Karma Cinta

Karma Cinta
Menikahlah


__ADS_3

Kupelankan langkah kakiku, tak ingin mengganggu istirahat Ayah dan Ibu. Namun percuma karena ternyata mereka memang sedang menungguku. Mata mereka awas menatapku, senyuman yang tulus walau terlihat seperti dipaksa, mungkin hal itu menyakitkan, karena wajahnya penuh dengan luka-luka. Aku tak ingin menangis, namun sayangnya air mataku tak punya rem, begitu mudahnya keluar lagi dan lagi. Dan dibelakangku ada pria yang baru saja menutup pintu, Kaisar.


Terdengar jelas suara monitor pendeteksi tubuh Ayah dan Ibu, selang infus tertancap pada tangan-tangan manusia terhebatku. Bau disinfektan begitu menusuk indra penciumanku. Aku yakin Ayah tidak nyaman dengan bau ini. Ayah anti obat setahuku.


Pikirku mungkin Ayah akan marah dan menuntut Kaisar, memintai pertanggungjawabannya. Dan aku yang ditunjuk untuk mengurusnya. Atau sebuah ganti rugi yang besar.


Kutatap Ibu, mata sayunya seperti enggan untuk terbuka, kepalanya diperban, itu pasti sangat sakit.


''Bu..'' Aku tatap wajah bidadariku dengan penuh kasih, wajah yang terus tersenyum dan bertutur lembut, masih terlihat ayu walau usia tak lagi muda. Aku meraih tangannya yang sedikit terulur, aku arahkan ke bibirku, ku kecupi tangan yang selalu membuatkanku makanan enak, menyentuhku dengan sayang. Bahkan hanya dengan kedua tangan ini, Ibu bisa mengurusku, rumah, pesanan orang, sekaligus Ayah dalam waktu bersamaan. Aku teringat, Ibu adalah orang yang anti terluka, jika melihat luka sedikit saja Ibu pasti akan berlari menuju kotak P3K, lalu dengan gesit Ibu berubah seperti dokter. Dengan telaten membersihkan lalu mengobati. Lalu bagaimana dengan luka yang Ibu dapatkan ditubuhnya ini.


''Kau sangat cantik dengan hijabmu dan baju togamu. Ibu bahagia sekali.'' Ucapnya tertatih namun masih terdengar ditelingaku sangat jelas. Aku sengaja memakai baju togaku dengan lengkap, ingin memperlihatkan hari ini putri manjanya telah bereinkarnasi manjadi wanita yang membanggakan.


''Kau bahagia hari ini sayang ?'' Ucapnya sangat lembut dan lemah. Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat walau kenyataannya aku sangat sedih.


''Jika bahagia jangan menangis, tidak cocok dengan bajumu.'' Kudongakkan kepalaku ke atas, segera kuhapus air mata dipipiku, walau lagi dan lagi terus menerobos keluar. Kububuhi dengan senyum lebarku.


Aku ingin memeluk Ibu seperti biasanya namun aku takut membuatnya sakit.


''Arsyila..'' Ayah memanggilku. Aku memejamkan mata, tersapu sudah air mataku, menguatkan hati dan ragaku, priaku, cinta pertamaku, pelindungku tak kalah menyedihkan keadaannya dengan bidadariku.


''Putri manja Ayah sangat cantik.'' Ucapnya dengan tertatih.


''Apa lagi jika tidak menangis.'' Kuhentikan tangisku sebisa mungkin.


''Sini.. peluk Ayah sebentar saja.'' Pintanya semakin membuatku ingin menangis.

__ADS_1


''Mengapa hanya sebentar Yah, bahkan aku ingin pelukan ini yang lama sekali.'' Aku berhambur memeluknya dengan pelan dan hati-hati sekali. Ayah melebarkan senyumannya.


''Jangan bersedih apalagi menangisi Ayah seperti ini, karena itu akan membuat Ayah juga bersedih.'' Aku mengangguk paham.


''Ayah sangat bangga padamu, dengan hijab yang menutupi rambut indahmu, bayi Ayah yang dulu sering mengompol kini sudah menjadi sesosok wanita dewasa.'' Aku tertawa dengan candaan Ayah walau pipiku terus basah.


''Sayang, jangan menyimpan dendam dihatimu ya. Jangan menyalahkan siapapun atas kejadian ini. Ini sudah menjadi takdirNya.'' Seolah mengerti bahwa aku tengah kesal kepada pria yang masih mematung di sisi ranjang. Seperti menyaksikan drama saja.


