Karma Cinta

Karma Cinta
Pussy Style


__ADS_3

Syila mengalungkan tangannya di leher Kaisar, menariknya mendekat, lalu mencium singkat bibir Kaisar yang sedari tadi merajuk.


“Lakukan, aku milikmu,'' bisik Syila membuat aliran darah Kaisar berdesir.


“Baiklah, ayo kita coba style pussy,” seringai terbit di wajah rupawan itu.


“Apa itu?” tanya Syila yang memang tidak mengerti.


Kaisar bangkit dari tubuh Syila, melepas pakaiannya dengan menjelaskan, “Orang-orang menamainya gaya anjing, tapi aku lebih suka dengan sebutan pussy, pussy itu nama kucing, jadi gaya kucing. Kau tinggal menikmati dengan gaya memunggungiku, tentunya dengan mendes*h,” Syila yang ikut bangkit dari tidurnya langsung mendapat serangan dari Kaisar.


Melancarkan aksinya, dari berciuman sampai menjamah tubuh mungil sang istri dan tangan lainnya mulai melucuti pakaian Syila.


Hingga keduanya polos, Syila duduk bersimpuh di depan Kaisar, dan Kaisar duduk menyilangkan kakinya. Dalam keadaan memeluk, Kaisar gencar memberi sentuhannya.


Mereka saling menatap, “Kau tahu, gaya yang akan kita praktikkan ini salah satu gaya yang di rekomendasikan oleh dokter jika kita sedang dalam proses menunggu kehamilan. Katanya dengan gaya ini, benihku akan lebih sempurna masuk ke indung telurmu. Sampai tanpa permisi langsung berbuah di sana,” jelas Kaisar dengan sesekali menggigit kecil daging lembut di hadapannya.


“Kau banyak bicara, telingaku malu mendengarnya, tapi tubuhku tidak sabar mempraktikkannya,” sahut Syila menantang.


Kaisar senang, ia mengarahkan sesuai pelajaran yang sudah di sampaikan untuk praktik. Mulanya terasa aneh untuk Syila, namun Kaisar mampu membuatnya nyaman, sampai di suatu titik pelepasan. Kepuasan akan hasrat yang membara sudah tersalurkan, kini hanya doa yang mampu di panjatkan. Semoga lekas di beri sebuah kehidupan.


Napas Syila terengah, ia membalikkan tubuh yang tadi tengkurap, “Kau benar-benar duda gila!”


Kaisar terkekeh melihat istrinya berekspresi seperti itu, benar-benar seperti kucing, yang imut, menggemaskan, apa lagi dengan teriakannya yang tertahan tadi.


“Itu ilmu sayang, aku menggila hanya denganmu, apa lagi jika sudah berdua di kamar begini. Lebih banyak khilafnya,” Kaisar merengkuh tubuh istrinya yang masih basah oleh keringat.


“Ralat bukan khilaf tapi memang doyan,” lanjutnya lagi. Syila masih mengatur pernapasannya.


Malam yang indah bagi dua insan yang selesai memadu kasih. Sesha yang di tugaskan untuk memanggil adik iparnya langsung mengurungkan niat, ketika tangannya sudah hampir mengetuk pintu, namun telinganya mendengar teriakan tertahan dari Syila, ia langsung berbalik arah sambil mengulum senyum malunya. Pikirannya sudah traveling ia jadi menginginkannya. Dan akan ia pinta kepada Rana nanti.


“Di mana adikmu?” tanya Ibu Lulu.


“Sedang proses pembuatan, Bu,” jawab Sesha merona karena langsung mendapat tatapan aneh dari suaminya.


“Pembuatan apa Mom?” Sesha lupa di sana ada Jeje yang sedang menikmati sopnya namun telinganya mendengarkan ucapan para orang tua.


“Emm, sudah habiskan makananmu, dan kerjakan tugasmu,” alih Sesha dengan gelagapan.

__ADS_1


.


.


.


Di sebuah kamar apartemen, Doni sedang menikmati malam di balkon. Ia memandangi cincin di jari manisnya. Lalu ia teringat dengan Syila.


