
"Untuk saat ini, aku tidak mau membahas apapun tentang siapapun." Ucap Syila penuh penekanan.
Kaisar memilih mengalah, dia akan mencari tahunya sendiri.
"Besok aku akan pergi ke kantor. Kau mau ikut?" Tanya Kaisar.
''Untuk apa? Aku mau mempersiapkan untuk acara peresmian toko kue sekaligus kafeku.'' Jawab Syila, masih dengan sibuk memilah dan memilih barang-barangnya.
''Syila, kau harus tinggal bersamaku!!'' Perintah Kaisar.
''Tidak perlu, aku masih mempunyai bangunan yang bisa aku singgahi.'' Syila acuh.
''Kita suami istri Syila, bagaimana bisa kita berpisah tempat tinggal. Aku tidak setuju!!''
''Begini saja, jika kau tidak mau pulang denganku, aku yang akan ikut pulang denganmu.'' Ucap Kaisar sangat santai.
Syila tengah berpikir, jika Kaisar ikut dengannya pasti karyawan banyak yang bertanya, apalagi dengan pertengkaran yang sering terjadi akan membuatnya malu.
''Jangan ketempatku!! Kau akan memporakporandakan tokoku nanti!!'' Sergah Syila.
''Baiklah, aku anggap kau setuju untuk ikut bersamaku.'' Kaisar penuh kemenangan.
****
Malamnya, ''Syila, aku lapar.'' Rengek Kaisar.
Sedangkan Syila sedang berkutik dengan laptop barunya, ia sebenarnya juga lapar, tapi pekerjaannya nanggung.
''Ya sudah makan Kai, kau bisa memesan makanan. Aku tidak bisa memasak.'' Ceplos Syila tanpa mengalihkan dari layar monitornya.
Kai jengah, ia merebut laptop Syila, menutupnya dan mengajaknya menuruni tangga menuju vespanya.
''Kau mengganggu pekerjaanku, Kai!''
''Ayo naik,'' ucap Kaisar yang hanya mendapati Syila terdiam.
''Kau yakin ingin menggunakan ini untuk pergi?'' Tanya Syila tak percaya.
''Kenapa?? Aku bisa mengendarai vespa. Ohh tidak seharusnya tadi aku mengatakan jika aku tidak bisa mengendarai saja, biar di bonceng olehmu.'' Kaisar tersenyum sok manis.
'Bukan begitu duda pemaksa, motor ini tidak cocok untuk tubuh gagahmu.'
Merekapun berkeliling kota menggunakan vespa milik Syila. Syila ingin sekali mencabik-cabik Kaisar, karena ulahnya yang membawa motor sembarangan, Syila harus berpegangan pada tubuh kokoh itu.
__ADS_1
''Berhenti!'' Syila menepuk bahu Kaisar.
Kaisar menghentikan laju vespanya, ''Ada apa?'' Tanyanya kemudian.
''Aku ingin makan di sana.'' Tunjuk Syila dengan antusiasnya. Kaisar mengikuti arah jari Syila.
''Arion cafe?'' Perjelas Kaisar. Syila menganggukan kepalanya.
Kaisar mengendarai vespanya lagi menuju kafe itu. Kafe tempat Syila dulu bekerja.
''Yumma!'' Teriak Syila ketika melihat temannya.
''Syila?'' Mereka berpelukan selayaknya sahabat lama yang baru saja bertemu kembali.
''Bagaimana keadaanmu, dan usahamu, lalu mengapa baru kemari?'' Yumma tidak sabar ingin mendengarkan cerita Syila.
Syila sedikit menceritakan tentang usaha yang ia rintis, dan tentang waktunya yang tersita dengan kuliah serta bekerja di tokonya kala itu. Yumma sangat antusias, semua tak lepas dari pengawasan Kaisar juga ada mantan senior Syila, Nerra.
''Yumma, kembali bekerja, kau di sini di gaji, jadi jangan seenaknya saja!!'' Bentak Nerra yang tidak suka Syila datang.
''Eklusive private room!!'' Ucap Kaisar dengan nada dinginnya, yang mendapatkan anggukan dari Nerra dan juga Yumma.
Sedangkan Syila masih bingung dengan keadaan sekitarnya, ''Yumma, mengapa kau sangat takut dengan orang itu?''
''Dia tidak akan melirikmu! Dia tidak menyukai wanita sepertimu! Jika kau mempunyai pemikiran untuk bisa bersanding dengannya, dia pangeran dan kau hanya upik abunya.'' Lanjut Nerra.
Syila semakin terkejut, pemilik kafe ini Kaisar, pria yang di puja-puja Yumma juga Kaisar, dia yang menyandang status sebagai suamiku.
'Kebetulan sekali sih.' Batin Syila tak percaya.
''Kau mau pesan apa Syila?'' Pertanyaan Yumma membuyarkan asumsi Syila.
