
Percakapan selesai, setelah Rana menyampaikan jika putranya akan mengadakan acara ulang tahun yang ke 6 tahun dan sebagai hadiahnya ia ingin Kaisar sebagai pamannya datang. Ia menginginkan acara ulang tahunnya dengan tema Super Herro.
***
Kaisar mengamati Syila yang baru saja keluar dari kamar mandi, namun sudah lengkap dengan baju dan hijabnya. Dia sedang bercermin membenarkan kembali penampilannya.
''Syila!'' Panggil Kiasar.
'Mengapa atmosfir berubah menjadi tidak nyaman, aku merasa cara memanggil Kaisar menyiratkan suatu makna.'
Kaisar juga sudah rapi dengan baju kerjanya, hanya tinggal dasi.
''Ada apa?'' Syila menoleh pada suaminya.
''Pasangkan dasiku!'' Titahnya.
''Biasanya?'' Syila kembali bertanya, seperti nada protes namun ia tetap berjalan menuju suaminya berada.
Kaisar berdiri sedikit menunduk agar Syila dapat menjangkau kerah kemejanya. Dalam diam Syila membuat simpul dasi.
''Mengapa tatapanmu kepada Rana berbeda dengan tatapanmu kepadaku? Kau menyukainya?'' Tanya Kaisar tiba-tiba.
'Apa sih, tatapan yang bagaimana coba, Kakaknya hanya terlihat lebih keren saja.' Syila mengulum senyum kala teringat wajah kakak iparnya. Bukan, Syila bukan suka dalam arti jatuh cinta. Namun hanya sekedar kagum saja. Sudah seperti fans terhadap idolanya.
Karena tidak mendapat jawaban, Kaisar mengangkat dagu Syila dengan telunjuknya. Tatapan mereka bertemu, ada pancaran cemburu dari Kaisar yang tidak sampai dibaca oleh Syila.
''Jawab aku!'' Tegas Kaisar, membuat Syila terheran.
''Memangnya tatapan yang bagaimana, Kai? Aku kira sama saja.'' Jawab Syila.
''Matamu berbinar kala bicara dengannya, dengan senyum yang manis tanpa di buat-buat.'' Jelas Kaisar.
Syila selesai dengan tugas dari suaminya, ''Lalu, jika denganmu bagaimana?''
''Seperti tatapan kepada musuhnya, dingin dan tajam. Seperti saat ini.'' Kaisar kembali melepas dasi yang sudah rapi itu, membawa tangan Syila untuk kembali memasangnya.
'Dia ini benar gila!'
''Kau sedang mengumpatku?'' Melihat wajah yang mulai kesal.
''Kai, ini masih pagi, kau sudah mengajakku berdebat saja.'' Syila memasangkan dasi dengan sengaja ia kencangkan pada leher Kaisar.
__ADS_1
''Dan kau sudah mau mencoba membunuh suamimu sendiri sepagi ini?'' Ucap Kaisar yang merasa lehernya tercekik.
''Iya, malah jika tidak berdosa rasanya aku ingin mengulitimu, meremasmu, menjadikanmu makanan tikus.'' Samar-samar Syila bicara, dengan membenahi dasi yang terlalu mencekik suaminya tadi.
''Kau bicara apa? Katakan dengan keras!''
Syila melebarkan senyumannya, merapikan dasi, kemeja dan jas, menepuk kedua bahu suaminya, ''Sudah, tampan!'' Ucap Syila spontan.
''Katakan sekali lagi!'' Syila gelagapan, mulutnya bicara apa tadi, pasti suaminya sekarang menjadi besar kepala.
'Cih.. Wajahnya sudah berubah menjadi marmut lagi, hanya di bilang tampan. Tapi memang dia ini tampan. Hai hati.. jangan macam-macam, aku tuanmu, patuhlah!' Syila bermonolog sendiri dalam batinnya.
Syila hendak pergi, tidak ingin membalas pertanyaan suaminya tadi. Namun tangan Kaisar terlanjur mendarat di pinggang Syila. Membawanya mendekat dengan tubuh tegap suaminya.
''Kai! Aku harus berangkat, toko dan kafe pasti sangat sibuk hari ini, aku ada pesanan membuat wedding cake.'' Mengingat hari pertama buka dan produksi.
''Kau ada pegawai, mengapa harus repot-repot?'' Kaisar masih betah dengan posisinya memeluk Syila.
'Aku bahkan tidak rela melihatmu keluar dari kamar, entahlah, hari ini kau terlihat semakin manis.' Kaisar.
