila berlari menuju kamar mandi lalu membasuh wajahnya.


Masih teringat jelas mimpinya tadi. Kecelakaan tragis penuh darah yang membuatnya begitu terluka dan bersedih. Bahkan menangis hingga histeris. Dan disana ada seorang pria yang selalu disampingnya namun Syila tidak mengenalinya.


Syila menuju dapur untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa sangat kering, kebetulan Ibu juga pergi ke dapur.


''Ibu belum tidur ?''


''Ibu haus nak, tadi lupa tidak membawa air minum. Kau sendiri ?''


''Sama Bu.'' Jawab Syila sekenanya.


''Sayang ada apa ? Kenapa Ibu lihat wajahmu sedikit pucat ?''


''Tidak apa-apa Bu, tadi hanya bermimpi buruk, emm.. Bu.. Bolehkah Syila ikut tidur dengan Ayah dan Ibu malam ini ?'' Pinta Syila.


''Yaa sudah ayo, minum dulu.''


Ketika memasuki kamar Ibu, Ayah nampak terkejut karena melihat putrinya ikut masuk.


''Emm aku mengganggu ya Yah ?''


''Tidak, kemarilah.'' Titah Ayah.


''Ada apa, hm ? Kau bermimpi buruk lagi ?'' Tebak Ayah pas sasaran. Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Dengan merangkak naik ranjang aku mengambil posisi ditengah. Berbaring dengan menatap kedua orangtuaku secara bergantian.


Ayah membelai kepalaku dengan sayang. Dan Ibu melingkarkan tangannya diperutku sesekali menciumiku.


''Yah.. tadi aku bermimpi menyaksikan sebuah kecelakaan tragis penuh darah. Dan entah mengapa aku berperan seolah-olah aku yang ditinggalkan oleh korbannya. Sampai tak terasa aku menagis sungguhan.'' Keluhku kepada Ayah dan Ibu hanya mendengarkan.


''Itu hanya mimpi. Tidak akan terjadi apapun.'' Ayah mencoba menenangkanku.

__ADS_1


''Pejamkan matamu sayang, Ayah dan Ibu disampingmu. Kami tidak akan kemana-mana. Sampai esok kau terjaga kembali. Jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu susah dan sedih.'' Ucap Ibu.


Syila hanya diam dan mencoba untuk memejamkan matanya kembali. Kecupan singkat dipipi kanan kirinya dari Ayah dan Ibu sebagai penawar kegelisahan serta pengantar tidurnya malam ini. Membuat istirahatnya begitu tenang.


***


Syila menggeliat karena belaian diwajahnya yang nampak mengganggu tidur pulasnya.


Perlahan dia membuka matanya. Ada Ayah yang tersenyum lembut.


''Bangun Putri Tidur. Ini sudah siang. Ada pangeran yang sedang menunggumu.'' Ucap Ayah.


''Oh ya ? Apa dia berkuda putih atau dia membawa kereta kencana ?''


''Itu hanya ada dibuku dogeng sayang.''


''Sudah cepatlah bangun, ada Dika sedang menunggumu dari tadi.'' Kata Ayah.


''Memang ini jam berapa sih. Pagi-pagi buta sudah berkunjung.'' Kesal Syila.


''Siapa yang buta ? Ini sudah hampir masuk jam makan siang.. jam 10.'' Jawab Ayah dengan santainya.


''Ohh jam 10. Masih pagi Yah.'' Dengan membenarkan posisi tidurnya, mencari posisi yang nyaman, Syila memejamkan matanya kembali. Kemudian..


''Apa...!!! Kenapa baru bilang Yah.''


Syila langsung loncat menuju kamarnya. Menyelesaikan segala ritualnya.


Syilapun keluar dengan tampilan yang lebih fresh. Lalu menuju dapur terlebih dahulu. Menghampiri Ibu yang sedang beres-beres, selesai dengan aktifitas dapurnya. Memberi kecupan singkat dan membawa segelas susu kunyit yang sudah ada diatas meja.


Syila langsung mendaratkan bokongnya di sofa depan Dika.


