
Waktu terus berjalan, Syila masih dengan sifat acuhnya dan Kai yang terus berusaha mendekatkan diri pada istrinya. Hingga malam tiba, makan malam yang penuh drama, ''Aku lapar,'' keluh Kai, Syila diam dalam nikmatnya mengunyah makanan.
Ketika mau kembali menyuapkan sendok ke mulutnya, tangan Kai mencegahnya, menarik sendok itu menuju mulutnya dan mengunyah tanpa mengalihkan pandangannya pada Syila, yang saat itu langsung kesal dengan sikap Kai.
''Jika kau lapar kau bisa mengambilnya sendiri! Tidak usah mengganggu makanku!!''
''Aku ingin dilayani,'' Kaisar sudah melipat tangannya, duduk manis, dan tersenyum seperti anak kecil yang sedang menunggu jatah makannya.
''Dasar duda menyebalkan!! Kenapa tidak pergi saja dari rumahku!!'' gerutu Syila yang masih terdengar ditelinga Kaisar. Kaisar hanya tersenyum mendengarnya.
Syila bergegas mengambilkan makanan sepiring penuh dengan lauk pauk yang sudah berbentuk seperti gunung.
''Habiskan!!" ia hidangkan didepan Kaisar, ''Jika tidak kau habiskan, besok pagi tidak dapat jatah makan,'' galaknya sudah seperti petugas konsumsi di ketentaraan.
Kaisar masih saja tersenyum, sedari tadi matanya tak lepas dari wajah Syila, ketika ia mengambil sendok ingin mulai makan, Kai sangat terkejut, ''sayang.., kau memberiku makan sebanyak ini sudah seperti memberi makan kerbau. Atau kau ingin perutku berubah menjadi buncit? Ahh... aku tahu, kau juga ingin makan bersamaku kan,'' goda Kaisar.
''Yang pertama aku tidak peduli dengan bentuk perutmu, yang kedua aku kehabisan mood makanku,'' Syila beranjak menuju kamarnya.
Kaisar hanya tersenyum menatap kepergian Syila. Lalu tatapannya berubah menjadi nanar ketika melihat makanan yang menggunung dihadapannya.
Makan malam selesai dengan makanan yang terpaksa ia beri ke kucing di belakang rumah yang kebetulan sedang menunggu.
'Awas saja, untuk saat ini aku akan banyak mengalah, lihat nanti, kau yang akan kalah.' Kaisar dengan senyum yang susah diartikan.
Syila sudah tidur, dia sudah mulai membaik, tidak terlalu bersedih lagi padahal ini masih pukul setengah sembilan malam. Sedangkan Kaisar mulai memeriksa email yang dikirimkan oleh Lewis juga dari klien lainnya. Sesekali dia menelfon seseorang, mematikan, lalu menelfon seseorang yang berbeda lagi.
Tiba-tiba lampu padam. Kaisar mencari lilin. Syila terbangun dari tidurnya, suara petir menyambutnya,
Duaarrr....!!!
"Ayah...!!!!" teriak Syila mulai gemetar tubuhnya, ia mengingat mimpi buruk yang pernah ia alami. Gelap, pengap, petir lalu dua orang yang bersimpuh dengan wajah tak terbentuk penuh luka dan darah. Ia mengingat lagi kecelakaan yang dialami orangtuanya.
__ADS_1
''Ayah...!!!'' teriak Syila lagi ketika lagi-lagi suara petir menyambar.
Kaisar yang mendengar Syila berteriakpun segera bergegas masuk kamar, ''Heii ada apa?'' Kaisar mendekati Syila yang terlihat meringkuk dengan menutup telinganya dengan tangan dan memejamkan erat matanya. Ketika mendengar suara Kaisar, Syila langsung memeluknya. Tubuhnya kembali gemetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
''Aku takut, ini gelap, ini terasa pengap, aku takut petir,'' suaranya hampir tak terdengar karena gemetar.
Kaisar mengeratkan pelukannya, mengusap bahunya dan mendaratkan kecupan diujung kepala yang tertutup kain hijab, ''Tidak apa, ada aku,'' Syila mengingat lagi kata-kata Ayahnya yang pernah juga mengatakan itu.
''Sungguh? Ayah juga pernah berkata seperti itu, tapi nyatanya dia juga meninggalkanku,'' Syila mulai terisak kembali.
Kaisar tak lagi bicara, dia hanya menenangkan melalui sentuhan tangannya yang berharap dapat menyalurkan kekuatan.
Syila melerai pelukannya, ''Maaf,'' ucapnya kemudian. Kaisar mengernyit, ''Untuk apa meminta maaf? kau bahkan boleh melakukan lebih dari ini,'' Syila menunduk.
''Akan kuambilkan minum dulu,'' Kaisar sudah mau beranjak dari duduknya, ''Jangan!! jangan pergi, aku sungguh takut.''
