Karma Cinta

Karma Cinta
Berkunjung


__ADS_3

"Untuk hari ini cukup makan saja. Ayo aku antar pulang." Ajaknya.


"Emm." Jawabku seraya menganggukkan kepala.


Aku tak mengerti mengapa jantungku seheboh ini. Berdekatan dengan Dika membuatku hampir tidak waras.


Dia diam-diam curi-curi pandang melalui kaca spion. Kali ini dia melupakan maskernya. Jadi terlihat melalui kaca spion dengan jelas ketika dia tersenyum.


***


Sampailah di depan teras rumah. Ada Ayah juga Ibu sedang duduk-duduk santai. Dika ikut turun dari motornya.


"Kenapa kau ikut turun. Pulang sana.. Bukannya hari ini cukup makan siang saja." Usirku tak menerima tamu.


"Heii sekedar menyapa orangtuamu saja."


Diapun melaluiku. Mendahuluiku. Menyalami orangtuaku. Tersenyum ramah kepada mereka. Nampak orangtuaku pun menyambut hangat kedatangan Dika.


"Syila kemari..! Mengapa hanya berdiri disana ?" Titah Sang Ratu.


Akupun berjalan menuju mereka. Sedangkan Ibu langsung masuk ke dalam.


"Syila, Dika ini teman dari sepupumu Arief. Dulu juga suka mampir kemari jika dia sedang berkunjung ke rumah Arief." Ayah bercerita.


"Ahh iya.. Lantaran Ibu selalu membuat kue yang lezat. Arief dan aku tak mau melewatkannya dengan percuma. Hehehe." Sambung Dika.


Apa dia memanggil "Ibu" ?? Sudah seakrab itukah mereka ? Aku tak percaya. Adji saja hanya memanggil om dan tante. Percuma saja donk aku mengharuskan dia meminta izin kepada orangtuaku. Pasti Ayah Ibu mengizinkannya.


Lihat, Ibu datang membawa kopi dan kue. Yaa ampun.. Sungguh aku tak percaya akan seperti ini kejadiannya. Pantas saja dia tadi menjawab enteng sekali permintaanku.


"Ini kebetulan Ibu tadi selesai membuat kue. Dimakan ya nak, itu resep baru loh." Sembari menyodorkan beberapa toples kaca kepada Dika.


Uhh manis sekali pemandangan ini. Semacam mertua menyambut kedatangan menantu kesayangan saja.


Aku manyun. Karena kehadiranku diabaikan. Ayah semangat sekali bercerita dengan Dika. Dan Ibu nampak gembira pula.


"Syila masuk Yah, Bu." Pamitku.


"Selesai ganti baju kemari ya nak." Titah Sang Raja yang ini.


"Ok"


****


Disisi lain ada rasa kagum juga. Dika pintar merebut hati orangtuaku. Dia bisa mengimbangi obrolan dari Ayah dan Ibu. Tidak ada canggung-canggungnya.


Aku selesai, dengan mengenakan celana kolor panjang juga kaos yang kegedean rambut aku cepol asal. Aku keluar langsung mendaratkan bokongku di tengah-tengah Ayah dan Ibu. Di seberangku tepat berhadapan dengan Dika.


Ahh.. Sial..


Salah ambil posisi. Seharusnya bukan disini. Gerutuku.


Tiba-tiba ponsel Ayah berdering. Ayah mengangkat telepon sebentar lalu pamit mau pergi ada urusan.


Lalu Ibu juga pamit mau mengantar pesanan kue untuk seserahan lamaran tetangga.

__ADS_1


Loh.. loh..


Tinggallah aku dengan Dika disini.


Suasana tiba-tiba canggung untukku.


Dia menatapku.


"Apa ?!"


Dia hanya tersenyum.


Menatapku penuh arti. Aduhh tak tahan ditatap seperti itu.


"Ya sudah aku pulang ya. Besok aku kembali. Tidak enak bertamu dengan anak gadis yang sedang ditinggal sendirian di rumah." Dika pamit setelah membuatku salah tingkah.


"Iya". Setelah mengatakan itu aku langsung masuk rumah. Persetan dengan tamu yang belum pergi itu. Dadaku benar-benar berdebar.


Perasaan waktu dengan Adji tidak parah seperti ini.


***


Keesok harinya. Pukul 9 pagi aku sedang menyiram tanaman membantu Ayah menata tanaman halaman rumah. Dengan telinga yang kupasang earphone. Mendengarkan lagu SELAMAT PAGI dari RAN. Berpose seolah-olah aku sedang konser. Iya konser dengan tanaman. Tadinya dengan Ayah, lalu Ayah pergi aku meneruskannya dengan tanaman. Sedang asyik-asyiknya putar badan dan... aaa....


Yaa ampun aku menyiram orang. Aku terkejut bukan main. Dan ternyata itu Dika.


Aku lepas earphoneku dan mematikam kran air segera.