''Tidak akan Yah.'' Ucapku kepada Ayah.


''Ayah cepatlah pulih dengan Ibu juga, aku ingin menunjukkan sesuatu.'' Kuambil ponselku, kuperlihatkan bangunan yang sudah siap beroperasi. Tinggal meresmikannya saja.


''Ini tokoku juga akan ada kafe disana. Ayah tahu, selama ini aku juga bekerja, memodali usaha yang kurintis dari nol dan dari jerih payahku sendiri tanpa merusak uang yang Ayah kirimkan.'' Ingin membanggakan Ayah dan Ibu.


''Lihat putrimu ini berhasil dengan cita-citanya kan, aku dinobatkan menjadi miss cum laude hari ini. Otak dangkal yang selalu Ayah cemooh dulu kini menjadi otak genius. Ayah tak ingin memberikan selamat untukku.'' Dengan wajah yang dibuat merajuk.


''Selamat sayang, kau kebanggaan kami. Tanpa menjadi miss cum laude atau menjadi seorang bos, kau tetap kebanggaan kami. Tentu kami ingin merayakan dan meresmikannya bersamamu.'' 'Jika umur kami masih panjang.' Ayah tersenyum.


''Jika begitu cepatlah sembuh, dan bangun dari tempat tidur jelek ini.'' Hardik Syila.


''Syila mampu membelikan tempat tidur yang jauh lebih bagus dari ini !'' Sombong Syila yang membuat Ayah juga Ibunya terhibur.


Ruangan mereka memang menjadi satu, agar saling menguatkan dan itu permintaan Ayah.


''Sayang.. Bolehkah Ayah dan Ibu meminta satu permintaan ?'' Tanya Ayah.

__ADS_1


''Kenapa hanya satu ? Bahkan seribu permintaan akan Syila lakukan untuk kalian, asal kalian cepat sembuh.'' Lagi-lagi Ayah dan Ibu tersenyum.


''Itu terlalu serakah sayang, hanya satu saja dan kami harap kau mengabulkan permintaan kami ini.'' Mohon Ayah.


''Katakan Yah, apapun itu Syila akan berikan.'' Janjiku.


''Kau sudah menyanggupi.'' Sedikit memberi jeda. Ayah menatap Kaisar. Aku mengikuti arah matanya. Ada apa, Ayah ingin menjebloskannya ke penjarakah, aku bahkan ingin mengulitinya saat ini juga.


''Menikahlah dengan Kaisar.'' Ucap Ayah dengan yakin. Syila langsung manatap Ayahnya tak percaya.


''Apa ? Ayah salah bicarakan ?'' Namun gelengan Ayah memberi penjelasan jika ia benar memintanya untuk menikah.


Syila mulai protes, ''Mengapa harus menikah Yah, apalagi dengan pria ceroboh ini. Syila pernah mengatakan bahwa Syila tidak ingin menikah, tidak ingin mempunyai hubungan dengan pria lagi selain Ayah. Permintaannya di ganti saja ya.'' Bujuk Syila.


''Sayang dengarkan Ayah baik-baik. Ayah tidak takut menghadapi kematian, Ayah tidak apa-apa dengan semua rasa sakit yang ada ditubuh Ayah, satu yang Ayah takutkan, Ayah takut saat waktu Ayah habis dan terpaksa meninggalkanmu kau masih sendiri dan tidak punya seseorang yang dapat melindungimu juga menyayangimu.''


''Memangnya siapa yang akan meninggalkan siapa ? Tidak ada yang akan berubah diantara kita. Syila tidak mau menikah.'' Bahkan aku baru lulus, dan sudah harus menikah dengan pria ini. Tidak mau. Permintaan Ayah dan Ibu memang hanya satu. Tapi itu sama saja meminta seluruh hidupku.


Tiba-tiba Ayah seperti kesulitan bernafas, ia merasa sesak didadanya dan Ibu entah sejak kapan, matanya terlihat terpejam.


Aku panik, tangisku menjadi, pria tadi sudah berlari keluar memanggil dokter.


''Ayah, Ibu ada apa dengan kalian, bertahanlah, kalian tidak kuizinkan untuk meninggalkanku. Kumohon bertahanlah demi diriku !" Aku menangis sejadi-jadinya. Perasaan takut menyelimutiku. Aku tak pernah menyangka jika akan terjadi peristiwa seperti ini.


Saat karier dan pendidikanku bagus dan semua ada digenggaman tanganku, genggaman bersama orang tercintaku malah harus terlepas.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2