
''Aku tak mau kau berpaling dariku. Apa lagi dengan perhatianmu selama ini untukku. Aku merasa sedikit di pedulikan. Dan itu membuatku senang.'' Menunduk dalam. Akupun tak mengerti mengapa kalimat seperti itu yang meluncur.
''Aku mengerti, jadi setidaknya kau memberiku kesempatan bukan ?'' Pastinya kembali.
''Aku rasa begitu.'' Jawabku.
''Kau juga meragukanku ?'' Tanya Dika.
Aku hanya diam. Tidak ingin menjawab.
Terdengar helaan nafas.
''Baiklah berikan aku waktu, aku buktikan aku tidak seperti pria brengsek itu. Aku beda darinya, Syila.'' Aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa ingin menjawab.
***
Disinilah kami berada, dalam satu taksi. Dika tadi menghampiriku meminta izin kepada orangtuaku, bahwa dia ingin aku mengantarnya ke bandara.
''Jaga diri baik-baik. Teruntuk hatimu. Dan jangan dekat-dekat dengan pria lain apa lagi sampai bersentuhan. Sedikitpun tidak boleh.'' Titah Dika.
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
Diapun lepas landas menuju ibu kota. Secuil hatiku ikut terbang bersamanya.
Walaupun masih jauh dari kata menikah, aku tetap berharap dia pria yang berkomitmen dan tanggung jawab.
...****************...
Pov Dika
Aku Dika Vishaka. Mulanya aku hanya iseng membuka akun sosial mediaku. Kemudian tanpa sengaja aku melihat akun Syila. Aku tertarik lalu mulai mencari tahu tentangnya. Ternyata dia sepupu temanku dan dulu aku juga sering berkunjung ke rumahnya. Hanya saja dulu aku tak pernah melihatnya.
Aku mengenal baik orangtuanya. Orangtua yang bersahaja menurutku. Dia anak tunggal.
Semua serba di manjakan oleh Ayah Herman.
Mulanya hanya ingin tahu saja. Ingin sekedar berkenalan. Lama-lama rasa itu tumbuh membuncah begitu saja tanpa permisi di hatiku.
Aku mencoba mendekatkan diri kepada Ayah Herman. Kukulik bagaimanapun caranya agar bisa mendapatkan info tentang putrinya itu.
__ADS_1
Ahh ternyata mereka masih mengingatku. Apa lagi Ibu, dia bahkan sudah berjanji akan membuatkanku kue.
Orangtuaku tinggallah Ayah. Dia pergi ke Kalimantan untuk bisnisnya.
Jadi anggap saja aku sebatang kara. Saudarapun jauh-jauh. Jadi bersama keluarga Syila hatiku menghangat. Aku disambut dengan baik.
Tepat di hari ulang tahunku, aku pulang menemuinya. Ini untuk pertama kalinya aku bertemu secara langsung.
Dia keluar sekolahnya mencari keberadaanku, lalu menghampiriku. Kuamati lamat-lamat, ternyata aslinya lebih terlihat manis dan lucu.
Awalnya dia terlihat kaku, malu, dan mungkin terpesona denganku. Aku melihat lewat pancaran matanya yang berbinar.
Ini sejarah dalam hidupku mendekati wanita yang anggap saja masih anak-anak. Biasanya aku lebih tergoda dengan wanita dewasa.
Aku membuat permintaan dia harus mau menemaniku selama aku disana. Dia menyanggupinya.
Aku benar datang ke rumahnya. Meminta izin kepada Ayah Herman untuk mengajak anak gadisnya pergi.
Ketika sampai di halaman rumahnya kulihat Syila sedang asyik menyirami tanaman dengan bersenandung riang. Mungkin dia terlalu fokus dengan kegiatannya hingga ia tak menyadari kehadiranku. Baru ingin kusapa, dia berbalik dan... ah... basah sudah pakaianku. Aku menikmati wajah paniknya yang menurutku menambahkan nilai cantiknya.
Iya dia begitu panik, tangan mungilnya mengelap-elap area dadaku. Membuat desiran hatiku menjadi. Tadinya aku ingin mencegahnya karena kulihat tangannya yang penuh tanah. Tapi aku tak di beri kesempatan bicara. Yaa sudah aku nikmati saja. Lagi pula aku membawa baju cadangan.
