Karma Cinta

Karma Cinta
Banyaknya Perubahan Di Tubuhmu


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, siapa yang bisa menyangka untuk sebuah kehidupan di masa yang akan datang. Jika manusia memiliki sebuah rencana yang indah, yakinlah Tuhan lebih indah lagi rencanannya.


Untuk Syila, dia sendiri pun tidak pernah menyangka jika kehidupannya akan berubah menjadi sebaik ini. Saat cinta-cinta sebelumnya pergi meninggalkan luka kecewa, Tuhan menggantikannya dengan satu cinta yang benar-benar indah dan setia.


Saat ia merasakan sebuah kehilangan pada lentera hidupnya, Tuhan sudah menyiapkan kehidupan baru yang datang dalam rahimnya.


Tak henti-hentinya Syila bersyukur atas semua yang ia dapatkan saat ini.


Lamunannya buyar, saat Kaisar mencipratkan air ke wajahnya. Mulanya Syila hanya ingin mengantar minuman yang dipinta Kaisar pada pembantunya. Lalu melihat suaminya yang sedang menikmati penyatuan dengan air, Syila terpesona. Berkali-kali dan mungkin akan terus bertambah, rasa kagumnya pada suaminya itu. Dirasa semakin hari, mata Syila semakin terbuka, jika ia memang memiliki pria yang sempurna. Pantas saja wanita diluaran sana begitu menggila pada Kaisar.


Performanya sebagai pimpinan, yang mampu menarik investor besar, membuat anak peruasahaan keluarga besar hampir seperti induknya.


Baiknya dia kepada anak-anak karena pernah kehilangan anak, membuatnya begitu di sayang oleh anak-anak yang kini tengah merintis ilmu di sekolah yang Kaisar fasilitasi dengan lengkap dan layak.


Belum lagi cara ia mencintai wanita, satu wanita satu cinta di satu-satunya hati. Membuat Kaisar mendapatkan balasan cinta yang luar biasa besarnya dari seseorang yang ia cintai.


''Air liurmu keluar sayang, apa aku begitu mempesona?'' Kaisar meledek, ia masih di dalam kolam renang, tubuh Kaisar semakin membuat Syila menggigit bibirnya. Besar, gagah, apalagi jika dalam keadaan basah begini. Uh pikiran ibu hamil yang memang lebih agresif akhir-akhir ini membuatnya treveling.


Syila memalingkan wajahnya.


Ia ikut duduk di tepi kolam renang, membiarkan bajunya ikut basah dan merendam kakinya, dengan memberikan minuman Kaisar.


''Kai, aku ingin ikut masuk, tapi aku takut tenggelam,'' kata Syila.


Kaisar tertawa, hanya Syila, wanita yang pernah ia kenal selama ini dan tidak bisa berenang. Tapi itu malah membuatnya bersyukur. Syila tidak harus memperlihatkan tubuhnya yang basah di kalayak umum, walaupun masih memakai baju, pasti itu akan membuat lekuk tubuhnya tercetak.


''Tolong ponselku sebentar,'' pinta Kaisar.


''Jangan ada yang datang ke belakang rumah sampai aku memberitahu kapan waktunya di perbolehkan!'' panggilan berakhir.


Kaisar kembali pada Syila yang terus menatapnya.


''Ayo!'' ia mengulurkan tangannya.


''Kemana?'' tanya Syila dengan bodohnya.


''Berenang, aku akan memegangimu, jangan takut,'' Kaisar mulai menuntun ibu hamil yang perutnya semakin besar itu.

__ADS_1


''Buka saja jilbabmu!'' pinta Kaisar. Kini Syila tahu apa gunanya tadi Kaisar menelfon dan memerintahkan untuk jangan ke halaman belakang.


Kaisar mulai membawa Syila menyusuri air kolam. Syila berpegangan erat sekali, membuat Kaisar tertawa.


''Ini air, dia akan jinak jika kau tetap tenang, jangan panik, oke, ada aku!'' masih meyakini Syila.


Syila menarik napasnya, lalu meyakini hati jika ini jinak, tidak akan membunuhnya. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit ia mempu menggerakkan kakinya untuk mengayun di dalam air.


''Haa, aku bisa Kai!'' senang sekali rasanya.


Niat hati ingin berpelukkan dan memberi ciuman tapi begitu sulit karena perut buncit Syila.