''10.45.. anak gadis baru selesai mandi. Ck ck ck ?'' Sembari geleng-geleng kepala.


Yang disindir hanya nyengir kuda.


''Ayah dimana ?'' Tanya Syila.


''Ada di halaman. Ada orang yang meminta bibit tanaman.''


''Syila, aku nanti sore akan kembali ke ibu kota.''


''Lalu ?'' Tanya Syila cuek sembari meminum susu kunyitnya tadi.


''Tidak ada. Hanya memberitahu saja. Bisakah kita pergi sebentar ?''


''Kemana ?''


''Hanya makan siang. Aku ingin bakso yang pedas.'' Jawab Dika.


''Baiklah.''

__ADS_1


***


Disinilah mereka. Di kedai bakso segala macam jenis dan rasa.


Dika memesan dua porsi. Syila menyamai pesanan Dika. Tidak tahu saja dia apa yang Dika pesan. Bakso jumbo dengan isian bakso kecil-kecil juga ada daging serta sambal dan cabai utuhan.


''Kau kenapa Syila ?'' Saat melihat peluh membasahi dahi dan mata yang berair.


''Huaa pedas sekali. Kau tak memberitahuku jika isinya sambal semua. Aku memakannya tanpa melihat isinya.'' Sibuk mencari pereda pedas.


Dika mengrenyit bingung, pikir Dika, Syila juga menyukai pedas. Karena dia memesan pesanan yang sama ketika tadi ditawari.


Wajah Syila sudah memerah. Matanya menangis. Dika jadi merasa bersalah.


''Lain kali lihat dulu menunya, jika tidak tahu kau bisa bertanya. Mengapa bisa kau makan tapi tidak tahu apa yang kau makan. Seharusnyakan kau melihatnya. Kecuali jika matamu itu sedang mengagumi ketampananku. Aku bisa mengerti jika begitu.'' Kata Dika panjang lebar, yang ujung-ujungnya hanya menggodanya.


Wajah Syila tambah memerah, kali ini bukan karena pedas. Tapi malu karena yang dikatakan Dika itu benar.


Sedari tadi Syila mengamati wajah Dika, bagaimana mungkin Tuhan menciptakan makhluk hampir sempurna secara fisik seperti itu.


Bahkan saat sedang kepedasan begitu, dia masih saja tampan.


''Cihh.. bahasamu itu terlalu tinggi. Mana mungkin aku mengamati wajahmu.'' Bohong Syila.


Dika menyeringai.


''Matamu tidak bisa bohong, sayang.'' Kata Dika sembari menatap wajah Syila yang tetap ayu itu.


Berdebar, hanya mendapat panggilan seperti itu dari Dika. Jantung Syila berdebar dua kali lebih kencang.


Dia menundukkan pandangannya.


''Jangan lihat aku seperti itu. Dan jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu juga.''


''Kenapa ?? Aku tunanganmu. Dimana salahnya, hanya memanggilmu 'sayang' ?'' Protes Dika.


''Yang salah ada disini.'' Syila menunjukkan dadanya, bagian tubuhnya yang salah, karena mendapat respon berlebih menurutnya.


''Kau mau membuatku sesak nafas atau apa ?'' Kata Syila lagi.


Dika semakin menjadi mendapat jawaban begitu.


''Benarkah ? Aku malah tidak tahu. Bagaimana rasanya. Apa perlu aku obati ?'' Goda Dika. Dia sudah berpindah tempat, duduk disisi Syila.


''Coba sini aku periksa.'' Goda Dika lagi.


Mata Syila sudah membola.


''Berani macam-macam aku masukkan bakso cabai ini kedalam mulutmu sekaligus !!'' Ancam Syila. Dia sudah siap dengan bakso yang ditusuk dengan garpu.


Dika menatapnya dalam dengan bibir tersenyum. Lalu diraih tangannya. Dia kecup singkat masih dengan tatapan pada mata Syila. Lalu menggigit bakso yang ada ditangan Syila.

__ADS_1


Hal itu tentu menambahkan sensasi yang Syila rasakan sebelumnya.


__ADS_2