
Kaisar menjemput Syila di toko kue barunya, sebelumnya Kaisar menghubungi Syila. Berkali-kali tidak ada jawaban, sampai ia menulis pesan bahwa nomor itu adalah Kaisar. Jika tidak di angkat Kaisar akan melakukan hal yang tidak akan pernah Syila lupakan sepanjang hidupnya.
Belum juga Kaisar mendial nomor istrinya untuk menelfon, panggilan masuk dari Syila sudah lebih dulu memenuhi layar ponselnya.
''Ada apa? Kau bisanya mengancamku terus.'' Sebal Syila.
''Bicaralah yang manis, aku suamimu. Suami menelfon malah di abaikan sekarang malah bicara seperti aku ini musuhmu saja.'' Protes Kaisar. Dia masih di lobby kantornya hendak pulang, menjemput Syila.
''Akukan tidak punya nomormu. Aku kira tadi hanya orang iseng.'' Kaisar terperangah tidak percaya, Syila tidak mempunyai nomornya. Tapi sesaat ia ingat, dia juga tak pernah memberitahu nomor pribadinya kepada siapapun selain keluarganya.
''Sudahlah, aku memaafkanmu kali ini, kirim lokasimu.'' Panggilan terputus dari Syila.
'Memangnya siapa yang meminta maaf padamu sampai kau memberi maaf begitu. Duda pemaksa, duda aneh.' Ngedumel ngedumel, kirim lokasi, masih dengan ngedumel pada ponselnya.
***
Beberapa saat kemudian, pegawai Syila yang melihat kedatangan Kaisar menjadi riuh. Mereka seperti melihat idolanya. Pria dewasa, mapan, tampan, gagah, dan penuh karisma. Kaum hawa mana yang tidak terpesona. Kaisar menghampiri para manusia yang tengah berkerumun itu.
''Ruangan bos kalian dimana?'' Tanya Kaisar penuh wibawa. Bukannya menjawab pegawai itu seperti mau pingsan. Meleleh. Cahaya mataharipun kalah sinarnya dengan pesona dari duda keren itu.
Kaisar cengo sendiri, karena tidak ada jawaban apa-apa, kemudian dia melihat Fanya menuju parkiran motor. Dia menghampiri Fanya.
''Heii, tunggu!!'' Fanya menoleh karena suara Kaisar yang kencang. Beberapa detik dia juga mengagumi wajah tampan penuh pesona suami dari sahabatnya itu.
Fanya menoleh kanan kiri memastikan Kaisar memang memanggil dirinya. Fanya menunjuk batang hidungnya, Kaisar mengangguk.
''Ahh siapa namamu?'' Tanya Kaisar.
''Fanya Tuan.'' Jawab Fanya.
''Aku mengingatmu, kau temannya Syila bukan, dimana ruangannya?''
''Mari saya antar.'' Fanya berjalan lebih dulu memberitahu jalan dimana ruangan Syila berada.
''Disini Tuan, saya permisi.'' Fanya undur diri ketika sudah mengantar Kaisar di depan pintu ruangan Syila.
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu, Kaisar masuk begitu saja. Membuat Syila terkejut dia sedang membenarkan jilbabnya.
''Kai!!'' Bentak Syila. Kaisar menutup pintunya dan menguncinya.
Syila tidak jadi marah, melihat Kaisar mengunci pintunya.
''Apa? Mengapa tidak di teruskan?'' Kaisar tersenyum namun matanya menyiratkan kelicikan.
''Aku terkejut, biasakan mengetuk pintunya dulu. Bagaimana jika tadi aku mengira kau pencuri, lalu aku meneriakimu dengan memukul ke-pa-la-mu dengan vas bunga itu.'' Dengan intonasi menekan bagian kata 'kepalamu'.
''Niat sekali mengumpat suamimu sendiri, hm!'' Kaisar berjalan sembari menyusuri setiap sudut ruangan. Lalu ia mendudukkan dirinya di kursi kebesaran Syila dengan gaya angkuhnya sebagai CEO. Syila hanya meliriknya.
''Kau sudah selesai belum disini?'' Tanya Kaisar.
''Kenapa?'' Tanya balik Syila.
''Pulang.'' Jawab Kaisar.
''Pulang? Aku tinggal disini. Barang-barangku sudah disini.'' Syila enggan satu rumah dengan Kaisar. Sebenarnya Kaisar orang yang baik, Syila bisa melihatnya, namun semakin kesini dia semakin terlihat mendominasi. Syila juga akan merasa kesal kembali, jika ia teringat tragedi orangtuanya. Walau sepenuhnya bukan kesalahan Kaisar.
''Kau nyonya Kaisar, jadi seorang nyonya seharusnya mengikuti kemana Tuannya pergi.''
