
Anggota kepolisian yang mengendarai mobil Kaisar dan Lewis, membawanya ke area jauh dari penduduk. Jika di kalangan masyarakat mereka khawatir akan ada korban lainnya.
Mereka sudah menyiapkan pasukan yang menyamar menjadi masyarakat biasa dan lengkap dengan persenjataan mereka.
"Sial, mangsa mau kemana sebenarnya? mengapa berkelok-kelok, apa mereka menyadari kehadiran kita?" tanya penjahat satu kepada penjahat yang lainnya.
"Entahlah, ikuti saja dari jarak jauh," jawab penjahat lainnya.
Sampai mobil berhenti, nampak pedagang asongan mengetuk kaca mobil para pembunuh bayaran tersebut. Walau diacuhkan namun dia tetap memaksa. Sampai jengah, pintu mobilpun terbuka sembari pembunuh bayaran tersebut keluar.
"Kau mengusikku, kau mau mencari mati, hah?!" katanya dengan mencengkeram kerah baju pedagang asongan tersebut.
Pedagang asongan memberi isyarat melalui matanya, sang pembunuh sedikit curiga, karena ekspresinya yang tenang, sampai beberapa orang mendekati mobil mereka.
"Jangan bergerak, kalian sudah dikepung!" kata penjual asongan tersebut sembari menodongkan pistolnya.
Tentu mereka terkejut, kalah cepat langkah mereka dalam mengambil senjata. Sedangkan pembunuh bayaran yang masih di dalam mobil sudah ingin tancap gas melarikan diri. Dengan gesit anggota kepolisian menembaki semua ban mobil penjahat itu.
"Sial ini jebakan!! mereka semua membawa senjata," umpatnya.
Tak lama teman Lewis keluar, dengan membawa borgol, ketika di amati lagi ternyata mereka ini adalah buronan kepolisian.
Saat ada celah sedikit sang pembunuh bayaran yang ditodong pistol mampu membalikkan posisi, jadi sekarang ia yang sedang menodongkan pistol tepat di kepala penjual asongan tadi.
"Mundur, atau aku tembak teman kalian ini!" ucapnya mengamati orang-orang yang mengepung.
Dengan kode mata, perlahan semua menuruti, tapi masih dalam mode siaga tingkat tinggi.
Pembunuh bayaran tersebut menaiki mobil Kaisar, ketika mencoba menyalakan mesin mobil ternyata tidak bisa, bahan bakar habis.
"Damn it!!!" senjata penjahat itu ada di dalam mobil mereka tadi, yang ada di sakunya hanya sebilah pisau.
Teman Lewis dan yang lain mendekat dengan senyum mengejek, "Ups aku lupa mengatakan jika aku berhenti disini karena kehabisan bahan bakar," ekspresi bersalah yang munafik.
Salah satu pembunuh bayaran menodongkan pistol yang tadi dia rebut dari pedagang asongan, "Mundur, atauu
aku akan menembak kepalamu!!" gertaknya.
Bukannya mundur, pedagang itu malah semakin maju, seringai licik pun terbit.
'Apa ini? apa dia tidak sayang nyawanya? baiklah,' pembunuh bayaran tadi.
__ADS_1
Pistol ia posisikan tepat ke kepala lawannya, menekan pelatuk dan.., klik, klik, klik.
"Keparat!" pistolnya kosong tanpa peluru.
"Kau mau mencoba yang ini?" todongnya kembali tepat di kepala sang pembunuh bayaran.
"Pilihlah, suka rela ikut kami, atau dengan paksaan?" timbrung teman Lewis.
Dengan gerakan cepat sang pembunuh menggerakkan tangannya mengambil pisau dari balik tangan yang satunya, lalu ia layangkan tepat mengenai tangan yang menodong pistol tadi, pistol terjatuh, baru sempat ingin mengambilnya sebelum suara tembakan terdengar.
Dor dor dor
"Akkhhh!" lengkingan dari pembunuh bayaran tadi, menandakan tebakan dari kepolisian tepat sasaran.
Tembakan dari petugas polisi yang lain mengenai kaki, tangan, dan bahu. Tidak ada kesempatan untuk melawan lagi. Temannya sudah teringkus.
"Nampaknya kali ini kau kurang cerdas dalam menyiasati pergerakan dari kepolisian," mereka pun di ringkus tanpa bisa melawan, dari segi senjata kurang siap dan dari jumlah mereka kalah.
