
Setelah beberapa minggu kemudian.
Keluarga besar berkumpul di rumah Kaisar. Mereka akan mengadakan doa bersama dan membuat nama untuk kedua anak mereka
Orang tua Kaisar, Rana sekeluarga, Rayhan, bibi Nuha turut memeriahkan acara.
''Hai tampan, wahh kau tampan sekali seperti Om-mu ini!'' Rayhan menyapa bayi laki-laki Syila yang masih terpulas tidak terganggu dengan kebisingan yang tercipta.
''Ray, ada hubungan apa kau dengan Fanya?'' tanya Syila yang begitu ingin tahu.
"Kakak cemburu?" iseng Rayhan bertanya yang langsung mendapatkan tabokan manja dari Syila.
"Sakit Kak," keluh Rayhan.
''Doakan saja Kak, aku sedang berjuang!'' jawaban yang membuat Syila berandai-andai.
Acara dimulai.
Putra Kaisar dan Syila diberi nama Linggar Nathan Mahendra. Dan putrinya diberi nama Legita Nala Mahendra. Semua anak-anaknya diberi nama Mahendra.
"Jadi kami harus memanggilnya siapa? baby L? baby N? apa baby M?" gelak tawa memenuhi ruangan, Rayhan selalu membuat suasana menjadi lebih hidup dengan pertanyaannya.
"Seperti urutan kelahirannya saja, putra kami akan dipanggil Linggar, kosa kata pertama, dan putri kami dipanggil Nala, kosa kata kedua," jawab Syila dengan menatap anak-anaknya yang terpulas. Kaisar disampingnya memeluk pinggang Syila.
Hari yang membahagiakan untuk semua.
Setelah sekian lama Kaisar menginginkan seorang anak, akhirnya dia diberi sekaligus dua anak.
Acara selesai, Syila membawa kedua bayinya ke kamarnya dibantu oleh ibu mertuanya.
"Terimakasih Bu," ucap Syila saat bayinya sudah ditidurkan di box bayi yang berada di kamarnya.
"Jaga kesehatanmu dan pola makanmu, jangan sampai stres, sepertinya Linggar sangat kuat menyusu," Ibu Lulu masih setia mengamati cucunya.
"Aku mengerti."
__ADS_1
Setelahnya Ibu Lulu pamit ke kamarnya. Tak lama kemudian Kaisar datang menemui Syila. Syila tampak sibuk mempompa ASI. Yang ternyata begitu melimpah, sehingga kedua anaknya cukup tidak memerlukan susu formula lagi.
"Perlu kubantu?" tawar Kaisar.
"Tidak usah, ini sudah mau selesai, lagi pula jika kau membantu aku takut puasamu goyah," Syila terkekeh.
Memang benar, dalam kondisi yang bagaimanapun Syila tetaplah Syila, wanita yang entah bagaimana selalu membuatnya tertarik.
Syila menyimpan stok ASI yang berada di kamarnya. Entah sejak kapan kamarnya sudah lengkap untuk persediaan bayi. Kaisar sengaja tidak memisahkan kedua bayinya dengan mereka. Karena mereka akan di asuh full oleh Syila.
Syila mendekati Kaisar yang tampak memandangi kedua buah hatinya.
Ia sandarkan kepalanya di lengan suaminya.
"Kenapa bibir mereka sepertimu semua?" tanya Kaisar.
"Memangnya kenapa?"
"Aku takut mereka berbicara manja bercampur ketus," jawab Kaisar.
"Lihat! Alisnya mirip punyamu, tebal!" Walau masih terlihat samar tapi sudah terlihat seperti apa bentuknya nanti.
"Iya, mereka akan mempunyai tatapan yang mendalam dan penuh arti jika sudah besar nanti, bahkan lawan bicaranya akan dibuat bungkam hanya dengan tatapan mereka," seloroh Kaisar.
"Itu tak akan berlaku untukku!" sergah Syila.
"Akan berlaku jika itu aku! Kau lupa bagaimana ekspresimu jika mata kita sudah saling beradu? Apalagi jika kau sukses membuat hatiku berporak poranda," sahut cepat Kaisar.
"Sudah jangan membahas yang akan membuat sesuatu terpancing, kau lupa? Kau sedang puasa."
Sukses! Kaisar mendadak frustasi, ia lupa satu hal, istrinya sedang tidak bisa diajak berduel di atas ranjang.
Dan begitulah, mereka melewati masa menjadi orang tua dengan begitu kompak, Syila mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya ke dua bayinya. Sedangkan Kaisar sebisa mungkin mengambil peran Ayah sekaligus suami yang siaga.
Lelah sudah pasti, tapi semua terbayarkan dengan melihat perkembangan yang menjadi pengalaman pertama bagi Kaisar dan Syila.
__ADS_1
Memandikan bersama, mengganti baju bersama, bahkan saat Linggar dan Nala demam keduanya akan bergantian menjaga.
.
.
.
"Ayah, Ibu, lihatlah, mereka cucu-cucumu, cantik dan tampan bukan?"
"Syila berharap Linggar bisa menjadi sosok pria seperti Ayah dan Kaisar, pria yang akan terus menyayangi wanitanya, setia bahkan tidak mampu melihat keindahan yang ada di dunia selain wanitanya."
"Dan Nala, semoga ia juga mewarisi sosok lembut seperti Ibu, yang begitu sabar dan setia mendampingi Ayah, jangan sepertiku, yang terlalu manja."
Mereka berada di pemakaman orang tua Syila. Setelah beberapa bulan setelah kelahiran anak kembarnya.
Setelah itu ia memutuskan untuk istrahat sejenak di rumah makan, mengisi perut masing-masing.
"Dika?" sapa Syila. Saat tahu siapa yang membawa buku pesanan ke meja Kaisar dan Syila.
Tampak Dika semakin menundukkan pandangannya, lalu ia melirik kereta bayi yang di huni oleh bayi berbaju super hero dan satunya bayi dengan hijab kecil.
"Mereka anak-anakmu?" tanyanya.
"Iya!" jawab Kaisar tidak bersahabat.
Tiba-tiba terlihat perubahan wajah Dika yang semakin memerah, dengan mata yang berembun.
Bayangannya kepada putrinya yang meninggal. Lalu Laura karena tekanan batin menjadi gila. Dia terus menyalahkan dirinya atas kematian putrinya, sampai ia nekat mengakhiri hidupnya juga. Masalah tak berhenti disana, karena beban pikiran, mempengaruhi konsistensi kinerja Dika, membuat seluruh pekerjaannya berantakan. Akhirnya ia di keluarkan dari perusahaan dan memilih bekerja di kampung halaman denga pekerjaan seadanya.
Hari ini siapa sangka ia akan melayani pelanggan yang ternyata mantan tunangannya, membawa anak kembar serta suami mapannya.
"Maaf, aku terbawa suasana, aku merindukan putriku. Mau pesan apa?" Dika mengalihkan perasaannya. Mencoba bersikap profesional dalam kerjaannya.
Kaisar dan Syila saling pandang. Dan sudahlah. Mereka hanya menagnggap yang lalu sebagai sejarah kehidupan. Untuk pembelajaran namun tak perlu diulang.
__ADS_1
TAMAT.