Karma Cinta

Karma Cinta
Rencana Ngontrak


__ADS_3

Syila pulang dengan perasaan yang berkecamuk, tidak tenang, gelisah dan apalah itu namanya.


Membayangkan Dika nanti bersama mantan terindahnya, menghabiskan waktu bersama. Ahh stres sendiri jadinya.


Sesampainya di rumah. Syila melihat Bibi Nuha sedang sibuk di dapur.


''Bibi sedang apa ?''


''Tetangga ada yang pesan kue untuk arisan. Mana pesannya mendadak, ke toko kejauhan belum lagi prosesnya yang belum tentu langsung dibuatkan oleh koki.'' Terlihat sekali Bibi sangat kewalahan.


Jiwa kekokianku meronta. Hihihi.. Masih awam juga sebenarnya.


Syila menyingsingkan lengan bajunya, mencuci tangan dan let's go perang dengan terigu, telur, butter dan kawan-kawannya.


Bermacam kue kering dibuatnya. Meminta 7 macam kue kering masing-masing 5 toples.


"Bi, yakin itu untuk arisan ?''


''Menurutmu ?'' Tanya balik Bibi.


''Aku kira mau dijual Bi, banyak sekali.''


''Syukuri saja Syila. Selagi ada orderan masuk, Bibi juga senang membuatnya. Kau baru saja pulang, sudah perang di dapur, memang tidak lelah ?''


''Lelahku melebur melihat tepung dan butter, Bi. Bibi, tahu tidak. Tadinya Syila ini anak yang benar-benar anti dapur. Sampai Ibu sering mengajakku belanja ke pasar, memilih lauk pauknya, menatanya di kulkas, lalu kalau ada pesanan kue dan Ibu kerepotan aku dipaksa membantu. Akhirnya lama-lama aku terbiasa dengan dapur. Aku mulai mencoba membuat kue seperti Ibu. Rasanya bangga sekali ketika kue buatanku itu rasanya enak dan banyak yang suka. Pertama membuat kue, Ayah membawanya kepada bapak-bapak yang sedang berkumpul di pos ronda. Lalu Ibu membawanya ketika membeli sayur keliling. Kata Ayah dan Ibu, mereka menyukai kueku. Aku tidak bisa melupakan kejadian itu, Bi.'' Cerita Syila panjang lebar, dengan bangganya mengenang masa lampaunya


Bibi Nuha tersenyum sesekali tertawa, mendengarkan cerita-cerita Syila.


''Bi, Syila ingin mencari kontrakan.'' Tiba-tiba terlintas keinginan itu.


''Kenapa ? Apa kau tidak betah tinggal disini bersama Bibi ?''


''Bukan begitu, aku betah sekali, tapi jarak tempuhnya lumayan membuat pegal tangan, waktu berkendara motor. Aku juga ingin bisa mandiri. Nanti kalau libur aku janji akan sering kemari. Lagipula Bibi sibuk dengan toko.'' Terang Syila.


''Apa Ayahmu mengijinkan?''


''Apapun yang aku lakukan demi kebaikkan, Ayah pasti mendukung.''


''Baiklah, nanti kita cari kontrakkannya bersama.''


''Baik Bi, terimakasih.''

__ADS_1


Beberapa jam berkutik di dapur, Syila masuk dalam kamarnya, membersihkan diri, lalu mengotak atik laptopnya lagi. Dia bahkan lupa dengan hati yang sempat gondog tadi, karena aksinya di dapur.


Syila mencari lowongan pekerjaan yang bisa dilakukan sambil kuliah. Syila mengirim CV lamaran ke beberapa tempat yang menurutnya dekat dengan kampusnya.


'Semoga di kafe ini aku diterima.' Batinnya.


Kafe yang sedang ramai di kalangan masyarakat.


Waktu menunjukkan sudah lebih dari jam 10, tapi mata Syila belum juga mengantuk. Lalu ia teringat dengan ponselnya.


Ada panggilan banyak sekali, salah satunya Dika.


''Kau sudah tidur ?'' Send.


Rasanya enggan sekali memanggilnya dengan kata mesra, seperti sayang atau yang lainnya. Karena dulu ia pernah melakukan hal seperti itu kepada Adji, hanya lewat panggilan saja sudah sangat mesra menurutnya, namun berujung pisah, membuat Syila anti dengan panggilan mesra itu lagi.


''Hallo.'' Ketika tidak lama setelah Syila mengirim pesan, Dika melakukan panggilan video kepadanya.