''Bukankah kau juga banyak pekerjaan, jika tidak salah baca, Lewis mengirimkan pesan jadwal meetingmu, tadi pagi.'' Syila tidak sengaja membuka pesan Lewis di ponsel khusus kerja yang ia pegang tadi, ponsel itu tidak di beri pengaman.
''Ck.. Kenapa harus kau ingatkan, aku tidak ingin mengingat pekerjaanku hari ini.'' Pekerjaan yang menumpuk, mungkin akan membuatnya pulang malam hari ini.
''Baik-baik, aku akan melepaskanmu, beri aku ciuman dulu. Pekerjaanku hari ini sangat banyak, dan kemungkinan aku akan pulang larut, aku butuh penyemangat.'' Kaisar sudah mencondongkan tubuhnya, menunggu pergerakan dari Syila yang terasa sangat lamban.
'Pandai sekali! Tapi jika tidak dituruti, bisa lebih panjang lagi drama kamar ini.' Syila.
Syila memajukan wajahnya, cup, pipi kanan. Kiasar menunjuk pipi kirinya, cup, kecupan mendarat lagi. Lalu menunjuk dahi, kedua mata, hidung, dagu dan bibirnya.
''Banyak sekali!'' Protes Syila.
''Karena protes, lakukan dua kali lagi. Jika protes lagi, di kali dua lagi, jika tidak mau, kita akan tetap di posisi ini sampai dua jam nanti.'' Dengan santainya, Kaisar memejamkan matanya dengan senyum yang mengembang.
''Duda gila!"
Setelah mengatakan itu, Syila melakukan apa yang di pinta Kaisar, tangannya berada di bahu Kaisar, ciuman terakhir di bibir, Kaisar yang memimpin, tahulah apa artinya.
Artinya bukan hanya sekedar ciuman singkat, ciuman yang sampai membuat stok oksigen menipis.
''Manis.'' Ucap Kaisar terkekeh seraya mengelap bibirnya sendiri, melepas Syila dan berlalu dari kamarnya.
__ADS_1
Syila mematung di tempat, mengatur napasnya yang terengah-engah.
''Duda gila!!'' Ucap Syila sedikit keras dengan napas naik turun.
''Aku mendengarmu sayang!'' Teriak Kaisar menjawab umpatan Syila.
***
Makan pagi selesai, hanya mereka berdua. Syila di antar Kaisar menuju tempat kerjanya.
Syila langsung menuju ruangannya, menyimpan barangnya di sana, dan pergi menuju dapur.
''Pagi semua.'' Sapa Syila. Syila melihat para pegawainya sudah sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Fanya kini juga bekerja dengan Syila, ia yang memegang kendali jika Syila tidak ada.
''Pagi Kak.'' Begitu panggilan para pegawainya untuk Syila.
''Fanya wedding cake untuk kapan?''
''Besok, jam 09.00 akan di ambil oleh pemesannya.'' Jelas Fanya.
''Cake-nya tinggal menghias saja, urusan itu, aku serahkan padamu. Oh iya, ini, pemesan menginginkan namanya di ukir di cakenya.'' Lanjut Fanya lagi dengan menyerahkan secarik kertas yang terlipat kepada Syila.
Syila sudah siap dengan alat tempurnya, di ruangan khusus, karena dia butuh konsentrasi.
Hias kue selesai, tinggal mengukir nama.
Happy Wedding Dika Vishaka & Laura Yunanda.
Piping bag terjatuh, Syila terkejut.
'Dika memesan kue disini?'
Syila menghalau rasa sakit yang kembali datang. Tidak boleh begini terus menerus. Syila seorang istri saat ini. Mengikhlaskan mungkin obat terakhir.
Pesanan selesai. Syila melanjutkan pekerjaan pekerja yang lainnya, ikut melayani, ikut turun tangan membuat pesanan. Kafe masih ramai pendatang, karena seminggu ini, ia masih mengadakan diskon juga bonus makanan tertentu.
Jam pulang datang, Syila menutup tokonya jam delapan malam. Sedangkan kafenya tutup sepuluh malam.
Syila pulang sesuai toko kuenya. Dan Fanya sesuai kafenya.
Ada pesan dari Kaisar dia pulang malam, dan tidak bisa menjemput. Akhirnya Syila pulang dengan vespanya yang kemarin terbengkalai di parkiran kafenya.
__ADS_1
Syila pergi mencari sebuah hadiah. Setelah berkeliling, hadiah yang ia pilih adalah couple jam tangan mewah.
Syila menatap sendu kepada jam tangan itu. Terlihat cantik dan serasi. Lalu Syila pulang, membersihkan diri dan istirahat.