‘Aku memang sering merindukannya, tidak lebih tepatnya merindukan senyumnya. Aku bahkan sangat takut jika dia masih menjadi pemilik hatiku. Itu pasti akan sangat menyakitkan untuk wanita yang sedang menungguku kembali dengan cinta yang utuh. Tapi saat kejadian tadi aku menyadari, aku kembali dengan rasa yang berbeda, bukan lagi dengan rasa berdebar atau rasa tak rela ketika melihat matanya yang berbinar untuk pria lain. Syila memang indah, seperti pelangi, penuh warna menghiasi, namun hanya untuk di nikmati tanpa bisa di gapai, apa lagi di miliki. Dia hanya sebagai warna indah yang datang lalu pergi. Menyisakan sebuah kenangan.’


Buyar lamunan Doni saat ponsel di saku celananya berdering, bertulis be mine. Ia tersenyum, mendial tombol hijau dan tersambung.


Video call.


“Apa kau sudah sangat merindukanku?” goda Doni pada wanita di seberang sana.


“Apa itu perlu jawaban?” jawaban seberang sana dengan senyum malu-malu.


“Bersabarlah, sebentar lagi aku pulang.”


“Aku setia dengan penantian itu,” balas si wanita.


.


.


.


Kaisar mendapat kabar dari Lewis, jika 3 hari setelah hari ini ingin mengambil cuti panjang, ia mendapat kabar jika ayah mertuanya mengalami kecelakaan. Istrinya begitu drop. Mulanya Kaisar keberatan dengan pengajuan cuti Lewis yang begitu lama. Namun sesaat ia mengingat bagaimana Syila yang kehilangan sosok Ayahnya membuat Kaisar berlembut hati.


“Pergilah, lusa aku akan kembali. Rawat Ayah mertuamu sampai sembuh dan peluk istrimu di waktu terpuruknya,”


ucap Kaisar membuat Lewis menduga-duga sendiri.


Lewis terdiam sesaat, ada yang ingin ia tanyakan tapi ia urungkan.


“Apa? tak usah khawatir, kau masihku gaji, jasamu begitu besar untukku dan perusahaan.”

__ADS_1


Percakapan singkat itu ternyata di dengar oleh Syila.


“Kita pulang lusa?” tanyanya seakan tidak rela.


“Kau masih ingin di sini?” tanya balik Kaisar.


“Sebenarnya, hanya jika suamiku pergi aku akan ikut dengannya.”


Jawaban yang membuat Kaisar begitu berharga. Ia tak menyangka jika Syila akan berubah sedrastis ini setelah kebencian yang terpupuk begitu subur.


“Aku lapar, ternyata kita melewatkan makan malam,” sambung Syila.


“Iya pertempuran yang menguras tenaga, kita bersihkan tubuh dulu, baru makan.”


Syila setuju.


Perjalanan ke ruang makan melewati ruang keluarga. Masih ada Jeje yang sibuk bermain legonya. Membongkar pasang menjadikannya sebuah bentuk yang ia inginkan, tentu dengan arahan dari Rana. Sedangkan Sesha sudah masuk kamar.


“Ronde ke dua sepertinya akan lebih menguras tenagamu Syila, jadi makanlah yang banyak!”


‘Apa sih bikin malu saja.’


Tidak ingin menjawab, Syila mendahului Kaisar yang tampak ingin membalas Rana.


“Hei, jangan menggoda istriku, goda saja istrimu!” bisik Kaisar. Rana hanya terkekeh.


Syila memanaskan kembali makanan yang masih tersedia. Mungkin memang sengaja di sisakan untuk mereka. Jeje menghampiri.


“Bibi, memang Bibi sedang membuat apa?”


“Kau mau? Bibi sedang memanaskan sop dan menggoreng ayam,” jawab Syila.


“Bukan yang ini, tapi tadi ketika jam makan malam kalian tidak turun. Mom bilang kalian sedang proses pembuatan?” tanyanya begitu lugu. Anak ini begitu tinggi rasa ingin tahunya. Syila bingung ingin menjawab apa. Rana yang menyusul hanya tersenyum.


Kaisar menghampiri, “Kau ini ingin tahu sekali. Kita akan membahasnya nanti bersama Dad-mu juga. Sekarang jangan banyak bicara dan tidur. Sudah jam 10 lebih,” ia usap rambut Jeje.


“Paman jangan lakukan itu, aku pria dewasa!”

__ADS_1


Kaisar langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi, “Tidak lagi Bung.”


Syila hanya tertawa melihatnya.


__ADS_2