''Kau kemana saja ? Aku menghubungimu dari tadi. Apa kau baik-baik saja, aku minta maaf sayang, kepergianku dengan Laura bukanlah kehendakku, kau jangan marah ya.''


'Ternyata dia beranggapan aku marah dengan kepergiannya bersama Laura. Bukan marah, hanya was-was dan takut. Aku bahkan tidak menyiapkan hatiku untuk terluka dan kecewa lagi. Aku tidak bisa membayangkan jika Dika benar-benar mengecewakanku, seperti apa hatiku akan hancur.'


''Jika bertanya satu-satu Dika, aku bingung mau menjawab yang mana dulu.''


''Kau masih marah ?'' Tanya diseberang sana.


''Aku tidak marah, aku hanya khawatir saja, seperti katamu, mungkin aku hanya cemburu.''


''Sayang kau harus mempercayaiku.''


''Iya aku tahu, aku akan mempercayaimu, dan tolong jaga kepercayaanku.'' Kata Syila.


Tidak ada obrolan lagi. Keduanya diam, Syila dengan pemikiran ngontrak sendiri, kuliah dan bekerja.


Sedangkan Dika, dia sedang merindu. Dika rindu mengusili Syila. Rindu senyumnya.


Sedangkan di kamar lain, Laura tengah berbahagia, dia akan dinas ke luar kota dengan Dika, tanpa Syila tentunya.


'Aku pastikan, kau akan jatuh kepelukkanku lagi Dika.'


Dan di sebuah mobil, seorang pria tengah melakukan perjalanan pulangnya, hari-hari yang selalu melelahkan. Bahkan ia tidak mengerti, untuk apa ia bekerja terlalu keras. Dia tidak menafkahi siapapun. Hanya dirinya sendiri. Namun seolah-olah dia bekerja untuk menafkahi orang banyak.

__ADS_1


Kafe dan pondok pesantren yang dia kelola sendiri tentu sudah sangat cukup untuknya dan tabungannya. Namun, Ayahnya meminta dia mengelola cabang perusahaan yang ada di sini. Sedangkan pusatnya berada di luar negeri, di kelola oleh kakaknya juga Ayahnya.


'Ah iya aku punya anak-anak panti.'


''Bagaimana kunjunganmu ke panti ?''


''Baik, Tuan. Semua sesuai yang Anda perintahkan. Tadi juga ada acara bakti sosial dari kampus XX, dan sepertinya gadis kecil yang selama ini dekat dengan Tuan sangat kecewa saat tahu Tuan tidak hadir.'' Terangnya panjang.


''Ahh aku juga merindukan anak-anak itu.''


***


Tidurku terusik mendengar ketukkan pintu kamarku, pukul 6 pagi. Siapa sih, apa Bibi lupa hari ini aku libur kuliah.


''Bi, Syila tidak kuliah hari ini !!" Namun ketukkan itu semakin menjadi. Lalu dengan rasa malasnya Syila berjalan menuju pintu dan membukanya.


''Apa sih Bibi, Syila sudah bilang kalau Syila tidak kuliah.'' Mata masih lengket juga masih menguap. Karena memang semalam Syila bergadang setelah panggilan dari Dika berakhir.


Syila iseng mencoba menjadi penulis. Lebih seperti ke pujangga. Mengarang sastra dan puisi. Lalu membungkusnya menjadi cerita. Ternyata itu juga sangat menguras otak.


Syila sudah mau menutup pintu kembali. Dia bahkan tidak sadar jika yang ada di hadapannya itu Dika bukan Bibi Nuha.


''Sayang.''


Langsung Syila membuka matanya, menguceknya beberapa kali.


''Kau ?''


''Ck.. Biasakan bicara yang manis kenapa sih, kau seperti berbicara dengan lawanmu saja.''


''Kau memang lawanku Dika, lawan jenis.'' jawab Syila sekenanya.


''Aku ingin menciummu saat ini juga.'' Kata Dika.


''Dan aku akan menghajarmu jika kau berani melakukannya.'' Ancam Syila.


Dika tertawa, Syila ini lucu baginya. Lucu yang bukan sekedar membuatnya tertawa, tapi juga membuatnya sayang.


''Kenapa kau kemari pagi buta begini ? Kau tidak kerja ?''


''Kau mengusirku ?''

__ADS_1


''Dika, kau seperti wanita yang sedang datang bulan, sensitif sekali.''


''Aku diliburkan hari ini, makanya aku kemari pagi-pagi sekali.''


__ADS_2