
Sementara ditempat lain, Dika mencoba menghubungi Ayahnya. Dia ceritakan semuanya, niat untuk bertunangan dengan putri Bapak Herman. Tentu Ayahnya banyak sedikit mengenal Pak Herman. Turut bahagia namun disayangkan tidak bisa pulang. Lantaran acaranya terlalu mendadak. Cutinyapun sulit diminta.
Jadi, hanya diserahkan kepada sanak saudaranya.
Dika benar-benar serius ingin memperjelas hubungannya dengan Syila. Dirasa selain cinta yang sudah mulai membuncah lalu bersemi, nyatanya ada alasan lain yang mendorongnya ingin cepat menikahi Syila.
''Apa ? Kau tidak menghamili anak gadis orang kan ?'' Selidik Bibi Li. Namanya Liyana. Hanya Dika lebih suka memanggilnya Li. Itu lebih mudah dan keren katanya. Bibi Li adalah keluarga yang paling dekat dengan Dika.
Dika baru saja bercerita jika dia habis melamar anak gadis orang.
''Bi.. aku belum selesai bercerita. Dengarkanlah dulu.'' Kesal Dika yang ceritanya sudah terpotong dan diberikan pendapat semaunya.
''Aku melamarnya memang mendadak, tapi bukan karena aku menghamilinya. Kita saja pacaran jarak jauh. Bagaimana dia bisa kuhamili.'' Geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan argumen Bibi Li.
Bibi Li hanya ber oh ria.
''Lalu bagaimana ?'' Tanyanya kembali.
''Bagaimana apanya. Aku disuruh menunggu paling lama satu tahun lagi. Ayahnya meminta setidaknya agar Syila bisa beradaptasi dengan kehidupan di kota.'' Jawab Dika.
''Memangnya kenapa begitu ?'' Tanya Bibi Li lagi.
Lalu Dikapun menceritakan semuanya. Bibi Li mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
''Kau ini seperti tidak ada wanita dewasa lainnya saja. Mengajak nikah bocah belasan tahun begitu. Jelas orangtuanya meminta waktu. Putrinya pasti masih ingin bercita-cita.'' Jawab Bibi Li memberikan pendapatnya.
''Aku tahu. Meskipun dia ingin melanjutkan sekolahnya atau bekerja atau hanya berdiam diri diranjangpun aku tidak masalah. Yang penting menikahinya. Bibi tahu tidak. Dia gadis yang sangat manis. Aku merasa seperti aku akan menikahi adikku sendiri.'' Dika tertawa geli saat membayangkan dirinya menikahi Syila yang masih berusia 18 tahun.
Bibi Li menyelidik dari bawah hingga atas. Diulangnya beberapa kali.
''Ada apa Bi ? Kau membuatku takut.'' Tanya Dika yang melihat kelakuan Bibinya.
''Kau ini tulus ingin menikahinya karena cinta, atau sudah kebelet pingin bercinta ?'' Ucap Bibi Li secara gamblang. Membuat Dika salah tingkah dengan wajah memerah menahan malu.
Sontak Bibi Li tertawa dengan kerasnya melihat ekspresi Dika seperti itu. Tanpa aba-aba Dika memasukkan jeruk yang sudah dikupasnya tadi kedalam mulut Bibi Li.
''Jangan tertawa seperti itu Bi, ini sudah malam. Kau membuat malam ini semakin mengerikan dengan tertawamu itu.'' Ucap Dika membuat mata Bibi Li membola sempurna.
''Jadi bagaimana Bi, maukan membantuku mempersiapkan acara pertunangan ini. Aku mohon. Ayah tidak bisa hadir, karena acara ini terlalu mendadak.'' Dika memohon.
''Baiklah, karena kau memohon seperti itu.'' Jawab Bibi Li yang membuat Dika senang.
***
__ADS_1
Keesokkan harinya di kediaman Bibi Li sangat sibuk menyiapkan ini itu untuk dibawa ke rumah Syila.
''Halo. Syila persiapkan dirimu malam nanti ya. Aku datang dengan keluarga Bibiku.'' Kata Dika lewat telepon.
''Malam ini ?? Kau bercanda ?'' Tanya Syila terkejut.
''Mana bisa bercanda. Ini sungguhan.'' Jawab Dika.
Syila panik, dia berlari mencari Ayah dan Ibunya.
''Yah.. Bu..!!'' Teriak Syila.
Ibu berlari dari arah dapur masih membawa ulekkan. Ayahpun menyembul dari halaman rumah belakang masih membawa gunting rumput.
''Ada apa ?'' Jawab mereka kompak.
Bukannya langsung menjawab, Syila malah tertawa, sadar dengan kelakuannya yang membuat kedua orangtuanya berekspresi seperti saat ini.
