Karma Cinta

Karma Cinta
Kakak Ipar


__ADS_3

''Kau pernah menabrakku di pesisir pantai karena tanganmu ada ulat bulunya. Kau memintaku untuk membuangnya dari tanganmu. Kau juga yang tiba-tiba pergi tanpa mau menatap wajahku.'' Jelas Kaisar dengan mimik sedihnya.


Syila terperangah, dia baru ingat, saat itu Syila bersama Doni, ingin membeli kembang api. Tapi Doni berlari lebih dulu, Syila mengejar, namun terlalu lelah, hingga ia bersandar di pohon yang ternyata ada hewan menjijikan itu.


Tapi, Syila benar-benar tidak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia tabrak sekarang menjadi suaminya.


'Takdir ini lucu sekali.' Syila.


''Bagaimana?'' Tanya Kaisar.


''Apanya yang bagaimana?'' Tanya Syila kembali.


''Kau hanya diam, apa kau sudah mulai mencintaiku?'' Tanya Kaisar kembali.


''Apa hubungannya? Hanya dari sepenggal cerita, mana mungkin aku langsung jatuh cinta.'' Tak habis pikir dengan Kaisar.


''Memang tidak ada hubungannya, aku hanya bertanya, siapa tahu hatimu berbalik, langsung mencintaiku tanpa syarat.'' Jawab Kaisar sembari cengengesan.


''Haaahhh,'' muka cengo, ''Duda aneh.'' Lagi-lagi Kaisar dibuat tertawa dengan ucapan Syila.


Syila pergi menuju ranjang king size. Merebahkan diri disana, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Kaisar melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Satu jam kemudian, dia ikut berbaring di sisi Syila, mendekapnya seperti tak ingin melepasnya kembali. Syila tidur dengan nyaman disana, lebih nyaman dari sebelumnya.


****


Di tempat lain, di kediaman Dika, Laura menginap disana, ia merawat Dika yang baru pulang dari rumah sakit.


''Dika, minum obatmu dan istirahatlah.'' Penuh perhatian.


Dika melakukan perintah Laura namun dengan sikap yang dingin. Pikirannya tertuju pada Syila, sudah sangat lama dari kejadian amnesia sampai ia bisa mengingat semuanya, apa kabar mantan tunangannya itu. Apa dia sudah hidup dengan baik, sudah memaafkannya atau malah masih terpuruk dengan hatinya yang kecewa.


Dika membayangkan wajah yang selalu ceria, manja, dan manis itu berubah menjadi wajah yang dingin, sedih, dan terluka.


Bagaimana bisa dirinya tidak berpendirian seperti itu? Menyesal? Sangat menyesal tentunya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, mungkin memang mereka belum jodohnya.


Dan kini ada Laura, dia juga mantannya, bahkan Dika sempat terpuruk juga karena kepergian Laura saat itu. Kini dia kembali, mungkin memang Tuhan menginginkan Dika bersama Laura saja. Tapi di ujung hatinya yang paling dalam, masih ada cinta untuk Syila.


''Akhhh..!!'' Pekik Dika ketika kepalanya kembali merasa sakit, karena terlalu memikirkan sesuatu yang berat.


Laura terbangun, ''Dika, kau kenapa?'' Melihat Dika meringis kesakitan ikut khawatir.

__ADS_1


''Ini, minum ini lagi,'' Laura menyodorkan pil pereda rasa sakit.


''Sudah kukatakan kau tidak boleh memikirkan yang berat-berat.'' Nasihat Laura.


''Sini.'' Laura menepuk pahanya. Dika menjatuhkan kepalanya disana, Laura mengusapnya dengan perlahan.


''Tidurlah, sayang. Kau harus menyiapkan tubuhmu untuk acara pernikahan kita. Semua sudah siap. Kau tak berniat membatalkannya hanya karena teringat mantanmu itukan?''


''Apa yang kau bicarakan, sini!'' Bantah Dika.


Laura ikut menyusutkan tubuhnya bersejajar dengan Dika. Menarik selimut yang sama dengannya.


''Aku mencintaimu Dika.'' Kata Laura lalu mengecup singkat bibir Dika. Dika hanya tersenyum menanggapinya.


'Syila lagi, bisa-bisanya Dika masih memikirkan bocah itu. Aku kira setelah sekian lama amnesia, nama Syila juga terhapus dari otaknya secara permanen. Tak tahunya... Huh.. Menyebalkan!!' Laura.


***


Pagi harinya, Kaisar sudah terlebih dulu bangun, ia membersihkan dirinya.


Ponsel milik Kaisar berdering, panggilan video, sekali, dua kali, Syila acuhkan karena merasa bukan ponselnya, namun ponsel itu terus berdering mengusik kenyamanan Syila di balik selimut.


Syila menempelkannya di telinga, ''Hallo, Kaisar sedang di kamar mandi. Nanti biar dia menghubungi Anda kembali.''