''Sekarang hanya untuk memeluk dan menciummu itu sulit,'' ucap Kaisar.


''Iya, ada mereka yamg ingin ikut,'' sahut Syila dengan mengelus perutnya.


Dan sampai kulit tangan Syila mengkeriput, Kaisar memintanya berhenti berenang.


''Sayang, sini biar ku bantu membersihkan tubuhmu,'' tawar Kaisar.


Mereka sudah berada di kamar mandi. Semenjak kehamilan trimester ke tiga ini, Kaisar memang lebih sering mengajak Syila mandi bersama, jika dulu dengan niatan untuk melanjutkan niat mesumnya, kini benar-benar untuk membantu si istri membersihkan tubuhnya.


''Sayang, maafkan aku, karena mengandung anak-anakku kulitmu menjadi rusak begini,'' Kaisar mendongakkan kepalanya, masih dengan posisi berlutut sedangkan Syila berdiri.


''Kau bicara apa, yang ku kandung juga anak-anakku, apa setelah ini kau akan berhenti mencintaiku Kai, hanya karena kulit tubuhku tak sesempurna dulu?'' kini Syila bertanya. Di bawah guyuran air shower yang hangat, sesekali mengelus perutnya yang semakin kencang.


''Aku mencintaimu tanpa syarat Syila, bahkan hanya sekali bertemu kau bisa membuatku hampir gila, lantas darimana kau menemukan pertanyaan mustahil seperti itu?'' jawab Kaisar.


Lalu Kaisar mulai menyabuni bagian dada Syila, bagian favoritenya yang kini semakin berisi.


''Kau harus berpuasa untuk tidak menghisapnya nanti,'' seloroh Syila saat Kaisar memberikan pijatan lembut untuk stimulasi awal guna mempersiapkan persalinan.


''Siapa bilang, aku akan tetap mendapatkan jatahku, jika mereka sudah tertidur,'' jawaban Kaisar membuat Syila terkekeh.


''Otak mereka akan berkembang untuk pertama kalinya dari nutrisi ini, aku tidak akan meminta banyak jatahku kelak,'' sambung Kaisar lagi.


Plak

__ADS_1


Pukulan kecil di lengan Kaisar dari Syila.


''Masih mau berebut dengan bayi?''


''Sayang, apa nanti aku akan lama berpuasa?'' kini pindah posisi, Syila memunggungi Kaisar. Kaisar sedang menggosok punggung Syila.


''Aku tidak tahu Kai, ini juga pertama kalinya bagiku,'' jujur Syila.


''Ya sudah, karena nanti aku akan lama berpuasa, aku ingin menyetoknya mulai sekarang saja,'' maksud terselubung.


Di mata Kaisar, kehamilan Syila ini menambah kesan cantik dan seksi. Wajah yang semakin berseri, semakin berani mengekspresikan diri, dan tubuh yang semakin padat berisi. Kaisar menyukai semuanya.


Walau ia sadar ada bagian tertentu yang tidak akan kembali ke bentuk semula.


.


.


.


Ibu Lulu sering sekali menyanyakan kabar, menghubungi via telepon guna memberikan arahan kecil untuk menantunya, sangat membantu untuk Syila yang memang tidak mengerti kehamilan sebelumnya.


Setelah sambungan telepon terputus, Kaisar membawa kaki Syila pada pangkuannya.


Mereka sedang di ruang tamu. Syila bersandar di sisi sofa panjang. Lalu Kaisar memijat kaki yang membesar itu.


''Sayang, kenapa banyak sekali perubahan di tubuhmu?''


''Kai, aku tidak tahu, aku baik-baik saja,'' jawab Syila.


''Bohong sekali, untuk pindah posisi duduk saja kau mendesis begitu bagaimana bisa kau bicara baik-baik saja?'' telisik Kaisar.


Kaisar menjadi suami yang terus mencurahkan perhatiannya untuk Syila. Bahkan hal terkecil pun tak luput dari pemantauannya. Jika di rasa janggal dia akan langsung bertanya pada dokter kandungan.


''Jadi tetaplah begini, selalu ada di setiap aku butuh,'' Syila tersenyum bahagia.


Saat sedang memijat, Kaisar di kejutkan oleh Syila yang terus meringis, memegangi perut sisi bawah dan punggungnya.

__ADS_1


''Kai, sakit!'' rintihnya kala rasa itu datang, beberapa detik kemudian menghilang lagi.


__ADS_2