'Yaa Tuhan setiap malam Kau buat lampu padam, Kau hadirkan petir aku tidak apa-apa, sungguh, aku akan sangat bersyukur.' Kaisar.
''Tidur lagi ya,'' Kaisar membantu Syila merebahkan dirinya diranjang, menyelimuti tubuhnya, mengusap kepalanya.
Syila mulai terpejam, Kaisar ingin keluar melanjutkan menelfon asistennya. Syila langsung menahan tangan Kaisar, ''Jangan pergi Kai.'' Mohonnya membuat Kaisar enggan meninggalkannya juga, apalagi namanya ia sebut. ''Jika ada pekerjaan, kerjakan saja disini. Aku tidak akan mengganggumu,'' ucap Syila memelas karena Kaisar tidak ada respon.
''Baiklah, kau tidur, aku akan menelfon Lewis sebentar.'' Kaisarpun melakukan panggilan agak menjauh, namun masih bisa Syila dengar pembicaraan Kaisar.
Setelah selesai Kaisar menghampiri Syila kembali, ''Kau belum juga tidur?'' Syila menggeleng. ''Tidurlah, aku menunggumu dimeja belajarmu.''
Kaisar mendudukan dirinya dikursi yang dulu selalu menemani Syila mengerjakan tugas akuntansi. Syila mencoba memejamkan matanya kembali, berguling ke kanan, berguling ke kiri namun, tidak menemukan posisi yang nyaman yang bisa membuatnya tertidur.
''Em Kai..'' Syila sudah bersandar diranjangnya. Merasa namanya disebut, Kaisar mengadahkan wajahnya.
''Kenapa kau belum juga tidur? sudahku bilang aku disini,'' kata Kaisar dengan lembut.
__ADS_1
"Kemari,'' kata Syila ragu.
Kaisar beranjak, Syila resah namun takutnya melebihi dari rasa resahnya.
Duarrrr....!!!
Suara petir menyambar lagi, dengan reflek Syila kembali memeluk Kaisar. Kaisar terkejut, 'Dia semanis ini jika sedang takut.'
''Emmm untuk malam ini, tidurlah disini. Apa kau keberatan?''
Kaisar masih tak percaya dengan yang di dengar, ''Apa yang kau katakan? Kau sedang tidak mengigaukan.''
Syila menggeleng, sembari melepas pelukannya, ''Sebelum Ayah dan Ibu kecelakaan aku selalu bermimpi berada ditempat yang gelap, terasa pengap, dengan petir dimana-mana, dan ada dua orang yang penuh darah bersimpuh dikakiku. Keesokannya Ayah dan Ibu kecelakaan. Aku sangat takut, aku merasa sangat kehilangan, aku sendirian. Separuh hidupku seperti terbawa oleh mereka.'' Syila menangis. Kaisar semakin merasa bersalah.
''Stttt, jangan bicara seperti itu, aku sungguh minta maaf untuk kejadian itu, dan aku akan berusaha menjadi perisaimu, kau tidak akan sendirian,'' Kaisar sudah menaikan kakinya, ikut merebahkan dirinya disamping Syila. Rasa yang sangat mendebarkan, ia sangat senang sekali.
''Apa yang dilakukan Ayah dan Ibu jika kau sedang ketakutan begini, hm?'' dengan sangat intens Kai menatap wajah yang selama ini ia puja dihatinya.
''Tidak ada, aku akan ikut mereka tidur bersama,'' Syila malu, untuk pertama kalinya tidurnya dengan pria asing.
Kaisar membantu Syila menyelimuti tubuhnya, ''Jangan melewati batasanmu!'' ancam Syila.
Kaisar terkekeh, ''Katakan padaku, hubungan yang bagaimana yang melewati batasan sepasang suami istri?''
Syila memicingkan matanya, membuat Kaisar semakin tertawa. Tak memungkiri, jantungnya yang sudah terpompa dengan sangat cepatnya.
''Sudah kemarilah,'' Kaisar membawa Syila dalam pelukannya, Syila yang tadinya sedikit memberontak akhirnya diam, kala ia merasakan kenyamanan dan kehangatan disana. Wajah Syila langsung menghadap ke dada bidang suaminya.
Syila mendongakan kepalanya, tatapan mereka bertemu, ''Kai, mengapa jantungmu berdebar sangat kencang? kau seperti baru selesai lari maraton saja.''
''Jangan menatapku seperti itu jika kau tidak menginginkan sesuatu terjadi, dan jangan banyak bertanya, sekarang pejamkan matamu. Tidurlah!!'' ucap Kai dengan suara yang mulai berubah parau.
__ADS_1
'Karena aku sangat mencintaimu Arsyila, jantung ini berdetak seperti ini jika itu bersamamu, aku merasakan tubuhku memanas,' kala Syila semakin mengusel ke dada bidang suaminya, jaraknya terkikis habis, tubuh mereka menempel.