''Emmm..'' sejenak seperti orang berpikir, ''Atau kau memang menginginkan aku bertindak sesuatu yang akan membuatmu tak pernah bisa melupakannya sepanjang hidupmu?'' Kaisar sembari memainkan bolpoint yang ada diatas meja Syila. Syila bergidik ngeri, pikirannya sudah yang menuju psikopat, seperti buku yang baru saja ia baca tadi.
Kaisar berjalan menuju pintu yang ada di ruangan itu. Ia membukanya, ternyata sebuah kamar yang cukup nyaman. Kaisar mendekati Syila, menariknya masuk ke dalam kamar.
Syila mulai resah, ia teringat dengan ancaman Kaisar, ''Kai, mau apa?'' Tergugup Syila.
Mereka sudah duduk berdua di sisi ranjang. Wajah Kaisar mendekat, Syila reflek memejamkan matanya. Kaisar mengulas senyumnya, Syila terlihat lucu dan bertambah manis.
'Tidak terjadi apapun?' Batin Syila.
Syila mulai membuka sedikit matanya, lalu, ''Fiuuhhh..'' Kaisar meniup wajah Syila, Syila membuka matanya dengan sempurna.
''Kaisar!!'' Geram Syila karena sudah digoda sekaligus dikerjai. Diantara malu juga ingin marah. Malu dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
''Hahaha..'' Kaisar tertawa terbahak.
''Kau kira aku takut padamu, hah?! Lihat ini...'' Syila mulai mencubiti lengan kokoh Kaisar, dadanya, perutnya, semua pahatan yang terasa keras itu.
Bukannya mengaduh karena sakit, Kaisar malah mengaduh karena geli.
''Rasakan! Rasakan! Goda saja terus! Dikira tidak malu apa! Ini rasakan! Aku tidak peduli jika setelah ini kulitmu akan membiru semua!'' Masih dengan kegiatan cubit sana cubit sini, kejar sana kejar sini, seperti anak kecil. Tawa Kiasar menggema di ruangan beserta teriakan dan umpatan Syila.
Sampai akhirnya, Kaisar kelelahan, ia terjerambah di tempat tidur, Syila tanpa sadar menduduki paha Kaisar, ia tersenyum penuh kemenangan masih berniat melanjutkan perangnya.
Sesaat Kaisar tertegun dengan posisi ini, dia diam, hanya begini sudah mampu merangsang yang saat ini tengah di duduki Syila. 'Ini pembalasan yang benar,' batin Kaisar.
Ketika Syila hendak mendaratkan cubitannya lagi, dengan sigap tangan itu di cekal dan di tarik, Syila juga ikut terjerambah di atas tubuh Kaisar. Kaisar menguncinya dengan pelukkan.
''Kau sadar dengan posisimu?'' Tanya Kaisar dengan tatapan penuh makna.
Syila yang baru sadar mencoba melepaskan diri dari Kaisar, ''Lepaskan aku.'' Dengan memberontak. Apa lagi saat merasakan sesuatu mulai terasa mengeras. Membuatnya lebih panik.
''Kau berhasil membalasku, sayang, dengan cara seperti ini.'' Ucap Kaisar, dengan tatapan mata mulai berkabut, namun sebisa mungkin ia tahan.
''Lepaskan aku Kai!'' Syila terus memberontak.
''Diamlah jangan banyak bergerak, biarkan begini dulu, atau sesuatu yang tidak akan pernah kau lupakan akan benar-benar terjadi.''
Syila yang lagi-lagi terkena ancaman hanya mampu diam, ''Aku lelah seperti ini, tanganku pegal, lepaskan aku!'' Setelah beberapa saat di posisi seperti itu dengan Syila yang menopang tubuhnya dengan tangannya, agar tidak semuanya menempel pada tubuh Kaisar.
''Ck, baru seperti itu sudah bilang lelah, kau sepertinya harus banyak berolahraga setelah ini.'' Kaisar menjatuhkan Syila di sampingnya masih dalam keadaan memeluk.
''Lepaskan aku Kai! Kau suka sekali memeluk dan mengambil ciumanku!'' Protes Syila.
''Kenapa? Bukankah ini yang di lakukan sepasang kekasih? Kita sudah sepakat bukan memulainya dengan pacaran?'' Kaisar mencoba mengingatkan hubungan mereka.
''Kapan aku menyepakatinya atau bilang iya, itu hanya keputusan sepihak darimu, yang langsung mengklaim kita memulainya dari pacaran.'' Sebal Syila masih dengan menatap wajah suaminya yang terlihat lelah namun tak mengurangi kadar ketampanannya itu.
''Ahh benarkah? Aku kira itu sudah menjadi keputusan kita berdua, karena aku suamimu.'' Asal jawab Kaisar yang membuat Syila semakin kesal dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1