"Maaf maaf. Sungguh tidak sengaja. Aku tidak tahu kau datang dan berdiri dibelakangku." Aku meminta maaf dengan panik mengusap-usap jaket Dika tepat di dadanya, agar airnya tidak merembas lebih banyak. Yang nyatanya malah aku mengotori jaketnya. Kupandang tanganku dengan mengenaskan. Masih ada sisa tanah dan pupuk organik.


"Maafff... sungguh aku minta maaf.." Mundur beberapa langkah menyadari jarak kita terlalu dekat.


"Kenapa berhenti ? Teruskan saja sampai tanganmu bersih." Sindir Dika.


"Baiklah buka jaketmu biar kucuci dulu." Dia menurut.


"Ehh.. sudah datang nak ? Loh kenapa jaketnya ?" Ayah tiba-tiba datang.


"Tidak apa-apa Yah.. Tadi kesiram air sedikit saja kok." Potongku sebelum Dika membongkar semuanya.


"Syila...." Ayah teriak aku mulai mengeluarkan jutsuku. Bukan hanya Naruto yang mempunyai jutsu. Akupun punya, jutsu langkah seribu kaki. Astaghfirullah. Aku ini. Hehehe


"Kata Ayah juga apa jangan pasang earphone dengan volume yang tinggi. Ada motor masuk saja kau tak mendengarnya." Sambung Ayah kembali.


"Maaf Yah... tidak sengaja sungguh." Kupamerkan jari telunjuk dan jari tengahku berbentuk huruf V kepada mereka berdua.


***


Setelah membereskan urusan jaket. Akupun pergi ke dapur membuatkan Ayah kopi juga Dika. Tadi Ayah yang memintanya.


"Ayah, aku kemari ingin meminta izin untuk meminjam anak gadis Ayah ini. Sudah lama tidak keliling di kampung halaman. Kalau keliling sendiri sepertinya kurang seru. Sedangkan teman-temanku sudah banyak yang sibuk dengan keluarga baru mereka. Bolehkan Yah ?" Basa basi Dika.


Jangan Yah jangan di izinkan. Aku tak mau. Takut jantungku keluar dari tempatnya.


Kulihat Ayah nampak menyeringai. Wahh ada maunya ini bapak-bapak.

__ADS_1


"Boleh saja, setelah bantu Ayah mengecat pagar dan memindahkan pot-pot itu." Dengan alis naik turun.


Pot-pot yang dimaksud adalah pot-pot berukuran jumbo. Hahahaa dikerjain dulukan.


"Baik." Jawab Dika santai.


Dan akhirnya merekapun gotong royong merapikan halaman rumahku.


Kulihat pelipisnya penuh dengan keringat. Kasihan juga.


"Ini.." Kusodorkan beberapa lembar tissue.


"Terimakasih.." Jawabnya.


"Ayahmu masih sama ya seperti dulu. Kalau sudah berurusan dengan tanaman paling super. Tempat semini apapun bisa dia ubah menjadi taman atau kebun." Sambungnya.


"Iya. Itu hobby Ayah."


"Kalau hobbymu ?" Tanya Dika.


"Mengacaukannya." Hahaha sontak aku tertawa dengan jawabanku sendiri.


Dika mengelus puncak kepalaku. Membuatku bungkam dan menoleh ke arahnya.


"Lucu sekali sih. Ternyata aslinya lebih manis daripada diponsel. Apalagi dengan gaya yang seperti ini." Seloroh Dika.


Membuatku blushing seketika. Huh dasar wanita. Digoda seperti itu saja sudah melambung rasanya. Kurutuki diriku sendiri.


Ayah benar-benar membuat Dika kelelahan. Ada saja yang diminta. Sampai-sampai waktu sudah sore.


Dika meminta izin untuk membersihkan tubuhnya. Akupun begitu. Ibu baru saja pulang dari acara masak-masak di rumah tetangga.


Aku keluar. Kutemui Dika dia sudah berganti pakaian berbeda dari yang tadi.


"Kau bawa baju ganti kemari ?" Tanyaku.


"Aku sudah menduga akan tidak baik-baik saja dengan penampilanku, jika sudah bertemu Ayah dipagi hari." Jawabnya enteng.


"Seniat itu ?"


"Apa ?" Dika balas bertanya.


" Seniat itu mau mengajakku pergi. Sampai persiapan bajupun tidak terlewat. Heii lalu untuk apa aku mencuci jaketmu buru-buru." Tersadar aku kini tengah membawa jaket yang sudah aku setrika sekalian.


"Ingat kau yang menawarkan bukan aku yang memintanya." Dia menggodaku.


Siall... umpatku dalam hati.


**Hello readers... semoga berkenan ya.. maaf kalau masih banyak kurang dan typonya.


Jangan lupa like, koment, dan vote. Juga tambahin ke list favorite kalian.


Aku mencintai karyaku sendiri dan aku berharap kalian juga bisa mencintai karyaku yang amatiran ini.


Thank you yang udah mampir dan meninggalkan jejak**.

__ADS_1


__ADS_2