****
Di dalam mobil yang sedang melaju, Kaisar duduk di sebelah Lewis yang menyetir, ia membaca pesan dari Syila, 'Bertahan sayang, aku sedang di jalan menjemputmu!'
"Kepribadian ganda apa begitu berbahaya?" tanyanya kepada Lewis.
"Kau membuatku semakin khawatir!"
****
Setelah beberapa jam di kurung tanpa ponselnya, ada yang membukakan pintu juga, hati Syila was-was, berharap bukan Adnan.
"Nona makanlah dulu," anak buah Adnan.
"Aku tidak mau, aku curiga kalian memberinya racun," kata Syila.
Anak buah Adnan tidak mengatakan apapun, ia berlalu. Tak lama kemudian Adnan masuk dengan keringat membasahi tubuhnya. Syila langsung turun dari ranjang.
''Kau harus makan, jika tidak bagaimana kau akan mempunyai tenaga untuk mendesah nantinya," dengan mengambil nampan berisi makanan, Adnan mendekat.
"Aku tidak mau makan," tolak Syila.
Adnan mencoba untuk menyuapi Syila, dengan kasar Syila menampiknya, sampai semua makanan tumpah. Adnan kembali emosi.
__ADS_1
"Baiklah, jika kau ingin mati sekarangpun aku tidak masalah, sepertinya kita harus barmain-main sekarang sebelum suamimu kemari," kata Adnan.
"Bukankah kau sudah memberi tahu suami tuamu itu jika kau sedang bersamaku?" sambungnya lagi.
Srett... sebilah pisau lipat sudah dalam genggaman Adnan, "Kau membuat moodku buruk, suamimu sudah lepas dari para pembunuh itu, sepertinya aku harus ke rencana B, yaitu membunuhmu," tatapan yang langsung menghunus Syila.
Syila mencoba kabur, tapi satu-satunya jalan hanya jendela balkon yang begitu tinggi.
Adnan berhasil menangkap Syila, ia dudukkan di sofa lalu mencengkram wajah Syila dengan kuat-kuat, "Aku ingin bermain-main dulu, jangan buru-buru untuk menjemput maut, hahaha!"
"Bagaimana jika wajah ayumu ini aku buat sedikit garis-garis abstrak, aku rasa itu adalah seni yang bagus, atau aku congkel mata indahmu itu untukku jadikan gantungan kunci," pisau sudah di depan wajah Syila.
"Kau benar-benar gila Adnan!" teriak Syila takut.
Giginya sudah gemeletuk saling menyatu dengan gemas, matanya menyiratkan kemarahan, Adnan mengarahkan pisau itu ke wajah Syila semakin mendekat, dengan tekat Syila mencegahnya dengan tangannya sendiri, terasa sangat sakit, darah sudah mengalir.
Adnan semakin senang melihatnya, tiba-tiba kepalanya kembali sakit, sangat sakit.
Adnan menjauh dari Syila yang sudah berlumuran darah dari tangan ke bajunya.
"Sialan! kau mengganggu kesenanganku!!" Adnan nampak gelimpungan di lantai.
"Kau lancang Adnan, kau menyentuhnya, bahkan kau membuatnya terluka! aku tidak akan tinggal diam!!" kepribadian Adji bicara.
Syila semakin takut, ia berlari menuju pintu, mencoba membukanya, tapi entahlah, itu terasa sangat sulit, dalam situasi menegangkan seperti itu untuk memegang kunci pun Syila nampak kesulitan.
"Jangan panik jangan panik," ucap Syila mencoba memutar kunci lagi.
Pintu berhasil ia buka, Syil kembali menoleh pada Adji yang bergelut dengan Adnan dalam satu raga, terlihat sangat gila.
''Lari Syila!!'' kala Adji yang memegang kendali.
''Keparat!!" kembali pada jiwa Adnan.
Entah Adji atau Adnan, mereka saling menyakiti tubuhnya sendiri.
''Bodoh dan gila!'' ucap Syila lalu hendak pergi.
Tapi sayang, anak buah Adnan ternyata dimana-mana dan siaga disana, Syila melupakan itu, tangannya semakin sakit. Jadi ketika anak buah Adnan menangkapnya kembali, Syila tak bisa berkutik, wajah mereka lebih bringas dari Adnan, dan jumlahnya lebih banyak.
Duaaarrr...
__ADS_1
Suara ledakan terdengar, anak buah Adnan saling pandang, segera mereka mengecek asal ledakan.