''Nanti ya, aku mau ke toilet dulu.'' Padahal Syila langsung menyusul Kaisar.
Syila memasuki ruangan yang di pesak Kaisar, ''Sudah temu kangennya?'' Tanya Kaisar.
''Kau bos di sini?'' Tanya Syila langsung.
Kaisar tersenyum, ''Seperti yang di ceritakan teman-temanmu, kafe ini kubangun semenjak aku duduk di bangku SMA, dan sekarang anak-anaknya sudah lumayan. Jika Ayah tidak memaksaku untuk mengelola anak perusahaan, aku lebih ingin melebarkan sayap kafe lagi.''
''Katakan, bagaimana kau mengenal karyawanku?'' Tanya Kaisar kemudian
''Karena sebelum aku memulai membuka toko kueku, aku sempat bekerja di sini untuk memodali usahaku.''
__ADS_1
''Benarkah?'' Tanya Kaisar seperti tak percaya, dari lama sudah sedekat ini, Ayahnya dan Ayah Syila yang berteman lama dan kini dia pernah menjadi sebagai karyawan Kaisar. Tapi selama itu juga Kaisar tidak pernah bertemu dengan Syila.
Pintu di ketuk, tak lama muncul Yumma juga Nerra yang mengantar pesanan, Kaisar hanya mengatakan ruangan, tapi mereka sudah mengantarkan makanan ini, sepertinya sudah sangat hafal sekali dengan keinginan bosnya itu.
Keduanya terkejut, bahkan Nerra hampir melepaskan piring yang sedang ia bawa, jika tidak dengan sigap Kaisar menahan piring itu. Nerra sangat tidak rela, saat melihat Syila berada satu ruang dengan bos seksinya. Selama ini dia bersusah payah mencari perhatian dari Kaisar namun nyatanya ia hanya di lihat sebatas pegawai. Sedangkan Syila, uhh lagi-lagi Syila lebih beruntung. Kesal Nerra.
''Bawakan minuman satu gelas lagi.'' Keduanya mengangguk dan berlalu.
Tatapan Nerra dan Syila bertemu, Syila memberi senyuman mengejek.
Setelah mereka keluar, ''Kau seperti tidak menyukai Nerra?''
''Kau bahkan hafal namanya?'' Tanya Syila.
''Dia pegawai yang sangat loyalitas dan berpredikat baik dari karyawan lainnya. Aku hanya tahu nama saja. Apa istriku mulai cemburu?'' Kai menggoda.
'Cemburu kepalamu!' Tidak berani secara terang-terangan.
Kaisar pindah ikut duduk di sofa yang Syila duduki, mengikis jarak diantara mereka, begitu juga dengan hati, Kaisar sedang berusaha mengikis dinding penghalang di hati Syila.
''Makanlah, mana yang kau suka, itu menu terbaru yang sedang trending di kalangan masyarakat.'' Ucap Kaisar lagi.
Dengan berbinar Syila mulai mengambil makanan yang tertata cantik di atas piring itu. Kaisar sibuk memainkan ujung jilbab Syila, sesekali mendekat mencium aroma dari kepala wanita itu.
''Kai, kau menggangguku! Kau bisa duduk di sebelah sana!!'' Usir Syila.
Syila terpaku, mata Syila membola sempurna, sendok di tangan Syila bahkan terjatuh, tangan Syila beralih menyentuh dada Kaisar, seharusnya ia mendorongnya, tapi tangannya hanya memegang dada itu. Tangan sialan memang.
Serangan bibir Kaisar ke bibirnya sangat dadakan. Ingin memberontak, tapi kenapa tubuhnya tidak mau bekerja sama. Kali ini terasa lembut, dengan deru napasnya yang mulai memburu. Sentuhan yang menjadi lum*tan, Syila tidak merespon apa-apa dia hanya menikmati. Hingga suara gelas terjatuh dengan rasa panik orang itu, membuat pangutan diantara Syila dan Kaisar terhenti.
''Maaf saya tidak sengaja.'' Kala Nerra mendapati tatapan tajam dari Kaisar.
''Bereskan!'' Ucapnya dingin.
Kaisar menatap Syila yang wajahnya sudah memerah, ''Tadi ada saus dibibirmu, aku hanya mencoba membersihkannya saja.'' Jelasnya sembari tersenyum.
''Pipimu memerah, kau terlihat menggemaskan.'' Kaisar mengusap lembut pipi yang terlihat sedikit bulat itu.
''Hentikan Kai!! Kau sudah lancang, ini tempat umum, pegawaimu melihatnya. Duda tidak tahu malu!'' Umpat Syila karena dia yang malu sudah kepergok.
''Jangan lupa, kau menikmatinya, walau terasa sangat kaku.'' Kaisar tertawa. Semakin membuat wajah Syila merona.
Syila memasukkan makanan ke mulut Kaisar dengan kasar, ''Kau harus menutup mulutmu!''
__ADS_1