Muach.. muachh..
Kecupan singkat di pipi Ayah dan Ibu secara bergantian. Membuat dua orang paruh baya itu saling melirik bingung.
''Aku mencintai kalian.'' Ucap Syila.
Ayah hanya geleng-geleng kepala. Ketika Ayah dan Ibunya hendak putar arah. Syila berkata,
''Yah.. Bu.. nanti malam Dika dan keluarganya mau ke rumah kita.''
''Aku deg deg an.'' Imbuhnya.
Ayah dan Ibupun mengurungkan niatnya untuk pergi.
''Mau apa ?'' Tanya Ayah.
'Ck.. Ayah ini lupa atau pura-pura lupa sih'. Batin Syila
''Untuk membuktikan ucapannya kepada Ayah dan Ibu donk. Apa lagi memang.'' Jawabku.
''Dia sungguh mau mengikatmu dengan pertunangan ?'' Ibu bertanya.
Aku menganggukkan kepalaku.
''Yah, Bu tidak ada yang bisa menggantikan kalian dihatiku, walaupun itu nanti suamiku sendiri. Kalian tetap mempunyai tempat teristimewa dihatiku. Aku bahagia dengan perasaanku untuk Dika. Namun bahagiaku ini tidak akan sempurna jika Ayah dan Ibu tidak ikut berbahagia. Atau tanpa restu kalian.'' Tutur Syila dengan menggenggam tangan kedua orangtuanya.
__ADS_1
''Heii.. bagaimana mungkin kami tidak bahagia melihat putri kami bahagia. Kebahagiaanmu prioritas kami sayang. Jangan bicara seperti itu. Hanya saja kau perlu mempersiapkan dirimu. Kau harus belajar kuat dan mandiri untukmu sendiri.'' Ayah mewakili Ibu.
''Restu kami selalu bersamamu sayang. Doa kami selalu yang terbaik untukmu.'' Kali ini Ibu yang angkat bicara.
Syila memeluk kedua orangtuanya dengan deraian air mata.
''Kau hanya akan bertunangan, nak. Mengapa kau menangis. Harusnya kau bahagia.'' Ayah mencoba menyudahi drama keluarga pagi ini.
''Ayah.. Aku bahagia sekali. Apa lagi mempunyai kalian.'' Jawab Syila.
''Sudahlah, Ayah benci drama keluarga seperti ini. Apa lagi ini masih pagi. Nanti Ayah ikut menangis bagaimana ?'' Canda Ayah.
Syilapun tertawa.
Kemudian semua kembali sibuk dengan aktifitas yang tertunda tadi. Syila membantu Ibu untuk membuat jamuan nanti malam.
****
Malamnya..
Tepatnya setelah selesai Isya'. Rombongan Dika dan keluarganyapun datang. Dengan menggunakan baju batik yang entah mengapa membuat Dika semakin tampan. Apalagi wajahnya yang berseri.
Sedangkan Syila menyambut kedatangan keluarga Dika dengan Ayah dan Ibunya. Dia mengenakan stelan kebaya simple berwarna kuning keemasan pemberian dari Ibunya. Menambah kesan dewasa.
Dengan sedikit polesan diwajahnya.
Dika melihatnya tanpa kedip. Benar-benar penampilan yang sangat berbeda. Jika nanti sudah menjadi istrinya, Dika akan menyuruhnya berdandan jika di dalam kamar saja. Sedangkan jika di luar, biarkan polosan seperti biasanya.
''Awas kelilipan gajah !!'' Sarkas Bibi Li yang melihat keponakkannya itu sedang terpesona.
''Mana bisa, Bi ?'' Jawab Dika.
Membuat keluarga yang mendengarnya tertawa. Hubungan antara Bibi Li dan Dika memang seperti hubungan pertemanan yang konyol. Suami Bibi Li kemarin sedang keluar kota. Pagi tadi baru pulang dan sekarang ikut mengantarkan Dika. Begitupun putri Bibi Li yang pulang dari magangnya, karena mendengar kabar Dika mau bertunangan.
''Ini calonnya Dika ?'' Tanya Tania putri Bibi Li, saat berjabat tangan dengan Syila.
Syila hanya tersenyum canggung dengan berkata iya.
''Dengar, Dika itu dulunya playboy. Kau harus berhati-hati dengannya termasuk semua rayuan mautnya.'' Setengah berbisik kepada Syila.
''Jangan mempengaruhinya dengan hal-hal negatif Tania. Kau urus sendiri urusanmu.'' Kesal Dika yang hanya mendapat cebikkan dari Tania.
''Jangan dengarkan Tania. Mulutnya memang suka usil.'' Kata Dika kepada Syila.
__ADS_1