Seperti dugaanku, Ayah tidak akan langsung mengiyakan permohonanku, Ayah memberiku tugas berkebun dan membereskan halaman rumahnya yang lumayan luas ini.
Tapi tak apa, ternyata ada Syila yang sedikit memberikan perhatiannya.
Membuatku menghangat.
Setelah selesai semua, Ayah menyuruhku membersihkan diri. Izin sudah aku kantongi, dengan segala nasehat dan larangannya.
Aku maklumi itu, bentuk cinta Ayah kepada putrinya. Pria pertama yang akan posesif kepada putrinya.
Aku melihat Syila dengan pakaian yang sangat sederhana tapi malah memberikan kesan natural dan ayu.
Hanya dengan melihat kulit lehernya yang terpampang jelas saja sudah membuat desiran darahku memanas.
Aku menyuruhnya turun lagi dari motorku. Dia nampak kesal. Lalu aku lepas ikat rambutnya nembiarkan tergerai menutupi area yang sekejap membuatku menegang.
Motor aku jalankan dengan kecepatan di bawah rata-rata. Syila tak mau berpegangan dan aku juga ingin menikmati momen ini.
__ADS_1
Lalu dia komplain tentang caraku berkendara yang menurutnya lama.
Tanpa permisi aku tarik kedua tangannya, aku masukkan kedalam saku, agar tidak terlalu dingin, lalu kutancap gas. Dia semakin mengeratkan tangannya. Siall.. membuat darahku memanas lagi.
***
Sampai di tempat tujuan Syila turun dengan lemasnya. Kuperhatikan wajahnya sedikit memucat. Astaga apa aku berlebihan ya.
Dengan permintaan maaf serta beberapa bujukan dia kembali bersemangat.
Kami berjalan berdua saling diam berperang dalam batin masing-masing.
Ketika kulihat tatapannya nampak kesal dengan pengunjung lain yang melihatku dengan tatapan kagum, aku senang bukan main. Lalu kutautkan tangan kami agar dia yakin untuk saat itu aku miliknya.
Menikmati danau di sore yang cerah.. semakin malam semakin indah bersama dia.
Aku foto Syila dengan gaya candidnya. Dia paling indah gumamku.
Aku tak menyangka malam itu aku akan bertemu mantan Syila. Bahkan dia memberi bogem mentah di wajahku. Aku tak apa, dengan begitu Syila memberikan perhatiannya kepadaku.
Dia mengobati sudut bibirku yang pecah. Tidak terlalu sakit tapi biarlah. Dengan jarak yang dekat aku mampu melihat dia khawatir. Dia semakin mamukau dengan ekspresi begitu. Apa lagi bibirnya. Sungguh menggoda. Aku tak yakin dia belum pernah berciuman. Pria normal yang melihat dengan baik wajah ayu Syila pasti akan tergoda.
Dan entah apa yang ada di otakku, tanganku bergerak memindahkan tangan Syila dari wajahku. Dan tanganku kini berpindah di lehernya. Semakin maju semakin terkikis jarak. Aku seperti terhipnotis.
Syila tak memberi respon apa-apa selain syok. Dan kesadaranku kembali ketika ada bola mendarat di kepalaku. Hampir saja. Aku mencicipi rasa bibir itu.
Bola sialan. Tapi di sisi lain aku juga bersyukur dengan hal itu. Karena aku hampir saja berbuat diluar batas kendaliku.
Kecanggunganpun terjadi. Aku juga merasa tidak enak dengan Syila. Hampir saja aku melampaui batasanku.
Hingga kuberanikan diri untuk mengungkapakan apa yang kurasa. Aku tak berharap banyak, setidaknya perasaanku tak terpendam sendiri.
Aku tahu dengan keadaan Syila yang mungkin sulit melupakan kecewa dan sakit hatinya. Aku ingin merubahnya menjadi kebahagiaan.
Aku tak mampu melihat ekspresinya kala itu. Dia hanya menjawab bahwa dia membutuhkan waktu.
Keesokkan harinya sewaktu aku bertamu. Selain untuk mengambil kue yang di janjikan Ibu Syila, aku juga menagih jawaban dari Syila.
Dia ingin menjalani ini semua dulu. Aku mengartikannya dia setuju dengan perasaanku. Walau terlihat sepercik keraguan.
__ADS_1
Aku tak memungkiri hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri untukku. Aku berharap semua akan berjalan dengan baik.
Pov Dika End