Tidak ada jawaban, ponsel masih terus berdering, Syila akhirnya membuka matanya lebar-lebar. 'Ehh bukan ponsel yang ini. Merepotkan, kenapa ponselnya banyak sekali.'


Panggilan dari Rana.


Syila mengangkatnya, ''Kai, kemana saja kau, tidurmu sudah seperti kerbau saja. Dari tadi aku menelfonmu.. .'' Perkataan Rana terhenti kala ia menyadari yang mengangkat seorang gadis.


Syila sendiri diam terpaku, dia terpesona, 'Huaaa cool sekali.' Melihat tampang Rana yang lebih dominan seperti bule. Dia seperti Ibu Lulu, rambut pirang kecoklatan, hidung mancung, bibir tebal tapi malah terkesan seksi. Jika di perhatikan lagi, memang mirip dengan Kaisar wajahnya, hanya Kaisar rambutnya hitam legam seperti Ayah Mahen, juga dari warna mata yang berbeda, Kaisar memiliki kornea mata coklat hazel, sedangkan kakaknya biru seperti lautan. Perpaduan dalam negeri dan luar negeri. Syila tersenyum sendiri dengan pemikirannya.


''Kau siapa?'' Tanya Rana sedikit heran. Karena Syila di seberang sana hanya diam.


''Kau sedang menelfon siapa, sayang?'' Kaisar memecah keterdiaman Syila.


''Kai?!'' Rana memanggilnya dengan berteriak.


Syila memberikan ponselnya pada Kaisar.

__ADS_1


''Ada apa Kak?'' Tanya Kaisar, ''Disini masih terlalu pagi untuk adu argument.''


Karena biasanya kakaknya ini hanya akan membahas sesuatu yang membuat moodnya memburuk.


''Kai, siapa gadis tadi? Apa itu gadis yang kau cari selama ini? Yang membuatmu seperti pria gila yang mengenaskan? Yang kata Ayah sudah kau nikahi kemarin?'' Kakaknya ini sudah membuat kepala Kai mendidih, niat bertanya berujung meledek.


''Iya,'' singkat Kaisar.


''Berikan ponselnya, aku ingin menyapa adik iparku yang secara tidak langsung sangat luar biasa itu.'' Pinta Rana.


Ponsel sudah hampir berpindah ke tangan Syila, namun ditarik lagi oleh Kaisar, ''Sebentar.. .'' Tahan Kaisar.


''Sayang, kau bisa mencuci wajahmu dulu kan?!''


''Loh.. Aku malu-maluin ya?'' Dengan berlari kecil Syila menuju ke kamar mandi.


'Bukan. Hanya saja auramu setelah bangun tidur itu begitu memikat, kau terlihat begitu menggemaskan. Aku tidak rela orang lain melihatmu dalam keadaan begitu.' Kaisar.


''Hei Bung! Aku sudah mempunyai istri sendiri, aku tak akan terpikat oleh istri kecilmu itu. Dia lebih cocok menjadi putriku kau tahu. Jadi, kau tak perlu seposesif itu, dan sewaspada itu dengan kakakmu sendiri bocah sialan!'' Rana yang paham dengan sikap adiknya. Dia jika sudah mempunyai barang kesayangan, jangankan di sentuh orang lain, di lirik pun dia tidak mengijinkan dan akan marah.


''Bagus jika kau masih ingat.'' Kaisar acuh.


''Apa begini sudah tidak memalukan?'' Syila setengah berbisik, bicara dengan Kaisar.


Tanpa menjawab, ponsel ia berikan kepada Syila. Kaisar duduk di sofa, memandang istrinya bicara dengan kakaknya.


Rana tersenyum, Syila balas tersenyum, ''Jangan tersenyum!'' Kaisar menengahi. Syila hanya mencebikan bibirnya, sedangkan Rana semakin gemas ingin menggoda adiknya itu.


''Hallo adik ipar, aku Rana, kakak Kaisar. Kau bernama Syila bukan?'' Rana bicara seramah mungkin, membuat telinga Kaisar memanas.


''Ehh.. Iya Kak.'' Syila tersipu, kakak iparnya ini membuat segar matanya.


''Yang sabar dengan sifat suamimu itu, terakhir bertemu, dia hampir gila.'' Masih memancing.


''Benarkah?'' Syila melirik suaminya yang duduk di sofa, sedang memperhatikan gerak geriknya.


''Aku rasa dia masih gila, Kak.'' Rana menahan tawanya.


''Aku rasa kau benar-benar istimewa, Kaisar sampai mengejarmu susah payah, padahal banyak wanita yang ia tolak sebelumnya. Selamat datang di keluarga Mahendra ya, kapan-kapan mari bertemu untuk meminum teh bersama.'' Ramah sekali, dan mudah akrab. Begitulah kesan pertama yang Syila dapatkan saat bicara dengan Rana, kakak iparnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2